MAB MASJID AL-FALAH BENHIL

MAB PORTAL ISLAM: “Dari Masjid untuk Umat, Berbagi Ilmu dan Kebaikan”

FIKIH SHALAT: Qunut Menurut Sunah dan Ulama 4 Mahdzab

Shalat merupakan ibadah utama dalam Islam yang memiliki aturan yang jelas berdasarkan Al-Qur’an, sunnah Rasulullah SAW, serta ijtihad para ulama. Setiap rukun dan sunnah dalam shalat telah ditetapkan dengan dalil yang kuat, baik dari hadits maupun praktik para sahabat. Dalam perkembangannya, fiqih shalat mengalami perbedaan pendapat di kalangan ulama empat mazhab—Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali—karena metode istinbath (pengambilan hukum) yang berbeda. Namun, perbedaan ini tetap dalam koridor syariat dan merupakan rahmat bagi umat Islam.

Salah satu aspek shalat yang memiliki perbedaan pendapat adalah doa qunut, khususnya dalam shalat Subuh dan shalat witir. Rasulullah SAW sendiri pernah membaca qunut dalam berbagai keadaan, baik dalam shalat Subuh maupun saat terjadi musibah bagi umat Islam. Para sahabat pun memiliki praktik yang berbeda dalam hal ini, sehingga ulama mazhab pun berselisih pendapat mengenai hukum dan tata cara pelaksanaannya. Memahami fiqih qunut dari berbagai perspektif akan membantu umat untuk lebih bijak dalam menyikapi perbedaan yang ada.

DOA QUNUT

  • QUNUT NAZILAH
    • اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، اللَّهُمَّ اكْشِفِ الْبَلَاءَ وَارْفَعِ الْكَرْبَ، اللَّهُمَّ احْفَظْنَا وَاحْفَظْ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، اللَّهُمَّ اشْفِ الْمَرْضَى وَارْحَمِ الْمَوْتَى وَانْصُرِ الْمَظْلُومِينَ، اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
    • Allahumma anjil-mustadh‘afīna minal-mu’minīn, Allahummaksyifil-balā’a warfa‘il-karba, Allahummahfaznā wahfaz ahlal-islām, Allahummasyfil-mardhā warhamil-mautā wanshuril-mazhlūmīn, Allahummadfa‘ ‘annal-balā’a wal-fitana mā zhahara minhā wa mā bathana.
    • Artinya: “Ya Allah, selamatkanlah kaum mukminin yang tertindas. Ya Allah, angkatlah musibah dan hilangkanlah kesusahan. Ya Allah, lindungilah kami dan kaum Muslimin. Ya Allah, sembuhkanlah orang-orang yang sakit, rahmatilah orang-orang yang telah meninggal, dan tolonglah orang-orang yang dizalimi. Ya Allah, jauhkanlah dari kami musibah dan fitnah, yang tampak maupun yang tersembunyi.”
  • QUNUT WITIR
    • اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.
    • Allahummahdinī fīman hadait, wa ‘āfinī fīman ‘āfait, wa tawallanī fīman tawallait, wa bārik lī fīmā a‘thait, wa qinī syarra mā qadhait, fa innaka taqdhī wa lā yuqdha ‘alaik, wa innahu lā yazillu man wālait, wa lā ya‘izzu man ‘ādait, tabārakta rabbanā wa ta‘ālait.
    • Artinya: “Ya Allah, berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk. Berilah aku keselamatan bersama orang-orang yang Engkau beri keselamatan. Lindungilah aku bersama orang-orang yang Engkau lindungi. Berkahilah aku pada apa yang Engkau berikan. Lindungilah aku dari keburukan apa yang Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkaulah yang menetapkan dan tidak ada yang dapat menetapkan atas-Mu. Sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau lindungi dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Mahaberkah Engkau, wahai Tuhan kami, dan Mahatinggi Engkau.”
  • QUNUT SUBUH
    • اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.
    • Allahummahdinā fīman hadait, wa ‘āfinā fīman ‘āfait, wa tawallanā fīman tawallait, wa bārik lanā fīmā a‘thait, wa qinā syarra mā qadhait, fa innaka taqdhī wa lā yuqdha ‘alaik, wa innahu lā yazillu man wālait, wa lā ya‘izzu man ‘ādait, tabārakta rabbanā wa ta‘ālait.
    • Artinya: “Ya Allah, berilah kami petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk. Berilah kami keselamatan bersama orang-orang yang Engkau beri keselamatan. Lindungilah kami bersama orang-orang yang Engkau lindungi. Berkahilah kami pada apa yang Engkau berikan. Lindungilah kami dari keburukan apa yang Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkaulah yang menetapkan dan tidak ada yang dapat menetapkan atas-Mu. Sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau lindungi dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Mahaberkah Engkau, wahai Tuhan kami, dan Mahatinggi Engkau.”
  • Dalam praktik Syafi‘iyyah, qunut Subuh dibaca pada rakaat kedua setelah rukuk. Imam menggunakan bentuk jamak seperti “Allahummahdinā” karena mendoakan dirinya dan jamaah. Makmum mengaminkan doa imam. Qunut Subuh merupakan sunnah ab‘adh menurut mazhab Syafi‘i, bukan rukun salat.

Qunut Menurut Sunnah dan Sahabat

  • Qunut merupakan doa yang dibaca dalam posisi berdiri dalam shalat, baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnah, tergantung pada keadaan tertentu. Dalam sunnah Rasulullah SAW, qunut dilakukan dalam beberapa kondisi, seperti dalam shalat Subuh, shalat witir, dan ketika terjadi musibah besar (qunut nazilah). Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan qunut dalam shalat Subuh setelah rukuk selama sebulan untuk mendoakan kaum Muslimin yang tertindas (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, setelah itu, beliau tidak lagi melakukannya secara terus-menerus, yang menjadi dasar adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum qunut Subuh.
  • Di kalangan sahabat, praktik qunut juga beragam. Umar bin Khattab RA, misalnya, disebutkan melakukan qunut Subuh secara terus-menerus, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa’. Namun, sahabat lain seperti Ibnu Abbas RA dan Abdullah bin Mas’ud RA tidak mengamalkan qunut Subuh kecuali dalam keadaan darurat atau nazilah. Qunut nazilah sendiri adalah qunut yang dilakukan ketika umat Islam menghadapi musibah besar, seperti peperangan atau bencana. Rasulullah SAW sendiri pernah membaca qunut nazilah dalam shalat berjamaah untuk mendoakan kaum Muslimin yang tertindas oleh musuh, menunjukkan bahwa qunut dapat menjadi bagian dari ibadah dalam kondisi tertentu.

Qunut Menurut Ulama 4 Mahdzab


Tabel Fiqih Qunut Menurut Sunnah Sahabat dan Ulama Empat Mazhab

Aspek Menurut Sunnah Sahabat Mazhab Hanafi Mazhab Maliki Mazhab Syafi’i Mazhab Hanbali
Hukum Qunut Subuh Sebagian sahabat seperti Umar bin Khattab RA melakukannya terus-menerus, sementara Ibnu Abbas RA dan beberapa sahabat lainnya tidak melakukannya kecuali dalam keadaan darurat Tidak dianjurkan, kecuali dalam shalat witir pada separuh terakhir Ramadhan Tidak dianjurkan, kecuali dalam keadaan nazilah (musibah besar) Sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) dalam shalat Subuh setiap hari Tidak dianjurkan kecuali dalam keadaan nazilah
Hukum Qunut Witir Rasulullah SAW kadang membacanya dalam witir (HR. Abu Dawud, Tirmidzi) Sunnah membaca qunut pada separuh terakhir Ramadhan Tidak dianjurkan Boleh dilakukan sepanjang tahun dalam shalat witir Tidak dianjurkan kecuali dalam keadaan darurat
Hukum Qunut Nazilah Nabi SAW membaca qunut nazilah dalam berbagai keadaan ketika umat Islam menghadapi musibah (HR. Bukhari) Disunnahkan saat terjadi musibah besar bagi umat Islam Sunnah dilakukan ketika terjadi bencana atau peperangan yang menimpa umat Islam Dianjurkan ketika ada musibah besar menimpa umat Islam Boleh dilakukan jika ada keadaan darurat bagi umat Islam
Posisi Qunut dalam Shalat Dilakukan setelah rukuk atau sebelum rukuk, sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW dalam beberapa riwayat Setelah rukuk dalam shalat witir di akhir Ramadhan Setelah rukuk jika dalam kondisi nazilah Setelah rukuk dalam shalat Subuh dan witir Setelah rukuk dalam keadaan nazilah
Lafal Qunut Rasulullah SAW membaca berbagai doa, seperti Allahummahdina fiman hadait… dalam witir dan doa nazilah saat musibah Membaca doa khusus dalam shalat witir pada akhir Ramadhan Membaca doa sesuai kondisi nazilah Membaca doa Allahummahdina fiman hadait… dalam qunut Subuh dan witir Membaca doa sesuai kebutuhan saat nazilah

Qunut Subuh Menurut Empat Mazhab

Mazhab Hukum Qunut Subuh Keterangan
Syafi‘i Sunnah ab‘adh Dianjurkan secara rutin dalam salat Subuh, terutama pada rakaat kedua setelah i‘tidal
Maliki Sunnah Dianjurkan dalam salat Subuh
Hanafi Tidak disunnahkan Qunut utama dalam mazhab ini adalah qunut Witir; qunut dapat dilakukan ketika nazilah
Hanbali Tidak disunnahkan secara rutin Disunnahkan terutama ketika terjadi nazilah atau musibah

Gambaran tersebut juga ditegaskan oleh Dar al-Ifta Mesir bahwa Syafi‘iyah dan Malikiyah memandang qunut Subuh sebagai amalan yang dianjurkan, sementara Hanafiyah dan Hanabilah tidak mensunnahkannya secara rutin.

  • Mazhab Syafi‘i
    • Dalam mazhab Syafi‘i, qunut Subuh memiliki kedudukan khusus. Para ulama Syafi‘iyyah menetapkannya sebagai sunnah ab‘adh dalam salat Subuh. Sunnah ab‘adh adalah bagian dari amalan salat yang sangat ditekankan. Jika seseorang sengaja meninggalkannya, ia tidak dianggap meninggalkan rukun atau syarat salat. Karena itu, salatnya tetap sah. Namun, jika qunut terlupa atau ditinggalkan, disunnahkan melakukan sujud sahwi sebelum salam.
    • Qunut Subuh dalam mazhab Syafi‘i dibaca setelah rukuk pada rakaat kedua. Bacaan qunut umumnya dimulai dengan doa, “Allahummahdini fiman hadait…” dan dilanjutkan dengan doa memohon petunjuk, keselamatan, perlindungan, keberkahan, serta penjagaan dari keburukan. Dalam praktik Syafi‘iyyah, imam membaca qunut dengan suara jahr pada salat Subuh berjamaah. Makmum mengaminkan doa imam.
    • Dasar utama yang digunakan ulama Syafi‘iyyah adalah hadis Anas bin Malik رضي الله عنه tentang Rasulullah ﷺ yang melakukan qunut selama satu bulan untuk mendoakan keburukan terhadap sebagian kabilah Arab yang berkhianat, kemudian qunut tersebut terus dilakukan pada Subuh menurut riwayat yang mereka jadikan hujah. Imam al-Syafi‘i juga menilai riwayat tentang qunut Subuh memiliki dasar yang dapat dijadikan pegangan dalam fikih.
    • Namun, terdapat perbedaan penilaian hadis di antara para ulama. Sebagian ahli hadis menilai riwayat tentang qunut Subuh secara rutin tidak menunjukkan kesinambungan amalan setelah peristiwa tertentu. Karena itu, perbedaan pendapat mengenai qunut Subuh tidak hanya berkaitan dengan praktik masyarakat, tetapi berakar pada perbedaan dalam memahami dan menilai dalil hadis.
  • Mazhab Maliki
    • Mazhab Maliki juga memberikan tempat kepada qunut dalam salat Subuh. Dalam pendapat yang masyhur di kalangan Malikiyyah, qunut Subuh merupakan sunnah yang dilakukan secara terus-menerus. Karena itu, membaca qunut pada salat Subuh memiliki dasar fikih yang kuat dalam mazhab Maliki.
    • Terdapat perbedaan teknis antara mazhab Maliki dan Syafi‘i dalam pelaksanaan qunut. Dalam tradisi Maliki, qunut Subuh dikenal sebagai doa yang dilakukan pada rakaat kedua. Sebagian ulama Malikiyyah menempatkan qunut sebelum rukuk, sedangkan praktik dan rincian yang berkembang dalam berbagai lingkungan fikih dapat berbeda.
    • Mazhab Maliki juga memiliki perhatian terhadap praktik penduduk Madinah. Tradisi amal ahli Madinah menjadi salah satu unsur penting dalam metodologi Imam Malik. Karena itu, pembahasan mengenai qunut Subuh dalam mazhab Maliki tidak cukup hanya melihat satu hadis secara terpisah. Ulama Malikiyyah mempertimbangkan keseluruhan riwayat, praktik salaf, dan prinsip metodologi mazhab.
    • Dengan demikian, seseorang yang membaca qunut Subuh mengikuti mazhab Maliki mempunyai dasar fikih yang jelas. Orang yang tidak membacanya juga tidak otomatis dianggap meninggalkan keabsahan salat. Qunut bukan rukun salat.
  • Mazhab Hanafi
    • Dalam mazhab Hanafi, qunut Subuh tidak dipandang sebagai sunnah yang dilakukan secara rutin setiap hari. Qunut yang paling kuat kedudukannya dalam mazhab Hanafi adalah qunut Witir. Karena itu, praktik Hanafi berbeda dari Syafi‘i dan Maliki dalam masalah qunut Subuh.
    • Menurut fikih Hanafi, qunut Witir merupakan bagian penting dari tata cara salat Witir. Qunut tersebut dilakukan pada rakaat terakhir sesuai tata cara yang dijelaskan dalam kitab-kitab fikih Hanafi.
    • Adapun qunut dalam salat fardu, pembahasannya berkaitan dengan qunut nazilah. Qunut nazilah dilakukan ketika umat Islam menghadapi musibah atau keadaan berat yang membutuhkan doa khusus. Pelaksanaannya tidak terbatas pada Subuh sebagai amalan harian, tetapi berkaitan dengan kondisi yang menjadi sebab disyariatkannya qunut nazilah.
    • Karena itu, apabila seseorang mengikuti mazhab Hanafi lalu tidak membaca qunut pada salat Subuh, ia tidak dianggap meninggalkan sunnah Subuh menurut mazhabnya. Salat Subuh tetap sah selama rukun dan syarat salat terpenuhi.
    • Perbedaan ini penting dipahami. Tidak membaca qunut Subuh menurut mazhab Hanafi bukan berarti menolak doa qunut secara keseluruhan. Mazhab Hanafi tetap mengenal qunut. Hanya saja, penggunaannya ditempatkan terutama pada salat Witir dan pada keadaan nazilah.
  • Mazhab Hanbali
    • Mazhab Hanbali pada dasarnya tidak menetapkan qunut Subuh sebagai sunnah rutin setiap hari. Qunut dalam salat fardu lebih dikaitkan dengan qunut nazilah. Jika umat Islam mengalami musibah besar, ancaman, peperangan, atau keadaan yang membutuhkan doa khusus, imam dapat melakukan qunut sesuai ketentuan fikih Hanbali.
    • Dengan demikian, posisi Hanbali lebih dekat dengan mazhab Hanafi dalam masalah qunut Subuh rutin. Keduanya tidak menjadikan qunut Subuh sebagai sunnah yang dilakukan setiap hari.
    • Namun, terdapat rincian dalam mazhab Hanbali mengenai qunut nazilah. Qunut dapat dilakukan dalam salat fardu ketika terdapat sebab yang membenarkannya. Imam mendoakan kaum Muslimin dan memohon pertolongan Allah dalam menghadapi musibah tersebut.
    • Dalam masalah ini, qunut bukan menjadi bagian tetap dari struktur salat Subuh. Ia merupakan doa yang berkaitan dengan kondisi tertentu. Karena itu, ketika keadaan nazilah berakhir, amalan qunut tersebut juga tidak dilakukan sebagai kebiasaan harian.

Perbedaan Empat Mazhab

Perbedaan keempat mazhab dapat diringkas sebagai berikut:

    • Mazhab Syafi‘i: qunut Subuh sunnah ab‘adh dan dilakukan secara rutin pada rakaat kedua setelah rukuk. Jika terlupa, disunnahkan sujud sahwi.
    • Mazhab Maliki: qunut Subuh merupakan sunnah dan dikenal sebagai amalan yang dilakukan secara rutin.
    • Mazhab Hanafi: qunut Subuh tidak menjadi sunnah rutin. Qunut yang utama adalah qunut Witir. Qunut nazilah dapat dilakukan ketika terjadi musibah.
    • Mazhab Hanbali: qunut Subuh tidak menjadi sunnah rutin. Qunut terutama berkaitan dengan qunut nazilah ketika terdapat musibah atau keadaan khusus.
  • Hal terpenting dari perbedaan ini adalah status qunut Subuh tidak sama dengan rukun salat. Keempat mazhab tidak menjadikan qunut Subuh sebagai rukun yang menentukan sah atau tidaknya salat. Karena itu, orang yang membaca qunut dan orang yang tidak membaca qunut tetap dapat melaksanakan salat Subuh dengan sah selama memenuhi rukun, syarat, dan kewajiban salat menurut mazhab yang diikutinya.
  • Perbedaan ini juga menunjukkan bahwa persoalan qunut Subuh termasuk wilayah ikhtilaf fikih. Imam Syafi‘i dan ulama Syafi‘iyyah mempunyai argumentasi, demikian pula ulama Maliki, Hanafi, dan Hanbali. Karena itu, perbedaan praktik qunut di tengah masyarakat tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menyalahkan.
  • Dalam salat berjamaah, imam yang membaca qunut sebaiknya dihormati oleh makmum yang tidak biasa membacanya. Demikian pula imam yang tidak membaca qunut tetap dapat diikuti oleh makmum yang biasa membaca qunut. Perbedaan dalam masalah sunnah tidak membatalkan jamaah.
  • Dengan memahami posisi masing-masing mazhab, persoalan qunut Subuh dapat ditempatkan secara proporsional. Syafi‘i memiliki dasar untuk melakukannya secara rutin. Maliki juga memiliki dasar untuk melakukannya. Hanafi dan Hanbali memiliki dasar untuk tidak menjadikannya amalan rutin. Keempat pendekatan tersebut merupakan bagian dari khazanah fikih Islam yang berkembang melalui kajian terhadap Al-Qur’an, hadis, atsar, praktik salaf, dan metodologi istinbat masing-masing mazhab.

PENDAPAT FATWA ULAMA 

  1. Menurut Dar al-Ifta Mesir, qunut Subuh merupakan sunnah yang diakui dalam mazhab Syafi‘i dan Maliki. Dar al-Ifta menyebut persoalan ini sebagai masalah fikih cabang yang tidak seharusnya menjadi sebab perpecahan. Jika qunut ditinggalkan, salat tetap sah. Dalam pendapat Syafi‘i, orang yang meninggalkannya dianjurkan melakukan sujud sahwi. (موقع دار الإفتاء المصرية)
  2. Menurut ulama Saudi, khususnya Syekh Abdul Aziz bin Baz, qunut Subuh secara rutin tidak dianggap sunnah. Beliau menilai hadis tentang qunut Subuh terus-menerus sebagai lemah dan menetapkan qunut pada saat nazilah. Namun, ketika seseorang salat di belakang imam yang melakukan qunut, beliau tetap membolehkan dan memerintahkan mengikuti imam. Ini menunjukkan bahwa perbedaan qunut tidak menjadi alasan untuk meninggalkan jamaah. (Bin Baz)
  3. Dalam sumber resmi MUI yang saya temukan, belum ada fatwa khusus MUI yang menetapkan satu pendapat tunggal tentang qunut Subuh. Namun, MUI menegaskan bahwa hukum qunut Subuh merupakan contoh ikhtilaf fikih dan menjelaskan bahwa perbedaan pendapat ulama merupakan bagian dari tradisi intelektual Islam. MUI juga memuat contoh bahwa umat dapat berbeda dalam praktik qunut tanpa harus menjadikan perbedaan tersebut sebagai konflik. (MUI – Majelis Ulama Indonesia)
  4. Dalam tradisi Bahtsul Masail NU, qunut Subuh dipahami dalam kerangka mazhab Syafi‘i. NU Online menjelaskan bahwa para imam mazhab memang berbeda pendapat mengenai qunut Subuh. Dalam mazhab Syafi‘i, qunut Subuh termasuk sunnah ab‘adh. Karena itu, orang yang tidak hafal atau tidak membaca qunut tetap sah salatnya. Sikap ini menunjukkan bahwa qunut memiliki kedudukan sunnah, bukan rukun yang menentukan sahnya salat. (NU Online)
  5. Majelis Tarjih Muhammadiyah mengambil pendapat berbeda. Muhammadiyah tidak mengamalkan qunut Subuh rutin karena menilai hadis-hadis yang menjadi dasar qunut Subuh memiliki kelemahan dan perselisihan dalam penilaiannya. Majelis Tarjih juga membedakan antara qunut Subuh dan qunut nazilah. Dengan demikian, tidak membaca qunut Subuh merupakan pendapat fikih yang mempunyai dasar metodologis dalam keputusan Tarjih Muhammadiyah. (Muhammadiyah)

Jika kelima pandangan tersebut diterapkan dalam jamaah, prinsip praktisnya jelas. Pengikut Syafi‘i yang menjadi makmum kepada imam yang tidak qunut tetap mengikuti imam. Pengikut Muhammadiyah, Hanafi, atau Hanbali yang menjadi makmum kepada imam yang qunut juga tetap mengikuti imam. Dar al-Ifta Mesir secara tegas menyebut persoalan ini tidak layak menjadi sumber permusuhan, sedangkan Syekh bin Baz juga menyatakan bahwa orang yang salat di belakang imam yang qunut tetap mengikuti imam. Jadi, perbedaan qunut sebaiknya ditempatkan sebagai perbedaan fikih, bukan alasan untuk memutus jamaah atau persaudaraan. (موقع دار الإفتاء المصرية)


Mengapa Ulama Berbeda?

  • Perbedaan ini pada dasarnya berasal dari metode memahami dalil.
  • Ada hadis yang dipahami oleh sebagian ulama sebagai indikasi bahwa Nabi ﷺ melakukan qunut Subuh secara berkelanjutan. Ada pula hadis yang menunjukkan bahwa qunut pernah dilakukan karena musibah tertentu dan kemudian dihentikan.
  • Ulama Syafi‘iyah dan Malikiyah melakukan pendekatan yang berbeda terhadap hadis-hadis tersebut dibandingkan Hanafiyah dan Hanabilah. Karena itu, kesimpulan fikihnya pun berbeda.
  • Dalam tradisi fikih Islam, perbedaan seperti ini disebut ikhtilaf furu‘iyah, yaitu perbedaan pada persoalan cabang hukum, bukan perbedaan mengenai prinsip dasar iman dan Islam.

BAGAIMANA SIKAP UMAT SEBAIKNYA

  • Memahami bahwa qunut Subuh merupakan masalah khilafiyah fikih
    • Umat perlu memahami bahwa qunut Subuh bukan rukun salat. Perbedaan dalam masalah ini tidak menentukan sah atau tidaknya salat seseorang. Mazhab Syafi‘i memiliki dasar untuk melakukan qunut secara rutin. Mazhab Maliki juga memiliki dasar untuk melakukannya. Sementara itu, mazhab Hanafi dan Hanbali memiliki dasar untuk tidak menjadikannya sebagai amalan rutin pada salat Subuh.
    • Karena itu, orang yang membaca qunut tidak tepat dituduh meninggalkan sunnah secara mutlak. Sebaliknya, orang yang tidak membaca qunut juga tidak tepat dituduh menolak sunnah atau hadis Nabi ﷺ.
  • Membedakan kekuatan hadis dengan hasil ijtihad fikih
    • Hadis yang paling kuat secara sanad mengenai qunut berkaitan dengan qunut karena musibah. Dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim terdapat riwayat tentang Nabi ﷺ melakukan qunut selama satu bulan setelah terbunuhnya sejumlah sahabat yang diutus untuk mengajarkan agama.
    • Namun, keberadaan hadis sahih tersebut tidak otomatis menyelesaikan seluruh pembahasan tentang qunut Subuh rutin. Para ulama kemudian berbeda dalam memahami apakah praktik tersebut berlaku khusus untuk qunut nazilah atau memiliki dasar untuk dilakukan secara rutin pada Subuh.
    • Di sinilah metode istinbat berperan. Sebagian ulama menerima adanya dasar untuk qunut Subuh secara rutin berdasarkan kumpulan riwayat dan praktik ulama terdahulu. Sebagian lainnya memahami hadis-hadis tersebut sebagai qunut yang berkaitan dengan nazilah atau keadaan tertentu.
  • Tidak menjadikan perbedaan mazhab sebagai alasan untuk memutus persaudaraan
    • Perbedaan qunut tidak seharusnya mengganggu jamaah. Jika imam membaca qunut, makmum yang tidak biasa membacanya tetap dapat mengikuti imam. Jika imam tidak membaca qunut, jamaah yang mengikuti mazhab Syafi‘i tetap dapat melaksanakan salat dengan tenang.
    • Perbedaan seperti ini telah dikenal dalam sejarah fikih Islam. Persoalan yang memiliki dasar ijtihad tidak semestinya diperlakukan seperti persoalan akidah yang prinsipil.
    • Yang perlu dijaga adalah adab terhadap sesama Muslim. Jangan mencela imam karena membaca qunut. Jangan pula mencela imam karena tidak membaca qunut.
  • Menghormati imam dan menjaga persatuan jamaah
    • Dalam salat berjamaah, persatuan jamaah memiliki nilai yang besar. Ketika imam membaca qunut, makmum dapat mengaminkan doa tersebut. Ketika imam tidak membaca qunut, makmum tidak perlu membuat kegaduhan atau memisahkan diri dari jamaah hanya karena persoalan tersebut.
    • Perbedaan tata cara dalam perkara sunnah harus dikelola dengan ilmu dan adab. Masjid sebaiknya menjadi tempat umat belajar bahwa perbedaan fikih dapat hidup berdampingan.
  • Mengikuti dalil melalui metode ilmiah, bukan fanatisme
    • Sikap ilmiah menuntut umat membedakan tiga hal. Pertama, apakah sebuah hadis sahih atau tidak. Kedua, apa makna dan konteks hadis tersebut. Ketiga, bagaimana ulama menggunakan hadis tersebut dalam menetapkan hukum.
    • Riwayat tentang qunut Subuh rutin memang menjadi bahan perbedaan penilaian di kalangan ahli hadis. Ulama Syafi‘iyyah mempunyai argumentasi berdasarkan riwayat yang mereka terima dan metode istinbat mereka. Ulama dari mazhab lain mempunyai argumentasi berbeda berdasarkan penilaian mereka terhadap riwayat dan praktik Nabi ﷺ.
    • Karena itu, sikap yang lebih tepat adalah mempelajari dalil, memahami metode para ulama, kemudian menghormati perbedaan yang mempunyai dasar ilmiah.

Penutup

Fiqih shalat, termasuk persoalan qunut, menunjukkan bahwa Islam memberikan keleluasaan dalam praktik ibadah selama masih berdasarkan dalil yang kuat. Selama seseorang mengikuti pendapat yang didukung oleh ulama dan memiliki dasar dari sunnah, maka amalannya tetap sah dan diterima di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, hendaknya umat Islam lebih fokus pada kekhusyukan dalam shalat dan meningkatkan kualitas ibadahnya daripada memperdebatkan hal-hal yang bersifat furu’iyyah (cabang).

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *