MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

TANYA JAWAB FIKIH Bagaimana Pendapat Ulama Mazhab Syafi’i tentang Tahlilan dan Jamuan di Rumah Keluarga Mayit?

TANYA JAWAB FIKIH Bagaimana Pendapat Ulama Mazhab Syafi’i tentang Tahlilan dan Jamuan di Rumah Keluarga Mayit?

Pertanyaan

Benarkah ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa berkumpul di rumah keluarga mayit dan keluarga mayit menyediakan makanan bagi para pelayat merupakan amalan yang tidak dianjurkan?

Jawaban

Ya. Dalam literatur fikih mazhab Syafi’i, perlu dibedakan antara mendoakan mayit, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan menghibur keluarga yang berduka, yang merupakan amalan yang disyariatkan, dengan berkumpul di rumah keluarga mayit disertai penyelenggaraan jamuan oleh keluarga mayit, yang dibahas secara khusus oleh para ulama fikih. Pembahasan dalam kitab-kitab mazhab Syafi’i lebih banyak mengkritisi jamuan yang diselenggarakan oleh keluarga mayit, terutama apabila menjadi kebiasaan yang membebani mereka atau dianggap sebagai bagian dari syariat.

1. Pendapat Imam al-Syafi’i

Imam al-Syafi’i dalam Al-Umm menjelaskan bahwa yang disunnahkan adalah tetangga dan kerabat membuatkan makanan untuk keluarga mayit, berdasarkan hadis Nabi ﷺ ketika wafatnya Ja’far bin Abi Thalib:

“Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkan mereka.”

Menurut Imam al-Syafi’i, keluarga yang sedang tertimpa musibah berada dalam keadaan sedih dan sibuk mengurus jenazah, sehingga tidak selayaknya dibebani untuk menjamu orang-orang yang datang melayat. Prinsip ini kemudian menjadi dasar yang diikuti oleh banyak ulama besar mazhab Syafi’i.

2. Pendapat Imam al-Khatib al-Syarbini

Al-Khatib al-Syarbini dalam Mughni al-Muhtaj (Dar al-Fikr, Beirut) menjelaskan bahwa yang disunnahkan adalah membuatkan makanan untuk keluarga mayit, sedangkan berkumpul di rumah keluarga mayit disertai penyediaan makanan oleh keluarga mayit bagi para pelayat termasuk amalan yang tidak dianjurkan, bahkan beliau menggolongkannya sebagai bid’ah, karena tidak berasal dari tuntunan Rasulullah ﷺ maupun para sahabat.

Beliau menjelaskan bahwa hikmah syariat adalah meringankan beban keluarga mayit, bukan menambah kesulitan mereka. Oleh sebab itu, apabila keluarga mayit harus memasak atau menyediakan jamuan bagi tamu yang datang, terlebih apabila dianggap sebagai suatu keharusan dalam agama atau adat, maka hal tersebut bertentangan dengan tujuan sunnah yang menghendaki kemudahan bagi orang yang sedang tertimpa musibah.

3. Pendapat Imam Zakariyya al-Anshari

Zakariyya al-Ansari dalam Asna al-Mathalib fi Syarh Raudh al-Talib menerangkan bahwa sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ adalah memberikan makanan kepada keluarga mayit, bukan sebaliknya.

Penjelasan beliau didasarkan pada hadis Nabi ﷺ mengenai keluarga Ja’far bin Abi Thalib. Menurut beliau, keluarga mayit sedang berada dalam kondisi yang menyulitkan sehingga masyarakat dianjurkan membantu mereka. Oleh karena itu, apabila keluarga mayit justru harus menyediakan jamuan bagi para pelayat karena dianggap sebagai tradisi yang wajib dilakukan, maka praktik tersebut tidak sesuai dengan tujuan syariat yang ingin memberikan kemudahan dan meringankan beban mereka.

4. Pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami

Ibn Hajar al-Haitami dalam Tuhfat al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj menjelaskan bahwa kebiasaan keluarga mayit menyediakan makanan bagi para pelayat apabila dilakukan secara terus-menerus atau dianggap sebagai bagian dari syariat merupakan amalan yang dipandang makruh, bahkan oleh sebagian ulama Syafi’iyyah disebut sebagai bid’ah, karena tidak memiliki dasar dari amalan Rasulullah ﷺ dan para sahabat.

Beliau tetap menegaskan bahwa yang sesuai sunnah adalah memberikan makanan kepada keluarga mayit, sedangkan membebani mereka dengan penyelenggaraan jamuan bertentangan dengan hikmah syariat yang menghendaki kemudahan dan kasih sayang kepada keluarga yang sedang berduka.

Kesimpulan

Berdasarkan keterangan Imam al-Syafi’i dan ulama besar mazhab Syafi’i setelah beliau, dapat disimpulkan bahwa:

  • Mendoakan mayit, membaca Al-Qur’an, berzikir, memohonkan ampunan, dan menghibur keluarga yang berduka merupakan amalan yang disyariatkan.
  • Membuat makanan untuk keluarga mayit adalah sunnah, berdasarkan hadis Nabi ﷺ tentang keluarga Ja’far bin Abi Thalib.
  • Keluarga mayit menyelenggarakan jamuan bagi para pelayat dipandang tidak dianjurkan dalam kitab-kitab fikih Syafi’iyyah, bahkan oleh sejumlah ulama disebut sebagai bid’ah, terutama apabila dijadikan tradisi keagamaan, diyakini sebagai bagian dari syariat, atau membebani keluarga yang sedang tertimpa musibah.

Karena itu, ketika membahas tahlilan, penting untuk membedakan antara isi acaranya, seperti doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an untuk mayit, dengan tradisi penyelenggaraan jamuan oleh keluarga mayit. Keduanya merupakan pembahasan fikih yang berbeda dan tidak boleh disamakan dalam penetapan hukumnya.

Daftar pustaka

  1. Al-Umm. Al-Umm. Beirut: Dar al-Ma’rifah; 1990.
  2. Al-Khatib al-Syarbini. Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifat Ma’ani Alfaz al-Minhaj. Beirut: Dar al-Fikr; 1997.
  3. Zakariyya al-Ansari. Asna al-Mathalib fi Syarh Raudh al-Talib. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah; 2000.
  4. Ibn Hajar al-Haitami. Tuhfat al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj. Beirut: Dar al-Fikr; 1983.
  5. Sunan Abi Dawud. Kitab al-Jana’iz, Hadis No. 3132 (“Ashna’u li ali Ja’farin tha’aman…”). Beirut: Dar al-Risalah al-‘Alamiyyah; 2009. Hadis ini juga tersedia di .
  6. Jami’ al-Tirmidhi. Kitab al-Jana’iz, Hadis No. 998. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.
  7. Sunan Ibn Majah. Kitab al-Jana’iz, Hadis No. 1610. Beirut: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah.
  8. Jarir ibn Abdullah al-Bajali. Riwayat: “Kami menganggap berkumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan setelah pemakaman termasuk niyahah.” Dalam Sunan Ibn Majah, Kitab al-Jana’iz, Hadis No. 1612.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *