MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

SYAIR DI TAMAN PERBEDAAN

SYAIR DI TAMAN PERBEDAAN

Wahai hati, jangan lekas membenci,
Hanya karena saudaramu tak sependapat,
Bukankah ilmu laksana samudra tak bertepi,
Sedang akal kita hanyalah setetes yang selamat?

Ulama dahulu menempuh jalan yang panjang,
Menggali dalil dengan air mata dan doa,
Bila berbeda, tak lekas saling menyerang,
Sebab yang dicari bukan menang, melainkan rida-Nya.

Ada yang berkata, “Pendapatku lebih dekat,”
Ada yang menjawab, “Dalil ini lebih kuat,”
Namun lisannya tetap penuh hormat,
Sebab ilmu tak pernah mengajarkan umat untuk menghujat.

Betapa indah hati para pencari kebenaran,
Tunduk kepada dalil, bukan kepada keakuan,
Bila benar, mereka bersyukur dalam diam,
Bila keliru, mereka kembali kepada kebenaran.

Jangan jadikan khilaf sebagai bara,
Yang membakar masjid, persaudaraan, dan cinta,
Perbedaan fikih jangan menjadi luka,
Hanya karena kita lupa bahwa kita semua hamba-Nya.

Bisa jadi yang kau cela adalah saudaramu,
Yang lebih dahulu menangis di hadapan Rabb-nya,
Bisa jadi amal yang kau anggap kecil itu,
Lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada sangkaanmu.

Ilmu tanpa adab menjadi pedang,
Memotong ukhuwah, melukai perasaan,
Tetapi ilmu yang disiram ketakwaan,
Menjadi cahaya bagi seluruh kehidupan.

Maka jika berbeda, lembutkan kata,
Jangan meninggikan suara melebihi dalil,
Jaga saudaramu sebagaimana engkau menjaga dirimu,
Sebab hati seorang mukmin bukan tempat menanam kebencian.

Kita berbeda dalam cabang dan ijtihad,
Namun kiblat kita tetap satu arah,
Kitab kita satu, Nabi kita satu,
Dan Tuhan yang kita sembah adalah Allah Yang Esa.

Kelak ketika tirai dunia tersingkap,
Tak ada lagi mazhab yang menjadi kebanggaan,
Tak ada lagi kelompok yang kita pertahankan dengan congkak,
Yang tinggal hanyalah amal dan rahmat Tuhan.

Maka berjalanlah dengan ilmu di tangan,
Dengan adab sebagai pakaian,
Dengan ukhuwah sebagai jalan,
Dan dengan Allah sebagai tujuan.

Jika benar, jangan sombong dengan kebenaran,
Jika berbeda, jangan kehilangan persaudaraan,
Jika belum tahu, jangan malu mengatakan,
“Aku belum tahu”—itulah awal dari kedalaman pengetahuan.

Sebab semakin tinggi ilmu seseorang,
Semakin tunduk ia di hadapan Yang Mengetahui,
Semakin luas laut pengetahuan yang ia renungkan,
Semakin ia sadar: betapa sedikit yang ia pahami.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *