SURAH ASY-SYU’ARĀ’: SURAH TENTANG PENYAIR, BUKAN PEMUSIK. Kajian Ilmiah Berdasarkan Al-Qur’an, Hadis, Tafsir, dan Pendapat Empat Mazhab
Di masyarakat berkembang anggapan bahwa Surah Asy-Syu’arā’ (الشعراء) adalah “surah pemusik”. Anggapan ini tidak memiliki dasar dalam bahasa Arab, tafsir Al-Qur’an, maupun literatur Islam klasik. Kata Asy-Syu’arā’ merupakan bentuk jamak dari syā’ir (شاعر) yang berarti penyair, bukan mughannī (penyanyi) atau mūsīqī (pemusik). Penamaan surah ini didasarkan pada ayat 224–227 yang membahas karakter para penyair pada masa Nabi Muhammad ﷺ. Artikel ini bertujuan menjelaskan makna Surah Asy-Syu’arā’ berdasarkan Al-Qur’an, hadis, tafsir para ulama, serta pandangan empat mazhab mengenai syair dan musik. Kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak mengharamkan syair secara mutlak, tetapi mengecam syair yang mengajak kepada kesesatan dan memuji syair yang berisi iman, dakwah, hikmah, dan akhlak. Pembahasan mengenai musik merupakan persoalan fikih yang berbeda dengan pembahasan tentang penyair dalam Surah Asy-Syu’arā’.
Nama-nama surah dalam Al-Qur’an memiliki makna dan hikmah tertentu. Salah satunya adalah Surah Asy-Syu’arā’, surah ke-26 yang terdiri dari 227 ayat. Surah ini dinamakan “Asy-Syu’arā'” karena pada bagian akhirnya Allah membahas keadaan para penyair. Dalam beberapa tahun terakhir muncul anggapan di media sosial bahwa surah ini adalah “surah pemusik”. Klaim tersebut tidak sesuai dengan makna bahasa Arab maupun penjelasan para ulama tafsir.
Kesalahan tersebut terutama muncul karena tidak dibedakannya istilah syair dan musik. Dalam bahasa Arab, syair (asy-syi’r) adalah karya sastra berbentuk puisi, sedangkan musik disebut al-mūsīqā dan penyanyi disebut mughannī. Oleh karena itu, pembahasan mengenai penyair dalam Surah Asy-Syu’arā’ tidak identik dengan pembahasan mengenai musik.
Definisi Penyair dan Pemusik
Menurut bahasa
- Penyair (Syā’ir) adalah orang yang menciptakan atau menyampaikan syair (puisi) yang memiliki pola bahasa, irama, dan rima tertentu. Pada masyarakat Arab sebelum Islam, penyair memiliki kedudukan penting sebagai juru bicara suku.
- Pemusik adalah orang yang memainkan alat musik, menciptakan musik, atau menyanyikan lagu. Dalam bahasa Arab klasik digunakan istilah mughannī (penyanyi) atau mūsīqī (pemusik), bukan syā’ir.
Dengan demikian, secara bahasa maupun istilah, penyair dan pemusik merupakan dua profesi yang berbeda.
Surah Asy-Syu’arā’ Menurut Al-Qur’an
- Allah berfirman:«”Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.”(QS. Asy-Syu’arā’: 224)»
Kemudian Allah menjelaskan:«”Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah dan mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan?” (QS. Asy-Syu’arā’: 225–226)»
Namun Allah memberikan pengecualian:
- «”Kecuali penyair-penyair yang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah dan membela diri setelah dizalimi.”
(QS. Asy-Syu’arā’: 227)»
Ayat ini menunjukkan bahwa yang dikritik bukanlah syair itu sendiri, melainkan penyair yang menggunakan syair untuk menyebarkan kebatilan, kesyirikan, dusta, dan propaganda. Sebaliknya, syair yang digunakan untuk dakwah dan membela kebenaran dipuji.
Penjelasan Hadis Nabi ﷺ
- Rasulullah ﷺ bersabda:«”Sesungguhnya di antara syair terdapat hikmah.” (HR. al-Bukhari)»
Hadis ini menunjukkan bahwa syair dapat menjadi sarana menyampaikan ilmu, nasihat, dan kebijaksanaan.
Nabi ﷺ juga mendukung Hassan ibn Thabit untuk membela Islam melalui syair. Rasulullah ﷺ bahkan mendoakannya agar dikuatkan oleh Malaikat Jibril ketika membalas syair kaum musyrikin.
Penafsiran Ulama Tafsir
- Ibn Kathir menjelaskan bahwa celaan dalam ayat tersebut terutama berkaitan dengan para penyair jahiliah yang menggunakan syair untuk menyebarkan kebatilan, kebohongan, dan kemaksiatan. Mereka mengikuti dorongan hawa nafsu dan banyak berbicara tanpa landasan kebenaran. Namun, celaan tersebut tidak berlaku secara mutlak kepada semua penyair. Penyair yang beriman, beramal saleh, dan menggunakan kemampuan bahasanya untuk menyampaikan kebenaran berada dalam pengecualian yang disebutkan pada ayat-ayat berikutnya.
- Al-Tabari memberikan penekanan yang serupa. Menurut beliau, yang tercela adalah penyair yang mengajak manusia kepada kesesatan sementara dirinya sendiri tidak berpegang pada apa yang diucapkannya. Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata bentuk syair atau keindahan bahasa, tetapi isi, tujuan, dan pengaruhnya terhadap manusia. Syair yang digunakan untuk menipu, memfitnah, membangkitkan permusuhan, atau memperindah kebatilan termasuk dalam kritik ayat tersebut.
- Al-Qurtubi juga menegaskan bahwa syair pada dasarnya tidak otomatis haram atau tercela. Syair yang mengandung nasihat, hikmah, akhlak mulia, pujian kepada Allah, pembelaan terhadap kebenaran, atau pesan yang membawa kemaslahatan tidak termasuk dalam larangan tersebut. Bahkan, dalam tradisi Islam, kemampuan bahasa dan sastra dapat menjadi sarana menyampaikan nilai-nilai kebaikan selama tidak mengandung kemaksiatan, kebohongan, penghinaan, atau ajakan kepada kebatilan.
- Karena itu, ayat tersebut sebaiknya dipahami sebagai kritik terhadap penggunaan seni dan bahasa untuk menyesatkan manusia, bukan larangan terhadap seni atau syair secara mutlak. Al-Qur’an membedakan antara kata-kata yang membawa manusia menjauh dari kebenaran dan kata-kata yang memperkuat iman serta akhlak. Ukuran utamanya adalah iman, kebenaran isi, amal, dan dampak yang ditimbulkan. Inilah yang kemudian ditegaskan dalam QS. Asy-Syu‘ara’ 26:224–227, ketika orang-orang beriman dan beramal saleh dikecualikan dari celaan tersebut.
Kajian Ilmiah Berdasarkan Pendapat Empat Mazhab
Pembahasan QS. Asy-Syu‘arā’ ayat 224–227 perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Allah berfirman bahwa “para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat” (QS. Asy-Syu‘arā’: 224), kemudian menjelaskan karakter mereka: mereka banyak berbicara tanpa landasan kebenaran dan melakukan apa yang tidak mereka katakan. Setelah itu, Al-Qur’an memberikan pengecualian kepada orang-orang yang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah, serta membela diri setelah dizalimi (QS. Asy-Syu‘arā’: 225–227). Karena itu, objek utama ayat adalah penyair dan kandungan syairnya, bukan pembahasan khusus mengenai musik atau alat musik. Dalam khazanah fikih, hukum musik dan alat musik merupakan bab tersendiri yang memiliki dalil dan perincian pembahasan yang berbeda.
1. Mazhab Hanafi
- Dalam mazhab Hanafi, penilaian terhadap syair sangat berkaitan dengan isi dan tujuan penggunaannya. Syair yang mengandung nasihat, hikmah, pujian terhadap kebaikan, pembelaan terhadap kebenaran, atau ungkapan yang dibenarkan syariat pada dasarnya tidak dapat disamakan dengan syair jahiliah yang dicela Al-Qur’an. Sebaliknya, apabila syair berisi kebohongan, penghinaan, fitnah, perkataan keji, provokasi permusuhan, atau ajakan kepada kemaksiatan, maka masalahnya bukan karena ia berbentuk syair, tetapi karena kandungan yang diucapkan tersebut memang tercela secara syar‘i.
- Dalam literatur Hanafi juga terdapat perhatian terhadap konteks, kebiasaan, dan dampak suatu bentuk hiburan. Karena itu, tidak tepat menjadikan celaan terhadap syu‘arā’ dalam QS. Asy-Syu‘arā’ sebagai dalil tunggal untuk menetapkan seluruh persoalan musik. Syair adalah ungkapan verbal dan sastra, sedangkan musik dan alat musik mempunyai pembahasan fikih tersendiri. Dengan demikian, seseorang tidak dapat mengatakan bahwa karena Al-Qur’an mengkritik sebagian penyair, maka seluruh aktivitas musikal otomatis tercakup dalam ayat tersebut.
2. Mazhab Maliki
- Mazhab Maliki juga membedakan antara syair yang baik dan syair yang tercela. Syair tidak dihukumi hanya berdasarkan bentuknya sebagai puisi, tetapi dilihat dari kandungan dan tujuan penggunaannya. Apabila syair mengandung hikmah, pendidikan akhlak, nasihat, pujian kepada Allah, pembelaan terhadap kebenaran, atau ungkapan yang mubah, maka ia tidak termasuk dalam celaan yang ditujukan kepada kelompok penyair dalam QS. Asy-Syu‘arā’.
- Perspektif ini sejalan dengan struktur ayat itu sendiri. Al-Qur’an tidak berhenti pada ayat 224, tetapi langsung memberikan karakteristik dan pengecualian pada ayat-ayat berikutnya. Karena itu, memahami ayat secara utuh menunjukkan bahwa yang menjadi persoalan adalah penyimpangan moral dan agama yang dapat dibawa oleh syair, bukan sekadar profesi sebagai penyair. Adapun musik, nyanyian, dan alat musik dibahas dalam cabang fikih yang berbeda. Dalam mazhab Maliki sendiri terdapat pembahasan mengenai bentuk-bentuk samā‘, nyanyian, hiburan, serta keadaan yang menyertainya sehingga tidak tepat menyederhanakannya hanya dengan QS. Asy-Syu‘arā’: 224.
3. Mazhab Syafi‘i
- Dalam mazhab Syafi‘i, syair juga tidak dipandang sebagai sesuatu yang tercela secara mutlak. Imam al-Syafi‘i dikenal memiliki perhatian terhadap bahasa Arab dan syair sebagai bagian dari khazanah bahasa yang dapat membantu memahami Al-Qur’an dan Sunnah. Karena itu, syair yang benar dan bermanfaat tidak dapat disamakan dengan syair yang berisi kebatilan. Bahkan, syair dapat menjadi sarana menyampaikan nasihat, membela kehormatan, menguatkan semangat dalam kebaikan, dan menjelaskan nilai-nilai moral.
- Namun demikian, apabila sebuah syair mengandung kebohongan, celaan yang tidak dibenarkan, perkataan keji, atau ajakan kepada dosa, maka hukumnya mengikuti kandungannya. Prinsipnya adalah bahwa kemuliaan atau tercelanya suatu perkataan tidak semata-mata ditentukan oleh bentuk sastranya, tetapi oleh kebenaran dan konsekuensi isinya. Karena itu, QS. Asy-Syu‘arā’ tidak tepat dijadikan dalil bahwa Islam melarang puisi atau profesi penyair secara keseluruhan.
- Hal ini sekaligus membantu membedakan pembahasan syair dari musik. Dalam fikih Syafi‘i, persoalan ghinā’ (nyanyian) dan alat musik memiliki pembahasan tersendiri dengan rincian mengenai bentuk, isi, situasi, dan unsur yang menyertainya. Maka, ayat tentang penyair tidak boleh langsung dipindahkan menjadi dalil hukum seluruh musik tanpa terlebih dahulu membahas dalil-dalil yang memang berkaitan dengan musik dan alat musik.
4. Mazhab Hanbali
- Mazhab Hanbali dikenal memiliki sikap lebih ketat terhadap sejumlah bentuk hiburan dan musik dibandingkan sebagian pendekatan fikih lainnya. Akan tetapi, ketegasan tersebut tetap tidak berarti bahwa seluruh syair merupakan sesuatu yang tercela. Syair yang mengandung kebenaran, nasihat, ilmu, pujian kepada Allah, pembelaan terhadap agama, atau pesan moral tidak otomatis masuk ke dalam ancaman QS. Asy-Syu‘arā’: 224.
- Dalam kerangka Hanbali, yang penting adalah membedakan antara syair sebagai bentuk bahasa dan kandungan yang menyertainya. Syair yang mengajak kepada kebatilan tentu tercela, sedangkan syair yang mengandung kebenaran tidak dapat dihukumi sama hanya karena menggunakan bentuk puisi. Sikap yang lebih kritis terhadap musik atau alat musik merupakan persoalan lain yang dibangun dari pembahasan dalil-dalil khusus mengenai lahw, ghinā’, alat musik, dan hiburan.
- Karena itu, bahkan ketika seseorang mengikuti pendapat Hanbali yang ketat mengenai alat musik, ia tetap perlu menjaga ketepatan ilmiah: larangan terhadap sebagian bentuk musik tidak boleh dipaksakan sebagai makna QS. Asy-Syu‘arā’: 224, karena ayat tersebut secara eksplisit berbicara tentang asy-syu‘arā’—para penyair. Memasukkan musik ke dalam ayat tersebut tanpa argumentasi tambahan merupakan perluasan objek ayat yang membutuhkan dalil tersendiri.
Kesimpulan Fikih
Dengan membaca ayat secara utuh dan memperhatikan khazanah empat mazhab, dapat dirumuskan satu prinsip penting: Surah Asy-Syu‘arā’ adalah kritik terhadap penyair yang menggunakan bahasa untuk menyebarkan kesesatan, kebatilan, dan perkataan yang tidak diwujudkan dalam amal; bukan ayat khusus tentang hukum musik. Syair yang baik, benar, mendidik, dan membawa kepada kebaikan tidak otomatis tercela.
Sementara itu, hukum musik, nyanyian, dan alat musik merupakan persoalan fikih tersendiri. Di dalamnya terdapat perbedaan pendapat, rincian, dan pembahasan dalil yang tidak identik dengan tafsir QS. Asy-Syu‘arā’: 224–227. Oleh sebab itu, secara akademis lebih tepat mengatakan: “Surah Asy-Syu‘arā’ membahas karakter penyair dan penggunaan syair, sedangkan hukum musik dan alat musik harus dikaji melalui dalil-dalil fikihnya sendiri.” Ini menjaga agar tafsir ayat tidak diperluas melampaui objek yang sedang dibicarakan Al-Qur’an.
Pendapat Ulama tentang Surah Asy-Syu’arā’ dan Musik
- Para ulama tafsir dari berbagai generasi tidak menafsirkan Surah Asy-Syu’arā’ sebagai surah yang membahas musik atau para pemusik. Mereka sepakat bahwa nama surah ini berasal dari ayat 224–227 yang membahas para penyair (asy-syu’arā’), yaitu orang-orang yang menyampaikan syair. Al-Tabari menjelaskan bahwa ayat tersebut mengkritik para penyair Arab Jahiliah yang menggunakan syair untuk menyebarkan kesesatan, kebohongan, dan permusuhan, sedangkan penyair yang beriman dikecualikan. Ibn Kathir menegaskan bahwa celaan dalam ayat ini ditujukan kepada penyair yang mengikuti hawa nafsu dan mengucapkan sesuatu yang tidak mereka amalkan. Al-Qurtubi menjelaskan bahwa syair yang berisi hikmah, nasihat, pujian kepada Allah, atau pembelaan terhadap Islam tidak termasuk dalam celaan ayat tersebut.
- Pembahasan mengenai musik (al-mūsīqā’), nyanyian (al-ghinā’), atau alat musik (al-ma’āzif) dalam literatur Islam berasal dari dalil-dalil lain, terutama hadis Nabi ﷺ dan pembahasan fikih oleh para ulama empat mazhab, bukan dari Surah Asy-Syu’arā’. Karena itu, menyebut Surah Asy-Syu’arā’ sebagai “surah pemusik” tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an, tafsir klasik, maupun pendapat ulama. Nama surah tersebut secara bahasa dan menurut ijmak para mufasir berarti “Surah Para Penyair”, bukan “Surah Para Pemusik”.
Perbedaan Penyair dan Pemusik dalam Islam
| Penyair | Pemusik |
|---|---|
| Menyampaikan syair atau puisi | Menyampaikan lagu atau musik |
| Dibahas dalam QS. Asy-Syu’arā’ 224–227 | Tidak dibahas dalam Surah Asy-Syu’arā’ |
| Hukum bergantung isi syair | Hukum diperselisihkan berdasarkan bentuk dan penggunaannya |
| Dapat menjadi sarana dakwah | Menjadi pembahasan tersendiri dalam fikih |
Kesimpulan
Secara ilmiah, bahasa Arab, maupun tafsir Al-Qur’an, Surah Asy-Syu’arā’ bukanlah “surah pemusik”, melainkan “surah para penyair”. Ayat-ayat penutup surah tersebut tidak mengharamkan syair secara mutlak, tetapi mengkritik penyair yang menyebarkan kebatilan dan memberikan pengecualian kepada penyair yang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah, dan membela kebenaran. Syair dan musik merupakan dua konsep yang berbeda, baik secara bahasa maupun dalam kajian fikih Islam. Oleh karena itu, menyebut Surah Asy-Syu’arā’ sebagai “surah pemusik” tidak memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an, hadis, tafsir, maupun pendapat para ulama.
Daftar Pustaka
1. Al-Qur’an al-Karim, QS. Asy-Syu’arā’ ayat 224–227.
2. Sahih al-Bukhari (Hadis: “Sesungguhnya di antara syair terdapat hikmah.”)
3. Tafsir Ibn Kathir.
4. Jami’ al-Bayan.
5. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an.

- SENI MUSIK DAN NYANYIAN DALAM ISLAM. Telaah Sunnah, Empat Mazhab, Ulama Kontemporer, Fatwa, Contoh, dan Sikap Umat
- SENI SASTRA DALAM ISLAM. Telaah Al-Qur’an, Sunnah, Empat Mazhab, Ulama Kontemporer, Fatwa, Contoh, dan Sikap Umat
- SENI DAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM. Telaah Sunnah, Empat Mazhab, Ulama Kontemporer, Fatwa, Contoh Penerapan, dan Sikap Umat
- SENI RUPA DAN GAMBAR DALAM ISLAM: Telaah Sunnah, Empat Mazhab, Ulama Kontemporer, dan Sikap Umat
- SENI DALAM ISLAM: Prinsip Tauhid, Keindahan, Kreativitas, dan Batas Syariat dalam Seni Rupa, Musik, Sastra, Arsitektur, dan Budaya
- HUKUM MUSIK MENURUT MAZHAB SYAFI’I, Telaah Imam al-Syafi’i, Ulama Syafi’iyyah, Dalil Hadis, dan Panduan bagi Umat Islam di Indonesia
- HUKUM NYANYIAN: Tinjauan Tarjih Muhammadiyah tentang Nyanyian, Suara Perempuan, Isi Lagu, dan Seni Musik
- PANDANGAN MUHAMMADIYAH TENTANG SENI MUSIK DAN SENI TARI : Pendekatan Manhaj Tarjih terhadap Pengembangan Seni di Lingkungan Pendidikan dan TPA
- DUNIA ISLAM
- ISLAM & BUDAYA
- PUISI DAN SYAIR ISLAMI
- SENI DALAM ISLAM
















Leave a Reply