MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

Berita Kemenangan Bangsa Romawi: Salah Satu Mukjizat Al-Qur’an

Berita Kemenangan Bangsa Romawi: Salah Satu Mukjizat Al-Qur’an

Berita Kemenangan Bangsa Romawi: Salah Satu Mukjizat Al-Qur’an. Artikel ini membahas pemberitaan Al-Qur’an mengenai kemenangan bangsa Romawi setelah mengalami kekalahan dari Persia sebagaimana disebutkan dalam QS. ar-Rum [30]: 2–4. Al-Qur’an menyatakan bahwa Romawi telah dikalahkan, tetapi akan kembali memperoleh kemenangan dalam bid‘ sinin, yaitu beberapa tahun. Pemberitaan tersebut menjadi salah satu contoh yang dibahas dalam konsep i‘jaz al-ghaybi, yaitu pemberitaan wahyu mengenai peristiwa yang belum terjadi ketika ayat disampaikan. Tafsir Ibn Kathir mengaitkan ayat ini dengan kekalahan Romawi di hadapan Persia, kemudian kebangkitan Romawi di bawah Kaisar Heraclius hingga berhasil membalik keadaan. (Quran.com) Artikel ini menganalisis hubungan antara teks Al-Qur’an, konteks sejarah peperangan Romawi-Persia, dan penafsiran ulama, dengan pendekatan historis dan tafsir. Kajian ini menunjukkan bahwa kekuatan argumentasi kemukjizatan ayat tersebut terletak pada pemberitaan tentang perubahan keadaan Romawi dari posisi kalah menuju kemenangan dalam rentang waktu yang disebutkan Al-Qur’an, sekaligus menegaskan bahwa seluruh perubahan kekuasaan berada dalam ketetapan Allah.

Al-Qur’an tidak hanya memuat ajaran akidah, ibadah, dan akhlak, tetapi juga menyampaikan berita tentang peristiwa yang memiliki dimensi sejarah dan masa depan. Salah satu contoh yang paling menonjol terdapat dalam QS. ar-Rum [30]: 2–4, ketika bangsa Romawi mengalami kekalahan dalam peperangan melawan Persia, tetapi Al-Qur’an memberitakan bahwa mereka akan kembali menang فِي بِضْعِ سِنِينَ (fī bid‘i sinīn), “dalam beberapa tahun”. Ayat tersebut turun dalam konteks ketika kekuatan Romawi berada dalam keadaan terdesak, sementara masyarakat Arab juga memperhatikan persaingan antara dua kekuatan besar tersebut. Tafsir Ibn Kathir menjelaskan bahwa Heraclius, penguasa Romawi, sempat berada dalam keadaan sangat sulit sebelum kemudian memperoleh kemenangan dan membalik keadaan. Riwayat yang dinukilnya dari Ibn ‘Abbas juga menggambarkan bahwa kaum Muslimin menantikan kemenangan Romawi karena mereka termasuk Ahl al-Kitab, sedangkan kaum musyrik lebih menyukai kemenangan Persia. (Quran.com) Karena itu, pemberitaan QS. ar-Rum 30:2–4 menjadi penting dalam kajian i‘jaz al-Qur’an, khususnya i‘jaz al-ghaybi, yaitu dimensi kemukjizatan yang berkaitan dengan pemberitaan wahyu mengenai sesuatu yang belum terjadi. Kajian terhadap ayat ini perlu dilakukan secara proporsional dengan mempertemukan teks Al-Qur’an, tafsir ulama, dan data sejarah, sehingga kemukjizatannya tidak dibangun melalui klaim yang berlebihan, tetapi melalui pembacaan ilmiah terhadap teks, konteks, dan realitas sejarah.

Sejarah Kemenangan Bangsa Romawi

Sejarah Kemenangan Bangsa Romawi berkaitan dengan peperangan panjang antara Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium dan Kekaisaran Persia Sasaniyah. Pada awal abad ke-7 M, Persia melancarkan serangan besar terhadap wilayah Romawi dan berhasil merebut sejumlah daerah penting, termasuk wilayah Syam dan Yerusalem. Kekalahan Romawi berlangsung dalam beberapa tahap dan menempatkan kekaisaran tersebut dalam keadaan yang sangat terdesak. Latar sejarah inilah yang dikaitkan para mufasir dengan firman Allah dalam QS.

  • ar-Rum 30:2–3, غُلِبَتِ الرُّومُ ۝ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُم مِّنۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ,
  • “Bangsa Romawi telah dikalahkan di negeri yang terdekat, dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang.”

Setelah mengalami serangkaian kekalahan, Kaisar Romawi Heraclius melakukan reorganisasi dan kemudian melancarkan serangan balik terhadap Persia. Dalam riwayat sejarah yang dirujuk dalam tafsir, kebangkitan Romawi berlangsung bertahap, hingga mereka berhasil membalik keadaan dan mengalahkan Persia. Pertempuran-pertempuran penting dalam fase pembalasan tersebut terjadi pada dekade 620-an, dan kemenangan besar Romawi kemudian mengubah keseimbangan kekuatan kedua imperium. Tafsir yang tersedia di Quran.com menghubungkan rangkaian kemenangan tersebut dengan pemberitaan Al-Qur’an bahwa Romawi akan kembali memperoleh kemenangan dalam بِضْعِ سِنِينَ (bid‘ sinīn), yaitu beberapa tahun.

Dari perspektif i‘jaz al-Qur’an, yang menjadi perhatian utama bukan sekadar fakta bahwa Romawi dan Persia berperang, tetapi bahwa Al-Qur’an ketika Romawi berada dalam keadaan kalah telah memberitakan bahwa mereka akan kembali menang dalam rentang beberapa tahun.

  • QS. ar-Rum 30:4 menegaskan, فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ,
  • “dalam beberapa tahun. Milik Allah urusan sebelum dan sesudahnya.”
  • Para mufasir menjadikan terpenuhinya pemberitaan tersebut sebagai salah satu contoh berita tentang perkara yang akan terjadi, yang memperkuat pembahasan kemukjizatan Al-Qur’an. Namun secara akademik, sejarah kemenangan Romawi tetap perlu dibaca bersama sumber sejarah dan tafsir, sementara aspek mukjizatnya berada pada dimensi pemberitaan wahyu tentang masa depan, bukan pada klaim bahwa Al-Qur’an merupakan buku sejarah atau buku sains.

Kemukjizatan Al-Qur’an

Salah satu bentuk kemukjizatan Al-Qur’an yang sering dibahas oleh para ulama adalah pemberitaan tentang kemenangan bangsa Romawi setelah mengalami kekalahan. Allah berfirman dalam QS. ar-Rum [30]: 2–4:

  • غُلِبَتِ الرُّومُ ۝ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُم مِّنۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ ۝ فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِنۢ بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ
  • “Bangsa Romawi telah dikalahkan di negeri yang terdekat, dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang dalam beberapa tahun. Milik Allah urusan sebelum dan sesudahnya. Pada hari itu orang-orang beriman akan bergembira.”

Ayat tersebut turun ketika Romawi Timur (Bizantium) mengalami kekalahan dalam peperangannya melawan Persia. Dalam tafsirnya, Ibn Kathir menjelaskan bahwa kekalahan itu berkaitan dengan serangan Persia terhadap wilayah Syam dan daerah-daerah kekuasaan Romawi. Ia juga menukil riwayat dari Ibn ‘Abbas bahwa kaum musyrik Makkah lebih menyukai kemenangan Persia, sedangkan kaum Muslimin lebih menyukai kemenangan Romawi karena Romawi merupakan Ahl al-Kitab. Abu Bakr kemudian menyampaikan pemberitaan Nabi ﷺ bahwa Romawi akan kembali menang.

Yang menarik secara i‘jaz, Al-Qur’an tidak hanya menyebut bahwa Romawi akan bangkit, tetapi menggunakan ungkapan فِي بِضْعِ سِنِينَ (fī bid‘i sinīn), yaitu dalam beberapa tahun. Para ulama menjelaskan bid‘ sebagai bilangan tahun yang kurang dari sepuluh. Riwayat yang dinukil Ibn Kathir menyebut bahwa kemenangan Romawi kemudian benar-benar terjadi dalam rentang tersebut, dan kaum Muslimin bergembira sebagaimana disebutkan dalam ayat. Al-Qur’an juga menutup pemberitaan itu dengan prinsip penting: لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ, “milik Allah segala urusan sebelum dan sesudahnya.” Dengan demikian, kemukjizatan ayat ini bukan sekadar pada informasi sejarah, tetapi pada pemberitaan tentang perubahan keadaan geopolitik yang pada saat itu belum terjadi, disertai penegasan bahwa seluruh perubahan kekuasaan berada dalam ketetapan Allah.

Secara akademik, ayat ini lebih tepat disebut sebagai contoh i‘jaz al-ghaybi atau pemberitaan tentang perkara yang belum terjadi, bukan “mukjizat ilmiah” dalam pengertian sains modern. Keunikannya terletak pada adanya prediksi yang diberikan ketika Romawi sedang mengalami kekalahan, kemudian sejarah mencatat kebangkitan mereka. Tafsir Ibn Kathir dan al-Tabari sama-sama mengaitkan ayat tersebut dengan kemenangan Romawi atas Persia.

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *