š„ BUZZER: DIBAYAR UNTUK BERSUARA, ATAU DIBAYAR UNTUK MEMBUNGKAM KEBENARAN?
Di zaman ketika satu jempol bisa mengubah opini jutaan orang, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling viralātetapi siapa yang paling jujur.
Media sosial membuat manusia memiliki āpengeras suaraā di tangannya. Satu orang bisa membuat sebuah isu menjadi ramai, satu video bisa mengubah persepsi, dan satu narasi bisa menyebar ke jutaan layar. Di sinilah istilah buzzer menjadi populer. Tetapi jangan buru-buru memberi label: buzzer tidak selalu jahat. Yang menentukan bukan namanya, melainkan apa yang disuarakan dan bagaimana cara menyuarakannya.
Buzzer yang membantu kampanye kesehatan, pendidikan, kemanusiaan, kegiatan masjid, produk halal, atau gerakan sosial yang benar, pada dasarnya dapat menjadi bagian dari komunikasi positif. Bahkan jika mendapatkan bayaran, tidak otomatis haram. Profesional dibayar bukan dosa. Yang menjadi masalah adalah ketika uang membeli kebohongan.
Bayangkan seseorang menerima uang untuk membuat sebuah berita palsu terlihat benar. Ia tahu faktanya tidak demikian, tetapi tetap membuat konten. Ia tahu tuduhan itu belum terbukti, tetapi tetap menyebarkannya. Ia tahu potongan video itu menyesatkan, tetapi sengaja mengunggahnya agar orang marah. Di titik itu, jempol sudah berubah menjadi alat yang berbahaya.
Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 6, agar orang beriman melakukan tabayyun ketika menerima berita. Pesannya sangat sederhana tetapi sangat keras untuk zaman digital: jangan langsung percaya, apalagi langsung menyebarkan. Sebab sekali informasi palsu masuk ke jutaan kepala, meminta maaf tidak selalu mampu mengembalikan kerusakan yang telah terjadi.
Rasulullah ļ·ŗ juga mengingatkan bahwa seseorang dapat disebut pendusta ketika ia menceritakan semua yang didengarnya. HR. Muslim. Coba bayangkan prinsip itu di era WhatsApp, TikTok, Instagram, X, Facebook, dan berbagai platform lainnya. Kalau setiap informasi yang masuk langsung kita forward, mungkin kita bukan hanya menjadi pengguna media sosialākita sedang menjadi distributor informasi yang tidak kita ketahui kebenarannya.
Yang lebih mengerikan adalah ketika buzzer tidak lagi menjual informasi, tetapi menjual kemarahan. Lawan politik dihina. Tokoh agama diserang. Dokter dicaci. Keluarga ikut dibawa-bawa. Foto lama diangkat kembali. Video dipotong. Judul dibuat provokatif. Semua dilakukan agar publik marah sebelum sempat berpikir.
Islam tidak melarang perbedaan pendapat. Bahkan kritik dapat menjadi bagian dari amar makruf nahi mungkar. Tetapi kritik bukan lisensi untuk memfitnah. Berbeda pendapat bukan alasan untuk menghancurkan kehormatan seseorang. Membela tokoh yang kita sukai juga bukan alasan untuk menutup mata terhadap kesalahannya.
Ada satu penyakit digital yang lebih halus: āasal kelompok saya menang.ā Kalau tokoh kita salah, dicari pembenaran. Kalau lawan kita benar, dicari kesalahannya. Kalau berita menguntungkan kelompok kita, langsung share. Kalau merugikan, disebut hoaks tanpa memeriksa. Ini bukan lagi mencari kebenaran. Ini namanya menjadikan kebenaran sebagai budak fanatisme.
Anak muda harus berani keluar dari jebakan itu. Jangan menjadi budak algoritma. Jangan membiarkan algoritma menentukan siapa yang harus kita benci, siapa yang harus kita puja, dan apa yang harus kita percaya. Algoritma mengejar perhatian; seorang Muslim mengejar kebenaran dan ridha Allah.
Bagi para buzzer, influencer, kreator, admin, dan pekerja komunikasi digital, pesannya juga jelas: jangan jual integritas demi engagement. Jangan menjadikan fitnah sebagai konten, kebencian sebagai strategi, dan kebohongan sebagai pekerjaan. Uang mungkin masuk rekening, tetapi setiap kata tetap memiliki konsekuensi moral di hadapan Allah.
Sebaliknya, mengapa tidak menjadi buzzer kebaikan? Kalau keburukan bisa dibuat viral, kebaikan juga bisa. Mari viralkan ilmu, kesehatan, pendidikan, sedekah, kepedulian terhadap dhuafa, perlindungan anak, kepedulian lingkungan, dan kegiatan masjid. Kalau manusia berlomba membuat sensasi, umat seharusnya berlomba membuat manfaat.
Karena itu, sebelum menekan tombol LIKE, SHARE, REPOST, atau FORWARD, berhenti tiga detik dan tanyakan: Benar nggak? Ada buktinya nggak? Perlu disebarkan nggak? Kalau ternyata salah, siapa yang dirugikan? Tiga detik berpikir bisa mencegah berhari-hari penyesalan.
Jangan bangga hanya karena konten kita viral. Fitnah juga bisa viral. Kebohongan juga bisa trending. Penghinaan juga bisa mendapat jutaan views. Ukuran seorang Muslim bukan seberapa banyak orang melihatnya, tetapi apakah apa yang dilihat itu membawa manusia mendekat kepada kebenaran dan kebaikan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan āKamu buzzer siapa?ā Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: āKebenaran siapa yang sedang kamu perjuangkan?ā Jangan sampai kita sibuk memenangkan perang opini tetapi kalah dalam perang melawan hawa nafsu, fanatisme, kebohongan, dan ketidakadilan dalam diri sendiri.
Jangan menjadi pengeras suara kebencian. Jadilah pengeras suara kebenaran. Jangan membuat kebohongan menjadi viral. Buatlah kebaikan menjadi viral. Karena di dunia digital manusia menghitung views, tetapi di akhirat Allah menghitung amal.
MAB Masjid Al-Falah Benhil Jakarta
DARI MASJID UNTUK UMAT ā BERBAGI ILMU DAN KESEHATAN
@MABmasjidalfalahbenhil
www.masjidalfalahbenhil.com















Leave a Reply