MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

Tannya Jawab: Kesehatan Mental dan Gangguan Emosi Remaja di Era Digital

Tannya Jawab: Kesehatan Mental dan Gangguan Emosi Remaja di Era Digital

Pertanyaan:

Mengapa sekarang semakin banyak anak dan remaja terlihat mudah cemas, stres, sensitif, sulit mengendalikan emosi, kurang tidur, kehilangan semangat, atau lebih banyak menarik diri? Apakah kondisi tersebut berkaitan dengan penggunaan media sosial, tekanan sekolah, cyberbullying, kurang aktivitas fisik, serta berkurangnya interaksi langsung dengan keluarga dan teman? Bagaimana orang tua membedakan perubahan emosi yang masih wajar dengan masalah kesehatan mental yang membutuhkan perhatian lebih serius, dan apa yang dapat dilakukan sejak dini tanpa memberi label anak sebagai “nakal”, “lemah”, atau “kurang bersyukur”?

Jawaban

Masa remaja merupakan periode perkembangan yang sangat dinamis. Perubahan biologis, perkembangan otak, pencarian identitas, tuntutan sekolah, hubungan pertemanan, dan keinginan untuk mandiri dapat membuat emosi lebih mudah berubah. Karena itu, sedih, kecewa, marah, cemas, atau ingin menyendiri sesekali tidak otomatis berarti gangguan mental. Yang perlu diperhatikan adalah apakah perubahan tersebut berlangsung lama, semakin berat, berulang, dan mulai mengganggu sekolah, tidur, hubungan sosial, aktivitas sehari-hari, atau fungsi keluarga.

Dalam psikologi kesehatan modern, kesehatan mental dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berinteraksi, bukan hanya satu penyebab. Media sosial dapat memberikan manfaat berupa komunikasi, informasi, dan dukungan, tetapi penggunaan yang tidak sehat dapat meningkatkan tekanan sosial, perbandingan diri, fear of missing out, konflik, dan paparan cyberbullying. Karena itu, bukan berarti semua penggunaan gawai harus dilarang, melainkan perlu dibangun kebiasaan digital yang sehat, seimbang, aman, dan sesuai usia.

Tidur merupakan salah satu fondasi kesehatan mental remaja. Penggunaan gawai hingga larut malam, aktivitas digital yang terus-menerus, jadwal sekolah yang padat, dan kurang aktivitas fisik dapat mengganggu tidur. Kurang tidur dapat berhubungan dengan kelelahan, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, dan kesulitan mengatur emosi. Karena itu, keluarga perlu membantu menciptakan jadwal tidur yang teratur, aktivitas fisik yang cukup, waktu istirahat, serta periode bebas layar terutama menjelang tidur.

Dari sisi Islam, kesehatan jiwa merupakan bagian dari amanah menjaga diri dan kehidupan (hifẓ an-nafs). Al-Qur’an menyatakan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra‘d: 28). Namun ayat tersebut tidak berarti setiap kecemasan atau gangguan psikologis cukup diselesaikan hanya dengan memperbanyak ibadah. Islam juga mengajarkan ikhtiar, mencari pertolongan, bermusyawarah, menjaga hubungan sosial, dan menggunakan ilmu yang bermanfaat. Karena itu, anak yang mengalami masalah psikologis tidak tepat jika langsung dicap kurang iman atau kurang bersyukur.

Orang tua juga perlu menghindari kalimat seperti “Kamu kurang bersyukur”, “Jangan lebay”, “Kamu memang pemarah”, atau “Itu cuma karena terlalu banyak main HP.” Lebih baik membuka percakapan dengan pendekatan yang empatik, misalnya, “Ayah/Ibu melihat akhir-akhir ini kamu kelihatan lebih capek dan banyak pikiran. Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?” Dengarkan terlebih dahulu tanpa langsung menghakimi. Dalam Islam, komunikasi yang lembut dan penuh kasih merupakan bagian penting dalam membangun keluarga yang sehat.

Cyberbullying juga perlu diperhatikan karena dapat memberikan tekanan psikologis yang nyata. Perubahan seperti tiba-tiba tidak mau sekolah, menarik diri dari teman, menjadi sangat takut atau cemas setelah menggunakan media sosial, atau perubahan perilaku yang mencolok perlu ditanyakan dengan hati-hati. Anak harus mengetahui bahwa rumah merupakan tempat yang aman untuk bercerita. Jika terjadi perundungan daring, orang tua dapat membantu menyimpan bukti, menggunakan fitur pelaporan dan pemblokiran, serta melibatkan sekolah atau tenaga profesional bila diperlukan.

Tidak semua perubahan emosi merupakan gangguan mental. Namun evaluasi profesional diperlukan bila kesedihan, kecemasan, kemarahan, gangguan tidur, kehilangan minat, penarikan diri, penurunan prestasi, atau perubahan perilaku berlangsung menetap, semakin berat, atau mengganggu fungsi sehari-hari. Dokter anak, psikolog, atau psikiater anak dan remaja dapat membantu membedakan respons stres yang masih wajar dengan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Pendekatan terbaik adalah menggabungkan nilai agama dengan ilmu kesehatan modern. Anak membutuhkan kasih sayang keluarga, pendidikan agama yang tidak menghakimi, hubungan sosial yang sehat, tidur cukup, aktivitas fisik, pola hidup seimbang, penggunaan teknologi yang bijak, serta akses terhadap bantuan profesional bila diperlukan. Berdoa dan mencari pertolongan medis atau psikologis bukan dua hal yang bertentangan; keduanya dapat menjadi bagian dari ikhtiar.

Pesan penting bagi orang tua: jangan buru-buru memperbaiki perilaku sebelum memahami penyebabnya. Anak yang terlihat pemarah mungkin sedang kewalahan, anak yang menarik diri mungkin sedang mengalami tekanan, dan anak yang terus menggunakan gawai mungkin sedang mencari pelarian dari masalah yang belum mampu ia ceritakan. Tugas orang tua bukan hanya mengatur perilaku, tetapi membantu anak belajar mengenali emosi, mengelola tekanan, mengambil keputusan yang sehat, dan memahami bahwa meminta bantuan adalah bagian dari ikhtiar—bukan tanda kelemahan atau kegagalan iman.

Kesehatan mental dan gangguan emosi pada anak dan remaja di era digital merupakan persoalan multifaktor, yang dipengaruhi oleh perkembangan biologis, keluarga, sekolah, pertemanan, pola tidur, aktivitas fisik, penggunaan media sosial, serta pengalaman cyberbullying. Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan jiwa merupakan bagian dari amanah dan kemaslahatan manusia; karena itu masalah psikologis tidak seharusnya langsung dianggap sebagai tanda kurang iman atau kurang bersyukur. Pendekatan terbaik adalah menggabungkan nilai spiritual Islam dengan ilmu psikologi dan kedokteran modern: membangun keluarga yang penuh kasih, komunikasi yang terbuka, kehidupan ibadah yang sehat, tidur dan aktivitas fisik yang cukup, penggunaan teknologi secara bijak, serta mencari bantuan profesional ketika gejala menetap atau mengganggu kehidupan anak. Dengan demikian, anak tidak hanya diarahkan untuk menjadi “kuat”, tetapi juga diajarkan mengenali emosi, menghadapi masalah, meminta pertolongan, dan tumbuh dengan kesehatan jiwa yang baik serta nilai-nilai keislaman.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *