- Hadis Doa Sebelum Makan dalam Penilaian Ilmiah Ilmu Hadis
- Kajian Islam | Ilmu Hadis | Takhrij dan Kritik Sanad
membuktikan bahwa redaksi tersebut berasal dari Nabi. Penilaian perlu memperhatikan sanad, kredibilitas perawi, kesinambungan periwayatan, serta kemungkinan adanya cacat dalam sanad atau matan.Hadis Sahih Membaca Basmalah Sebelum Makan
- يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ،
وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ - Yā ghulāmu, sammillāha, wa kul biyamīnika,
wa kul mimmā yalīka. - “Wahai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan
tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang dekat
denganmu.” - Sumber: Sahih al-Bukhari no. 5376, 4957
dan Sahih Muslim no. 2022, menurut penomoran yang lazim digunakan. - Derajat: Sahih.
Hadis ini diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah
radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ mengajarkan tiga adab:
menyebut nama Allah, makan dengan tangan kanan, dan
mengambil makanan yang dekat. Lafaz “Sammillah” merupakan perintah untuk menyebut nama Allah. Membaca “Bismillah” sebelum makan merupakan bentuk pengamalan tuntunan tersebut.
Dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Umar bin Abi Salamah: سَمِّ اللَّهَ (Sammillāh), yang berarti “Sebutlah nama Allah.” Menurut penjelasan ulama, termasuk Imam an-Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim, hadis ini menjadi dasar tuntunan menyebut nama Allah sebelum makan. Lafaz بِسْمِ اللَّهِ (Bismillāh), yang berarti “Dengan nama Allah”, merupakan bentuk pengamalan yang lazim dan sesuai dengan sunah. Seseorang juga dapat membaca بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (Bismillāhirrahmānirrahīm), yang menyebut dua nama Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Namun, perlu dibedakan antara perintah menyebut nama Allah dalam hadis dan redaksi khusus yang benar-benar diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ.
Secara bahasa, menyebut nama Allah tidak terbatas pada satu nama, karena Allah memiliki Al-Asma’ul Husna (الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى), yakni nama-nama yang paling indah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-A‘raf ayat 180. Nama-nama tersebut antara lain الرَّحْمَٰنُ (Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih), الرَّحِيمُ (Ar-Rahim, Yang Maha Penyayang), الْمَلِكُ (Al-Malik, Yang Maha Merajai), الْقُدُّوسُ (Al-Quddus, Yang Maha Suci), الْعَزِيزُ (Al-‘Aziz, Yang Maha Perkasa), الْحَكِيمُ (Al-Hakim, Yang Maha Bijaksana), dan الرَّزَّاقُ (Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki). Nama-nama ini boleh digunakan dalam doa dan zikir sesuai konteksnya. Akan tetapi, dalam tuntunan khusus sebelum makan, membaca Bismillāh tetap merupakan pilihan yang paling jelas dasar hadisnya; tidak ada dalil sahih yang menetapkan bahwa nama-nama Allah lainnya harus dibaca satu per satu sebelum makan.
Hadis yang menunjukkan basmallah bukan nama allah lainnya adalah dalam hadia berkaitan dengan adab makan antara lain perintah Rasulullah ﷺ kepada Umar bin Abi Salamah: يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ (Yā ghulāmu, sammillāh, wa kul biyamīnika, wa kul mimmā yalīka), artinya, “Wahai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang dekat denganmu.” Hadis ini sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Namun, perlu diluruskan bahwa Jami‘ at-Tirmidzi nomor 1751 bukan hadis doa sebelum makan. Dalam penomoran yang digunakan pada Sunnah.com, hadis tersebut membahas larangan membuat gambar makhluk bernyawa dan menguping pembicaraan orang lain, serta dinilai hasan sahih oleh Imam at-Tirmidzi. Jika yang dimaksud adalah doa makan yang diriwayatkan at-Tirmidzi, kita perlu memastikan nomor hadis yang tepat agar penilaian ilmiahnya tidak keliru.
Penilaian Doa “Allahumma Barik Lana Fima Razaqtana”
- اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ - Allāhumma bārik lanā fīmā razaqtanā
waqinā ‘adzāban-nār. - “Ya Allah, berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami dan lindungilah kami dari azab neraka.”
- Redaksi ini dikenal luas sebagai doa sebelum makan.
- Sejumlah ahli hadis menilai lemah sanad riwayat yang menisbatkan redaksi tersebut kepada Nabi Muhammad ﷺ. Karena itu, doa ini tidak tepat dinyatakan sebagai hadis sahih tanpa menjelaskan penilaian sanadnya.
- Riwayat yang menisbatkannya kepada Rasulullah ﷺ ditemukan dalam literatur doa, termasuk karya Ibn al-Sunni.
- Sejumlah ahli hadis menilai riwayat tersebut lemah (daif), antara lain karena kritik terhadap salah satu perawinya, Muhammad bin Abi az-Zu‘ayzi‘ah. Oleh sebab itu, doa ini tidak semestinya disebut sebagai hadis sahih tanpa penjelasan mengenai perbedaan antara redaksi doa dan kualitas riwayatnya.
- Pembahasan Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani tentang doa sebelum makan perlu dibedakan berdasarkan sumber periwayatan dan kitab yang dirujuk.
- Doa populer اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (Allāhumma bārik lanā fīmā razaqtanā waqinā ‘adzāban-nār) tercantum dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah karya Ibn al-Sunni dan dikutip oleh Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar. Sejumlah ahli hadis menilai lemah sanad riwayat yang menisbatkan redaksi tersebut kepada Nabi Muhammad ﷺ. Karena itu, doa ini tidak tepat dinyatakan sebagai hadis sahih tanpa menjelaskan penilaian sanadnya.
- Dari segi makna, permohonan keberkahan rezeki dan perlindungan dari neraka merupakan permohonan yang baik. Doa tersebut dapat dibaca sebagai doa umum, tanpa memastikan bahwa redaksi itu berasal dari Nabi ﷺ.
- اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ
وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ - Allāhumma bārik lanā fīhi wa ath‘imnā khairan minhu.
- “Ya Allah, berkahilah makanan ini bagi kami dan berilah
kami makanan yang lebih baik daripadanya.” - Sumber: Sunan Abu Dawud no. 3723
dan Jami‘ at-Tirmidzi no. 3455, menurut penomoran yang
lazim digunakan. - Penilaian:
At-Tirmidzi menilai riwayat ini hasan.
Adapun doa اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ (Allāhumma bārik lanā fīhi wa ath‘imnā khairan minhu), yang berarti “Ya Allah, berkahilah makanan ini bagi kami dan berilah kami makanan yang lebih baik daripadanya,” diriwayatkan dalam Jami‘ at-Tirmidzi dan dinilai hasan oleh at-Tirmidzi.
Riwayat ini juga dinilai sahih oleh Syekh al-Albani. Dengan demikian, dalam kajian ilmiah hadis, kita perlu membedakan doa yang baik maknanya dari doa yang memiliki dasar periwayatan kuat. Adapun membaca بِسْمِ اللَّهِ (Bismillāh) sebelum makan memiliki landasan yang tegas dalam hadis sahih al-Bukhari dan Muslim.
Penilaian terhadap riwayat ini perlu dibaca sesuai dengan
jalur periwayatan dan penjelasan ulama yang menelitinya.
Status hasan berarti hadis tersebut diterima menurut
kriteria penilaian hadis hasan, bukan berarti semua redaksi
doa makan yang serupa otomatis memiliki derajat yang sama.
Doa Ketika Lupa Membaca Basmalah
- بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
- Bismillāhi awwalahu wa ākhirahu.
- “Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya.”
- Sumber: Sunan Abu Dawud no. 3767
dan Jami‘ at-Tirmidzi no. 1858. - Hadis ini menjelaskan tuntunan ketika seseorang baru teringat bahwa ia belum menyebut nama Allah pada awal makan.
- Riwayat tersebut dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzi.
- Penomoran hadis dapat berbeda menurut edisi.
Perbandingan Kualitas Riwayat
| Amalan atau redaksi | Sumber | Penilaian |
|---|---|---|
| Membaca basmalah sebelum makan | Al-Bukhari dan Muslim | Sahih |
| Allahumma barik lana fima razaqtana | Literatur doa, termasuk Ibn al-Sunni | Riwayat marfu‘ dinilai lemah oleh sejumlah ahli hadis |
| Allahumma barik lana fihi wa ath‘imna khairan minhu | Abu Dawud dan at-Tirmidzi | At-Tirmidzi menilainya hasan |
| Bismillahi awwalahu wa akhirahu | Abu Dawud dan at-Tirmidzi | Hasan sahih menurut at-Tirmidzi |
Catatan metodologis: derajat hadis harus dikaitkan dengan
jalur sanad dan redaksi yang diteliti. Penilaian seorang
ulama terhadap satu jalur tidak selalu identik dengan
penilaian terhadap seluruh jalur yang ada.
- Berdasarkan hadis sahih dalam al-Bukhari dan Muslim,
membaca basmalah sebelum makan merupakan tuntunan
Rasulullah ﷺ yang memiliki landasan kuat. - Adapun doa panjang yang populer di masyarakat perlu
diperiksa satu per satu berdasarkan sumber dan kualitas
sanadnya. Doa yang memiliki makna baik boleh dipanjatkan
sebagai doa umum, tetapi tidak boleh secara sembarangan
dinisbatkan kepada Nabi sebagai hadis sahih. - Sikap ilmiah dalam beragama menuntut kita untuk membedakan antara doa yang baik maknanya, amalan yang dianjurkan, dan redaksi yang benar-benar terbukti berasal dari Rasulullah ﷺ.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il.
Al-Jami‘ al-Sahih, hadis no. 5376. - Muslim bin al-Hajjaj.
Sahih Muslim, hadis no. 2022. - Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy‘ats.
Sunan Abi Dawud, hadis no. 3723 dan 3767. - At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa.
Al-Jami‘, hadis no. 1858 dan 3455. - Ibn al-Sunni.
‘Amal al-Yaum wa al-Lailah.
Rujukan untuk penelusuran riwayat doa yang populer.
Nomor hadis mengikuti penomoran yang lazim digunakan
dan dapat berbeda antar-edisi. Untuk publikasi akademik,
nomor hadis, redaksi Arab, jalur sanad, serta penilaian
ulama sebaiknya diverifikasi kembali berdasarkan edisi
kitab yang dijadikan rujukan.












Leave a Reply