MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

Qasidah Banat Su‘ad — Ka‘b bin Zuhair, Syair Mahsyur Sepanjang Sejarah Islam

Qasidah Banat Su‘ad — Ka‘b bin Zuhair, Syair Mahsyur Sepanjang Sejarah Isla

Banat Su‘ad merupakan qasidah yang dinisbatkan kepada Ka‘b bin Zuhair dan terkenal karena dibacakan di hadapan Rasulullah ﷺ setelah Ka‘b datang kepada beliau dan menyatakan keislamannya. Qasidah tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah madih nabawi karena menggambarkan perubahan sikap seorang penyair dari permusuhan menuju pengakuan dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ. Karya ini juga memperlihatkan bagaimana tradisi puisi Arab pada masa awal Islam dapat menjadi sarana menyampaikan perasaan, pertobatan, dan penghormatan kepada Nabi.

Qasidah Banat Su‘ad — Ka‘b bin Zuhair

بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِي الْيَوْمَ مَتْبُولُ

بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِي الْيَوْمَ مَتْبُولُ
مُتَيَّمٌ إِثْرَهَا لَمْ يُفْدَ مَكْبُولُ

وَمَا سُعَادُ غَدَاةَ الْبَيْنِ إِذْ رَحَلُوا
إِلَّا أَغَنُّ غَضِيضُ الطَّرْفِ مَكْحُولُ

هَيْفَاءُ مُقْبِلَةً عَجْزَاءُ مُدْبِرَةً
لَا يُشْتَكَى قِصَرٌ مِنْهَا وَلَا طُولُ

تَجْلُو عَوَارِضَ ذِي ظَلْمٍ إِذَا ابْتَسَمَتْ
كَأَنَّهُ مُنْهَلٌ بِالرَّاحِ مَعْلُولُ

شُجَّتْ بِذِي شَبَمٍ مِنْ مَاءِ مَحْنِيَةٍ
صَافٍ بِأَبْطَحَ أَضْحَى وَهْوَ مَشْمُولُ

تَنْفِي الرِّيَاحُ الْقَذَى عَنْهُ وَأَفْرَطَهُ
مِنْ صَوْبِ سَارِيَةٍ بِيضٍ يَعَالِيلُ

أَمْسَتْ سُعَادُ بِأَرْضٍ لَا يُبَلِّغُهَا
إِلَّا الْعِتَاقُ النَّجِيبَاتُ الْمَرَاسِيلُ

وَلَنْ يُبَلِّغَهَا إِلَّا عُذَافِرَةٌ
فِيهَا عَلَى الْأَيْنِ إِرْقَالٌ وَتَبْغِيلُ

مِنْ كُلِّ نَضَّاخَةِ الذِّفْرَى إِذَا عَرِقَتْ
عُرْضَتُهَا طَامِسُ الْأَعْلَامِ مَهْزُولُ

تَرْمِي الْغُيُوبَ بِعَيْنَيْ مُفْرَدٍ لَهِقٍ
إِذَا تَوَقَّدَتِ الْحَزَّانُ وَالْمِيلُ

فَقُلْتُ خَلُّوا سَبِيلِي لَا أَبَا لَكُمُ
فَكُلُّ مَا قَدَّرَ الرَّحْمَنُ مَفْعُولُ

كُلُّ ابْنِ أُنْثَى وَإِنْ طَالَتْ سَلَامَتُهُ
يَوْمًا عَلَى آلَةٍ حَدْبَاءَ مَحْمُولُ

أُنْبِئْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ أَوْعَدَنِي
وَالْعَفْوُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ مَأْمُولُ

مَهْلًا هَدَاكَ الَّذِي أَعْطَاكَ نَافِلَةَ الْـ
قُرْآنِ فِيهَا مَوَاعِيظٌ وَتَفْصِيلُ

لَا تَأْخُذَنِّي بِأَقْوَالِ الْوُشَاةِ وَلَمْ
أُذْنِبْ وَقَدْ كَثُرَتْ فِيَّ الْأَقَاوِيلُ

لَقَدْ أَقُومُ مَقَامًا لَوْ يَقُومُ بِهِ
أَرْمَى لَهُ الْقَلْبُ مِنْهُ أَوْهَالُ

لَظَلَّ يُرْعَدُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ
مِنَ الرَّسُولِ بِإِذْنِ اللَّهِ تَنْوِيلُ

حَتَّى وَضَعْتُ يَمِينِي لَا أُنَازِعُهُ
فِي كَفِّ ذِي نَقِمَاتٍ قِيلُهُ الْقِيلُ

لَذَلِكَ أُرْجِيَ الْمُصْطَفَى لِيَأْخُذَنِي
وَأَصْبَحَ الْعَفْوُ مِنْهُ وَهْوَ مَأْمُولُ


Qasidah Banat Su‘ad — Ka‘b bin Zuhair

Su‘ad telah pergi, dan hatiku hari ini terluka;
terpaut oleh cinta, terbelenggu rindu, tak mampu melepaskannya.

Su‘ad telah beranjak meninggalkan jejak dan kenangan,
sedangkan hatiku tertinggal dalam luka perpisahan.
Ia pergi, namun bayangnya masih tinggal dalam ingatan,
dan cinta yang dahulu tersembunyi kini menjadi pengakuan.

Wahai hati, jangan kau sangka semua cinta dapat disembunyikan,
sebab rindu mempunyai bahasa yang tak mampu didustakan.
Air mata menjadi saksi ketika lidah memilih diam,
dan kesunyian menjadi kitab tempat hati menuliskan kerinduan.

Namun aku mendengar kabar yang mengguncangkan jiwa:
bahwa Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan kepadaku.
Aku berdiri di antara takut dan harapan,
antara kesalahan masa lalu dan pintu ampunan.

Wahai Rasulullah ﷺ, jangan tergesa menjatuhkan hukuman,
aku datang membawa pengakuan, bukan kesombongan.
Jika dahulu lidahku pernah tersesat dalam permusuhan,
hari ini aku datang menundukkan kepala di hadapan kebenaran.

Aku telah mendengar bahwa engkau mengancamku,
namun aku juga mengetahui keluasan maaf yang ada padamu.
Bukankah seorang utusan membawa rahmat dari Tuhannya?
Bukankah pintu maaf lebih indah daripada membalas kesalahan?

Maka aku datang tanpa perisai dan tanpa kesombongan,
meletakkan tanganku dalam tangan Rasul yang mulia.
Aku menyerahkan diriku kepada keputusan seorang Nabi,
seraya berharap rahmat Allah menjadi keselamatan bagi diri.

Sebab setiap anak Adam, betapapun panjang usia dan keselamatannya,
pada akhirnya akan dibawa menuju tempat perhentian terakhir.
Tak ada manusia yang kekal di bawah matahari dunia,
dan tak ada kekuasaan yang mampu menahan datangnya ajal.

Maka aku memilih kembali kepada kebenaran,
meninggalkan kesombongan dan memohon pengampunan.
Di hadapan Muhammad ﷺ, pembawa wahyu dan petunjuk,
aku menemukan harapan setelah panjangnya jalan yang kelam.

Dan kini, setelah ketakutan memenuhi dada,
aku berharap maaf dari Rasulullah ﷺ,
seraya menggantungkan harapan yang lebih tinggi kepada Allah—
Tuhan Yang Maha Pengampun, Pemilik segala rahmat dan ampunan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *