MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

Perbedaan Aliran Syiah di Dunia: Tinjauan Agama, Politik, dan Sikap Umat Muslim Seharusnya

Perbedaan Aliran Syiah di Dunia: Tinjauan Agama, Politik, dan Sikap Umat Muslim Seharusnya,

drWJped


Syiah merupakan salah satu dari dua mazhab utama dalam Islam, namun dalam tubuh Syiah sendiri terdapat berbagai cabang dan aliran dengan perbedaan teologis, historis, dan politis. Artikel ini bertujuan menjelaskan penggolongan utama Syiah di dunia, serta membahas perbedaan internal mereka baik dari sisi keyakinan agama maupun sikap politik. Selain itu, artikel ini mengajak umat Islam untuk bersikap bijak dan proporsional dalam menghadapi perbedaan mazhab, guna menjaga ukhuwah dan mencegah fitnah sektarian. Melalui pendekatan ilmiah dan moderat, diharapkan pemahaman umat akan lebih utuh terhadap dinamika mazhab dalam Islam.


Mazhab Syiah secara historis muncul pasca wafatnya Rasulullah SAW sebagai respon terhadap persoalan kepemimpinan umat. Berbeda dengan Sunni yang mendasarkan legitimasi kepemimpinan pada ijma’ dan musyawarah, Syiah meyakini bahwa hanya keturunan langsung Nabi—yakni Ahlul Bait—yang berhak memimpin umat Islam. Perbedaan ini tidak hanya melahirkan varian politik, tetapi juga sistem kepercayaan yang berkembang kompleks dalam sejarah Islam.

Seiring berjalannya waktu, Syiah berkembang dalam banyak cabang yang berbeda secara tajam, baik dalam hal akidah, fiqih, hingga pandangan terhadap sahabat Nabi dan pemerintahan Islam. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kondisi geopolitik, interaksi dengan kekuasaan, serta strategi survival masing-masing kelompok. Memahami perbedaan ini menjadi penting agar umat Islam tidak terjebak dalam generalisasi dan fitnah yang merugikan persatuan umat.

Penggolongan Utama Aliran Syiah di Dunia

Syiah secara umum dapat digolongkan menjadi tiga kelompok besar: Zaidiyah, Itsna Asyariah (Imamiyah), dan Ismailiyah.

  1. Zaidiyah: Muncul di abad ke-8, mengikuti Zaid bin Ali, cucu Husain bin Ali. Aliran ini mengakui lima imam dan cenderung lebih dekat kepada Sunni dalam fiqih dan prinsip politik. Mayoritas pengikutnya saat ini berada di Yaman, terutama kelompok Houthi.
  2. Itsna Asyariah (Dua Belas Imam): Aliran terbesar dan paling berpengaruh, dianut di Iran, Irak, Lebanon (Hizbullah), Bahrain, dan sebagian Suriah. Mereka percaya pada dua belas imam maksum yang memiliki otoritas spiritual dan politik.
  3. Ismailiyah: Muncul dari perpecahan pada penerus Imam keenam. Aliran ini lebih esoterik, dengan cabang utama seperti Nizariyah (dipimpin Aga Khan) dan Musta’liyah (Bohra di India).

Setiap golongan memiliki struktur organisasi dan ajaran yang berbeda-beda, meskipun semua mengklaim loyalitas terhadap Ahlul Bait.

Perbedaan Aliran Syiah dari Perspektif Agama dan Politik

  1. Perbedaan dalam Imamah dan Ketuhanan
    Syiah Imamiyah meyakini bahwa imam-imam mereka bersifat maksum (bebas dosa) dan memiliki pengetahuan ilahiah, sementara Zaidiyah menolak konsep ini dan menganggap imam hanyalah pemimpin pilihan yang saleh. Ismailiyah bahkan mengembangkan teologi yang bersifat mistik dan menempatkan imam dalam posisi semi-ilahi.
  2. Sikap terhadap Sahabat Nabi
    Syiah Imamiyah secara tradisional memiliki pandangan kritis terhadap sahabat utama seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman, yang dianggap merebut hak Ali. Sebaliknya, Zaidiyah cenderung menghormati sahabat tersebut meskipun tetap menganggap Ali lebih berhak sebagai khalifah.
  3. Pendekatan Fiqih dan Syariat
    Mazhab Imamiyah memiliki sistem hukum sendiri yang dikodifikasikan dalam Ja’fari fiqh. Zaidiyah banyak mengadopsi metode qiyas dan ijtihad yang mirip dengan fiqih Sunni. Ismailiyah lebih fleksibel dalam hukum dan mengedepankan takwil batin atas teks.
  4. Posisi Terhadap Pemerintahan
    Imamiyah percaya pada konsep Wilayah al-Faqih yang diterapkan di Iran, di mana ulama memegang kekuasaan hingga imam ke-12 yang ghaib kembali. Zaidiyah lebih realistis dan membolehkan pemberontakan terhadap penguasa zalim tanpa harus menunggu imam ghaib. Ismailiyah cenderung hidup dalam komunitas tertutup dan tidak terlibat langsung dalam kekuasaan.
  5.  Strategi Politik Global
    Iran sebagai pusat Imamiyah aktif menyebarkan pengaruh melalui jalur diplomasi, media, dan milisi seperti Hizbullah. Sementara itu, Zaidiyah (seperti Houthi) berkembang sebagai kekuatan lokal dengan agenda politik nasionalis. Ismailiyah, meski global, lebih fokus pada kesejahteraan komunitas dan tidak agresif secara politik.
  6. Hubungan dengan Dunia Sunni
    Imamiyah sering bersikap antagonistik terhadap Sunni dalam konteks politik global, misalnya dalam konflik Suriah atau Yaman. Sebaliknya, Zaidiyah lebih terbuka terhadap koeksistensi, dan Ismailiyah biasanya menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan mayoritas Sunni karena posisinya sebagai minoritas.

Bagaimana Umat Muslim Sebaiknya Bersikap

  1. Menjaga Ukhuwah Islamiyah
    Umat Islam harus menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah meskipun terdapat perbedaan mazhab. Perbedaan tafsir dan fiqih tidak boleh dijadikan alasan untuk menebar kebencian atau memprovokasi konflik.
  2. Meningkatkan Literasi Keislaman
    Kurangnya pemahaman sering menjadi sumber fitnah. Umat Muslim perlu membekali diri dengan ilmu tentang sejarah Islam dan mazhab-mazhabnya agar tidak mudah terpengaruh oleh propaganda sektarian.
  3. Menghindari Generalisasi Negatif
    Tidak semua penganut Syiah dapat dipukul rata sebagai sesat atau musuh. Umat harus membedakan antara perbedaan fiqih dan penyimpangan akidah nyata, serta membedakan antara rakyat biasa dan elit politik.
  4. Memperkuat Dialog Intra-Umat
    Dialog antarmazhab sangat penting untuk menjembatani kesalahpahaman. Ulama dan tokoh masyarakat berperan besar dalam menciptakan ruang dialog dan edukasi yang sehat.

Fokus pada Musuh Bersama Umat

  • Sikap umat Islam terhadap penyimpangan syariat dalam ajaran Syiah harus didasarkan pada ilmu, hikmah, dan keteguhan dalam aqidah. Umat perlu memahami dengan jelas perbedaan antara ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Syiah melalui kajian Al-Qur’an, hadits shahih, dan penjelasan para ulama salaf. Ketika ditemukan penyimpangan seperti penghinaan terhadap sahabat, pengkultusan imam, atau penolakan terhadap mushaf Al-Qur’an, umat harus menolaknya secara tegas namun tetap menjaga adab, tanpa mencaci atau memprovokasi permusuhan yang memperkeruh ukhuwah Islamiyah.
  • Umat Islam juga harus aktif dalam mendakwahkan kebenaran Islam sesuai Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW dengan pendekatan bijak dan penuh kasih sayang. Membina umat agar mengenal tauhid yang murni dan memperkuat akidah adalah langkah utama dalam menangkal penyimpangan. Ulama, dai, dan tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab besar untuk meluruskan kesesatan melalui dakwah, pendidikan, dan dialog ilmiah, bukan melalui kekerasan atau kebencian. Dengan demikian, penyimpangan dapat dicegah dan umat tetap terjaga dari perpecahan internal.
  • Daripada terjebak dalam konflik internal yang melemahkan kekuatan umat, sudah saatnya kaum Muslimin menyadari bahwa musuh utama umat Islam saat ini bukanlah perbedaan mazhab, melainkan serangan global yang sistematis terhadap ajaran Islam. Fenomena Islamofobia yang menyebar di dunia Barat maupun Timur menjadi ancaman nyata bagi eksistensi umat, di mana umat Islam diposisikan sebagai ancaman dan radikal. Stigma ini bukan hanya berdampak pada umat Muslim di minoritas, tetapi juga memengaruhi kebijakan internasional, media, pendidikan, hingga hak asasi manusia yang seringkali bias terhadap Muslim. Selain itu, penjajahan budaya melalui media, hiburan, dan gaya hidup Barat telah merasuki generasi muda Muslim dan menjauhkan mereka dari identitas Islam yang murni. Banyak nilai-nilai asing yang diadopsi secara membabi buta tanpa filter keislaman, sehingga menciptakan generasi yang kehilangan arah, mudah terprovokasi, dan lebih bangga pada budaya luar daripada ajaran agamanya sendiri.
  • Perpecahan internal umat, seperti konflik Sunni-Syiah, justru memberi celah bagi musuh-musuh Islam untuk memperkuat cengkeramannya melalui strategi “pecah belah dan kuasai.” Oleh karena itu, umat Islam perlu memperkuat persatuan atas dasar tauhid dan komitmen terhadap Al-Qur’an dan Sunnah.
  • Perbedaan yang bersifat furu’ (cabang) tidak seharusnya mengaburkan tujuan besar umat: menegakkan keadilan, menjaga akhlak, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Saat musuh-musuh Islam bersatu menyerang dari berbagai arah, maka kebangkitan umat hanya mungkin terwujud jika umat Islam saling merangkul, saling mendidik, dan saling menguatkan dalam satu barisan dakwah yang solid dan visioner.

Kesimpulan

Perbedaan dalam tubuh Syiah sangat kompleks, baik secara agama maupun politik. Dari Zaidiyah yang cenderung rasionalis, Imamiyah yang teokratik, hingga Ismailiyah yang esoterik, ketiganya menawarkan tafsir yang berbeda terhadap Islam pasca wafat Nabi Muhammad SAW. Namun, perbedaan ini tidak boleh menjadi alasan perpecahan umat. Dalam konteks global yang penuh tantangan, umat Islam harus bijak bersikap, memperkuat ukhuwah, dan fokus pada nilai-nilai Islam yang universal: keadilan, kasih sayang, dan persatuan.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *