MAB MASJID AL-FALAH BENHIL

MAB PORTAL ISLAM: “Dari Masjid untuk Umat, Berbagi Ilmu dan Kebaikan”

Bagaimana jika orang tua sering melakukan pengobatan dan berkonsultasi kepada dukun atau paranormal ?

Tanya

Bagaimana jika orang tua sering melakukan pengobatan dan hampir selalu berkonsultasi kepada dukun atau paranormal untuk berbagai persoalan kehidupan, mulai dari kesehatan, bisnis, pekerjaan, jodoh, hingga masalah ekonomi—bagaimana sikap seorang anak menurut Islam, terutama jika orang tua sangat mempercayai nasihat dukun tersebut?

Jawaban

Seorang anak perlu menghadapi keadaan ini dengan hormat, sabar, dan bijaksana, karena berbakti kepada orang tua tetap merupakan kewajiban. Namun, menghormati orang tua tidak berarti harus mengikuti setiap keyakinan atau tindakan mereka apabila bertentangan dengan prinsip tauhid dan ajaran Islam. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras tentang mendatangi kahin atau peramal dan membenarkan klaimnya mengenai perkara gaib. Karena itu, seorang anak sebaiknya tidak ikut membenarkan praktik perdukunan, tetapi juga tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk menghina atau memusuhi orang tua.

Jika persoalannya adalah kesehatan, anak sebaiknya mengarahkan orang tua kepada dokter atau tenaga kesehatan yang kompeten. Jangan langsung mengatakan, “Itu semua bohong,” karena pendekatan konfrontatif sering membuat seseorang semakin mempertahankan keyakinannya. Lebih baik mengatakan, “Kita tetap boleh berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi untuk penyakit ini mari kita periksa agar penyebabnya dapat diketahui secara medis.” Jika orang tua ingin melakukan doa atau ruqyah yang sesuai syariat, hal tersebut dapat dilakukan selama tidak menggantikan pemeriksaan dan pengobatan medis yang diperlukan.

Untuk bisnis, pekerjaan, dan ekonomi, persoalannya bahkan lebih jelas. Nasib usaha tidak seharusnya ditentukan berdasarkan ramalan, tanggal tertentu, benda bertuah, “energi”, atau klaim seseorang yang dianggap mampu melihat masa depan. Keputusan bisnis sebaiknya dibangun berdasarkan informasi, perencanaan, kemampuan mengelola risiko, pengalaman, konsultasi dengan orang yang kompeten, serta doa dan tawakal kepada Allah. Anak dapat membantu orang tua mengubah kebiasaan tersebut secara perlahan dengan menawarkan alternatif yang lebih rasional dan sesuai syariat.

Jika orang tua mengatakan bahwa “dukun itu selalu benar karena nasihatnya sering terbukti”, anak tidak perlu langsung berdebat. Jelaskan bahwa sesuatu yang beberapa kali tampak benar belum tentu membuktikan kemampuan mengetahui perkara gaib. Dalam psikologi dikenal confirmation bias dan selective memory: manusia cenderung lebih mudah mengingat prediksi yang kebetulan benar daripada banyak prediksi yang tidak terbukti. Prediksi yang sangat umum juga mudah terlihat akurat karena dapat dicocokkan dengan berbagai peristiwa kehidupan.

Anak juga perlu memperhatikan potensi kerugian. Jika orang tua mulai mengeluarkan banyak uang untuk ritual, membeli benda yang dianggap bertuah, berulang kali membayar konsultasi, menghentikan pengobatan dokter, atau mengambil keputusan bisnis berdasarkan ramalan, persoalannya bukan lagi sekadar keyakinan pribadi, tetapi sudah dapat menimbulkan kerugian kesehatan, ekonomi, dan keluarga. Dalam kondisi seperti ini, anak perlu berbicara lebih tegas namun tetap santun dan berusaha melibatkan anggota keluarga yang dipercaya.

Yang harus dihindari adalah mempermalukan orang tua di depan orang lain. Jangan menyebarkan cerita bahwa orang tua pergi ke dukun, jangan mengejek, dan jangan menggunakan istilah yang merendahkan. Tujuan seorang anak bukan memenangkan perdebatan, tetapi membantu orang tua kembali kepada cara yang lebih aman dan sesuai dengan tauhid. Nasihat yang disampaikan dengan kasih sayang sering kali lebih mudah diterima daripada celaan.

Anak juga tidak perlu merasa bahwa dirinya harus menyelesaikan seluruh persoalan orang tua seorang diri. Untuk masalah kesehatan, libatkan dokter; untuk masalah psikologis, psikolog atau psikiater bila diperlukan; untuk persoalan bisnis, orang yang memiliki kompetensi di bidang usaha; dan untuk persoalan agama, ustaz atau ulama yang memiliki pemahaman ilmu yang baik. Dengan demikian, konsultasi tidak diarahkan kepada satu orang yang mengklaim mampu menyelesaikan semua persoalan—kesehatan, ekonomi, pekerjaan, keluarga, bahkan masa depan.

Jika orang tua tetap pergi kepada dukun meskipun sudah dinasihati, anak tetap dapat mempertahankan hubungan baik sambil menjaga batas keyakinannya sendiri. Anak tidak harus ikut dalam ritual, membenarkan ramalan, menyediakan benda atau biaya untuk praktik yang diyakini bertentangan dengan syariat, atau menjadikan nasihat dukun sebagai dasar keputusan hidupnya. Pada saat yang sama, anak tetap dapat membantu kebutuhan orang tua yang tidak berkaitan dengan praktik tersebut, berbicara dengan lembut, dan terus mendoakan mereka.

Pada akhirnya, sikap terbaik seorang anak adalah birrul walidain tanpa mengorbankan tauhid. Hormatilah orang tua, layani mereka, dengarkan keluhannya, dan nasihati dengan cara yang baik. Namun, dalam persoalan kesehatan gunakan ilmu kedokteran, dalam persoalan ekonomi gunakan perencanaan dan pertimbangan yang rasional, dalam persoalan pekerjaan gunakan kompetensi, dan dalam perkara gaib kembalikan keyakinan kepada Allah. Berbakti kepada orang tua bukan berarti mengikuti semua pilihan mereka; berbakti berarti tetap mencintai, menghormati, dan membantu mereka menuju kebaikan dengan cara yang paling lembut dan bijaksana.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *