MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

Role Model Penataan PKL Humanis Lurah Bendungan Hilir di Depan Masjid Al-Falah Benhil,

Sepuluh Tahun Menanti, Akhirnya Menemukan Jalan

Role Model Penataan PKL Humanis Lurah Bendungan Hilir di Depan Masjid Al-Falah Benhil

Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di depan Masjid Al-Falah Bendungan Hilir menjadi gambaran bahwa ketertiban tidak harus lahir dari kekerasan, melainkan dapat tumbuh dari dialog, empati, dan ketegasan yang berkeadilan. Di bawah kepemimpinan Lurah Bendungan Hilir, penataan dilakukan dengan pendekatan humanis: mengembalikan fungsi trotoar bagi pejalan kaki, menjaga ketertiban ruang publik, sekaligus tetap menghormati martabat dan keberlangsungan hidup para pedagang.

Di ruang yang bersinggungan antara masjid, masyarakat, pedagang, dan pejalan kaki, hadir sebuah pelajaran sederhana: kota yang tertib bukan kota yang mengusir, tetapi kota yang mampu menata dengan hati. Ketegasan pemerintah bertemu dengan kemanusiaan, sementara kepentingan umum dijaga tanpa kehilangan rasa hormat kepada mereka yang mencari nafkah.

Penataan ini layak menjadi role model tata kelola ruang publik yang humanis—bahwa keberhasilan pemerintah bukan semata-mata terlihat dari trotoar yang kembali bersih, aman, dan nyaman, tetapi juga dari cara perubahan itu diwujudkan: melalui komunikasi, kolaborasi, keteladanan, dan keberpihakan pada kepentingan bersama. Dari depan Masjid Al-Falah Bendungan Hilir, sebuah pesan kecil untuk kota besar pun lahir: ketertiban yang beradab adalah ketika ruang publik kembali kepada masyarakat, tanpa membuat kemanusiaan kehilangan tempat.

Sepuluh Tahun dalam Penantian, Sebuah Jalan Mulai Terbuka

Ada persoalan yang terlalu lama hadir hingga akhirnya terasa seperti bagian dari pemandangan. Lebih dari sepuluh tahun, kawasan trotoar di depan Masjid Al-Falah Bendungan Hilir menjadi ruang aktivitas pedagang kaki lima. Berbagai ikhtiar telah dilakukan, berbagai pembicaraan pernah berlangsung, tetapi penyelesaian yang benar-benar tuntas belum juga menemukan jalan. Hari berganti hari, tahun berganti tahun, lapak tetap hadir, sementara ruang pejalan kaki semakin terbatas. Persoalan itu seolah menunggu seseorang yang berani membuka kembali pintu penyelesaian.

Di ujung pekan ini, Alhamdulillah, halaman dan area depan Masjid Al-Falah Benhil bebas dari aktivitas pedagang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Pemandangan sederhana itu terasa istimewa setelah perjalanan panjang lebih dari satu dekade. Semoga pagi ini bukan hanya menjadi awal yang baik untuk hari ini, tetapi menjadi awal perubahan yang terus dijaga untuk hari-hari berikutnya—sebuah langkah kecil yang menghadirkan perubahan besar bagi kenyamanan jamaah, pejalan kaki, dan masyarakat.

Di balik perubahan itu ada proses panjang: koordinasi, sosialisasi, dialog, kesabaran, ketegasan, dan kesempatan yang diberikan kepada para pedagang. Penanganan terhadap 26 PKL dilakukan melalui tahapan yang melibatkan Kelurahan Bendungan Hilir, Kecamatan Tanah Abang, RT, RW, pengurus masjid, aparat terkait, serta perwakilan pedagang. Yang sedang dibangun bukan sekadar keputusan untuk mengosongkan trotoar, melainkan kesadaran bahwa ruang publik memiliki fungsi dan hak masyarakat yang harus dikembalikan.

Agung Suryansyah Noor: Sosok Muda, Simpatik, Tegas, dan Dekat dengan Masyarakat

Di tengah perjalanan panjang tersebut, sosok Agung Suryansyah Noor, Lurah Bendungan Hilir Kecamatan Tanah Abang, menjadi bagian penting yang patut dicatat. Sosoknya yang relatif muda, simpatik, komunikatif, namun tetap tegas dalam menjalankan tugas memberikan warna tersendiri dalam proses penanganan persoalan PKL yang telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun.

Kepemimpinan di tingkat kelurahan bukanlah pekerjaan yang selalu berada di balik meja. Di lapangan, seorang lurah berhadapan langsung dengan berbagai kepentingan masyarakat. Ada warga yang membutuhkan pelayanan, ada persoalan lingkungan, ada kepentingan pedagang, ada hak pejalan kaki, ada kepentingan rumah ibadah, dan ada aturan pemerintah yang harus ditegakkan. Semuanya membutuhkan keseimbangan.

Agung Suryansyah Noor menempuh perjalanan birokrasi yang memberikan pengalaman langsung dalam pelayanan masyarakat. Ia pernah bertugas sebagai Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Kelurahan Kebon Sirih Kecamatan Menteng, kemudian sebagai Sekretaris Kelurahan Kramat Kecamatan Senen, sebelum mengemban amanah sebagai Lurah Bendungan Hilir Kecamatan Tanah Abang. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses membentuk kepemimpinannya dalam menghadapi dinamika masyarakat di wilayah perkotaan.

Dalam penanganan PKL di depan Masjid Al-Falah Benhil, sosoknya terlihat tidak hanya dari keputusan yang diambil, tetapi terutama dari proses yang dikawal. Pertemuan koordinasi dilakukan, sosialisasi diberikan, para pedagang diajak berkomunikasi, dan surat peringatan SP1 serta SP2 disampaikan. Ketika para pedagang masih meminta kesempatan terakhir, ruang dialog tetap diberikan sebelum memasuki tahapan berikutnya sesuai ketentuan.

Di sinilah sisi simpatik dan humanis seorang pemimpin menjadi penting. Namun simpatik bukan berarti lunak terhadap aturan. Sebaliknya, ketegasan juga tidak harus berarti keras terhadap manusia. Seorang pemimpin dapat tersenyum ketika berdialog, tetapi tetap teguh ketika menjalankan aturan. Dapat mendengarkan keluhan masyarakat, tetapi tetap mengambil keputusan demi kepentingan yang lebih luas.

Tegas dalam aturan, santun dalam pendekatan, dan manusiawi dalam tindakan. Inilah karakter kepemimpinan yang membuat penanganan persoalan lama menjadi lebih mudah diterima oleh berbagai pihak.

Ketika Ketegasan Tidak Kehilangan Hati

Sebab di balik setiap lapak ada manusia yang sedang mencari nafkah. Ada keluarga yang menunggu penghasilan, ada kebutuhan rumah tangga, ada harapan yang mungkin selama bertahun-tahun digantungkan pada tempat tersebut.

Namun di sisi lain, di balik setiap trotoar juga ada hak masyarakat untuk berjalan dengan aman, nyaman, dan bermartabat. Karena itu, persoalannya bukan memilih antara pedagang atau pejalan kaki, melainkan menemukan jalan agar ketertiban dan kemanusiaan dapat berjalan bersama.

Pendekatan yang dilakukan melalui koordinasi, sosialisasi, peringatan, dan pemberian kesempatan menunjukkan bahwa penataan dapat dilakukan tanpa menjadikan pedagang sebagai musuh. Mereka adalah warga yang perlu dihormati, sementara aturan tetap harus ditegakkan.

Dalam konteks inilah langkah Lurah Bendungan Hilir layak dipandang sebagai role model penanganan PKL yang humanis di tingkat kelurahan. Bukan karena persoalan tersebut dapat diselesaikan secara instan, tetapi karena persoalan lama berani dihadapi kembali melalui proses yang terukur.

Ada keberanian mengambil keputusan, tetapi juga ada kesediaan mendengar. Ada ketegasan terhadap aturan, tetapi juga ada penghormatan terhadap manusia.

Dari Lapak ke Harapan: Model Penataan yang Humanis

Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam setiap perubahan: para pedagang juga manusia yang sedang berjuang mencari rezeki. Di balik setiap lapak ada ikhtiar, ada keluarga, ada kebutuhan, dan ada harapan.

Jika mereka harus mengalah dan meninggalkan lokasi demi kepentingan ruang publik dan kenyamanan umat, semoga pengorbanan tersebut tidak pernah sia-sia.

Semoga Allah menggantikan setiap langkah yang berat dengan jalan rezeki yang lebih luas, tempat usaha yang lebih baik, keberkahan yang lebih banyak, pelanggan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih tenang.

Di sinilah keberhasilan penataan seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak lapak yang berhasil dikosongkan. Ukuran yang lebih tinggi adalah apakah pejalan kaki mendapatkan haknya kembali, apakah kawasan menjadi lebih aman dan nyaman, apakah ketertiban dapat dipertahankan, dan apakah para pedagang tetap memiliki harapan untuk melanjutkan kehidupan dengan cara yang lebih baik.

Jika proses ini terus dijaga, pengalaman Benhil dapat menjadi contoh bahwa persoalan yang telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun bukan sesuatu yang mustahil untuk diselesaikan.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai, kesabaran untuk berdialog, keteguhan untuk menegakkan aturan, serta kebijaksanaan untuk tidak melupakan sisi kemanusiaan.

Dan mungkin inilah makna terdalam dari kepemimpinan Agung Suryansyah Noor: bukan sekadar menyelesaikan masalah, tetapi berani membuka jalan bagi penyelesaian; bukan sekadar menertibkan ruang, tetapi berusaha menghadirkan harapan; bukan sekadar menegakkan aturan, tetapi menunjukkan bahwa aturan dapat berjalan bersama kemanusiaan.

Akhirnya

Senin, 24 Agustus 2026, menjadi sebuah catatan kecil dalam perjalanan panjang kawasan depan Masjid Al-Falah Benhil. Hari itu pedagang kaki lima dengan keihklasan luar biasa meninggalkan lapak yang ditempati lebih sepuluh tahun tanpa paksaan, tanpa perseturan , tanpa teriakan, sunyi, damai dan aman,  .  Semoga kebersihan yang terlihat hari ini bukan hanya untuk hari ini. Semoga menjadi awal dari perubahan yang panjang, konsisten, dan berkelanjutan.

Semoga para pedagang yang harus meninggalkan lokasi mendapatkan jalan rezeki yang lebih baik. Semoga pemerintah terus memberikan perhatian terhadap penataan kawasan. Semoga pengurus masjid mampu menjaga lingkungan yang telah ditata. Dan semoga masyarakat ikut merawat ruang publik yang telah dikembalikan kepada mereka.

Karena pada akhirnya, trotoar bukan hanya tempat untuk berjalan. Ia adalah simbol bahwa kota menyediakan ruang bagi setiap manusia.

Dan penataan bukan hanya tentang membuat kawasan terlihat lebih indah. Ia adalah ikhtiar untuk membuat kehidupan bersama menjadi lebih tertib, aman, nyaman, dan bermartabat.

اللَّهُمَّ يَسِّرْ لَنَا الْأُمُورَ، وَبَارِكْ فِي جُهُودِنَا، وَاهْدِنَا إِلَى مَا فِيهِ الْخَيْرُ لِلْجَمِيعِ.

Ya Allah, mudahkanlah segala urusan kami, berkahilah setiap ikhtiar kami, dan tunjukilah kami jalan terbaik yang membawa kebaikan bagi semua pihak.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي رِزْقِهِمْ، وَافْتَحْ لَهُمْ أَبْوَابَ الْخَيْرِ، وَعَوِّضْهُمْ خَيْرًا مِمَّا تَرَكُوا.

Ya Allah, berkahilah rezeki mereka, bukakanlah pintu-pintu kebaikan bagi mereka, dan gantilah apa yang mereka tinggalkan dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

@MABportalislam
www.masjidalfalahbenhil.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *