MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

TILAWAH AL-QUR’AN DAN NYERI PERSALINAN: TEMUAN ILMIAH TERBARU 2026

 

TILAWAH AL-QUR’AN DAN NYERI PERSALINAN: TEMUAN ILMIAH TERBARU 2026

dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Sebuah penelitian terbaru dari Oman membuka kembali perbincangan tentang hubungan antara praktik spiritual dan kesehatan. Studi yang diterbitkan 23 Juni 2026 dalam Journal of the Egyptian Public Health Association meneliti apakah mendengarkan tilawah Al-Qur’an dapat memengaruhi nyeri, kenyamanan persalinan, dan tekanan darah. Penelitian ini melibatkan 120 perempuan yang menjalani persalinan pertama dengan kehamilan tunggal cukup bulan. Temuannya menunjukkan penurunan nyeri dan peningkatan kenyamanan setelah intervensi tilawah.

Penelitian tersebut menggunakan desain quasi-experimental. Sebanyak 60 perempuan mendengarkan rekaman tilawah Al-Qur’an selama persalinan. Sebanyak 60 perempuan lainnya mendapat pijat punggung sebagai kelompok pembanding. Peneliti mengukur intensitas nyeri menggunakan Visual Analogue Scale, perilaku nyeri menggunakan Pain Behavioral Observation Scale, kenyamanan menggunakan Childbirth Comfort Questionnaire, serta tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi. Desain ini memberikan gambaran klinis yang menarik, tetapi belum memiliki kekuatan yang sama dengan randomized controlled trial.

Hasil pada kelompok tilawah cukup mencolok. Skor nyeri rata-rata turun dari 76,45 menjadi 58,32 setelah intervensi, dengan p < 0,001. Pada kelompok pijat punggung, skor berubah dari 62,88 menjadi 61,10 dan tidak menunjukkan perubahan yang bermakna secara statistik. Kelompok tilawah juga menunjukkan perbaikan perilaku nyeri dan skor kenyamanan persalinan yang lebih baik. Perbedaan skor kenyamanan persalinan mencapai signifikansi statistik dengan p = 0,002.

Peneliti juga menemukan perubahan tekanan darah. Setelah mempertimbangkan beberapa variabel, termasuk usia kehamilan, waktu masuk rumah sakit, dan paparan Al-Qur’an sebelumnya, tilawah berhubungan dengan tekanan darah sistolik yang lebih rendah, dengan β = −0,53 dan p < 0,001. Hubungan serupa ditemukan pada tekanan darah diastolik, dengan β = −0,49 dan p < 0,001. Temuan ini memperluas penelitian Al-Qur’an dari wilayah psikologis menuju parameter fisiologis yang dapat diukur secara klinis.

Apa yang sebenarnya terjadi? Penelitian tersebut tidak membuktikan satu mekanisme biologis tertentu. Namun, tilawah memiliki beberapa karakteristik yang secara teoritis dapat memengaruhi respons terhadap stres dan nyeri. Suara yang teratur, perhatian yang terfokus, pola pernapasan, pengalaman spiritual, rasa familiar, dan makna religius dapat berkontribusi terhadap keadaan yang lebih tenang. Ketika kecemasan dan ketegangan berkurang, persepsi terhadap nyeri juga dapat berubah. Mekanisme tersebut masih membutuhkan penelitian fisiologis yang lebih terkontrol.

Temuan Oman juga tidak berdiri sendiri. Systematic review yang diterbitkan sebelumnya menganalisis penelitian mengenai mendengarkan, membaca, melafalkan, dan menghafalkan Al-Qur’an. Review tersebut menemukan sinyal manfaat pada kecemasan, depresi, kualitas hidup, kualitas tidur, beberapa parameter fisiologis, dan fungsi kognitif. Namun, para peneliti menekankan adanya heterogenitas penelitian dan keterbatasan metodologis. Karena itu, bukti tersebut lebih tepat dipandang sebagai indikasi manfaat yang menjanjikan daripada bukti final mengenai efektivitas terapi.

Penelitian lain mulai mengeksplorasi jalur fisiologis yang mungkin terlibat. Studi menggunakan electroencephalography melaporkan perubahan aktivitas gelombang otak ketika seseorang mendengarkan Al-Qur’an. Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan aktivitas alfa yang sering dikaitkan dengan relaksasi. Studi tahun 2024 mengenai hafalan Al-Qur’an juga menemukan perubahan parameter heart rate variability pada remaja selama aktivitas menghafal. Temuan tersebut menarik, tetapi perubahan EEG atau HRV tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa Al-Qur’an menyembuhkan penyakit otak atau jantung.

Di sinilah batas ilmiahnya menjadi penting. Penelitian Oman menggunakan desain quasi-experimental, bukan randomized controlled trial penuh. Pesertanya juga spesifik, yaitu perempuan yang menjalani persalinan pertama di satu rumah sakit di Oman. Hasilnya belum tentu sama pada multipara, kehamilan berisiko tinggi, populasi dari negara lain, atau pasien dengan kondisi obstetri berbeda. Penelitian ini juga belum menentukan apakah manfaat berasal terutama dari bacaan Al-Qur’an, suara, ritme, perhatian, keyakinan religius, atau kombinasi berbagai faktor.

Bagi dunia kedokteran, istilah yang paling tepat bukan “Al-Qur’an sebagai obat nyeri”. Temuan tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai complementary spiritual care atau intervensi nonfarmakologis pendukung. Seorang dokter atau bidan dapat memberikan kesempatan kepada pasien Muslim untuk mendengarkan tilawah jika pasien menginginkannya dan kondisi klinis memungkinkan. Pendekatan ini dapat berjalan bersama analgesia, pemantauan ibu dan janin, terapi obstetri, maupun tindakan emergensi. Tilawah tidak menggantikan intervensi medis yang memiliki indikasi.

Bagi umat Islam, penelitian ini dapat disambut dengan rasa syukur sekaligus kedewasaan ilmiah. Tidak perlu mengubah satu penelitian menjadi klaim bahwa tilawah menyembuhkan semua penyakit. Tidak tepat pula menggunakan penelitian ini untuk menolak analgesik atau tindakan medis. Yang dapat dikatakan berdasarkan bukti saat ini adalah bahwa mendengarkan tilawah memiliki potensi memberikan manfaat psikologis dan fisiologis dalam kondisi tertentu. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan besarnya efek, mekanismenya, dan kelompok pasien yang paling memperoleh manfaat.

Bagi dokter, temuan ini membuka ruang bagi pendekatan pelayanan yang lebih berpusat pada pasien. Dokter dapat menanyakan kebutuhan spiritual pasien secara sederhana. “Apakah ada praktik spiritual yang ingin Ibu lakukan selama persalinan?” Pertanyaan seperti ini menghormati keyakinan tanpa mengubah praktik agama menjadi klaim medis. Rumah sakit juga dapat mengembangkan spiritual care yang aman, sukarela, dan tidak mengganggu pemantauan klinis. Dalam pelayanan kepada keluarga Muslim, sensitivitas budaya dapat menjadi bagian dari komunikasi terapeutik.

Penelitian ini pada akhirnya membawa sebuah pesan yang lebih luas. Agama dan ilmu kedokteran tidak harus ditempatkan sebagai dua wilayah yang saling meniadakan. Al-Qur’an memiliki fungsi spiritual, moral, dan keagamaan. Kedokteran memiliki metode untuk mengukur penyakit, risiko, respons terapi, dan keselamatan pasien. Ketika penelitian menunjukkan kemungkinan manfaat tilawah, umat dapat menerimanya tanpa berlebihan. Ketika bukti masih terbatas, ilmuwan dan dokter perlu mengatakan bahwa bukti tersebut masih terbatas. Sikap ilmiah tidak mengurangi penghormatan terhadap Al-Qur’an. Justru sikap tersebut menjaga agar setiap klaim tentang Al-Qur’an disampaikan secara jujur, proporsional, dan bertanggung jawab.

PENUTUP

Temuan Oman tahun 2026 memberikan tambahan penting dalam penelitian mengenai hubungan spiritualitas dan kesehatan. Pada perempuan yang menjalani persalinan pertama, mendengarkan tilawah Al-Qur’an dikaitkan dengan penurunan nyeri, peningkatan kenyamanan persalinan, serta penurunan tekanan darah. Temuan ini menjanjikan, tetapi belum menjadi bukti final bahwa tilawah merupakan terapi analgesik. Jalan ilmiahnya masih panjang. Penelitian dengan randomisasi, jumlah peserta lebih besar, populasi yang lebih beragam, dan pengukuran mekanisme biologis yang lebih ketat diperlukan. Untuk saat ini, posisi yang paling rasional adalah menempatkan tilawah sebagai complementary spiritual care yang dapat berjalan berdampingan dengan evidence-based medicine. Bagi umat, teruslah membaca dan mendengarkan Al-Qur’an sebagai bagian dari ibadah dan ketenangan. Bagi dokter, hormati kebutuhan spiritual pasien sambil tetap menjaga standar diagnosis dan terapi. Di antara iman dan ilmu, sikap yang paling kuat adalah kejujuran terhadap bukti.

 

Referensi utama:

  • Al Kharusi WNO, Vincent SC, Al Muqbali FKR, Al Hashmi A. Effect of listening to Quran recitation on labor pain, childbirth comfort, and maternal blood pressure: a quasi-experimental study among nulliparous women. Journal of the Egyptian Public Health Association. 2026;101(1):22. DOI 10.1186/s42506-026-00225-2. PMID 42337192.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *