SYAIR DI BAWAH CAHAYA SUNNAH
Di bawah cahaya risalah yang terang,
Rasulullah ﷺ mempersatukan hati yang bimbang,
Dari kabilah, suku, dan jalan yang berbilang,
Menjadi umat yang satu dalam iman yang gemilang.
Para sahabat bukan manusia tanpa beda,
Mereka pun berijtihad dalam perkara agama,
Namun cinta tak gugur karena berbeda,
Sebab persaudaraan lebih luas daripada kata.
Mereka berbeda dalam memahami titah,
Namun tak menjadikan saudara sebagai musuh yang kalah,
Lisan tetap lembut, hati tetap pasrah,
Kepada Allah Yang Mahamengetahui segala hikmah.
Kemudian datanglah para pewaris ilmu,
Menyalakan pelita di jalan yang berliku,
Imam-imam besar menempuh jalan yang berbeda,
Namun semuanya tunduk kepada Kitab dan Sunnah.
Ada yang berkata, “Inilah pendapatku,”
Bukan, “Inilah kebenaran yang hanya milikku,”
Sebab mereka tahu ilmu bukan milik aku dan kamu,
Ia amanah dari Allah, dititipkan kepada hamba-Nya yang mau tahu.
Wahai umat yang berjalan di zaman fitnah,
Jangan jadikan perbedaan sebagai bara yang menyala,
Jangan karena satu cabang, kita memutus ukhuwah,
Jangan karena khilaf, kita saling menumpahkan luka.
Jika saudaramu berbeda dalam memahami,
Dekatilah dengan ilmu, bukan dengan mencaci,
Jika dalilmu lebih kuat menurut yang kau yakini,
Sampaikan dengan hikmah, lalu serahkan kepada Ilahi.
Sebab mungkin yang kita bela bukan lagi kebenaran,
Melainkan ego yang menyamar menjadi pembelaan,
Kita mengira sedang menjaga agama Tuhan,
Padahal sedang mempertahankan nama dan golongan.
Alangkah indahnya bila umat kembali mengerti,
Bahwa masjid terlalu suci untuk dipenuhi benci,
Bahwa sajadah terlalu luas untuk saling menghakimi,
Dan kiblat yang satu semestinya menyatukan hati.
Wahai pencinta Nabi, lembutkanlah jiwa,
Jadikan Sunnah sebagai cahaya, bukan senjata,
Jadikan ilmu sebagai jalan menuju takwa,
Bukan tangga untuk meninggikan diri di hadapan sesama.
Bila benar, ucapkan dengan rendah hati,
Bila keliru, kembalilah tanpa malu diri,
Bila berbeda, jangan putuskan tali,
Karena rahmat Allah jauh lebih luas daripada perselisihan ini.
Kelak ketika kita berdiri di hadapan Ilahi,
Tak berguna lagi kesombongan diri,
Bukan siapa paling keras dalam berargumentasi,
Tetapi siapa paling ikhlas mengabdi.
Maka berjalanlah, wahai umat, dalam cahaya,
Genggam Al-Qur’an, hidupkan Sunnah, muliakan ulama,
Berbeda dalam ijtihad tanpa kehilangan cinta,
Bersatu dalam iman, hingga bertemu Allah Yang Mahamulia.














Leave a Reply