MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

JANGAN HABISKAN ENERGI UNTUK BERBEDA. Merawat Ukhuwah NU dan Salafi

JANGAN HABISKAN ENERGI UNTUK BERBEDA. Merawat Ukhuwah NU dan Salafi: Peran Ulama Menjadikan Ikhtilaf sebagai Rahmat

Umat Islam memiliki kekayaan tradisi pemikiran dan gerakan dakwah yang beragam. Nahdlatul Ulama (NU) dan berbagai komunitas yang mengidentifikasi diri dengan manhaj Salafi memiliki corak keilmuan, tradisi sosial, dan pendekatan dakwah yang dalam sejumlah persoalan berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menghabiskan energi umat, apalagi berkembang menjadi prasangka dan permusuhan. Di balik sejumlah perbedaan pada wilayah furu‘iyyah, terdapat fondasi keislaman yang sangat luas untuk menjadi titik temu, seperti keimanan kepada Allah, Al-Qur’an, Rasulullah ﷺ, kewajiban salat, puasa Ramadan, zakat, haji, penghormatan terhadap ilmu, dakwah kepada kebaikan, serta kepedulian terhadap kemaslahatan masyarakat. Artikel ini menempatkan adab al-ikhtilaf sebagai kerangka penting dalam membangun hubungan yang sehat antara NU dan Salafi. Ulama memiliki posisi strategis untuk membedakan antara persoalan prinsip dan persoalan cabang, menjelaskan perbedaan berdasarkan ilmu, serta menanamkan sikap saling menghormati. Dengan pendekatan tersebut, perbedaan tidak harus dihapus, tetapi dapat dikelola menjadi kekayaan intelektual dan sosial. Energi umat selanjutnya dapat diarahkan kepada persoalan yang lebih mendesak, seperti pendidikan, kemiskinan, kesehatan, pembinaan generasi muda, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan moral masyarakat. Dengan demikian, ukhuwah tidak berarti menyeragamkan pemikiran, tetapi membangun kemampuan untuk tetap bersaudara ketika terdapat perbedaan.

  • Kata kunci: NU, Salafi, ukhuwah Islamiyah, ikhtilaf, ulama, adab al-ikhtilaf, persatuan umat.

Jangan Sampai Perbedaan Menghabiskan Persaudaraan

Perbedaan adalah kenyataan yang tidak dapat dihapus dari kehidupan umat manusia, termasuk umat Islam. Sejak masa para ulama terdahulu, perbedaan dalam memahami persoalan keagamaan telah menjadi bagian dari dinamika intelektual Islam. Karena itu, persoalan pentingnya bukan bagaimana menghilangkan seluruh perbedaan, tetapi bagaimana mengelola perbedaan agar tidak berubah menjadi permusuhan. Dalam konteks Indonesia, hubungan antara NU dan komunitas Salafi merupakan salah satu ruang yang membutuhkan kedewasaan tersebut. Keduanya memiliki identitas, tradisi, dan pendekatan dakwah yang tidak selalu sama, tetapi umat yang berada di dalamnya tetap memiliki begitu banyak titik temu. Persoalan yang perlu direnungkan adalah apakah energi umat akan terus digunakan untuk memperbesar wilayah perbedaan, atau dialihkan untuk memperluas wilayah kerja sama dan kemaslahatan. Sebab, waktu umat sangat berharga, sementara tantangan kehidupan jauh lebih besar daripada sekadar mempertentangkan perbedaan dalam persoalan cabang.

Memahami NU dan Salafi secara Proporsional

NU merupakan organisasi Islam yang lahir dari tradisi ulama pesantren dan memiliki karakter kuat dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, keagamaan, serta kehidupan kebangsaan. Dalam tradisi keagamaannya, NU banyak berinteraksi dengan khazanah fikih dan tradisi keilmuan ulama yang berkembang dalam lingkungan pesantren. Sementara itu, istilah Salafi digunakan untuk merujuk pada arus pemikiran dan dakwah yang menekankan upaya mengikuti pemahaman generasi awal Islam (al-salaf al-shalih), dengan perhatian kuat terhadap Al-Qur’an dan Sunnah serta pemurnian akidah dan ibadah. Penting dicatat bahwa istilah “Salafi” sendiri mencakup spektrum komunitas dan tokoh yang tidak selalu identik dalam seluruh persoalan. Karena itu, pembahasan ilmiah perlu menghindari generalisasi terhadap seluruh warga NU maupun seluruh kelompok Salafi. Yang hendak dibangun bukanlah penghapusan identitas, melainkan pemahaman yang lebih adil terhadap perbedaan dan persamaan.

Persamaan yang Jauh Lebih Besar daripada Perbedaan

Jika dilihat secara mendasar, NU dan Salafi memiliki banyak persamaan dalam fondasi ajaran Islam. Keduanya sama-sama menempatkan tauhid sebagai dasar kehidupan beragama, mengimani Allah sebagai satu-satunya Tuhan, meyakini Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulullah, menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam, menghormati Sunnah Nabi, serta mengakui kewajiban-kewajiban pokok seperti salat, puasa Ramadan, zakat, dan haji bagi yang mampu. Keduanya juga sama-sama mendorong umat untuk beribadah, menuntut ilmu, menjauhi kemaksiatan, memperbaiki akhlak, berdakwah kepada kebaikan, membantu kaum yang membutuhkan, dan menjaga kehidupan sosial yang baik. Dengan demikian, apabila seluruh persoalan tersebut ditempatkan dalam satu peta yang utuh, wilayah persamaan ternyata jauh lebih luas daripada sejumlah persoalan yang menjadi bahan perbedaan

Tabel 1. Persamaan Fundamental NU dan Salafi

Aspek Persamaan
Tauhid Sama-sama mengesakan Allah dan menjadikan tauhid sebagai fondasi keimanan.
Al-Qur’an Sama-sama mengakui Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam.
Sunnah Sama-sama mengakui pentingnya Sunnah Rasulullah ﷺ dalam kehidupan beragama.
Rasulullah ﷺ Sama-sama meyakini Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasul terakhir dan teladan umat.
Rukun Islam Sama-sama mengakui syahadat, salat, zakat, puasa Ramadan, dan haji sebagai rukun Islam.
Akidah Sama-sama menekankan keimanan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, serta takdir.
Ibadah Sama-sama mengajak umat melaksanakan ibadah wajib dan memperbanyak amal saleh.
Akhlak Sama-sama menekankan kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, dan perilaku terpuji.
Dakwah Sama-sama mendorong amar makruf dan nahi mungkar serta mengajak manusia kepada kebaikan.
Pendidikan Sama-sama memandang ilmu agama sebagai unsur penting dalam pembentukan umat.
Kepedulian sosial Sama-sama mendorong sedekah, membantu fakir miskin, dan memperhatikan kemaslahatan masyarakat.
Keluarga Sama-sama menekankan pentingnya keluarga, pernikahan, pendidikan anak, dan penghormatan kepada orang tua.
Ukhuwah Sama-sama memiliki kepentingan menjaga persaudaraan sesama Muslim.
Kemaslahatan umat Sama-sama memiliki kepentingan agar umat Islam menjadi lebih berilmu, berakhlak, dan bermanfaat.

Tabel tersebut bukan berarti meniadakan perbedaan yang memang ada. Sebaliknya, tabel itu menunjukkan bahwa perbedaan perlu ditempatkan secara proporsional. Jangan sampai beberapa persoalan yang berbeda menutupi puluhan persoalan yang sebenarnya sama.

Perbedaan Fikih Tidak Identik dengan Perpecahan

  • Perbedaan dalam persoalan fikih merupakan fenomena yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi Islam. Para ulama dari berbagai mazhab dapat berbeda dalam memahami dalil, metode istinbat, atau penerapan hukum terhadap suatu persoalan, tetapi perbedaan tersebut tidak selalu berarti permusuhan. Dalam hubungan NU dan Salafi, terdapat sejumlah persoalan yang sering menjadi pembahasan, seperti beberapa praktik ibadah, tradisi keagamaan, persoalan tawassul, tahlil, ziarah kubur, qunut, dan masalah-masalah lainnya. Perbedaan tersebut sebaiknya ditempatkan dalam ruang kajian ilmiah dengan membedakan mana persoalan yang bersifat prinsip dan mana persoalan yang bersifat cabang. Dengan cara demikian, seseorang dapat meyakini pendapat yang dianggap lebih kuat berdasarkan dalil tanpa harus merendahkan Muslim yang mengambil pendapat berbeda.

Adab al-Ikhtilaf: Ilmu yang Sering Lebih Dibutuhkan daripada Dalil Tambahan

  • Persoalan umat terkadang bukan kekurangan dalil, melainkan kekurangan adab dalam menggunakan dalil. Seseorang dapat memiliki argumentasi yang kuat, tetapi cara menyampaikannya dapat menimbulkan luka. Sebaliknya, seseorang yang berbeda pendapat dapat tetap mempertahankan keyakinannya sambil menunjukkan penghormatan kepada orang lain. Adab al-ikhtilaf mengajarkan bahwa perbedaan harus disertai kejujuran ilmiah, penghormatan, kesediaan mendengar, tidak mudah menuduh, dan tidak menjadikan persoalan khilafiyah sebagai ukuran tunggal untuk menilai keislaman seseorang. Dalam konteks ini, ilmu yang tinggi seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan intelektual.

5. Peran Ulama: Menjadi Jembatan, Bukan Tembok

  • Ulama memiliki posisi strategis karena masyarakat sering menjadikan sikap ulama sebagai rujukan dalam menghadapi perbedaan. Karena itu, ulama dapat memainkan peran sebagai jembatan dialog antara berbagai kelompok umat. Ketika menjelaskan perbedaan, ulama dapat menerangkan argumentasi masing-masing secara proporsional, sekaligus mengajarkan bahwa perbedaan pendapat tidak otomatis membatalkan persaudaraan. Ulama juga dapat mempertemukan tokoh-tokoh dari berbagai kelompok dalam forum ilmiah, kegiatan sosial, pendidikan, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat. Pertemuan semacam itu penting karena prasangka sering tumbuh bukan karena seseorang benar-benar mengenal kelompok lain, tetapi justru karena tidak pernah berinteraksi secara langsung.

Ulama Perlu Mengajarkan Apa yang Sama Sebelum Menjelaskan Apa yang Berbeda

  • Dalam pendidikan umat, titik temu perlu diperkuat sebelum wilayah perbedaan dibicarakan secara mendalam. Generasi muda perlu terlebih dahulu memahami tauhid, Al-Qur’an, Sunnah, akhlak, ibadah wajib, kejujuran, amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial. Setelah fondasi tersebut kokoh, mereka dapat mempelajari perbedaan pemikiran dengan perspektif akademik. Pendekatan ini dapat mencegah lahirnya generasi yang mengenal kelompok lain hanya melalui potongan video, komentar media sosial, atau ceramah yang bersifat polemis. Mengenal perbedaan melalui ilmu jauh lebih sehat daripada mengenalnya melalui prasangka.

Jangan Habiskan Energi Umat pada Persoalan yang Tidak Mendesak

  • Umat Islam menghadapi persoalan yang jauh lebih besar: kemiskinan, ketimpangan pendidikan, pengangguran, kesehatan, kerentanan keluarga, perkembangan teknologi, tantangan moral generasi muda, literasi digital, dan perubahan sosial yang berlangsung cepat. Dalam situasi demikian, sangat disayangkan apabila energi umat habis untuk memperdebatkan persoalan cabang tanpa kesediaan mengerjakan persoalan bersama. Perbedaan tetap boleh dikaji, bahkan perlu dikaji secara ilmiah, tetapi jangan sampai kajian tersebut berubah menjadi permusuhan. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan; sebagian cukup dipahami dan dihormati.

Mengubah Perbedaan Menjadi Kerja Sama

  • NU dan komunitas Salafi dapat memiliki ruang kerja sama yang luas tanpa harus menyeragamkan identitas masing-masing. Pendidikan, bantuan kemanusiaan, penanggulangan kemiskinan, santunan anak yatim, pemberdayaan ekonomi, pembinaan pemuda, kebersihan lingkungan, bantuan bencana, dan penguatan keluarga merupakan bidang yang dapat menjadi titik temu. Ketika seorang Muslim dari latar belakang berbeda membantu korban bencana bersama, mengajar anak-anak kurang mampu bersama, atau mengumpulkan bantuan untuk keluarga miskin, identitas kelompok tidak hilang; justru identitas tersebut menemukan makna sosialnya dalam bentuk amal nyata.

Masjid sebagai Ruang Ukhuwah

  • Masjid dapat menjadi tempat yang sangat penting untuk mempertemukan umat. Perbedaan praktik ibadah tidak semestinya menyebabkan seseorang kehilangan haknya sebagai saudara Muslim untuk berada di rumah Allah. Dalam perkara yang memang memiliki perbedaan pendapat, masyarakat perlu belajar bahwa tidak setiap perbedaan harus dipersoalkan secara terbuka. Masjid seharusnya menjadi ruang pendidikan, ibadah, pelayanan sosial, dan persaudaraan. Semakin banyak umat merasakan bahwa masjid adalah tempat yang aman dari caci maki dan permusuhan, semakin besar pula peran masjid dalam membangun masyarakat yang damai.

Media Sosial dan Tantangan Polarisasi

  • Media sosial menghadirkan tantangan baru dalam hubungan antar kelompok Islam. Potongan ceramah beberapa detik dapat dilepaskan dari konteks dan kemudian dipertentangkan dengan ceramah kelompok lain. Algoritma digital juga cenderung memperkuat konten yang memancing emosi. Karena itu, ulama dan tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab besar untuk membangun budaya literasi keagamaan dan digital. Kritik terhadap suatu pendapat harus diarahkan kepada argumentasi, bukan penghinaan terhadap pribadi atau kelompok. Generasi muda perlu diajarkan untuk melakukan tabayyun, memeriksa sumber, membaca konteks, dan tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya tempat belajar agama.

Persaudaraan Tidak Berarti Menyeragamkan

  • Ukhuwah Islamiyah tidak berarti semua Muslim harus memiliki pendapat yang sama dalam seluruh persoalan. Persaudaraan justru diuji ketika terdapat perbedaan. Jika semua orang memiliki pendapat yang sama, kebutuhan untuk menghormati perbedaan hampir tidak pernah muncul. Karena itu, kedewasaan umat dapat terlihat ketika seseorang mampu mengatakan, “Saya meyakini pendapat ini berdasarkan dalil yang saya pahami, tetapi saya tetap menghormati saudara saya yang memiliki pandangan berbeda.” Sikap tersebut bukan relativisme agama, melainkan bentuk kedewasaan dalam mengelola perbedaan yang berada pada wilayah ijtihad dan khilafiyah.

Lima Pesan Utama

1. Perbesar Titik Temu, Jangan Perbesar Titik Beda

  • Persamaan fundamental antara NU dan Salafi sangat luas. Karena itu, titik temu seperti tauhid, Al-Qur’an, Sunnah, ibadah, akhlak, pendidikan, dakwah, dan kepedulian sosial perlu lebih sering dikedepankan daripada perbedaan cabang yang jumlahnya terbatas.

2. Teguh dalam Prinsip, Lembut dalam Perbedaan

  • Memiliki keyakinan terhadap suatu pendapat tidak mengharuskan seseorang bersikap kasar kepada orang yang berbeda. Keteguhan dalam prinsip harus berjalan bersama kelembutan akhlak. Kebenaran yang disampaikan tanpa adab dapat kehilangan daya persuasinya.

3. Ulama Harus Menjadi Teladan Ukhuwah

  • Masyarakat membutuhkan ulama yang tidak hanya pandai menjelaskan perbedaan, tetapi juga mampu menunjukkan bagaimana hidup berdampingan dengan perbedaan. Silaturahmi antartokoh, dialog ilmiah, kerja sosial bersama, dan komunikasi yang terbuka merupakan bentuk dakwah yang sangat kuat.

4. Alihkan Energi Polemik Menjadi Energi Amal

  • Waktu, tenaga, pikiran, dan sumber daya umat lebih bermanfaat apabila digunakan untuk mengatasi kemiskinan, meningkatkan pendidikan, membantu dhuafa, membina generasi muda, mengembangkan ekonomi umat, dan menghadirkan pelayanan sosial. Umat membutuhkan lebih banyak amal nyata dan lebih sedikit permusuhan.

5. Jangan Wariskan Kebencian kepada Generasi Berikutnya

  • Generasi muda tidak membutuhkan warisan permusuhan antarkelompok. Mereka membutuhkan teladan bahwa seorang Muslim dapat berbeda pendapat tetapi tetap bersalaman, belajar bersama, bekerja bersama, dan saling mendoakan. Jika generasi hari ini mampu mewariskan budaya dialog, maka perbedaan akan menjadi kekayaan; jika yang diwariskan adalah kebencian, perbedaan akan menjadi beban sejarah.

Berbeda Jalan, Bertemu dalam Ukhuwah

  • Kita tidak perlu menghapus perbedaan untuk membangun persaudaraan. NU tetap memiliki identitas dan tradisinya, komunitas Salafi tetap memiliki manhaj dan karakter dakwahnya. Perbedaan dalam persoalan keagamaan dapat terus dikaji dengan ilmu, dalil, dan argumentasi yang sehat. Namun di atas semua itu terdapat sesuatu yang jauh lebih besar: persaudaraan sebagai sesama Muslim dan tanggung jawab bersama untuk menghadirkan kebaikan.
  • Jangan sampai kita begitu sibuk membuktikan bahwa orang lain berbeda, hingga lupa bahwa kita memiliki begitu banyak persamaan. Jangan sampai kita begitu bersemangat memenangkan perdebatan, hingga kehilangan saudara. Jangan sampai lisan kita begitu tajam membicarakan khilafiyah, sementara tangan kita belum cukup ringan untuk membantu orang yang sedang kesulitan.
  • Perbedaan boleh tetap ada. Dialog harus tetap hidup. Ilmu harus terus berkembang. Tetapi persaudaraan jangan pernah dikorbankan.
  • Sebab umat Islam tidak akan menjadi kuat karena semua orang berbicara dengan suara yang sama, tetapi karena berbagai suara mampu bergerak dalam satu arah: mengabdi kepada Allah, mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ, memperbaiki akhlak, melayani manusia, dan membangun kemaslahatan.
  • Pada akhirnya, yang akan dikenang bukan berapa banyak perdebatan yang kita menangkan, melainkan berapa banyak hati yang kita selamatkan dari kebencian, berapa banyak manusia yang kita bantu, dan berapa besar kebaikan yang kita tinggalkan.

Berbeda jalan, bertemu dalam ukhuwah.
Berbeda pendapat, tetap saling menghormati.
Berbeda tradisi, tetap bergandengan tangan.
Karena perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk berpisah—ia dapat menjadi rahmat ketika dipeluk dengan ilmu, akhlak, dan kasih sayang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *