Abstrak:
Konflik antara Iran dan Israel bukan semata pertarungan politik regional, melainkan juga mengandung muatan ideologi dan keagamaan yang kompleks. Iran sebagai negara bermazhab Syiah dan Israel sebagai negara Zionis Yahudi menjadi simbol dua kutub pertarungan besar di Timur Tengah, yang dampaknya meluas ke percaturan global. Dalam pandangan Islam, konflik ini mengandung pelajaran penting terkait akidah, persatuan umat, serta bahaya penyimpangan dari ajaran tauhid yang murni. Kajian ini berusaha melihat konflik Iran-Israel dari sudut pandang Islam, baik dari sisi akidah Syiah dan Zionis, maupun dari penilaian para ulama kontemporer terhadap perang ini. Dengan memahami akar ideologi dan kepentingan masing-masing pihak, umat Islam diharapkan dapat bersikap cerdas, tidak terjebak dalam fanatisme politik, serta tetap berpegang teguh pada prinsip Al-Qur’an dan Sunnah dalam menilai setiap konflik dunia.
Perang antara Iran dan Israel merupakan konflik yang melibatkan lebih dari sekadar dua negara. Iran, dengan ideologi Wilayat al-Faqih yang berlandaskan ajaran Syiah Itsna ‘Asyariyah (Syiah Imamiyah), memainkan peran besar dalam geopolitik Timur Tengah. Di sisi lain, Israel sebagai negara Yahudi Zionis menancapkan kepentingannya di Palestina, wilayah yang secara historis dan religius sangat penting bagi umat Islam. Perang ini menyulut perhatian dunia, memicu kecemasan akan pecahnya perang besar di kawasan tersebut.
Dalam perkembangan modern, isu ini tidak hanya menyentuh aspek militer dan politik, namun juga menyentuh aspek akidah Islam. Sebab, sebagian besar ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang bahwa ajaran Syiah memiliki penyimpangan serius dalam pokok-pokok akidah, sementara Zionisme dipandang sebagai ideologi sesat dan penjajah yang merampas tanah Palestina. Maka, memahami konflik ini dari perspektif Islam menjadi kebutuhan penting agar umat tidak salah dalam bersikap atau terjebak dalam propaganda kepentingan.
Pandangan Islam terhadap Syiah sudah ditegaskan oleh banyak ulama Ahlus Sunnah sebagai kelompok yang menyimpang dalam hal pokok iman. Mereka meyakini adanya imamah (kepemimpinan spiritual-politik) setelah Nabi yang wajib ditaati secara mutlak, serta mengkafirkan sebagian besar sahabat Nabi, termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Keyakinan ini bertentangan dengan konsensus Ahlus Sunnah yang memuliakan para sahabat dan menolak doktrin imamah. Oleh karena itu, konflik Iran dengan Zionis Israel tidak bisa dimaknai semata sebagai perang Islam melawan musuh Yahudi, karena Iran sendiri membawa ajaran yang telah dikritisi oleh mayoritas ulama Sunni.
Di sisi lain, Zionisme adalah ideologi politik modern yang dibangun atas semangat nasionalisme Yahudi, bukan agama Yahudi murni sebagaimana yang dibawa Nabi Musa. Zionisme bertujuan mendirikan negara Israel di Palestina, tanah suci yang juga menjadi kiblat pertama umat Islam. Karena itu, perjuangan melawan Zionisme adalah bagian dari jihad melindungi tanah kaum Muslimin, namun bukan berarti mendukung siapa pun yang mengaku melawan Zionis otomatis menjadi kebenaran, sebab motif politik dan akidah di baliknya harus ditimbang dengan syariat.
Mengapa Syiah Dianggap Menyimpang Dari Islam
Syiah dinilai menyimpang oleh mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah karena mengajarkan keyakinan imamah (kepemimpinan spiritual-politik) sebagai rukun iman yang mutlak. Menurut mereka, seorang imam dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah harus ditunjuk secara ilahi, ma’shum (terjaga dari dosa), dan menjadi satu-satunya pemegang kebenaran setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keyakinan ini bertentangan dengan ajaran Ahlus Sunnah yang meyakini bahwa kepemimpinan umat diserahkan kepada musyawarah (syura), bukan kepada penunjukan keturunan tertentu. Konsep imamah ini juga tidak diajarkan oleh Nabi atau para sahabat, sehingga dianggap sebagai bid’ah dalam agama.
Selain itu, Syiah mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi, termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum, padahal mereka adalah sahabat utama yang dipuji oleh Allah dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. Bagi Ahlus Sunnah, mencela bahkan mengkafirkan sahabat adalah penyimpangan besar karena para sahabat adalah generasi terbaik yang menyampaikan Islam kepada umat berikutnya. Tanpa keadilan dan kejujuran sahabat, niscaya Islam tidak sampai secara murni kepada generasi setelahnya. Oleh karena itu, penghinaan terhadap sahabat dinilai sebagai bentuk penghancuran fondasi agama.
Syiah juga memiliki keyakinan tentang Al-Qur’an yang berbeda dari Ahlus Sunnah. Sebagian literatur Syiah klasik mengajarkan bahwa Al-Qur’an yang ada saat ini telah diubah atau dikurangi oleh para sahabat yang mereka anggap pengkhianat. Walaupun sebagian ulama Syiah kontemporer membantah keyakinan ini, jejak ajaran tahrif (perubahan Al-Qur’an) tetap ditemukan dalam kitab-kitab Syiah klasik seperti “Al-Kafi” karya Al-Kulaini. Bagi Ahlus Sunnah, keyakinan ini adalah bentuk kekufuran, karena Al-Qur’an dijamin keasliannya oleh Allah dalam QS. Al-Hijr: 9 dan tidak mungkin bisa diubah oleh manusia.
Penyimpangan lain dari ajaran Syiah adalah praktik-praktik keagamaan yang tidak ada tuntunannya dari Nabi, seperti mut’ah (nikah kontrak), mencaci sahabat dalam doa (tabarra), perayaan Asyura dengan melukai diri (tatbir), serta penghormatan berlebihan kepada kuburan para imam mereka. Praktik-praktik ini dianggap bid’ah dan bertentangan dengan sunnah Nabi yang melarang ghuluw (berlebihan) dalam agama. Dengan berbagai penyimpangan ini, para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa ajaran pokok Syiah bertentangan dengan Islam yang murni sebagaimana diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya.
Persepektif Ulama
Para ulama kontemporer seperti Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, dan Syaikh Al-Albani menegaskan bahwa Syiah bukan bagian dari Ahlus Sunnah, bahkan sebagian ajaran mereka tergolong dalam kekufuran seperti pengkafiran sahabat dan keyakinan akan imam ghaib. Karena itu, dukungan umat Islam terhadap Iran harus bersifat kritis, tidak membabi buta hanya karena mereka memusuhi Israel. Musuh dari musuh Islam tidak otomatis menjadi teman Islam jika akidah mereka rusak.
Demikian pula dengan Israel sebagai representasi Zionisme modern, para ulama mengingatkan bahwa penjajahan atas Palestina adalah kezaliman besar yang wajib ditolak oleh umat Islam. Namun, solusi atas masalah Palestina tidak bisa diserahkan kepada rezim mana pun yang membawa kesesatan akidah, seperti Iran atau kelompok-kelompok Syiah bersenjata, karena perjuangan suci harus dibimbing oleh iman yang benar, bukan oleh kepentingan politik belaka.
Dari sudut pandang Al-Qur’an, permusuhan terhadap Yahudi dan Nasrani dijelaskan dalam beberapa ayat, di antaranya QS. Al-Baqarah: 120 yang menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah ridha kepada umat Islam sampai umat ini mengikuti agama mereka. Namun, Islam juga melarang umatnya berlaku zalim, termasuk terhadap non-Muslim yang tidak memerangi Islam. Dalam konteks Israel, kezaliman itu jelas karena penjajahan atas tanah kaum Muslimin dan pengusiran warga Palestina.
Adapun Iran, meskipun sering mengusung slogan melawan Israel dan Amerika, faktanya dalam sejarah modern, mereka beberapa kali melakukan kompromi rahasia dengan kekuatan Barat, termasuk dalam isu nuklir. Sebagian analis politik dunia Islam mengingatkan bahwa Iran kerap memainkan isu permusuhan terhadap Israel demi kepentingan domestik dan regional, bukan karena dorongan membela Islam sejati.
Ulama besar seperti Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi pun pernah menyampaikan kewaspadaan terhadap Syiah, khususnya ketika mereka memperluas pengaruh ke negeri-negeri Sunni seperti Suriah, Yaman, dan Lebanon. Baginya, konflik Syiah-Sunni lebih berbahaya secara ideologis daripada sekadar konflik melawan Zionisme, karena menyangkut masa depan akidah umat.
Sementara itu, sebagian ulama politik Islam seperti Dr. Tareq Suwaidan menekankan pentingnya kesatuan umat dalam membela Palestina, namun tetap menegaskan bahwa Syiah tidak boleh dipercaya penuh sebagai sekutu ideologis. Umat Islam harus berjuang melawan Zionisme dengan kekuatan sendiri yang berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah, bukan bergantung pada negara atau kelompok menyimpang.
Beberapa analis menyebutkan bahwa konflik Iran-Israel sebenarnya saling menguntungkan kedua belah pihak dalam politik regional. Iran memperkuat posisinya sebagai pemimpin “perlawanan” dunia Islam versi Syiah, sedangkan Israel memperoleh legitimasi untuk menekan Palestina dan melakukan ekspansi militer. Ini membuat umat Islam harus semakin cerdas melihat bahwa perang ini bukan perang kebenaran melawan kebatilan secara mutlak, melainkan dua kekuatan dengan kepentingan politik masing-masing.
Dari kacamata politik Islam, solusi untuk Palestina bukan berada di tangan Iran, melainkan di tangan umat Islam seluruhnya yang bersatu di atas kebenaran akidah Ahlus Sunnah. Tanpa persatuan ini, setiap upaya melawan Zionisme akan diperalat oleh kekuatan luar yang justru menjauhkan umat dari cita-cita Islam sejati.
Ulama seperti Dr. Abdullah Azzam dalam tulisan-tulisannya menekankan bahwa jihad melawan penjajahan Yahudi di Palestina harus murni dipimpin oleh mujahidin Sunni, bukan oleh kelompok berideologi sesat. Sebab, kemenangan sejati tidak hanya berupa pembebasan tanah, tetapi juga kejayaan iman dan akidah umat.
Kesimpulan dari pandangan para ulama kontemporer menunjukkan bahwa meskipun Israel adalah musuh nyata umat Islam karena penjajahan dan kezaliman mereka di Palestina, Iran dengan ideologi Syiahnya bukanlah representasi Islam yang lurus untuk melawan Zionisme. Umat Islam harus tetap waspada agar tidak terjebak dalam dukungan politik pragmatis yang justru melemahkan akidah dan persatuan umat.
Sikap Negara Muslim
Secara resmi, hingga saat ini Arab Saudi, Pakistan, dan mayoritas negara Muslim lainnya tidak menyatakan dukungan terbuka terhadap Iran dalam konfliknya melawan Israel. Arab Saudi, misalnya, masih menjaga jarak politik dengan Iran karena perbedaan mazhab (Sunni-Syiah) dan persaingan regional di Timur Tengah, meskipun beberapa kali melakukan normalisasi hubungan untuk menurunkan ketegangan. Dalam konflik Israel-Iran, Arab Saudi cenderung berhati-hati dan memilih sikap netral, meski tetap menyuarakan dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina dalam forum internasional. Kebijakan luar negeri Saudi lebih mengedepankan stabilitas kawasan dan hubungan strategis dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat.
Pakistan pun tidak secara resmi menyatakan dukungan terhadap Iran dalam melawan Israel. Walau Pakistan secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan menolak penjajahan Israel, pemerintahnya tetap menjaga hubungan diplomatik yang seimbang antara Iran dan negara-negara Teluk lainnya, khususnya Arab Saudi, yang merupakan mitra ekonomi dan keagamaan penting. Pakistan juga tidak terlibat dalam blok militer atau politik yang dipimpin Iran, mengingat sensitivitas domestik terhadap isu sektarian Sunni-Syiah di dalam negerinya. Oleh karena itu, dukungan terhadap Iran dalam konflik ini hanya sebatas simpati dari sebagian kelompok masyarakat, bukan sikap resmi pemerintah.
Sebagian negara Muslim lainnya di kawasan Timur Tengah dan Asia juga cenderung memilih sikap berhati-hati. Negara-negara seperti Mesir, Yordania, dan Turki lebih fokus pada isu Palestina secara langsung ketimbang terlibat dalam konflik antara Iran dan Israel. Bahkan beberapa di antaranya memiliki hubungan diplomatik terbuka dengan Israel, seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain, melalui Kesepakatan Abraham. Hal ini menunjukkan bahwa solidaritas politik resmi negara-negara Muslim terhadap Iran dalam menghadapi Israel tidak terbentuk secara menyeluruh, karena masing-masing negara memiliki pertimbangan politik, ekonomi, dan keamanan sendiri-sendiri dalam menentukan kebijakan luar negerinya.
Bagaimana Sikap Umat Muslim Seharusnya ?
Umat Muslim seharusnya menyikapi konflik Iran-Israel dengan penuh kehati-hatian, tidak mudah terpengaruh oleh narasi politik yang dikemas sebagai “perang kebenaran” padahal di baliknya tersimpan kepentingan ideologi dan kekuasaan. Umat harus menyadari bahwa Iran, meski mengusung slogan perlawanan terhadap Zionisme, tetap membawa ajaran Syiah yang dalam banyak hal bertentangan dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Demikian pula Israel adalah representasi nyata dari Zionisme yang menindas rakyat Palestina dan merampas tanah suci umat Islam. Oleh karena itu, posisi umat Islam harus berdiri di atas prinsip kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah, bukan fanatisme terhadap salah satu pihak semata karena retorika politik.
Umat Islam di seluruh dunia sebaiknya memfokuskan perhatian pada perjuangan membebaskan Palestina dari penjajahan Zionis tanpa harus terjebak mendukung Iran secara buta. Dukungan terhadap perjuangan Palestina bisa dilakukan dengan cara yang benar melalui lembaga-lembaga kemanusiaan, bantuan kepada rakyat Palestina, serta mendesak pemerintah Muslim untuk bersatu dalam membela hak-hak rakyat Palestina di forum internasional. Umat harus mewaspadai propaganda yang menjadikan konflik ini sebagai alat untuk mengalihkan perhatian dari masalah pokok yakni penjajahan Israel atas Palestina.
Di sisi lain, umat Islam harus memperkuat persatuan internal Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan menghindari perpecahan sektarian. Konflik Sunni-Syiah yang tersembunyi di balik perang ini sering dijadikan alat pecah-belah umat oleh kekuatan besar dunia. Umat harus bijaksana untuk tidak terprovokasi dalam konflik horizontal, apalagi hingga menghalalkan pertumpahan darah sesama Muslim karena perbedaan mazhab. Justru saat ini diperlukan dakwah ilmiah yang meluruskan pemahaman akidah tanpa kekerasan, sambil tetap menegakkan prinsip kebenaran dan menjelaskan bahaya penyimpangan Syiah.
Akhirnya, sikap terbaik umat Muslim adalah kembali kepada prinsip Al-Qur’an dan Sunnah serta merujuk kepada fatwa para ulama terpercaya dalam memahami realitas politik global. Umat harus mengutamakan kepentingan Islam sejati di atas kepentingan politik pragmatis pihak manapun, baik Iran maupun Israel. Doa, solidaritas nyata untuk Palestina, serta peningkatan keimanan dan persatuan kaum Muslimin menjadi langkah prioritas agar umat tidak lagi menjadi korban pertarungan kekuatan besar yang memanfaatkan sentimen agama demi kepentingan duniawi semata.
Kesimpulan:
Konflik Iran-Israel tidak bisa disederhanakan sebagai perang antara kebenaran dan kebatilan secara mutlak. Keduanya membawa ideologi yang menyimpang dari tauhid yang murni menurut pandangan mayoritas ulama Sunni. Iran sebagai negara Syiah memiliki penyimpangan serius dalam akidah, sementara Zionis Israel jelas merupakan musuh nyata Islam karena penjajahan atas tanah Palestina. Umat Islam harus cerdas, kritis, dan selektif dalam melihat konflik ini, dengan tetap berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah, dan bimbingan ulama terpercaya. Kemenangan Islam sejati hanya dapat diraih melalui persatuan umat di atas kebenaran akidah, bukan dengan bergantung pada kekuatan luar yang menyimpang.
















Leave a Reply