20 Pendakwah Muhammadiyah Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah membahas dua puluh ulama, mubalig, pemikir, pendidik, dan tokoh dakwah yang memiliki peran penting dalam perjalanan Muhammadiyah sejak awal abad ke-20 hingga era kontemporer. Mereka dipilih secara lintas generasi untuk menggambarkan perkembangan dakwah Muhammadiyah yang tidak hanya berlangsung melalui ceramah dan pengajian, tetapi juga melalui pendidikan, pembinaan kader, tarjih dan pemikiran Islam, pemberdayaan perempuan, pelayanan sosial, literasi, kesehatan, perjuangan kebangsaan, dialog antaragama, hingga pengembangan gagasan Islam Berkemajuan. Mulai dari KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri, Nyai Ahmad Dahlan sebagai pelopor dakwah perempuan, para ulama dan pemimpin generasi awal seperti KH Ibrahim, KH Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, hingga tokoh intelektual dan pendakwah kontemporer seperti Buya Syafii Maarif, Din Syamsuddin, Haedar Nashir, Syamsul Anwar, dan Abdul Mu’ti, seluruhnya menunjukkan keragaman wajah dakwah Muhammadiyah. Kajian ini menegaskan bahwa pengaruh seorang pendakwah tidak semata-mata diukur dari popularitas ceramah, tetapi dari kemampuan membangun ilmu, akhlak, lembaga, kader, pemikiran, dan amal nyata yang memberikan manfaat luas bagi umat dan bangsa.
20 pendakwah dan tokoh dakwah yang memiliki keterkaitan kuat dengan Muhammadiyah, disusun lintas generasi. Saya memakai istilah pendakwah secara luas—mencakup ulama, mubalig, pemikir, pendidik, dan tokoh yang menjadikan dakwah sebagai bagian penting dari perjuangan Muhammadiyah. Muhammadiyah sendiri sejak awal dibangun sebagai gerakan dakwah dan pendidikan; KH Ahmad Dahlan aktif berdakwah dari satu tempat ke tempat lain dan mengarahkan dakwah pada pengamalan Islam serta amal saleh.
20 Pendakwah Muhammadiyah Paling Berpengaruh
1. KH Ahmad Dahlan (1868–1923)
- KH Ahmad Dahlan merupakan pendiri Muhammadiyah dan salah satu tokoh pembaruan Islam paling penting dalam sejarah Indonesia. Lahir dengan nama Muhammad Darwis di Kauman, Yogyakarta, ia tumbuh dalam lingkungan keagamaan dan kemudian memperdalam ilmu Islam, termasuk melalui perjalanan ke Makkah. Sekembalinya ke tanah air, Ahmad Dahlan melihat bahwa persoalan umat tidak cukup diselesaikan hanya dengan ceramah, tetapi membutuhkan pembaruan cara berpikir, pendidikan, dan amal sosial. Pada 18 November 1912 ia mendirikan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang berupaya mengembalikan kehidupan umat kepada Al-Qur’an dan Sunnah sekaligus menghadirkan ajaran Islam dalam bentuk amal nyata. Baginya, memahami agama harus berujung pada tindakan: pendidikan harus mencerdaskan, ibadah harus membentuk akhlak, dan kepedulian kepada kaum miskin harus diwujudkan dalam pelayanan sosial. Karena itu, dakwah Ahmad Dahlan berkembang melalui sekolah, pengajian, pelayanan sosial, pembinaan perempuan, dan berbagai bentuk amal usaha. Salah satu karakter penting dakwahnya adalah keberanian menghubungkan nilai agama dengan kebutuhan masyarakat modern tanpa meninggalkan prinsip dasar Islam. Ia wafat pada 23 Februari 1923, tetapi gagasan dakwahnya berkembang menjadi gerakan Muhammadiyah yang kemudian memiliki jaringan pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah yang luas di Indonesia.
2. Nyai Ahmad Dahlan / Siti Walidah (1872–1946)
- Siti Walidah, yang kemudian dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, merupakan salah satu pelopor dakwah perempuan dan tokoh penting dalam sejarah Muhammadiyah. Sebagai istri KH Ahmad Dahlan, ia tidak hanya mendampingi perjuangan dakwah suaminya, tetapi juga membangun peran mandiri perempuan dalam pendidikan dan kehidupan sosial-keagamaan. Ia menjadi tokoh penting dalam perkembangan Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah yang didirikan pada 1917. Siti Walidah memandang bahwa perempuan bukan sekadar penerima pendidikan agama, tetapi juga dapat menjadi pendidik, penggerak masyarakat, dan pelaku dakwah. Melalui pengajian, pendidikan keluarga, pembinaan perempuan, dan aktivitas sosial, ia membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan Muslim untuk berkontribusi dalam kehidupan umat. Dakwahnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari karena menyentuh pendidikan anak, keluarga, akhlak, dan pemberdayaan perempuan. Keteladanannya memperlihatkan bahwa dakwah tidak selalu harus dilakukan dari mimbar; mendidik keluarga, membangun lembaga pendidikan, membina perempuan, dan membantu masyarakat juga merupakan bentuk dakwah yang memiliki dampak panjang.
3. KH Ibrahim (1878–1934)
- KH Ibrahim merupakan tokoh Muhammadiyah yang meneruskan kepemimpinan setelah wafatnya KH Ahmad Dahlan. Ia menghadapi tantangan penting: bagaimana mempertahankan semangat pembaruan yang telah diletakkan pendiri sekaligus memperluas organisasi yang masih relatif muda. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah terus mengembangkan kegiatan pendidikan, pengajian, kaderisasi, dan dakwah sosial. Peran KH Ibrahim penting karena masa kepemimpinan setelah seorang pendiri biasanya menjadi periode penentuan apakah sebuah gerakan dapat bertahan atau justru kehilangan arah. Ia membantu menjaga kesinambungan identitas Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid. Dakwah pada masa itu bukan hanya menyampaikan ceramah keagamaan, tetapi juga membangun organisasi yang mampu mendidik generasi baru, memperluas pengajian, dan menghadirkan Islam dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, KH Ibrahim dapat dipandang sebagai salah satu tokoh yang membantu mengubah Muhammadiyah dari gerakan yang berpusat pada figur pendiri menjadi organisasi yang memiliki kesinambungan kepemimpinan dan sistem gerakan.
4. KH Mas Mansur (1896–1946)
- KH Mas Mansur merupakan ulama, pemikir, dan pemimpin Muhammadiyah yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan pemikiran Islam pada masa awal abad ke-20. Latar belakang pendidikan keagamaannya serta pengalaman intelektualnya membuat dakwahnya memiliki corak pembaruan yang kuat. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang mendorong umat Islam agar tidak berhenti pada pemahaman agama secara tekstual, tetapi mampu membaca perubahan zaman dan menjawab persoalan masyarakat. Dalam Muhammadiyah, ia berperan dalam pengembangan pemikiran keagamaan dan pernah memimpin organisasi sebagai Ketua Umum. Kiprahnya juga tidak dapat dipisahkan dari persoalan kebangsaan karena ia hidup pada masa pergolakan menuju kemerdekaan Indonesia. Dakwahnya memperlihatkan hubungan erat antara keislaman, pendidikan, kesadaran sosial, dan tanggung jawab kebangsaan. Sosok Mas Mansur menunjukkan bahwa ulama tidak hanya berfungsi sebagai pemberi fatwa atau pengisi pengajian, tetapi juga dapat menjadi pemikir yang berusaha membaca persoalan umat secara lebih luas dan memberikan arah bagi kehidupan sosial serta kebangsaan.
5. Ki Bagus Hadikusumo (1890–1954)
- Ki Bagus Hadikusumo merupakan ulama, pemikir, penulis, dan pemimpin Muhammadiyah yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan pemikiran keislaman organisasi. Ia dikenal memiliki perhatian kuat terhadap persoalan akidah, akhlak, fikih, dan kehidupan umat. Dalam Muhammadiyah, ia memainkan peran penting dalam pengembangan tradisi pemikiran keagamaan dan menjadi salah satu figur yang memperkuat fondasi intelektual gerakan. Ia juga memiliki peran penting dalam sejarah kebangsaan Indonesia, terutama pada masa menjelang dan sesudah kemerdekaan. Pemikirannya memperlihatkan bahwa dakwah Islam harus memiliki landasan ilmu sekaligus kemampuan membaca realitas sosial-politik. Sebagai penulis dan ulama, ia menggunakan bahasa dan argumentasi keagamaan untuk menjelaskan pentingnya kehidupan Islam yang berlandaskan tauhid dan akhlak. Kiprahnya dalam Muhammadiyah juga berkaitan erat dengan perkembangan tradisi tarjih, yaitu usaha memilih dan merumuskan pandangan keagamaan berdasarkan dalil serta pertimbangan metodologis. Karena itu, Ki Bagus Hadikusumo merupakan salah satu tokoh yang membantu membentuk karakter Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah sekaligus gerakan intelektual.
6. KH Ahmad Badawi (1902–1969)
- KH Ahmad Badawi merupakan ulama dan pemimpin Muhammadiyah yang dikenal memiliki perhatian terhadap dakwah, pendidikan, ilmu keislaman, serta ilmu falak. Ia pernah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan menghadapi dinamika kehidupan umat pada masa yang penuh perubahan politik dan sosial. Keahliannya dalam bidang falak menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Muhammadiyah tidak hanya berkaitan dengan fikih dan dakwah lisan, tetapi juga dengan ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk menentukan persoalan keagamaan seperti kalender, waktu salat, dan arah kiblat. Dakwahnya memperlihatkan hubungan antara ketelitian ilmiah dan pengamalan agama. Dalam kehidupan organisasi, ia juga berperan dalam menjaga kesinambungan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang berbasis pendidikan dan pembinaan umat. Sosok Ahmad Badawi memberikan contoh bahwa seorang pendakwah dapat sekaligus menjadi ilmuwan dan pengkaji persoalan teknis keagamaan, sehingga dakwah tidak terpisah dari perkembangan ilmu pengetahuan.
7. KH Fakhruddin (1890–1929)
- KH Fakhruddin merupakan salah satu tokoh generasi awal Muhammadiyah yang dikenal memiliki semangat dakwah dan keberanian dalam menghadapi persoalan sosial pada masa kolonial. Ia tumbuh dalam lingkungan gerakan pembaruan Islam dan menjadi bagian dari generasi yang meneruskan semangat KH Ahmad Dahlan. Dakwahnya tidak hanya berisi penyampaian ajaran agama, tetapi juga membangun kesadaran umat agar tidak pasif menghadapi ketidakadilan dan keterbelakangan. Ia dikenal memiliki kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat serta perhatian terhadap kondisi sosial umat. Pada masa ketika pendidikan dan informasi masih sangat terbatas, dakwah membutuhkan keberanian untuk mendatangi masyarakat secara langsung dan menjelaskan Islam dengan bahasa yang dapat mereka pahami. Karena itu, sosok KH Fakhruddin penting dalam sejarah perkembangan dakwah Muhammadiyah karena memperlihatkan bagaimana nilai keagamaan dapat menjadi sumber keberanian, kesadaran sosial, dan pembelaan terhadap martabat masyarakat.
8. KH Raden Hadjid (1898–1970)
- KH Raden Hadjid merupakan salah satu murid KH Ahmad Dahlan yang mempunyai peran penting dalam mewariskan pemikiran dan pengalaman dakwah pendiri Muhammadiyah kepada generasi berikutnya. Hubungannya dengan Ahmad Dahlan membuatnya memiliki posisi penting dalam sejarah transmisi pemikiran awal Muhammadiyah. Ia dikenal sebagai tokoh yang berusaha menjelaskan kembali metode dan pemikiran Ahmad Dahlan sehingga dapat dipahami oleh generasi setelahnya. Kiprahnya dalam lingkungan Muhammadiyah juga berkaitan dengan bidang keagamaan dan tarjih. Salah satu kontribusi pentingnya adalah membantu mengabadikan pelajaran dan pengalaman dari kehidupan Ahmad Dahlan agar tidak hilang bersama berlalunya generasi. Dalam konteks dakwah, peran semacam ini sangat penting karena sebuah gerakan tidak hanya membutuhkan pendiri yang visioner, tetapi juga orang-orang yang mampu mendokumentasikan, menjelaskan, dan mentransmisikan gagasan tersebut. KH Raden Hadjid menjadi salah satu mata rantai penting antara generasi pendiri Muhammadiyah dan generasi penerusnya.
9. Buya AR Sutan Mansur (1895–1985)
- Buya AR Sutan Mansur merupakan ulama asal Minangkabau yang menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan Muhammadiyah. Ia memiliki kemampuan dakwah yang kuat dan dikenal sebagai pendidik serta pembina kader. Karakter dakwahnya menekankan pentingnya pemahaman agama yang kokoh sekaligus pembentukan kepribadian Muslim. Sebagai tokoh yang memiliki pengalaman dakwah di berbagai daerah, ia berkontribusi dalam memperluas pengaruh Muhammadiyah di luar pusat awalnya di Jawa. Ia juga pernah memimpin Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menunjukkan besarnya kepercayaan organisasi terhadap kapasitas keilmuan dan kepemimpinannya. Dakwah Buya AR Sutan Mansur memperlihatkan pentingnya kaderisasi: dakwah tidak cukup hanya menghasilkan jamaah yang mendengar ceramah, tetapi harus melahirkan orang-orang yang mampu meneruskan perjuangan pendidikan dan pelayanan umat. Pengaruhnya terutama terasa dalam pembinaan generasi muda dan penguatan tradisi dakwah Muhammadiyah yang berorientasi pada ilmu, akhlak, dan amal.
10. KH Abdul Rozak Fachruddin / Pak AR (1916–1995)
- KH Abdul Rozak Fachruddin, yang sangat populer dengan panggilan Pak AR, merupakan salah satu mubalig Muhammadiyah paling berpengaruh pada abad ke-20. Kekuatan dakwahnya terletak pada kesederhanaan, kelembutan, kedekatan dengan masyarakat, dan kemampuannya menjelaskan persoalan agama menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Ia tidak membangun jarak yang lebar antara ulama dan masyarakat, sehingga pesan dakwahnya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pak AR juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap pembinaan kader dan kehidupan organisasi Muhammadiyah. Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam periode yang panjang, ia menghadapi berbagai perubahan sosial-politik Indonesia. Gaya kepemimpinannya cenderung menenangkan dan mengutamakan pembinaan umat. Dakwah Pak AR menunjukkan bahwa kekuatan seorang pendakwah tidak selalu terletak pada retorika yang keras atau argumentasi yang rumit, tetapi pada ketulusan, kesederhanaan, keteladanan, dan kemampuan menyentuh hati masyarakat. Karena itu, namanya tetap dikenang sebagai salah satu ikon dakwah Muhammadiyah.
11. KH Ahmad Azhar Basyir (1928–1994)
- KH Ahmad Azhar Basyir merupakan ulama, akademisi, ahli fikih, dan pemikir Muhammadiyah yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan pemikiran Islam modern di Indonesia. Pendidikan akademiknya dan penguasaan terhadap khazanah fikih membuatnya mampu menghubungkan tradisi keilmuan Islam klasik dengan persoalan masyarakat modern. Ia pernah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan aktif dalam pengembangan pemikiran tarjih. Karya-karyanya banyak membahas persoalan fikih, akhlak, ekonomi, dan kehidupan keislaman. Ciri penting pemikirannya adalah usaha memberikan jawaban keagamaan yang memiliki dasar ilmiah dan tetap relevan dengan perubahan masyarakat. Dakwah dalam perspektifnya tidak hanya berbentuk ceramah, tetapi juga melalui pendidikan tinggi, buku, penelitian, fatwa, dan pembentukan tradisi intelektual. Ia menjadi contoh bahwa pendakwah modern membutuhkan kemampuan membaca teks agama sekaligus memahami perkembangan masyarakat. Warisan intelektualnya masih menjadi rujukan penting dalam lingkungan pendidikan dan pemikiran Muhammadiyah.
12. Buya Hamka / Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908–1981)
- Buya Hamka merupakan salah satu ulama, sastrawan, mufasir, dan pendakwah Indonesia yang memiliki hubungan sangat erat dengan Muhammadiyah. Dakwahnya memiliki karakter yang unik karena memadukan kekuatan ilmu agama dengan sastra, sejarah, budaya, dan pengalaman kehidupan manusia. Melalui tulisan dan ceramah, Hamka mampu membawa pembahasan Islam kepada masyarakat luas dengan bahasa yang hidup dan menyentuh. Karya monumentalnya, Tafsir Al-Azhar, menunjukkan keluasan wawasan keislamannya sekaligus kemampuannya membaca persoalan sosial dari perspektif Al-Qur’an. Sebagai seorang pendakwah, Hamka tidak hanya berbicara tentang hukum agama, tetapi juga cinta, keluarga, akhlak, perjuangan, keadilan, kemanusiaan, dan kehidupan modern. Ia juga pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia pertama. Hubungannya dengan Muhammadiyah memperlihatkan bagaimana tradisi dakwah organisasi tersebut dapat berkembang melalui literasi, sastra, media, dan pemikiran intelektual. Hamka menjadi contoh bahwa seorang pendakwah dapat menjangkau jutaan manusia bukan hanya melalui mimbar, tetapi juga melalui buku dan tulisan yang terus dibaca lintas generasi.
13. Prof. Dr. H. Amien Rais
- Amien Rais merupakan akademisi, intelektual, dan tokoh Muhammadiyah yang memainkan peran besar dalam dakwah pemikiran dan kehidupan kebangsaan Indonesia. Ia pernah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan dikenal memiliki perhatian besar terhadap demokrasi, keadilan sosial, pemerintahan yang bersih, dan posisi umat Islam dalam kehidupan berbangsa. Latar belakang akademiknya membuat gaya dakwahnya berbeda dari mubalig tradisional karena banyak menggunakan pendekatan politik, sosial, dan intelektual. Ia berusaha menjelaskan bahwa Islam tidak hanya berkaitan dengan ibadah personal, tetapi juga memiliki perhatian terhadap keadilan, amanah kekuasaan, kesejahteraan masyarakat, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan publik. Pada era Reformasi, pemikirannya memperoleh perhatian luas karena ia menjadi salah satu tokoh yang secara terbuka mengkritik pemerintahan Orde Baru. Terlepas dari berbagai perdebatan politik yang menyertai perjalanan hidupnya, Amien Rais merupakan figur penting dalam sejarah Muhammadiyah karena memperlihatkan wajah dakwah intelektual yang masuk ke wilayah demokrasi, politik, dan persoalan kebangsaan.
14. Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif / Buya Syafii (1935–2022)
- Buya Ahmad Syafii Maarif merupakan ulama dan intelektual Muhammadiyah yang dikenal luas karena gagasannya mengenai Islam, kemanusiaan, kebangsaan, demokrasi, dan perdamaian. Ia pernah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan sepanjang kehidupannya berusaha membangun pemahaman Islam yang berorientasi pada kemajuan peradaban sekaligus menghargai kemajemukan Indonesia. Pemikirannya menempatkan Islam sebagai kekuatan moral yang dapat memberikan kontribusi terhadap kemanusiaan, bukan sebagai alasan untuk membangun permusuhan. Ia sering menekankan pentingnya membaca sejarah secara kritis, memahami konteks sosial, dan mengembangkan sikap keagamaan yang dewasa. Dakwah Buya Syafii tidak selalu berbentuk ceramah keagamaan konvensional; banyak dilakukan melalui tulisan, pendidikan, dialog, dan refleksi intelektual. Ia juga aktif dalam berbagai forum nasional dan internasional yang membahas hubungan agama, demokrasi, kebangsaan, dan perdamaian. Warisan pemikirannya menjadikan Buya Syafii sebagai salah satu representasi penting dari gagasan Islam Berkemajuan yang berusaha mempertemukan keislaman dengan kemanusiaan dan kehidupan kebangsaan.
15. Prof. Dr. Din Syamsuddin
- Prof. Dr. Din Syamsuddin merupakan ulama, akademisi, dan tokoh Muhammadiyah yang memiliki pengalaman dakwah pada tingkat nasional maupun internasional. Ia pernah memimpin Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan dikenal aktif dalam berbagai forum dunia Islam, dialog antaragama, serta isu perdamaian. Dakwahnya memiliki cakupan yang luas, mulai dari persoalan keislaman, kebangsaan, demokrasi, hubungan antaragama, hingga perdamaian global. Salah satu ciri penting kiprahnya adalah usaha memperkenalkan perspektif Islam Indonesia dalam percakapan dunia internasional. Ia memandang bahwa umat Islam Indonesia memiliki pengalaman penting dalam mengembangkan kehidupan beragama yang dapat berdampingan dengan kehidupan demokratis dan masyarakat majemuk. Melalui ceramah, tulisan, organisasi, dan forum internasional, ia berusaha memperluas cakupan dakwah dari persoalan internal umat menuju persoalan kemanusiaan global. Sosok Din Syamsuddin menunjukkan perkembangan dakwah Muhammadiyah dari gerakan lokal menjadi gerakan yang memiliki kemampuan berkomunikasi dalam ruang nasional dan internasional.
16. Prof. Dr. Haedar Nashir
- Prof. Dr. Haedar Nashir merupakan salah satu tokoh utama Muhammadiyah kontemporer dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dakwahnya banyak dikaitkan dengan penguatan gagasan Islam Berkemajuan, yaitu Islam yang berlandaskan tauhid dan ajaran Al-Qur’an serta Sunnah sekaligus mendorong kemajuan pendidikan, ilmu pengetahuan, kesehatan, ekonomi, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Dalam kepemimpinannya, Muhammadiyah terus mengembangkan berbagai amal usaha dan memperkuat kapasitas organisasi sebagai gerakan dakwah dan tajdid. Gaya dakwah Haedar cenderung reflektif dan argumentatif, dengan perhatian pada perubahan sosial, tantangan modernitas, kebangsaan, dan masa depan umat. Ia juga banyak berbicara tentang pentingnya moderasi, pendidikan kader, profesionalisme organisasi, serta penguatan masyarakat sipil. Dakwah dalam perspektif ini tidak berhenti pada perubahan individu, tetapi diarahkan kepada pembangunan peradaban. Karena itu, Haedar menjadi salah satu representasi penting wajah Muhammadiyah pada abad ke-21.
17. Prof. Dr. Yunahar Ilyas (1956–2020)
- Prof. Dr. Yunahar Ilyas merupakan ulama, akademisi, dan tokoh Muhammadiyah yang dikenal luas melalui kajian Al-Qur’an, akhlak, dan pemikiran Islam. Ia memiliki kemampuan menyampaikan persoalan keagamaan dengan pendekatan akademis tetapi tetap komunikatif sehingga mudah diterima dalam pendidikan kader dan masyarakat. Salah satu kekuatan dakwahnya adalah penekanan pada pembentukan akhlak sebagai bagian penting dari keberagamaan. Baginya, pemahaman agama tidak cukup berhenti pada pengetahuan, tetapi harus tercermin dalam perilaku dan hubungan manusia dengan Allah maupun sesama manusia. Ia juga berkiprah dalam struktur Muhammadiyah dan berbagai kegiatan pendidikan serta pembinaan umat. Dakwah Yunahar Ilyas memperlihatkan karakter penting tradisi intelektual Muhammadiyah: kajian agama dapat dilakukan secara serius dan akademis tanpa kehilangan orientasi praktis terhadap pembentukan manusia yang berakhlak. Buku, kuliah, ceramah, dan pembinaan kader menjadi sarana penting dalam menyebarkan gagasan tersebut.
18. KH As’ad Humam (1933–1996)
- KH As’ad Humam merupakan tokoh yang sangat dikenal melalui Metode Iqra’, sebuah metode pembelajaran membaca Al-Qur’an yang kemudian digunakan secara luas di Indonesia dan berbagai wilayah lainnya. Keistimewaan kiprahnya terletak pada kemampuannya mengubah persoalan pendidikan Al-Qur’an menjadi sebuah metode pembelajaran yang praktis, bertahap, dan mudah diterapkan oleh anak-anak. Dakwahnya menunjukkan bahwa inovasi pendidikan dapat menjadi bentuk dakwah yang memiliki dampak sangat luas. Alih-alih hanya menyampaikan ceramah, ia membantu menyediakan cara agar masyarakat dapat membaca Al-Qur’an dengan lebih mudah. Metode Iqra’ kemudian digunakan oleh banyak lembaga pendidikan Al-Qur’an dan menjadi bagian penting dari sejarah pembelajaran Al-Qur’an di Indonesia. Sosok As’ad Humam memberikan pelajaran bahwa dakwah tidak selalu harus menghasilkan banyak pidato; sebuah metode pendidikan yang baik bahkan dapat menjadi sarana dakwah yang digunakan oleh jutaan orang. Karena itu, kontribusinya dapat dilihat sebagai perpaduan antara pendidikan, teknologi pembelajaran, dan dakwah Al-Qur’an.
19. Prof. Dr. Syamsul Anwar
- Prof. Dr. Syamsul Anwar merupakan ulama dan akademisi Muhammadiyah yang dikenal terutama dalam bidang fikih, usul fikih, hadis, dan pemikiran Islam kontemporer. Kiprahnya sangat berkaitan dengan pengembangan tradisi tarjih dan tajdid Muhammadiyah, yaitu usaha memahami persoalan keagamaan berdasarkan dalil sekaligus menggunakan metodologi keilmuan yang sistematis. Ia berkontribusi dalam membahas berbagai persoalan baru yang muncul akibat perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, dan perubahan sosial. Pendekatan keilmuannya menunjukkan bahwa fikih tidak hanya berkaitan dengan persoalan ibadah yang telah dikenal sejak masa lalu, tetapi juga perlu memiliki kemampuan menjawab persoalan baru secara bertanggung jawab. Dalam konteks dakwah, pendekatan tersebut sangat penting karena masyarakat modern menghadapi persoalan yang tidak selalu ditemukan secara langsung dalam bentuk yang sama dalam kitab-kitab klasik. Syamsul Anwar menjadi salah satu figur yang memperkuat karakter Muhammadiyah sebagai gerakan yang menggabungkan dakwah dengan penelitian, tarjih, dan pengembangan pemikiran Islam.
20. Prof. Dr. Abdul Mu’ti
- Prof. Dr. Abdul Mu’ti merupakan tokoh Muhammadiyah kontemporer yang dikenal sebagai akademisi, pendidik, pendakwah, dan pemikir Islam. Kiprahnya banyak berkaitan dengan pendidikan, moderasi beragama, kehidupan kebangsaan, dialog sosial, serta pengembangan sumber daya manusia. Ia memiliki kemampuan menyampaikan gagasan keislaman dengan bahasa yang relatif mudah diterima oleh masyarakat modern, termasuk generasi muda dan kalangan akademik. Dakwahnya tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga tentang pendidikan, karakter, toleransi, kehidupan sosial, dan tanggung jawab sebagai warga negara. Dalam tradisi Muhammadiyah, pendidikan merupakan salah satu instrumen dakwah paling penting, sehingga perhatian Abdul Mu’ti terhadap dunia pendidikan memiliki hubungan erat dengan karakter gerakan tersebut. Kiprahnya juga memperlihatkan wajah dakwah Muhammadiyah yang semakin beragam: dakwah dapat dilakukan melalui sekolah, universitas, media, forum publik, tulisan, dialog, dan pengembangan kebijakan pendidikan. Ia menjadi salah satu figur yang merepresentasikan generasi intelektual Muhammadiyah yang berusaha membawa nilai Islam ke dalam persoalan masyarakat kontemporer.
Benang Merah Dakwah Muhammadiyah
- Jika 20 tokoh tersebut dibaca sebagai satu rangkaian sejarah, terlihat bahwa dakwah Muhammadiyah tidak hanya berbentuk ceramah di mimbar. Dakwah berkembang melalui pendidikan, tulisan, tafsir, fikih, kaderisasi, perempuan, kesehatan, pelayanan sosial, ilmu pengetahuan, dialog kebangsaan, hingga gerakan kemanusiaan. Hal ini sejalan dengan karakter Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang sejak awal menghubungkan pemahaman agama dengan amal nyata.
- Catatan: daftar ini bukan peringkat “20 terbaik”, melainkan pilihan representatif lintas generasi. Beberapa nama lebih tepat disebut ulama/intelektual atau tokoh gerakan Muhammadiyah daripada “pendakwah” dalam pengertian mubalig populer. Muhammadiyah sendiri memiliki daftar tokoh yang jauh lebih luas; buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi bahkan secara eksplisit menyebut angka 100 bukan batas jumlah tokoh, melainkan gambaran bahwa tokoh Muhammadiyah yang berjasa mencapai ratusan bahkan ribuan.

WARTA MUHAMMADIYAH
- K.H. Ahmad Dahlan: Pelopor Dakwah Pencerahan Melawan TBC di Indonesia
- KH Ahmad Dahlan: Inspirasi Sang Pencerah di Era Modern
- Peran Prof. Abdul Mu’ti dalam Reformasi Pendidikan Muhammadiyah dan Tranformasi Pendidikan Indonesia
- “Prof. Dr. Abdul Mu’ti: Sosok Pemimpin Pendidikan dan Penggerak Moderasi Islam”
- Muhammadiyah Organisasi Islam Modern Terbesar Dunia Dengan Prestasi Global
- Muhammadiyah: Organisasi Islam Terkaya di Dunia Dengan Kontribusi Global
- Islamofobia: Ketakutan dan Diskriminasi Terhadap Umat Islam
- Optimalisasi Amal Usaha Muhammadiyah dalam Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Umat
- Muhammadiyah dan Ekonomi Hijau: Kontribusi untuk Pembangunan Berkelanjutan
- Pemberdayaan Ekonomi Mikro oleh Muhammadiyah: Pilar Kebangkitan Ekonomi Umat
- Kewirausahaan Sosial Muhammadiyah: Membangun Kemandirian Umat di Era Disrupsi
- Ekonomi Berbasis Syariah Strategi Utama Muhammadiyah Hadapi Tantangan Modern
- Transformasi Ekonomi Muhammadiyah: Dari Tradisional ke Era Digital
- Zendo Ojek Online Muhammadiyah, Siap Menantang Pasar Transportasi Digital
- 10 Isu Terhangat Muhammadiyah di Tahun 2024
- Inovasi dan Kolaborasi: Langkah Muhammadiyah Menghadapi Tantangan Ekonomi Global
- Zendo Ojek Online Muhammadiyah, Siap Menantang Pasar Transportasi Digital
- “Integrasi Pendekatan Bayānī, ‘Irfānī, dan Burhānī dalam Pengembangan Pemikiran Keislaman Tarjih Muhammadiyah
- Pemikiran Islam dan Pendekatan Bayani Dalam Tarjih Muhammadiyah
- Apakah Tarjih Muhammadiyah ?
- Kalender Global Muhammadiyah: Memperkuat Keberagaman Umat Dalam Kehidupan Modern
- Meneguhkan Prinsip Islam Rahmatan Lil ‘Alamin melalui Tarjih Muhammadiyah di Era Globalisasi,
- Muhammadiyah dan Peranannya dalam Meningkatkan Akses Pendidikan di Indonesia
- Transformasi Pendidikan Muhammadiyah: Mewujudkan Pendidikan Bermutu Era Modern Di Indonesia
- Transformasi Politik Muhammadiyah: Dari Sejarah Perjuangan Hingga Demokrasi Kontemporer
- Tarjih Muhammadiyah: Menerapkan Hukum Islam yang Kontekstual dan Berdasarkan Kemaslahatan Umat
- Metodologi Tarjih Muhammadiyah: Menyelaraskan Hukum Islam dengan Tantangan Zaman
- “Tarjih Muhammadiyah: Menyikapi Hukum Islam dengan Fleksibilitas dan Keadilan”
- Perbedaan Kalender Hijriah, Kalender Global Muhammadiyah, dan Kalender Gregorian
- Benarkah Muhammadiyah Melenceng dari Tujuan Pemurnian Ajaran Islam? Menjawab Mitos dengan Manhaj Tajdid
- Amal Usaha Muhammadiyah: Antara Tuduhan Komersial dan Fakta Filantropis
- Muhammadiyah dan Politik: Membaca Ulang Perbedaan Politik Kebangsaan dan Politik Praktis
- 100 WARTA MUHAMMADIYAH










Leave a Reply