MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

MEMPERINDAH PERBEDAAN NU DAN MUHAMMADIYAH

MEMPERINDAH PERBEDAAN NU DAN MUHAMMADIYAH

Peran Ulama dalam Merawat Ukhuwah Islamiyah dan Menjadikan Perbedaan sebagai Rahmat

Perbedaan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merupakan bagian dari kekayaan intelektual, sosial, dan kultural umat Islam Indonesia. Perbedaan dalam tradisi keilmuan, metode memahami dalil, dan praktik keagamaan pada ranah furu‘iyyah tidak semestinya menjadi dinding yang memisahkan persaudaraan, tetapi dapat menjadi jendela untuk saling mengenal, memahami, dan memperkaya khazanah keislaman. Dalam konteks tersebut, ulama memiliki peran strategis sebagai penjaga keseimbangan antara keteguhan prinsip dan keluhuran akhlak, antara keyakinan terhadap pendapat sendiri dan penghormatan terhadap pendapat orang lain. Keteladanan para ulama dan tokoh NU–Muhammadiyah menunjukkan bahwa perbedaan dapat dihadapi dengan ilmu, kedewasaan, humor yang sehat, silaturahmi, dan kerja sama, sehingga ikhtilaf tidak berubah menjadi perpecahan. Ukhuwah Islamiyah tidak menuntut keseragaman, melainkan mengajarkan kemampuan untuk tetap bersaudara di tengah perbedaan. Karena itu, memperindah perbedaan NU dan Muhammadiyah berarti mengubah ruang perdebatan menjadi ruang dialog, kecurigaan menjadi saling percaya, dan perbedaan menjadi energi untuk bersama-sama menghadirkan kemaslahatan umat dan bangsa. Pada akhirnya, perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh; ia dapat menjadi jalan untuk semakin dekat, ketika ilmu menerangi pikiran, akhlak melembutkan hati, dan ukhuwah menjadi jembatan yang menghubungkan dua tradisi besar dalam satu rumah Islam Indonesia.

Berbeda dalam Fikih, Bersaudara dalam Iman

Perbedaan adalah bagian dari sejarah umat manusia, termasuk dalam perjalanan panjang umat Islam. NU dan Muhammadiyah memiliki tradisi keilmuan, metode istinbat, corak dakwah, dan kultur organisasi yang tidak selalu sama. Namun perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi tembok yang memisahkan, melainkan jendela yang membuat kita dapat saling mengenal, memahami, dan belajar. Di tengah masyarakat yang semakin mudah terpolarisasi oleh perbedaan pilihan, pendapat, dan identitas, umat Islam Indonesia justru memiliki warisan berharga berupa tradisi hidup berdampingan antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya dapat berbeda dalam persoalan cabang keagamaan, tetapi bertemu dalam fondasi yang jauh lebih besar: tauhid, Al-Qur’an, sunnah Rasulullah ﷺ, kecintaan kepada Islam, kepedulian terhadap umat, serta tanggung jawab membangun bangsa. Karena itu, yang perlu kita wariskan kepada generasi berikutnya bukanlah permusuhan karena perbedaan, tetapi keindahan dalam mengelola perbedaan.

MEMPERINDAH PERBEDAAN NU DAN MUHAMMADIYAH

NU dan Muhammadiyah: Dua Tradisi Besar dalam Rumah Islam Indonesia

  • Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi Islam terbesar yang memiliki sejarah panjang dalam membangun kehidupan keagamaan dan sosial Indonesia. Keduanya berkembang dengan karakter dan pendekatan yang berbeda. Muhammadiyah dikenal kuat dengan gerakan tajdid, pendidikan, kesehatan, amal usaha, dan pemurnian praktik keagamaan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. NU memiliki kekuatan besar dalam tradisi pesantren, keilmuan ulama, pengembangan fikih, dakwah kultural, serta pemeliharaan tradisi keislaman yang berkembang di tengah masyarakat. Perbedaan corak tersebut seharusnya dipahami sebagai kekayaan khazanah Islam Indonesia. Dalam perspektif sosiologis, keberagaman pendekatan dapat menjadi kekuatan apabila dikelola melalui dialog, saling menghormati, dan kerja sama dalam persoalan yang menjadi kepentingan bersama.

Perbedaan Fikih Tidak Harus Menjadi Perbedaan Persaudaraan

  • Sebagian perbedaan antara warga NU dan Muhammadiyah berada pada wilayah furu‘iyyah, yaitu persoalan cabang dalam praktik keagamaan. Perbedaan seperti qunut Subuh, jumlah rakaat Tarawih, metode penetapan awal Ramadan dan Syawal, persoalan tahlil, ziarah kubur, dan beberapa praktik ibadah lainnya sering menjadi pembeda yang mudah terlihat. Namun perbedaan dalam masalah furu‘ tidak seharusnya menghapus persamaan dalam perkara ushul yang jauh lebih fundamental. Kita sama-sama menghadap kiblat yang sama, membaca Al-Qur’an yang sama, mengimani Nabi Muhammad ﷺ, melaksanakan salat, berpuasa Ramadan, membayar zakat, dan mengharapkan rida Allah serta keselamatan di akhirat. Karena itu, perbedaan dalam cabang tidak semestinya berkembang menjadi permusuhan dalam persaudaraan.

Peran Ulama: Mengubah Perbedaan Menjadi Energi Persatuan

  • Dalam situasi seperti ini, ulama memiliki posisi yang sangat strategis. Masyarakat sering belajar bukan hanya dari apa yang disampaikan ulama, tetapi juga dari bagaimana ulama memperlakukan orang yang berbeda pendapat. Ketika seorang ulama menunjukkan sikap santun, terbuka, rendah hati, dan menghargai perbedaan, masyarakat memperoleh teladan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan. Sebaliknya, apabila perbedaan disampaikan dengan bahasa yang merendahkan atau menghakimi, masyarakat dapat menangkap pesan bahwa perbedaan adalah alasan untuk saling menjauh. Karena itu, ulama tidak cukup hanya mengajarkan hukum mengenai perbedaan; ulama juga perlu mengajarkan adab dalam berbeda pendapat.

Ulama sebagai Teladan, Bukan Sekadar Penyampai Dalil

  • Kekuatan seorang ulama tidak hanya terletak pada banyaknya kitab yang dikuasai atau dalil yang mampu disampaikan, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan keteladanan dalam kehidupan nyata. Seorang ulama dapat menjelaskan bahwa pendapatnya memiliki dasar ilmiah, tetapi pada saat yang sama tetap menghormati orang yang memilih pendapat berbeda. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa keyakinan terhadap kebenaran suatu pendapat tidak harus diwujudkan dengan merendahkan pendapat orang lain. Inilah salah satu bentuk akhlak al-ikhtilaf, yaitu etika dalam menghadapi perbedaan. Tradisi keilmuan Islam sebenarnya memiliki sejarah panjang mengenai perbedaan pendapat para ulama, tetapi perbedaan tersebut tidak selalu menghilangkan rasa hormat dan persaudaraan.

KH. Hasyim Muzadi: Mempertemukan Perbedaan dengan Keakraban

  • Salah satu teladan yang dapat dikenang adalah almarhum KH. A. Hasyim Muzadi, yang dikenal memiliki hubungan baik dengan berbagai kalangan, termasuk warga Muhammadiyah. Hubungan yang cair antara tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah memperlihatkan bahwa perbedaan organisasi tidak harus menciptakan jarak sosial. Perbedaan bahkan dapat menjadi bahan dialog dan humor yang sehat apabila dibicarakan dengan kedewasaan, tanpa merendahkan keyakinan pihak lain.
  • Salah satu kisah yang menggambarkan pendekatan tersebut adalah cara KH. Hasyim Muzadi menceritakan perbedaan pandangan mengenai persoalan sampainya pahala bacaan atau doa kepada orang yang telah meninggal. Dengan gaya humor, beliau menggambarkan perdebatan antara kelompok yang meyakini sampainya pahala dan kelompok yang meminta “bukti penerimaan” atau “resi” atas doa tersebut. Kisah semacam itu bukan dimaksudkan untuk memenangkan salah satu pihak, tetapi menunjukkan bahwa perbedaan dapat dibicarakan dengan senyum, humor, dan persaudaraan. Inilah seni penting dalam merawat ukhuwah: tidak semua perbedaan harus dibawa menjadi pertengkaran.

Slamet Effendi Yusuf dan Din Syamsuddin: Ketika Perbedaan Menjadi Persahabatan

  • Keteladanan serupa dapat dilihat dalam hubungan antara Slamet Effendi Yusuf dari kalangan NU dan Din Syamsuddin dari Muhammadiyah. Keduanya pernah berada dalam satu delegasi kepemudaan Indonesia dalam perjalanan ke Arab Saudi. Perbedaan tradisi ibadah yang mereka miliki tidak menghalangi kerja sama dan keakraban.
  • Dalam perjalanan tersebut, perbedaan praktik ibadah bahkan dapat menjadi bahan canda yang mempererat persahabatan. Ketika salat Subuh dilakukan tanpa qunut, perbedaan tersebut tidak menjadi sumber ketegangan. Demikian pula ketika berada di Madinah dan melihat praktik azan Jumat yang berbeda, hal tersebut dapat menjadi bahan percakapan dan tawa bersama. Gambaran tersebut memperlihatkan sebuah pelajaran sosial yang sederhana tetapi penting: orang yang memiliki kedewasaan dalam beragama tidak merasa terancam hanya karena melihat praktik keagamaan yang berbeda.

Dari “Siapa yang Benar?” Menuju “Apa yang Bisa Kita Kerjakan Bersama?”

  • Salah satu persoalan dalam kehidupan umat adalah kecenderungan menjadikan perbedaan sebagai kompetisi untuk menentukan siapa yang paling benar. Padahal, dalam banyak persoalan khilafiyah, perbedaan telah lama menjadi bagian dari khazanah fikih Islam. Karena itu, energi umat sebaiknya tidak habis untuk memperdebatkan persoalan cabang yang telah memiliki landasan keilmuan, sementara persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, ketahanan keluarga, pemberdayaan ekonomi, literasi keagamaan, dan pembinaan generasi muda membutuhkan perhatian bersama.
  • NU dan Muhammadiyah dapat berbeda dalam beberapa persoalan keagamaan, tetapi dapat bersama-sama membangun sekolah, universitas, rumah sakit, pesantren, masjid, lembaga sosial, program kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi, dan gerakan pendidikan umat. Di sinilah perbedaan dapat berubah menjadi energi produktif.

Ulama Perlu Mengajarkan “Adab Berbeda”

  • Pendidikan umat seharusnya tidak hanya mengajarkan apa yang harus diyakini, tetapi juga bagaimana bersikap ketika bertemu orang yang berbeda keyakinan dalam persoalan cabang. Seorang anak muda perlu belajar bahwa seseorang dapat berbeda dalam persoalan qunut tanpa harus menganggap saudaranya sesat. Seseorang dapat berbeda dalam persoalan tahlil tanpa harus memutus silaturahmi. Seseorang dapat mengikuti metode penetapan awal Ramadan yang berbeda tanpa harus mencurigai niat kelompok lain. Inilah pendidikan adab yang sangat penting bagi generasi digital, ketika perbedaan pendapat dapat berubah menjadi konflik hanya melalui satu komentar atau potongan video.

Masjid sebagai Ruang Pertemuan, Bukan Ruang Pemisahan

  • Masjid juga memiliki peran penting dalam membangun budaya ukhuwah. Masjid seharusnya menjadi tempat umat belajar bahwa perbedaan praktik tidak menghilangkan persaudaraan. Jamaah yang melakukan qunut dan yang tidak melakukan qunut tetap dapat berdiri dalam satu barisan. Mereka dapat saling mendoakan, bekerja bakti, mengurus jenazah, membantu fakir miskin, mengumpulkan infak, dan membangun kegiatan sosial bersama. Ketika masjid mampu menjadi ruang yang teduh bagi berbagai kelompok umat, masjid bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat rekonsiliasi sosial dan pendidikan ukhuwah.

Humor yang Sehat sebagai Jembatan Persaudaraan

  • Pengalaman para tokoh seperti KH. Hasyim Muzadi memberikan pelajaran bahwa humor dapat menjadi instrumen sosial untuk mencairkan ketegangan. Humor yang sehat tidak menertawakan kesalahan atau merendahkan keyakinan orang lain, tetapi membuat kita mampu menertawakan keterbatasan diri dan menyadari bahwa perbedaan tidak harus selalu dipandang dengan wajah tegang. Ketika masyarakat mampu tersenyum bersama atas perbedaan yang mereka miliki, jarak psikologis menjadi lebih pendek. Namun humor semacam ini membutuhkan kedewasaan; ia harus digunakan untuk mendekatkan, bukan mempermalukan.

Persatuan Bukan Berarti Menghapus Perbedaan

  • Persatuan umat tidak berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama dalam setiap persoalan. Justru persatuan yang dewasa adalah kemampuan untuk hidup bersama meskipun memiliki perbedaan. NU tidak harus menjadi Muhammadiyah, dan Muhammadiyah tidak harus menjadi NU. Masing-masing dapat mempertahankan identitas, tradisi keilmuan, dan karakter organisasinya. Yang perlu dibangun adalah kesediaan untuk menghormati, bekerja sama, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan. Dengan demikian, persatuan tidak berarti penyeragaman, melainkan kesediaan hidup bersama dalam keberagaman yang terikat oleh nilai-nilai Islam dan kebangsaan.

Dari Ukhuwah Islamiyah Menuju Ukhuwah Wathaniyah

  • Hubungan baik NU dan Muhammadiyah memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada hubungan dua organisasi. Keduanya merupakan bagian penting dari masyarakat sipil Indonesia. Ketika kedua kelompok mampu menunjukkan bahwa perbedaan dapat dikelola secara damai, mereka memberikan contoh bahwa keberagaman bukan ancaman bagi persatuan bangsa. Ukhuwah Islamiyah kemudian dapat berjalan bersama dengan ukhuwah wathaniyah: persaudaraan sesama Muslim sekaligus persaudaraan sebagai warga bangsa. Inilah kontribusi strategis organisasi dan ulama bagi Indonesia—menjadikan agama sebagai sumber kedamaian, bukan sumber konflik.

Warisan Terbaik untuk Generasi Muda

  • Generasi muda NU dan Muhammadiyah perlu diwarisi lebih dari sekadar daftar perbedaan. Mereka perlu mengenal sejarah kerja sama, persahabatan, dialog, dan keteladanan para tokoh kedua organisasi. Anak muda perlu melihat bahwa menjadi NU atau Muhammadiyah bukan berarti harus menjaga jarak dengan kelompok yang berbeda. Sebaliknya, identitas keagamaan yang kuat seharusnya membuat seseorang semakin matang, terbuka, dan mampu menghormati orang lain. Semakin dalam ilmu seseorang, seharusnya semakin indah pula adabnya dalam menghadapi perbedaan.

5 Pesan Utama

Berbeda Pendapat, Tetap Satu Hati

  1. NU dan Muhammadiyah tidak harus menghilangkan perbedaan untuk menjadi dekat. Justru keduanya dapat menunjukkan kepada dunia bahwa perbedaan dapat hidup berdampingan dengan persaudaraan. Di tangan ulama yang bijaksana, perbedaan fikih dapat menjadi kekayaan intelektual; di tangan pemimpin yang dewasa, perbedaan organisasi dapat menjadi energi kerja sama; dan di tangan masyarakat yang berakhlak, perbedaan praktik ibadah tidak akan berubah menjadi permusuhan.
  2. Yang perlu diperbanyak bukanlah perdebatan tentang siapa yang paling benar, tetapi perjumpaan, silaturahmi, dialog, kerja sama, dan saling menghormati. Kita boleh berbeda dalam cara memahami persoalan cabang, tetapi jangan berbeda dalam mencintai persaudaraan.
  3. Pada akhirnya, keindahan Islam tidak hanya terlihat ketika umatnya berdiri dalam barisan yang sama, tetapi juga ketika mereka mampu tetap bergandengan tangan meskipun memiliki perbedaan pendapat.
  4. NU tetap NU. Muhammadiyah tetap Muhammadiyah. Perbedaan tetap ada. Tetapi ukhuwah harus lebih besar daripada perbedaan.
  5. Karena yang kita cari bukan kemenangan satu kelompok atas kelompok lain, melainkan kemenangan Islam, kemaslahatan umat, dan kedamaian bangsa.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *