Ketika Lelaki Hatinya Terpaut Masjid
Di hari ketika langit runtuh,
Dan matahari mendekat sejengkal tanpa teduh,
Tak ada naungan, tak ada perlindungan,
Kecuali dari-Nya…
Untuk tujuh jiwa yang dipilih oleh Rahmat-Nya.
Salah satunya…
Adalah seorang lelaki yang hatinya terpaut pada masjid,
Ia mungkin pendosa, tapi rindunya kepada sajadah tak pernah redup,
Langkahnya penuh dosa masa lalu,
Tapi sujudnya jujur, seperti bayi yang kembali pada pelukan ibu.
Dulu, ia hidup dalam gemerlap palsu,
Memburu dunia, mengagumi para pemimpin yang pandai bersandiwara,
Tak ia tahu, pangkat dan jabatan bisa membawa pada binasa,
Ketika Qur’an tak lagi dijadikan panduan,
Dan shalat hanya jadi formalitas belaka.
Namun cahaya itu akhirnya datang,
Lewat suara azan yang menggetarkan tulangnya yang rapuh,
Ia melangkah ke masjid seperti anak kecil mencari rumah,
Dan sejak saat itu… hatinya tak bisa lepas dari sajadah tua itu.
Ia duduk di sudut, menangisi malam yang ia sia-siakan,
Ia menangis karena kini tahu…
Banyak manusia yang kehilangan akhirat demi harga dunia yang fana,
Menukar ayat dengan jabatan, menukar masjid dengan panggung dunia,
Mereka tertipu… dan menipu.
Wahai jiwa-jiwa yang masih hidup,
Pilihlah pemimpin bukan karena retorika,
Tapi karena tunduknya ia dalam sujud panjang,
Karena pemimpin sejati bukan yang menguasai mimbar,
Tapi yang takut berdiri di hadapan Tuhan semesta alam.
Lelaki ini tahu, dosanya menggunung tinggi,
Namun rindu sujudnya tak pernah berhenti.
Ia bukan bersih, tapi ingin didekati Ilahi,
Sebab hanya di rumah-Nya… ia merasa benar-benar berarti.
Masjid jadi tempat ia belajar diam,
Belajar menangis tanpa suara,
Belajar mencintai Rasulullah ﷺ tanpa syarat,
Dan menggenggam Qur’an bukan sekadar hiasan,
Tapi jalan pulang, ketika dunia tak lagi menawarkan harapan.
Dan kelak, saat seluruh bumi terbakar oleh penyesalan,
Saat pemimpin zalim mencari lubang pelarian,
Lelaki itu… duduk tenang di bawah naungan Arsy-Nya,
Karena ia pernah jatuh cinta pada masjid,
Dan Allah tak pernah lupa pada cinta yang suci seperti itu.
“Ada tujuh golongan yang dinaungi Allah… salah satunya:
Seorang lelaki yang hatinya terpaut pada masjid.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
penaislam2025

- 20 Syair Paling Masyhur Sepanjang Sejarah Islam
- Qasidah Banat Su‘ad — Ka‘b bin Zuhair, Syair Mahsyur Sepanjang Sejarah Islam
- SYAIR CINTA KEPADA RASULULLAH ﷺ
- Syair Qasidah al-Burdah — Imam al-Bushiri, Syair Termahsyur Sepanjang Sejarah Islam
- SYAIR DI BAWAH CAHAYA SUNNAH
- SYAIR DI TAMAN PERBEDAAN
- SENI SASTRA DALAM ISLAM. Telaah Al-Qur’an, Sunnah, Empat Mazhab, Ulama Kontemporer, Fatwa, Contoh, dan Sikap Umat
- SENI DALAM ISLAM: Prinsip Tauhid, Keindahan, Kreativitas, dan Batas Syariat dalam Seni Rupa, Musik, Sastra, Arsitektur, dan Budaya
- PANDANGAN MUHAMMADIYAH TENTANG SENI MUSIK DAN SENI TARI : Pendekatan Manhaj Tarjih terhadap Pengembangan Seni di Lingkungan Pendidikan dan TPA
- SURAH ASY-SYU’ARĀ’: SURAH TENTANG PENYAIR, BUKAN PEMUSIK.
- PUISI ISLAMI PILIHAN: Gegap Gempita Dunia Di Hari Jumat
- Cinta yang Dibuktikan dengan Sunnah
- LOMBA SYAIR ISLAMI: Tuangkan Rasa, Ukir Makna, Lewat Kata-Kata Mulia!”
- Puasa Syawal, Mahkota Ramadhan
- SYAIR ISLAM PILIHAN: Ketika Lelaki Hatinya Terpaut Masjid
- PUISI DAN SYAIR ISLAMI
- SENI DALAM ISLAM














Leave a Reply