MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

DIWAN IMAM AL-SYAFI‘I: Syair, Hikmah, Ilmu, Adab, dan Jalan Kehidupan

DIWAN IMAM AL-SYAFI‘I: Syair, Hikmah, Ilmu, Adab, dan Jalan Kehidupan

Diwan Imam al-Syafi‘i merupakan kumpulan syair yang beredar dan dinisbatkan kepada Imam Muhammad bin Idris al-Syafi‘i. Syair-syair tersebut berbicara tentang ilmu, adab, kesabaran, persahabatan, perjalanan, zuhud, akhlak, serta cara menghadapi kehidupan. Bahasanya sederhana, tetapi maknanya dalam. Dalam beberapa bait, kehidupan seorang penuntut ilmu digambarkan sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, pengorbanan, kerendahan hati, dan keteguhan iman.

Diwan Imam al-Syafi‘i merupakan kumpulan syair dan hikmah yang dinisbatkan kepada Imam Muhammad bin Idris al-Syafi‘i, salah seorang imam besar dalam khazanah keilmuan Islam. Syair-syair tersebut memuat berbagai tema kehidupan, seperti keutamaan ilmu, adab menuntut ilmu, kesabaran, persahabatan, zuhud, perjalanan mencari ilmu, menjaga lisan, serta sikap menghadapi manusia. Dengan bahasa yang ringkas dan puitis, nasihat-nasihat tersebut menyampaikan pesan moral yang mendalam dan tetap relevan bagi kehidupan seorang Muslim.

Imam al-Syafi‘i dikenal sebagai ulama yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus kepekaan dalam menyampaikan hikmah. Banyak bait yang populer hingga kini menjadi bahan renungan bagi para penuntut ilmu karena mengajarkan bahwa ilmu harus disertai adab, kesungguhan harus ditemani kesabaran, dan kehidupan harus dijalani dengan tawakal kepada Allah. Namun, secara akademik, bait-bait yang beredar perlu disebut sebagai syair yang dinisbatkan kepada Imam al-Syafi‘i, karena tidak seluruh syair dalam Diwan dapat dipastikan secara historis sebagai karya beliau.

Tidak semua bait yang beredar dengan nama Imam al-Syafi‘i dapat dipastikan autentik secara historis. Karena itu, bagian berikut menggunakan istilah “dinisbatkan kepada Imam al-Syafi‘i” untuk bait-bait yang masyhur, sedangkan bagian “Syair Ciptaan Baru” secara tegas bukan karya beliau.

SYAIR YANG MASYHUR DINISBATKAN KEPADA IMAM AL-SYAFI‘I

1. Tentang Ilmu

  • تَعَلَّمْ فَلَيْسَ الْمَرْءُ يُولَدُ عَالِمًا
    وَلَيْسَ أَخُو عِلْمٍ كَمَنْ هُوَ جَاهِلُ
  • Ta‘allam fa laisal-mar’u yūladu ‘āliman,
    wa laisa akhū ‘ilmin kaman huwa jāhil.
  • Belajarlah, karena manusia tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu. Orang yang memiliki ilmu tidaklah sama dengan orang yang bodoh.
  • Ilmu bukan hadiah yang datang tanpa usaha. Ia dicari dengan membaca, bertanya, menghafal, berpikir, berguru, dan bersabar.

2. Pahitnya Belajar

  • مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً
    تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُولَ حَيَاتِهِ
  • Man lam yadzuq murrat-ta‘allumi sā‘atan,
    tajarra‘a dzullal-jahli ṭūla ḥayātih.
  • Barang siapa tidak merasakan pahitnya belajar walau sesaat, ia akan merasakan kehinaan kebodohan sepanjang hidupnya.
  • Kesulitan belajar bersifat sementara, sedangkan manfaat ilmu dapat menemani manusia sepanjang kehidupan.

3. Perjalanan Mencari Ilmu

  • سَافِرْ تَجِدْ عِوَضًا عَمَّنْ تُفَارِقُهُ
    وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ
  • Sāfir tajid ‘iwaḍan ‘amman tufāriquhu,
    wanṣab fa-inna ladzīdzal-‘aisyi fin-naṣab.
  • Bepergianlah, niscaya engkau akan menemukan pengganti dari apa yang engkau tinggalkan. Bersungguh-sungguhlah, karena kenikmatan hidup sering lahir dari perjuangan.
  • Perjalanan tidak selalu berarti berpindah tempat. Ia juga berarti perjalanan intelektual, pengalaman, kedewasaan, dan pencarian hikmah.

4. Tentang Diam

  • قَالُوا سَكَتَّ وَقَدْ خُوصِمْتَ قُلْتُ لَهُمْ
    إِنَّ الْجَوَابَ لِبَابِ الشَّرِّ مِفْتَاحُ
  • Qālū sakatta wa qad khūṣimta qultu lahum,
    innal-jawāba libābis-syarri miftāḥ.
  • Mereka berkata, “Engkau diam padahal engkau diserang.” Aku menjawab, “Jawaban dapat menjadi kunci pembuka pintu keburukan.”
  • Tidak setiap perkataan membutuhkan jawaban. Kadang-kadang diam merupakan bentuk kebijaksanaan.

5. Menghadapi Orang Bodoh

  • إِذَا نَطَقَ السَّفِيهُ فَلَا تُجِبْهُ
    فَخَيْرٌ مِنْ إِجَابَتِهِ السُّكُوتُ
  • Idzā naṭaqas-safīhu falā tujibhu,
    fa khairun min ijābatihis-sukūt.
  • Apabila orang yang bodoh berbicara, janganlah engkau membalasnya. Diam lebih baik daripada menjawab perkataannya.
  • Menang dalam perdebatan tidak selalu berarti menang dalam akhlak.

SENI, PUISI, SYAIR DAN DUNIA ISLAM

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *