Syair Qasidah al-Burdah — Imam al-Bushiri, Syair Termahsyur Sepanjang Sejarah Islam
Qasidah al-Burdah karya Imam al-Bushiri merupakan salah satu karya madih nabawi yang paling terkenal dalam tradisi sastra Islam. Qasidah ini berisi pujian, kecintaan, dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ, disertai nasihat tentang penyucian jiwa, pengendalian hawa nafsu, serta harapan akan rahmat Allah. Keindahan bahasanya membuatnya dibaca dan dilantunkan dalam berbagai majelis keagamaan selama berabad-abad. Karya ini menjadi salah satu simbol penting tradisi sastra Islam yang menjadikan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ sebagai jalan untuk mengingat akhlak, perjuangan, dan risalah beliau.
Syair Qasidah al-Burdah — Imam al-Bushiri, Syair Termahsyur Sepanjang Sejarah Islam
أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيرَانٍ بِذِي سَلَمِ
مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ
أَمْ هَبَّتِ الرِّيحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَةٍ
وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِي الظَّلْمَاءِ مِنْ إِضَمِ
فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَا
وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِمِ
أَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتِمٌ
مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمُضْطَرِمِ
لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعًا عَلَى طَلَلٍ
وَلَا أَرِقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلَمِ
فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبًّا بَعْدَ مَا شَهِدَتْ
بِهِ عَلَيْكَ عُدُولُ الدَّمْعِ وَالسَّقَمِ
وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَضَنًى
مِثْلَ الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَمِ
نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرَّقَنِي
وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتِ بِالْأَلَمِ
يَا لَائِمِي فِي الْهَوَى الْعُذْرِيِّ مَعْذِرَةً
مِنِّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ
عَدَتْكَ حَالِيَ لَا سِرِّي بِمُسْتَتِرٍ
عَنِ الْوُشَاةِ وَلَا دَائِي بِمُنْحَسِمِ
مَحَّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَسْتُ أَسْمَعُهُ
إِنَّ الْمُحِبَّ عَنِ الْعُذَّالِ فِي صَمَمِ
إِنِّي اتَّهَمْتُ نَصِيحَ الشَّيْبِ فِي عَذَلٍ
وَالشَّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحٍ عَنِ التُّهَمِ
QASIDAH AL-BURDAH
Imam al-Bushiri — adaptasi puitis bahasa Indonesia
Apakah karena mengenang kekasih dan jejak tempat persinggahan,
air matamu bercampur darah, mengalir dari mata yang tak kuasa menahan?
Ataukah angin dari arah tanah para kekasih berembus perlahan,
sementara kilat di kejauhan menyibakkan gelap dengan cahaya yang berkilauan?
Wahai mata, mengapa ketika engkau diminta berhenti,
justru semakin deras air mata membasahi pipi?
Wahai hati, mengapa ketika engkau diminta sadar dan kembali,
engkau justru semakin hanyut dalam cinta yang tak bertepi?
Apakah seorang pencinta menyangka cintanya dapat disembunyikan,
sedang air mata telah menjadi saksi yang tak mungkin didustakan?
Bukankah rasa rindu telah menorehkan tanda pada wajah dan kehidupan,
seperti bunga yang mewarnai pipi dengan jejak kesedihan?
Andai cinta tidak menguasai hati,
takkan air mata tumpah di atas jejak yang telah sunyi.
Takkan malam terasa panjang tanpa tidur,
hanya karena mengenang tempat dan nama yang telah berlalu.
Bagaimana mungkin engkau mengingkari cinta yang bersemayam di dada,
sedangkan air mata dan sakit telah bersaksi atas rahasianya?
Cinta telah meninggalkan tanda yang nyata,
dan kerinduan telah menyingkap apa yang hendak disembunyikan jiwa.
Wahai engkau yang mencelaku karena cinta,
maafkan aku—barangkali engkau belum memahami rahasianya.
Keadaanku telah menjawab sebelum lidahku berkata,
dan luka cinta tidak selalu dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Engkau memberiku nasihat dengan penuh kasih dan ketulusan,
namun hati seorang pencinta sering tuli terhadap celaan.
Sebab bila cinta telah memenuhi seluruh ruang dalam dada,
nasihat orang yang mencela terkadang tak lagi terdengar maknanya.
Aku bahkan menuduh nasihat uban sebagai celaan,
padahal uban datang membawa pesan setelah panjangnya perjalanan.
Betapa sering manusia menolak nasihat yang menyelamatkan,
hanya karena hawa nafsu masih ingin menjadi penguasa kehidupan.
Wahai hati, jangan biarkan hawa nafsu menuntun langkahmu,
jangan biarkan kesenangan sesaat memperbudak jiwamu.
Sebab nafsu bagaikan anak kecil—bila dibiarkan, ia akan tumbuh menjadi penguasa;
namun bila dididik, ia dapat tunduk kepada kebenaran dan cahaya.

















Leave a Reply