MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

Menelusuri Kedekatan Islam Tradisional dan Syiah: Antara Kesamaan Ekspresi dan Perbedaan Akidah

Artikel ini mengeksplorasi fenomena kedekatan antara Islam tradisional dan mazhab Syiah dalam aspek ibadah dan perilaku keagamaan. Kedekatan ini sering kali dipersepsikan sebagai kesamaan yang substansial, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam akidah. Studi ini bertujuan untuk membedakan antara kemiripan bentuk lahiriah praktik keislaman dan substansi keyakinan yang mendasarinya. Melalui pendekatan literatur dan tinjauan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an serta hadits, artikel ini juga memberikan arahan bagaimana umat Islam sebaiknya menyikapi perbedaan dengan bijak dan penuh ilmu.


Islam sebagai agama yang menyebar luas ke berbagai budaya dan bangsa menunjukkan keragaman dalam praktik. Dalam hal ini, Islam tradisional yang berkembang di banyak kawasan memiliki ekspresi keagamaan yang khas—lembut, sufistik, dan kultural. Di sisi lain, Syiah juga dikenal dengan ekspresi keagamaannya yang sarat dengan emosi spiritual, peringatan sejarah, dan simbol-simbol keagamaan yang kuat.

Kemiripan ekspresi ini kerap menimbulkan persepsi bahwa Islam tradisional dan Syiah memiliki hubungan yang sangat dekat. Namun untuk memahami fenomena ini secara mendalam, diperlukan kajian terhadap akar-akar kesamaan dalam bentuk ibadah, tanpa mengabaikan batas-batas yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kesamaan Ibadah dan Perilaku Keislaman

Islam tradisional dan Syiah kerap menunjukkan kesamaan dalam ekspresi keagamaan yang tampak dalam peringatan hari besar Islam, penghormatan terhadap ulama dan tokoh agama, penggunaan zikir dan doa-doa panjang, serta pendekatan spiritual yang kuat melalui tasawuf atau bentuk emosional ibadah. Keduanya juga menghargai tradisi keluarga dalam beribadah, membuka ruang bagi budaya lokal selama tidak bertentangan dengan syariat, serta menjadikan simbol-simbol keagamaan sebagai penguat identitas religius. Praktik seperti majelis-majelis ilmu, pembacaan sejarah keislaman, dan kesenian bernuansa religius menjadi jembatan kedekatan dalam cara mereka menghidupkan nilai Islam di tengah masyarakat.

  1. Peringatan Hari-Hari Besar Islam
    Baik dalam tradisi Islam tradisional maupun Syiah, peringatan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi atau peringatan wafatnya tokoh penting dilakukan dengan khidmat. Kegiatan ini diisi dengan pembacaan doa, shalawat, dan narasi sejarah yang mengandung nilai-nilai spiritual.
  2. Zikir dan Wirid Kolektif
    Kedua kelompok kerap mempraktikkan zikir secara berjamaah dengan irama dan untaian doa yang panjang. Praktik ini dinilai sebagai upaya untuk menenangkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah secara batiniah.
  3. Sikap Hormat kepada Ulama dan Leluhur
    Tradisi Islam tradisional dan Syiah menunjukkan penghormatan yang besar kepada para ulama dan tokoh agama terdahulu. Hal ini tercermin dari kebiasaan mengunjungi makam ulama, memohon doa, atau menyebut jasa-jasa mereka dalam majelis ilmu.
  4. Kecenderungan terhadap Tasawuf dan Spiritualitas
    Keduanya menempatkan aspek tasawuf atau penyucian jiwa sebagai bagian penting dari kehidupan beragama. Amalan seperti muraqabah, tafakkur, dan menjauhi duniawi banyak ditemukan dalam ajaran keduanya.
  5. Penggunaan Bahasa Emosional dalam Ceramah dan Doa
    Ceramah dan khutbah dalam kedua tradisi tersebut sering menggunakan narasi yang emosional dan menyentuh hati, menjadikan dakwah bukan hanya bersifat intelektual tetapi juga batiniah.
  6. Kesenian Religius
    Keduanya memanfaatkan kesenian seperti syair, marhaban, dan ratapan keagamaan untuk menyampaikan pesan-pesan Islam. Ini mencerminkan keberagamaan yang membumi dan mudah diterima oleh masyarakat awam.
  7. Pendidikan Non-Formal Berbasis Majelis
    Majelis-majelis ilmu dengan sistem halaqah, tanya-jawab, dan tausiyah terbuka menjadi bagian penting dari pembinaan keagamaan dalam kedua corak ini. Format ini menumbuhkan kedekatan emosional antara guru dan murid.
  8. Pentingnya Tradisi Keluarga dalam Ibadah
    Baik Islam tradisional maupun Syiah menekankan pentingnya keluarga sebagai basis pelaksanaan ibadah. Banyak ritual yang dilakukan bersama keluarga sebagai media pendidikan nilai keislaman sejak dini.
  9. Penerimaan terhadap Budaya Lokal
    Keduanya relatif terbuka terhadap budaya lokal, selama tidak melanggar prinsip syariat. Hal ini tercermin dari pakaian, musik, atau adat tertentu yang diislamisasi secara bijak.
  10. Simbolisme Keagamaan dalam Masyarakat
    Simbol seperti sorban, peci, atau warna-warna tertentu digunakan untuk menegaskan identitas keislaman, mirip dengan cara Syiah membangun identitas visual dan spiritual melalui simbol-simbol religius.

Syiah Dianggap Menyimpang

Mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah (jumhur ulama) memandang Syiah sebagai kelompok yang menyimpang dari prinsip dasar Islam, terutama dalam aspek akidah dan sikap terhadap sahabat Nabi. Penyimpangan tersebut mencakup keyakinan Syiah terhadap imamah yang dianggap sebagai rukun iman yang mutlak, serta penghinaan terhadap sahabat utama seperti Abu Bakar, Umar, dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum. Hal ini bertentangan dengan prinsip ahlus sunnah yang memuliakan para sahabat sebagaimana dijelaskan dalam banyak ayat dan hadits. Para ulama klasik seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, hingga Ibn Taimiyyah telah memberikan peringatan keras terhadap ajaran Syiah yang berpotensi merusak fondasi akidah umat.

Di era kontemporer, para ulama besar juga mempertegas penyimpangan Syiah. Ulama-ulama seperti Syaikh Ibn Baz, Syaikh Al-Albani, dan Syaikh Shalih Al-Fauzan menegaskan bahwa banyak ajaran dalam mazhab Syiah, terutama Syiah Imamiyah Itsna Asyariah (duabelas imam), mengandung unsur kesesatan seperti taqiyyah (berbohong demi akidah), raj’ah (kembalinya imam yang telah mati), dan tahrif Al-Qur’an. Mereka mengingatkan bahwa perbedaan ini bukan sekadar furu’ (cabang) fiqih, melainkan menyentuh ushul (fondasi) iman. Oleh karena itu, dialog dengan Syiah harus dilakukan dengan sikap ilmiah, waspada, dan berlandaskan manhaj salaf.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri melalui fatwa resmi pada tahun 2007 menyatakan bahwa ajaran Syiah Imamiyah dan Ismailiyah menyimpang dari ajaran Islam yang benar. MUI menggarisbawahi bahwa penyimpangan tersebut antara lain terdapat pada penghinaan terhadap sahabat Nabi, konsep imamah yang bertentangan dengan ajaran Islam, serta ajaran mut’ah yang merusak moral umat. MUI menyerukan kepada umat Islam di Indonesia untuk mewaspadai penyebaran ajaran Syiah dan meminta pemerintah untuk mengambil langkah tegas terhadap ajaran yang terbukti menyesatkan. Sikap ini tidak dimaksudkan untuk menyulut permusuhan, tetapi demi menjaga kemurnian akidah dan persatuan umat Islam di atas kebenaran.

Bagaimana Sebaiknya Umat Bersikap Menurut Al-Qur’an dan Hadits

Sikap umat terhadap perbedaan dalam praktik ibadah sebaiknya dituntun oleh prinsip ilmu dan adab. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl: 125). Ini menunjukkan bahwa dakwah dan penilaian terhadap praktik keagamaan harus dilakukan dengan bijak dan tidak tergesa-gesa.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka dari itu, ketika menghadapi perbedaan ibadah yang tidak menyentuh urusan akidah, umat dituntut untuk bersikap toleran, namun tetap berpegang pada ilmu dan sunnah shahih.

Umat juga perlu menyaring praktik yang diwarisi dari tradisi budaya dengan timbangan syariat. Jika suatu amalan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah, serta mengandung hikmah dan manfaat, maka tidak serta-merta harus ditolak. Namun, jika ada indikasi bertentangan dengan tauhid dan prinsip Islam, maka wajib diluruskan dengan pendekatan yang lembut dan ilmiah.

Kesimpulan

Kedekatan antara Islam tradisional dan Syiah dalam praktik keagamaan lebih bersifat kultural dan spiritual ketimbang teologis. Kesamaan tersebut mencerminkan cara keberagamaan yang bersifat emosional dan sufistik, bukan karena kesamaan prinsip dalam akidah atau sejarah. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk membedakan bentuk lahiriah dari keyakinan batiniah agar tidak tertipu oleh kesamaan simbolik.


Saran

  • Umat Islam hendaknya memperkuat literasi keislaman mereka dengan menuntut ilmu dari sumber-sumber yang shahih dan terpercaya.
  • Para pendidik dan ulama perlu memperjelas batas antara toleransi budaya dan prinsip tauhid agar umat tidak terombang-ambing dalam persepsi.
  • Dalam menghadapi keberagaman praktik, umat sebaiknya tetap menjunjung ukhuwah Islamiyah tanpa melupakan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar dengan adab dan ilmu.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *