Pertanyaan:
Mengapa Allah menguji hamba-Nya dengan berbagai bentuk kesulitan seperti sakit yang berkepanjangan, kehilangan orang yang dicintai, kesulitan ekonomi, usaha yang gagal, difitnah, dikhianati, rumah tangga yang bermasalah, anak yang sulit diatur, belum dikaruniai keturunan, sering mengalami musibah, atau berbagai ujian lainnya? Bagaimana sikap seorang muslim agar mampu menerima semua ujian tersebut dengan hati yang lapang, tetap beriman, tidak berputus asa, tidak menyalahkan takdir Allah, dan justru menjadikan setiap ujian sebagai jalan untuk memperoleh ampunan, rahmat, serta cinta Allah?
Jawaban:
Ujian merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa ujian. Ada yang diuji dengan kesehatan, ada yang diuji dengan penyakit. Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada pula yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan kehilangan orang yang dicintai, kegagalan usaha, fitnah, penghinaan, masalah rumah tangga, anak yang sakit, atau penantian panjang yang belum dikabulkan. Allah memberikan ujian sesuai dengan hikmah dan ilmu-Nya. Firman Allah, “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155). Ayat ini menunjukkan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan seorang mukmin, bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai tanda kebencian Allah.
Seorang muslim hendaknya menerima ujian dengan sabar, ridha, dan husnuzan kepada Allah. Jangan membalas ujian dengan keluhan yang menunjukkan penolakan terhadap takdir-Nya. Sebaliknya, perbanyak doa, salat, istighfar, membaca Al-Qur’an, dan memohon pertolongan kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh nikmat ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim). Kesabaran bukan berarti tidak boleh bersedih, tetapi tetap menjaga lisan, hati, dan perbuatan agar tidak menyimpang dari syariat.
Allah menjanjikan kedudukan yang tinggi bagi orang yang bersabar. Firman-Nya, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146). Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, penderitaan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karena musibah tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim). Karena itu, setiap ujian dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa, bertambahnya pahala, meningkatnya derajat, dan semakin dekatnya seorang hamba kepada Allah apabila dihadapi dengan iman dan kesabaran.
Orang yang dicintai Allah bukanlah orang yang hidupnya selalu mudah, melainkan orang yang tetap taat ketika diuji. Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Siapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah. Siapa yang marah, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. At-Tirmidzi). Oleh karena itu, ketika ujian datang, hendaknya seorang mukmin berdoa, “Ya Allah, aku ridha terhadap ketetapan-Mu. Berilah aku kekuatan untuk menjalaninya. Jadikan musibah ini sebagai penghapus dosa, penambah pahala, pengangkat derajat, dan jalan untuk meraih cinta-Mu.” Dengan sikap seperti inilah ujian berubah menjadi ibadah yang mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya serta menjadi bekal kebahagiaan di dunia dan akhirat.















Leave a Reply