MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

EDITORIAL MAB: DARI MASJID MENUJU INDONESIA EMAS 2045. Ketika Ilmu Menjadi Cahaya, Iman Menjadi Arah, dan Akhlak Menjadi Kekuatan

EDITORIAL MAB: DARI MASJID MENUJU INDONESIA EMAS 2045. Ketika Ilmu Menjadi Cahaya, Iman Menjadi Arah, dan Akhlak Menjadi Kekuatan

Pemikiran Prof. Abdul Mu’ti, Pendidikan Islam dan Tanggung Jawab Generasi Muda Indonesia di Tengah Revolusi Digital dan Keberagaman Dunia

DrWJped

Indonesia 2045 mungkin masih berada di kejauhan bagi kalender, tetapi sesungguhnya ia sedang dibentuk hari ini di ruang kelas, di rumah, di madrasah, di pesantren, di perpustakaan, di laboratorium, dan bahkan di ruang-ruang kecil masjid tempat seorang anak pertama kali belajar membaca. Ketika Indonesia genap berusia seratus tahun, wajah bangsa ini tidak terutama akan ditentukan oleh gedung pencakar langit, kecanggihan kecerdasan artifisial, atau besarnya pertumbuhan ekonomi. Ia akan ditentukan oleh kualitas manusia yang hari ini sedang kita bentuk. Karena itu, pertanyaan terbesar menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya seberapa maju Indonesia, tetapi manusia seperti apa yang akan mengelola kemajuan itu? Di sinilah pendidikan menemukan maknanya yang paling dalam: membangun manusia sebelum membangun peradaban.

Pertanyaan tersebut memperoleh gema kuat dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., ketika menghadiri Temu Generasi Muda Khonghucu di Jakarta pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Ia mengingatkan bahwa generasi muda hari ini akan menentukan wajah Indonesia pada 2045: “Kalau kita berbicara Indonesia 100 tahun, Indonesia 2045, 19 tahun ke depan, wajah Indonesia itu kalianlah yang menentukan.” Abdul Mu’ti menekankan empat kekuatan yang perlu dipersiapkan generasi masa depan spiritual, fisik, intelektual, dan kepemimpinan serta pentingnya menjadi pembelajar sepanjang hayat. Pesan tersebut melampaui forum tempat ia disampaikan; ia merupakan panggilan kebangsaan kepada seluruh generasi muda Indonesia untuk tidak sekadar menjadi penonton perubahan, tetapi menjadi pelaku yang menentukan arah perubahan.

Bagi pendidikan Islam, empat kekuatan tersebut menemukan resonansi yang kuat dalam prinsip iman, ilmu, akhlak, dan amal. Islam tidak mengenal manusia yang hanya cerdas tetapi kehilangan arah moral. Al-Qur’an menegaskan, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS Al-Mujadilah: 11). Ilmu adalah cahaya, tetapi cahaya membutuhkan arah. Iman memberikan arah itu; akhlak menjaga agar ilmu tidak berubah menjadi kesombongan; dan amal memastikan pengetahuan menghadirkan manfaat. Karena itu, pendidikan Islam tidak cukup melahirkan manusia yang mampu menjawab soal ujian. Ia harus melahirkan manusia yang mampu menjawab persoalan zaman dengan akal yang tajam, hati yang jernih, dan akhlak yang luhur.

Dunia pendidikan sendiri sedang menghadapi perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan artifisial, otomasi, pembelajaran digital, dan perubahan kebutuhan pekerjaan membuat konsep “lulus sekolah lalu selesai belajar” semakin tidak relevan. UNESCO menempatkan pembelajaran sepanjang hayat sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan masa depan, sementara perkembangan AI mendorong pendidikan menuju pendekatan yang lebih berpusat pada manusia, aman, adil, dan etis. Bahkan PISA 2025 memasukkan kemampuan Learning in the Digital World untuk mengukur kemampuan peserta didik belajar secara mandiri dengan perangkat digital, sementara PISA 2029 akan memasukkan literasi media dan kecerdasan artifisial. Artinya, generasi masa depan tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang saya ketahui?”, tetapi harus mampu bertanya, “Bagaimana saya belajar, bagaimana saya memverifikasi, dan untuk apa pengetahuan itu saya gunakan?”

Namun kemajuan teknologi tidak boleh membuat kita lupa pada persoalan paling mendasar: apakah anak-anak kita benar-benar belajar? Data Bank Dunia menunjukkan bahwa tantangan kualitas pembelajaran masih menjadi persoalan besar secara global; dalam negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, sekitar 53 persen anak belum mampu membaca dan memahami teks sederhana sesuai usianya pada usia sekitar 10 tahun. Untuk Indonesia sendiri, Bank Dunia terus menempatkan capaian belajar sebagai salah satu indikator penting pembangunan modal manusia, sementara kajian Bank Dunia tentang guru dan kepemimpinan sekolah menunjukkan masih adanya persoalan mendasar dalam penguasaan kemampuan dasar peserta didik. Angka-angka tersebut seharusnya tidak dibaca sebagai statistik yang dingin. Di balik setiap angka terdapat seorang anak, sebuah keluarga, sebuah harapan, dan masa depan sebuah bangsa.

Karena itu, pendidikan Islam harus bergerak dari sekadar mengajarkan pengetahuan agama menuju pembentukan manusia yang beragama, berilmu, berpikir kritis, dan mampu memberi solusi. Santri masa depan harus mampu membaca Al-Qur’an sekaligus membaca data; memahami hadis sekaligus memahami teknologi; menguasai fikih sekaligus memiliki literasi ekonomi; mengenal khazanah ulama sekaligus mampu berdialog dengan ilmu pengetahuan modern. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim). Hadis ini memberi pesan yang sangat relevan bagi zaman modern: belajar bukan aktivitas yang selesai ketika seseorang memperoleh ijazah, melainkan perjalanan panjang yang membentuk kualitas dirinya. Dalam Islam, pencarian ilmu bukan hanya jalan menuju kompetensi, tetapi juga jalan menuju kematangan manusia.

Di tengah revolusi digital, tantangan pendidikan juga bergeser dari sekadar akses informasi menjadi kemampuan menilai informasi. Hari ini siapa pun dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Namun jawaban yang cepat belum tentu benar, dan informasi yang viral belum tentu sahih. Dalam pendidikan Islam, kemampuan tabayyun menjadi semakin penting: “Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya” (QS Al-Hujurat: 6). Prinsip tersebut sangat relevan di era media sosial dan AI. Generasi Muslim perlu memiliki literasi digital sekaligus literasi keagamaan: mampu memeriksa sumber hadis, memahami konteks ayat, membedakan pendapat ulama dengan fakta, dan tidak menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin. UNESCO juga menekankan perlunya pendekatan AI yang berpusat pada manusia dan melindungi hak peserta didik. Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi manusia tidak boleh semakin kehilangan kebijaksanaan.

Pendidikan juga tidak boleh kehilangan dimensi kemanusiaannya di tengah keberagaman Indonesia. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa persatuan tidak berarti menghapus perbedaan atau menyeragamkan masyarakat. Perbedaan justru dapat menjadi modal untuk melakukan kebajikan bersama. Ia menggambarkan sekolah sebagai meeting point dan melting point: tempat anak-anak bangsa dari berbagai latar belakang bertemu, berinteraksi, dan membangun ikatan bersama sebagai Indonesia. Pesan ini menemukan landasan yang indah dalam Al-Qur’an: “Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS Al-Hujurat: 13). Maka pendidikan Islam harus melahirkan Muslim yang kokoh dalam akidah, luhur dalam akhlak, dan dewasa dalam kehidupan bersama. Teguh dalam keyakinan tidak harus keras dalam hubungan kemanusiaan; semakin dalam iman, semestinya semakin luas rahmat.

Di sinilah masjid memiliki peran yang mungkin sering terlupakan. Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga salah satu mata air peradaban. Dari masjid dapat tumbuh budaya membaca, mengaji, berdiskusi, meneliti, bersedekah, melayani, memimpin, dan mengabdi. Keluarga memberikan keteladanan pertama; sekolah membangun pengetahuan; madrasah dan pesantren memperkuat tradisi keilmuan dan akhlak; masjid menyediakan ruang spiritual dan sosial; masyarakat memberikan pengalaman kehidupan yang nyata. Semua harus bergerak sebagai sebuah ekosistem pendidikan. Sebab seorang anak tidak hanya dididik oleh buku yang ia baca, tetapi juga oleh orang dewasa yang ia lihat, lingkungan yang ia alami, dan nilai-nilai yang setiap hari ia saksikan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Mendidik generasi berarti menerima amanah kepemimpinan sebelum mereka sendiri kelak memimpin bangsa.

Maka Indonesia Emas 2045 harus kita bayangkan bukan sekadar sebagai Indonesia yang kaya, digital, modern, dan kompetitif, tetapi sebagai Indonesia yang berilmu tanpa kehilangan adab, maju tanpa kehilangan jati diri, kuat tanpa kehilangan kasih sayang, dan beragam tanpa kehilangan persatuan. Dari masjid, kita ingin melihat generasi yang tumbuh dengan Al-Qur’an di hati, ilmu di pikiran, teknologi di tangan, dan kemaslahatan di dalam niatnya. Generasi yang berani memasuki laboratorium, tetapi tidak lupa bersujud; mampu menciptakan teknologi, tetapi tidak kehilangan empati; mampu bersaing di dunia global, tetapi tetap mencintai tanah air; dan memiliki identitas keagamaan yang kokoh tanpa menutup pintu persaudaraan kemanusiaan. Jika hari ini kita menanam ilmu, iman, kesehatan, kreativitas, kepemimpinan, dan akhlak, maka pada 2045 kita berharap memanen bukan hanya generasi emas, tetapi peradaban yang emas. Sebab pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak dibangun pertama-tama oleh mesin, gedung, atau kecerdasan buatan. Masa depan Indonesia dibangun oleh manusia; manusia dibentuk oleh pendidikan; dan pendidikan yang luhur menjadikan ilmu sebagai cahaya, iman sebagai arah, serta akhlak sebagai kekuatan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *