MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

Tanya Jawab: Benarkah Mimpi Didatangi Orang yang Telah Meninggal Berarti Ruhnya Datang?

Tanya Jawab: Benarkah Mimpi Didatangi Orang yang Telah Meninggal Berarti Ruhnya Datang?

Pertanyaan: Banyak orang bermimpi didatangi orang tua, saudara, atau teman yang telah meninggal. Sebagian meyakini bahwa mimpi tersebut berarti ruh orang yang telah meninggal benar-benar datang untuk menyampaikan pesan atau meminta sesuatu. Benarkah keyakinan tersebut menurut ajaran Islam?

Jawaban: Dalam ajaran Islam, tidak terdapat dalil sahih yang menyatakan bahwa setiap mimpi bertemu orang yang telah meninggal berarti ruh orang tersebut benar-benar datang kepada orang yang bermimpi. Al-Qur’an menjelaskan bahwa setelah kematian, ruh berada di alam barzakh hingga Hari Kebangkitan. Allah berfirman, “…dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Oleh karena itu, tidak tepat menjadikan mimpi sebagai bukti bahwa ruh keluar dari alam barzakh dan datang menemui orang yang masih hidup.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mimpi memiliki beberapa sumber. Beliau bersabda, “Mimpi yang baik berasal dari Allah, sedangkan mimpi yang buruk berasal dari setan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mimpi juga dapat berasal dari apa yang dipikirkan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, mimpi bertemu orang yang telah meninggal dapat memiliki berbagai sebab, seperti kerinduan, kenangan, kondisi psikologis, atau mimpi yang baik sebagai kabar gembira. Mimpi tidak dapat dijadikan dalil untuk menetapkan perkara akidah atau hukum syariat.

Para ulama, seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani, menjelaskan bahwa perkara gaib hanya dapat ditetapkan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis sahih. Jika seseorang bermimpi bertemu orang yang telah meninggal dan mimpi itu berisi nasihat yang sesuai dengan ajaran Islam, maka nasihat tersebut boleh diambil sebagai pengingat, bukan karena dianggap berasal dari ruh orang yang meninggal. Sebaliknya, apabila mimpi memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat atau mengandung klaim gaib tertentu, maka tidak boleh dipercaya. Sikap seorang Muslim adalah tidak membangun keyakinan berdasarkan mimpi, melainkan tetap berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah, mendoakan orang yang telah meninggal, serta memohon kepada Allah agar memberikan mimpi yang baik dan melindungi dari gangguan setan.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *