Hermeneutika dan Pemahaman Hadis: Antara Autentisitas Teks, Konteks Historis, dan Relevansi Kontemporer
Hermeneutika dalam studi hadis merupakan salah satu pendekatan kontemporer yang digunakan untuk memahami hubungan antara teks hadis, konteks historis kemunculannya, maksud komunikatif Nabi Muhammad SAW, dan kebutuhan pembaca pada masa kini. Pendekatan ini muncul dari kesadaran bahwa pemahaman hadis tidak selalu dapat diselesaikan melalui pembacaan literal terhadap struktur bahasa, tetapi memerlukan perhatian terhadap konteks sosial, budaya, sejarah, tujuan komunikasi, serta hubungan hadis dengan riwayat-riwayat lainnya. Di sisi lain, penggunaan hermeneutika dalam studi hadis menimbulkan persoalan metodologis, terutama mengenai hubungan antara pendekatan interpretatif modern dengan disiplin klasik seperti ilmu sanad, jarh wa ta’dil, takhrij, kritik matan, asbab al-wurud, nasikh-mansukh, dan pemahaman ulama terhadap sunnah. Artikel ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis dan kritis. Kajian menunjukkan bahwa hermeneutika dapat memberikan kontribusi dalam memahami dimensi makna dan relevansi hadis, tetapi tidak seharusnya menggantikan metodologi autentikasi hadis. Autentisitas riwayat dan interpretasi makna merupakan dua tahap yang berbeda. Pendekatan yang lebih konstruktif adalah mengintegrasikan kritik hadis klasik dengan analisis bahasa, konteks historis, tujuan normatif, serta pertimbangan realitas kontemporer. Dengan demikian, hermeneutika dapat ditempatkan sebagai instrumen interpretatif yang melengkapi, bukan menggantikan, disiplin ilmu hadis.
Kata kunci: hermeneutika, hadis, sunnah, autentisitas, konteks, interpretasi, Fazlur Rahman, pemahaman kontemporer.
Pendahuluan
Hadis Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu sumber utama ajaran Islam dan memiliki posisi penting dalam menjelaskan, merinci, serta mengimplementasikan ajaran agama. Namun, memahami hadis bukan sekadar menerjemahkan teks Arab ke dalam bahasa lain. Sebuah hadis hadir dalam lingkungan komunikasi tertentu, disampaikan kepada masyarakat dengan kondisi sosial, budaya, politik, ekonomi, dan persoalan yang spesifik. Karena itu, memahami hadis secara komprehensif membutuhkan perhatian terhadap teks sekaligus konteksnya.
Dalam tradisi keilmuan Islam, persoalan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Para ulama hadis dan fuqaha telah mengembangkan berbagai metode untuk memahami riwayat, seperti kritik sanad dan matan, asbab al-wurud, gharib al-hadith, mukhtalif al-hadith, nasikh wa mansukh, serta pendekatan fikih dan usul fikih. Dengan demikian, perhatian terhadap konteks sudah memiliki akar yang kuat dalam tradisi Islam.
Hermeneutika modern kemudian menawarkan bahasa teoritis yang lebih sistematis mengenai hubungan antara teks, pengarang atau komunikator, konteks, dan pembaca. Dalam studi hadis kontemporer, salah satu tokoh yang sering dibahas adalah Fazlur Rahman. Kajian terhadap pemikirannya menunjukkan bahwa ia mendorong pembacaan hadis dan sunnah secara historis serta mempertimbangkan dimensi moral-sosialnya agar pemahaman hadis dapat berhubungan dengan kondisi masyarakat modern.
Hermeneutika adalah pendekatan atau metode untuk memahami dan menafsirkan teks dengan memperhatikan hubungan antara teks, bahasa, konteks sejarah, maksud komunikasi, dan pembaca. Dalam studi hadis, hermeneutika tidak hanya bertanya tentang arti literal suatu hadis, tetapi juga berusaha memahami keadaan ketika hadis disampaikan, persoalan yang melatarbelakanginya, tujuan atau pesan yang dikandungnya, serta bagaimana nilai tersebut dapat dipahami dalam konteks kehidupan masa kini. Dengan demikian, hermeneutika dapat menjadi alat untuk memperdalam interpretasi hadis, tetapi tidak menggantikan ilmu hadis dalam menentukan keaslian riwayat, kritik sanad dan matan, serta kaidah-kaidah metodologis yang telah dikembangkan dalam tradisi keilmuan Islam.
Persoalannya adalah bagaimana menggunakan hermeneutika tanpa menghilangkan karakter hadis sebagai sumber ajaran yang memiliki mekanisme autentikasi tersendiri. Jika hermeneutika digunakan tanpa kritik sanad dan matan, seseorang berisiko membangun interpretasi terhadap riwayat yang sebenarnya tidak autentik. Sebaliknya, jika hadis hanya dibaca secara literal tanpa mempertimbangkan konteks, tujuan komunikasi, dan perubahan situasi, pemahaman yang dihasilkan dapat kehilangan relevansi terhadap persoalan kontemporer.
Karena itu, diperlukan pendekatan yang membedakan secara jelas antara pertanyaan apakah suatu hadis dapat diterima sebagai riwayat Nabi dan pertanyaan apa makna hadis tersebut serta bagaimana prinsipnya diterapkan dalam situasi tertentu.
Hermeneutika dalam Studi Hadis
- Secara sederhana, hermeneutika dapat dipahami sebagai teori dan metode memahami serta menafsirkan teks. Dalam perkembangannya, hermeneutika tidak lagi hanya berkaitan dengan teks keagamaan, tetapi digunakan untuk memahami berbagai bentuk teks dan komunikasi manusia.
- Dalam studi hadis, hermeneutika dapat diarahkan pada beberapa unsur utama: teks hadis, bahasa yang digunakan, konteks ketika hadis disampaikan, hubungan hadis dengan riwayat lain, posisi Nabi sebagai komunikator, serta pembaca yang hidup dalam konteks sosial yang berbeda.
- Pendekatan tersebut penting karena teks yang sama dapat memiliki implikasi yang berbeda ketika diterapkan pada situasi yang berbeda. Akan tetapi, perbedaan antara makna historis dan penerapan kontemporer harus tetap diperhatikan.
- Penelitian mengenai hermeneutika hadis Fazlur Rahman menunjukkan bahwa pemikirannya berupaya melakukan evaluasi dan reinterpretasi terhadap hadis serta sunnah dengan memperhatikan kondisi moral dan sosial masa kini. Pendekatan tersebut menempatkan kajian sejarah sebagai salah satu instrumen penting dalam memahami hadis.
Hadis sebagai Teks dan Peristiwa Komunikasi
- Hadis tidak hanya berupa kalimat yang tercatat dalam kitab. Pada awalnya hadis merupakan bagian dari komunikasi Nabi SAW dengan para sahabat. Ada hadis yang muncul sebagai jawaban atas pertanyaan, respons terhadap suatu tindakan, penjelasan terhadap peristiwa tertentu, penyelesaian konflik, atau pemberian arahan terhadap persoalan masyarakat.
- Karena itu, analisis hadis idealnya mempertanyakan beberapa hal: apa yang dikatakan Nabi, kepada siapa perkataan tersebut disampaikan, dalam keadaan apa, apa persoalan yang sedang terjadi, bagaimana struktur bahasanya, dan apa tujuan komunikatif yang dapat dipahami dari keseluruhan riwayat.
- Pendekatan ini tidak berarti mengabaikan teks. Justru teks tetap menjadi titik awal. Konteks digunakan untuk membantu menjelaskan teks, bukan untuk membatalkannya secara bebas.
Autentisitas Hadis dan Interpretasi Makna Harus Dibedakan
- Salah satu prinsip terpenting dalam studi hadis adalah membedakan antara kritik autentisitas dan interpretasi.
- Kritik autentisitas bertanya: apakah riwayat tersebut benar-benar dapat disandarkan kepada Nabi SAW? Pertanyaan ini dijawab melalui disiplin ilmu hadis, antara lain penelitian sanad, kredibilitas perawi, kesinambungan sanad, kritik matan, takhrij, serta perbandingan jalur periwayatan.
- Interpretasi bertanya: jika suatu hadis diterima sebagai riwayat yang sahih atau dapat dijadikan hujjah, apa maknanya, apa konteksnya, dan bagaimana prinsip yang terkandung di dalamnya dipahami?
- Kedua persoalan tersebut tidak boleh dicampuradukkan. Sebuah interpretasi yang sangat canggih tidak dapat membuat hadis yang lemah secara otomatis menjadi sahih. Sebaliknya, sebuah hadis sahih tidak selalu berarti seluruh penerapannya harus dilakukan secara literal tanpa analisis konteks.
- Penelitian terbaru mengenai takhrij hadis menegaskan pentingnya validitas hadis dalam menentukan otoritas penggunaannya dalam penafsiran dan pemahaman kontemporer.
Pentingnya Kritik Sanad dan Matan
- Tradisi hadis telah mengembangkan sistem kritik yang sangat kompleks. Sanad memberikan informasi mengenai jalur transmisi, sedangkan matan menjadi objek pemeriksaan isi dan kesesuaiannya dengan riwayat lain serta prinsip-prinsip keilmuan yang relevan.
- Hermeneutika tidak seharusnya menggantikan proses tersebut. Sebelum seorang peneliti menafsirkan sebuah hadis, langkah pertama tetap memastikan status hadis melalui sumber-sumber hadis dan metode kritik yang sesuai.
Dalam konteks akademik, setidaknya perlu diperhatikan:
| Tahap | Pertanyaan utama | Instrumen |
|---|---|---|
| Identifikasi | Di mana hadis diriwayatkan? | Takhrij |
| Autentikasi | Seberapa kuat riwayat tersebut? | Kritik sanad dan matan |
| Analisis bahasa | Apa makna lafaz dan struktur kalimat? | Bahasa Arab |
| Konteks | Mengapa dan dalam keadaan apa hadis disampaikan? | Asbab al-wurud dan sejarah |
| Intertekstualitas | Bagaimana hubungan dengan hadis lain? | Jam’u al-riwayat |
| Interpretasi | Apa pesan dan maksud hadis? | Syarah dan hermeneutika |
| Aplikasi | Bagaimana prinsipnya diterapkan sekarang? | Fikih, maqashid, dan analisis konteks |
Kerangka tersebut menunjukkan bahwa hermeneutika lebih tepat ditempatkan pada bagian interpretasi dan aplikasi, setelah persoalan autentisitas dan struktur makna diperiksa.
Konteks Historis dalam Memahami Hadis
- Konteks historis memiliki fungsi penting karena sebuah hadis dapat berkaitan dengan keadaan tertentu. Misalnya, sebuah pernyataan Nabi mungkin diberikan kepada seorang sahabat yang memiliki persoalan khusus atau ditujukan kepada masyarakat dengan kondisi tertentu.
- Memahami konteks tidak berarti membatasi seluruh hadis hanya pada peristiwa masa lalu. Sebaliknya, konteks dapat membantu menemukan apakah suatu ketentuan bersifat khusus, umum, temporer, atau mengandung prinsip moral yang lebih luas.
- Pendekatan historis semacam ini juga terlihat dalam perkembangan hermeneutika Islam kontemporer. Studi mengenai Fazlur Rahman menunjukkan adanya perhatian terhadap hubungan antara tradisi, sejarah, dan kebutuhan masyarakat modern.
Hermeneutika Fazlur Rahman dan Pemahaman Hadis
- Fazlur Rahman merupakan salah satu tokoh penting dalam pemikiran Islam modern yang berusaha menghubungkan teks keagamaan dengan realitas sosial. Dalam kajian hadis dan sunnah, ia menekankan pentingnya memahami sunnah dalam dinamika sejarah dan tidak sekadar memperlakukan setiap bentuk tradisi sebagai formula yang terlepas dari konteks.
- Kajian akademik terhadap pemikiran Rahman menunjukkan bahwa pendekatannya berusaha melihat hubungan antara hadis, sunnah, sejarah, dan kondisi moral-sosial masyarakat.
- Pendekatan ini memberikan kontribusi penting bagi studi hadis kontemporer, tetapi sekaligus menimbulkan perdebatan. Salah satu persoalan utama adalah sejauh mana rekonstruksi historis dapat dilakukan dengan tingkat kepastian yang memadai. Karena itu, pendekatan Rahman sebaiknya tidak diterapkan secara dogmatis, melainkan diuji melalui sumber hadis, historiografi, kritik sanad-matan, dan analisis ulama klasik.
Dari Makna Literal Menuju Makna Kontekstual
- Pemahaman kontekstual tidak identik dengan meninggalkan makna literal. Pembacaan literal merupakan salah satu tahap penting dalam memahami teks. Masalah muncul ketika makna literal dianggap sebagai satu-satunya kemungkinan interpretasi tanpa mempertimbangkan konteks bahasa dan komunikasi.
- Sebaliknya, pendekatan kontekstual juga memiliki batas. Tidak semua teks dapat diubah maknanya hanya karena masyarakat modern memiliki kondisi berbeda. Perubahan konteks tidak otomatis menghapus ketentuan normatif.
Oleh karena itu, diperlukan pembedaan antara:
- lafaz hadis, yaitu bentuk bahasa yang digunakan;
- makna tekstual, yaitu arti yang dapat dipahami dari struktur bahasa;
- konteks historis, yaitu situasi ketika hadis disampaikan;
- tujuan atau pesan normatif, yaitu nilai yang dapat ditarik dari hadis;
- aplikasi kontemporer, yaitu bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam keadaan baru.
Pembedaan tersebut membantu menghindari dua ekstrem: tekstualisme yang terlalu kaku dan kontekstualisme yang terlalu bebas.
Hubungan Hermeneutika dengan Tradisi Syarah Hadis
- Hermeneutika modern tidak seharusnya diposisikan sebagai satu-satunya metode memahami hadis. Tradisi Islam sendiri telah menghasilkan khazanah syarah hadis yang sangat luas.
- Para ulama menjelaskan hadis dengan membandingkan berbagai riwayat, menguraikan bahasa, menjelaskan sebab munculnya hadis, menghubungkannya dengan hadis lain, serta mempertimbangkan persoalan fikih dan usul fikih.
- Dengan demikian, pendekatan hermeneutika dapat berdialog dengan tradisi syarah, bukan menggantikannya.
- Dalam kerangka tersebut, hermeneutika dapat memberikan perangkat konseptual untuk menjelaskan persoalan yang sebenarnya sudah dikenal dalam tradisi Islam, terutama hubungan antara teks dan konteks.
Hermeneutika dan Relevansi Hadis di Era Modern
- Masyarakat modern menghadapi persoalan yang tidak selalu ditemukan dalam bentuk yang sama pada masa Nabi, seperti kecerdasan buatan, teknologi reproduksi, media sosial, bioetika, ekonomi digital, perubahan struktur keluarga, dan komunikasi global.
- Hadis tetap menjadi sumber penting, tetapi penerapannya membutuhkan kemampuan memahami prinsip yang terkandung di dalamnya dan menghubungkannya dengan realitas baru.
- Di sinilah hermeneutika dapat memberikan kontribusi. Penafsir tidak hanya bertanya, “Apa bunyi hadis?”, tetapi juga, “Apa persoalan yang dijawab hadis tersebut?”, “Nilai apa yang hendak diwujudkan?”, dan “Bagaimana nilai tersebut dapat diterapkan dalam situasi baru?”
- Namun, pertanyaan tersebut harus tetap berada dalam batas metodologi Islam. Kontekstualisasi bukan berarti menjadikan selera masyarakat modern sebagai ukuran kebenaran hadis.
Hermeneutika Tidak Boleh Menjadi Relativisme
- Salah satu kritik terhadap hermeneutika adalah kemungkinan munculnya relativisme interpretasi, yaitu anggapan bahwa semua pemahaman terhadap teks sama-sama benar karena setiap pembaca memiliki konteks berbeda.
- Pandangan seperti ini problematis jika diterapkan secara mutlak dalam studi hadis. Islam memiliki struktur epistemologis yang membatasi interpretasi, antara lain autentisitas riwayat, bahasa Arab, hubungan antarteks, prinsip syariat, ijma’ dan pendapat ulama, serta kaidah usul fikih.
- Karena itu, interpretasi hadis harus memiliki argumentasi yang dapat diuji secara ilmiah dan metodologis.
- Hermeneutika yang bertanggung jawab bukanlah kebebasan menafsirkan tanpa batas, melainkan usaha memahami teks secara lebih komprehensif dengan mempertimbangkan seluruh unsur yang relevan.
Model Integratif Pemahaman Hadis
- Berdasarkan pembahasan tersebut, pendekatan yang lebih konstruktif adalah model integratif yang dapat digambarkan sebagai berikut:
- Takhrij → Kritik sanad → Kritik matan → Analisis bahasa → Konteks historis → Perbandingan riwayat → Syarah ulama → Analisis tujuan/makna → Kontekstualisasi → Aplikasi kontemporer
- Model ini menempatkan hermeneutika bukan sebagai pengganti ilmu hadis, melainkan sebagai salah satu instrumen dalam tahap interpretasi.
- Model tersebut juga memungkinkan terjadinya dialog antara warisan keilmuan klasik dan metodologi akademik kontemporer.
Tantangan Hermeneutika Hadis
Penggunaan hermeneutika dalam studi hadis menghadapi beberapa tantangan.
- Pertama, terdapat perbedaan epistemologis antara hermeneutika modern yang berkembang dalam tradisi filsafat Barat dan ilmu hadis yang lahir dari tradisi keilmuan Islam. Karena itu, konsep hermeneutika tidak dapat diimpor secara mentah.
- Kedua, konteks historis hadis tidak selalu dapat direkonstruksi secara lengkap. Informasi mengenai sebab munculnya hadis terkadang terbatas sehingga rekonstruksi harus dilakukan secara hati-hati.
- Ketiga, penafsir menghadapi risiko presentism, yaitu membaca masa lalu dengan kategori dan nilai masyarakat sekarang secara berlebihan.
- Keempat, terdapat risiko menjadikan kebutuhan kontemporer sebagai dasar untuk memaksakan makna tertentu terhadap teks.
- Kelima, interpretasi yang mengabaikan khazanah syarah dan metodologi ulama klasik berpotensi menghasilkan kesimpulan yang secara akademik kurang kuat.
Peluang Pengembangan Studi Hadis
- Di sisi lain, hermeneutika membuka peluang penting bagi pengembangan studi hadis. Pendekatan ini dapat membantu peneliti mengembangkan studi interdisipliner yang menghubungkan ilmu hadis dengan sejarah, linguistik, antropologi, sosiologi, filsafat bahasa, dan ilmu sosial.
- Perkembangan penelitian kontemporer menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual terus berkembang dalam studi Islam. Penelitian 2026 mengenai epistemologi hermeneutika kontekstual Abdullah Saeed, misalnya, menunjukkan perhatian yang semakin besar terhadap hubungan antara makna historis teks, struktur nilai, dan kebutuhan masyarakat abad ke-21. (E-Journal Uin Ponorogo)
- Walaupun kajian tersebut terutama berfokus pada Al-Qur’an, perkembangan metodologisnya relevan sebagai bahan perbandingan untuk studi hadis karena memperlihatkan bagaimana teks keagamaan dapat dibaca melalui hubungan antara konteks historis dan konteks kontemporer.
Prinsip-Prinsip Hermeneutika Hadis yang Bertanggung Jawab
Berdasarkan pembahasan di atas, hermeneutika hadis yang bertanggung jawab setidaknya perlu mempertahankan beberapa prinsip.
- Pertama, autentisitas hadis harus diperiksa sebelum interpretasi dijadikan dasar argumentasi.
- Kedua, teks harus dibaca dalam bahasa aslinya dengan memperhatikan struktur bahasa Arab.
- Ketiga, riwayat yang berkaitan harus dikumpulkan dan dibandingkan agar pemahaman tidak dibangun dari satu hadis secara terisolasi.
- Keempat, konteks historis dan asbab al-wurud perlu dipertimbangkan jika tersedia dan memiliki dasar riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan.
- Kelima, penafsiran ulama dan khazanah syarah hadis perlu menjadi bagian dari dialog akademik.
- Keenam, perbedaan antara ketentuan khusus dan prinsip umum harus dianalisis secara hati-hati.
- Ketujuh, penerapan kontemporer harus mempertimbangkan perubahan kondisi sosial tanpa mengubah prinsip agama secara sewenang-wenang.
- Kedelapan, hasil interpretasi harus dapat dipertanggungjawabkan melalui argumentasi ilmiah, bukan hanya berdasarkan intuisi atau preferensi penafsir.
Kesimpulan
Hermeneutika dapat memberikan kontribusi penting bagi studi hadis, terutama dalam menjelaskan hubungan antara teks, konteks historis, maksud komunikasi, dan kebutuhan pembaca masa kini. Pendekatan ini membantu menghindari pemahaman yang terlalu sederhana terhadap teks dan membuka ruang bagi pembacaan yang lebih historis, komprehensif, dan relevan.
Namun, hermeneutika tidak dapat menggantikan ilmu hadis. Autentisitas riwayat merupakan persoalan yang harus ditangani melalui takhrij, kritik sanad, kritik matan, dan disiplin hadis lainnya. Setelah status riwayat dapat dipertanggungjawabkan, barulah persoalan makna, konteks, tujuan, dan penerapan dapat dianalisis secara lebih luas.
Dengan demikian, hubungan antara ilmu hadis dan hermeneutika sebaiknya tidak dibangun dalam bentuk pertentangan antara “tradisional” dan “modern”, melainkan sebagai dialog metodologis. Ilmu hadis menyediakan fondasi autentikasi dan kontrol epistemologis, sementara pendekatan hermeneutis dapat memperkaya analisis makna dan konteks.
Hermeneutika yang bertanggung jawab bukanlah membebaskan teks hadis dari batas metodologis, tetapi memperluas kemampuan manusia untuk memahami teks secara lebih cermat tanpa kehilangan autentisitas, tradisi keilmuan, dan prinsip-prinsip dasar Islam.
Daftar Pustaka
- Alma’arif. (2015). Hermeneutika Hadis ala Fazlur Rahman. Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Hadis, 16(2), 243–264. DOI: 10.14421/qh.2015.1602-06. (E-JOURNAL)
- Hadziq, A., Musahadi, Shodiq, Bistara, R., & Rahmah, M. (2025). Dialektika Tradisi dan Modernitas: Ijtihad Muhammad Iqbal dalam Membentuk Hermeneutika Hadis. Academic Journal of Islamic Principles and Philosophy, 6(2). DOI: 10.22515/ajipp.v6i2.12265. (UINSaid E-Journal)
- Jailani, M., & Nurkholis. (2021). Kajian Pendekatan Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur’an Perspektif Ulama Muslim Kontemporer. Journal of Qur’an and Hadith Studies, 10(1), 93–120. DOI: 10.15408/quhas.v10i1.18556. (Journal UIN Jakarta)
- Naf’atu, L. I. (2015). Interpretasi Kontekstual Abdullah Saeed: Sebuah Penyempurnaan terhadap Gagasan Tafsir Fazlur Rahman. Hermeneutik: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. (Journal IAIN Kudus)
- Nurdiyanto, N., Melenia, A. F., & Wildany, A. H. M. (2026). Takhrij Hadis dalam Tafsir Al-Qur’an: Metodologi dan Aplikasinya dalam Pemahaman Kontemporer. AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies, 7(1). DOI: 10.51875/alisnad.v7i1.1174. (New Jurnal)
- Barir, M., & Khoirulwaro, M. (2026). Epistemologi Hermeneutika Kontekstual Abdullah Saeed dalam Penafsiran Al-Qur’an. JUSMA: Jurnal Studi Islam dan Masyarakat, 5(1), 20–36. DOI: 10.21154/jusma.v5i1.5673. (E-Journal Uin Ponorogo)
- Satria, T., Samad, D., & Mamad, F. (2026). Pendekatan Hermeneutika Kontekstual dalam Tafsir Al-Qur’an: Kajian Kritis terhadap Metodologi Fazlur Rahman dan Abdullah Saeed. AL-MIKRAJ: Jurnal Studi Islam dan Humaniora, 6(1). DOI: 10.37680/almikraj.v6i1.8460. (ejournal.insuriponorogo.ac.id)
- Alwatasi, U., & Mahendra, N. (2026). A Contextual Paradigm in Contemporary Tafsir: A Comparative Study of Fazlur Rahman, Abdullah Saeed, and Sahiron Syamsuddin. Journal of Qur’anic Inquiry and Review, 1(2). DOI: 10.69526/qir.v1i2.434. (yayasanpendidikantafsirhadis.com)
- Sufiyana, A. Z. (2019). Fazlur Rahman: Pemikiran Hadits dan Sunnah. Vicratina: Jurnal Ilmiah Keagamaan, 4(8). (jim.unisma.ac.id)








Leave a Reply