TAFSIR BACAAN SHALAT: DOA DI ANTARA DUA SUJUD
Duduk di antara dua sujud merupakan salah satu posisi penting dalam shalat. Pada saat ini Nabi ﷺ mengajarkan doa yang sangat singkat tetapi memiliki kandungan permohonan yang luas. Salah satu lafaz yang paling masyhur adalah:
- رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَارْزُقْنِي
- Transliterasi: Rabbighfir lī, warḥamnī, wahdinī, wa ‘āfinī, warzuqnī.
- Terjemahan: “Wahai Rabbku, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku kesehatan/keselamatan, dan berilah aku rezeki.”
Dalam riwayat lain terdapat tambahan permohonan seperti:
“cukupilah kekuranganku/perbaikilah keadaanku.”
- وَاجْبُرْنِي
- Wajburnī — “cukupilah kekuranganku/perbaikilah keadaanku.”
- Doa ini memperlihatkan betapa luasnya kebutuhan manusia kepada Allah. Seorang hamba tidak hanya memohon agar dosanya diampuni, tetapi juga memohon rahmat, petunjuk, keselamatan, kecukupan, dan rezeki.
Ampunan
- رَبِّ اغْفِرْ لِي
- Rabbighfir lī.
- “Wahai Rabbku, ampunilah aku.”
- Permohonan pertama adalah ampunan. Ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan Allah bukan hanya untuk memperoleh sesuatu, tetapi juga untuk dibersihkan dari kesalahan. Kata ghafara berkaitan dengan ampunan dan perlindungan Allah terhadap dosa. Setelah bersujud—posisi yang menggambarkan kerendahan seorang hamba—seorang Muslim memohon agar Allah menghapus dosa dan menutupi kesalahannya.
Rahmat
- وَارْحَمْنِي
- Warḥamnī.
- “Dan rahmatilah aku.”
- Ampunan saja belum menggambarkan seluruh kebutuhan manusia. Setelah memohon agar dosa diampuni, seorang hamba memohon rahmat Allah. Rahmat mencakup kasih sayang, pertolongan, kebaikan, perlindungan, dan karunia Allah. Seorang Muslim menyadari bahwa keberhasilan hidup dan keselamatan akhirat tidak hanya bergantung pada amal, tetapi juga pada rahmat Allah.
Kecukupan dan Perbaikan Keadaan
- Dalam sebagian riwayat terdapat lafaz:
- وَاجْبُرْنِي
- Wajburnī.
- “Cukupilah kekuranganku dan perbaikilah keadaanku.”
- Kata jabr memiliki makna memperbaiki sesuatu yang rusak atau menutup kekurangan. Secara maknawi, doa ini menggambarkan manusia sebagai makhluk yang memiliki banyak kelemahan: kekurangan ilmu, harta, kekuatan, ketenangan, maupun kemampuan. Karena itu, seorang hamba meminta Allah memperbaiki dan mencukupi segala kekurangannya.
Petunjuk
- وَاهْدِنِي
- Wahdinī.
- “Berilah aku petunjuk.”
- Petunjuk adalah kebutuhan yang sangat mendasar. Manusia bukan hanya membutuhkan kekuatan untuk menjalani hidup, tetapi juga membutuhkan arah agar tidak tersesat. Petunjuk Allah mencakup pengetahuan tentang kebenaran dan kemampuan untuk mengikutinya. Doa ini mengajarkan bahwa seorang Muslim membutuhkan hidayah terus-menerus, bahkan ketika ia telah menjadi orang yang beriman.
Kesehatan dan Keselamatan
- وَعَافِنِي
- Wa ‘āfinī.
- “Berilah aku kesehatan dan keselamatan.”
- Kata ‘āfiyah berkaitan dengan keselamatan dan terbebas dari berbagai bentuk penyakit atau gangguan. Permohonan ini menunjukkan bahwa kesehatan merupakan nikmat yang patut diminta kepada Allah. Seorang hamba menyadari bahwa tubuh, kekuatan, dan keselamatan bukan sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Rezeki
- وَارْزُقْنِي
- Warzuqnī.
- “Dan berilah aku rezeki.”
- Rezeki bukan hanya uang dan harta. Dalam pengertian yang luas, rezeki mencakup segala pemberian Allah yang bermanfaat bagi kehidupan, seperti makanan, kesehatan, keluarga, ilmu, keamanan, kesempatan berbuat baik, dan berbagai nikmat lainnya. Permohonan rezeki dalam doa ini mengajarkan bahwa seorang Muslim boleh meminta kebutuhan dunia kepada Allah, selama ia tetap menempatkannya dalam kerangka ketaatan dan keberkahan.
Penghapusan Dosa dan Pemulihan Kehidupan
- Doa di antara dua sujud mempertemukan dua kebutuhan besar manusia: kebutuhan untuk diperbaiki hubungan dengan Allah dan kebutuhan untuk diperbaiki kehidupannya. Ampunan berkaitan dengan dosa, rahmat berkaitan dengan kasih sayang Allah, petunjuk berkaitan dengan arah kehidupan, ‘afiyah berkaitan dengan keselamatan, jabr berkaitan dengan perbaikan kekurangan, dan rezeki berkaitan dengan kebutuhan hidup. Semuanya menunjukkan bahwa Islam mengajarkan seorang hamba untuk membawa seluruh kebutuhan hidupnya kepada Allah.
Mengapa Doa Ini Begitu Lengkap?
- Doa di antara dua sujud begitu lengkap karena mencakup kebutuhan mendasar manusia, baik kebutuhan spiritual maupun kehidupan duniawi. Seorang hamba memohon ampunan untuk masa lalunya, rahmat untuk kehidupannya, petunjuk untuk menentukan jalannya, kecukupan untuk menutup kekurangannya, kesehatan dan keselamatan untuk menjalani kehidupannya, serta rezeki untuk memenuhi kebutuhannya. Karena itu, meskipun lafaznya pendek, maknanya sangat luas. Duduk di antara dua sujud seolah menjadi momen seorang hamba berhenti sejenak di hadapan Allah dan mengakui: aku memiliki dosa yang membutuhkan ampunan, kelemahan yang membutuhkan pertolongan, jalan hidup yang membutuhkan petunjuk, tubuh yang membutuhkan keselamatan, dan kehidupan yang membutuhkan rezeki dari-Mu.
Renungan
- Setiap kali membaca doa ini, seorang Muslim dapat merenungkan bahwa dirinya sebenarnya sedang mengakui seluruh ketergantungannya kepada Allah. Kita meminta ampun karena kita berdosa, meminta rahmat karena kita lemah, meminta petunjuk karena kita bisa tersesat, meminta kesehatan karena tubuh kita terbatas, meminta kecukupan karena kita memiliki kekurangan, dan meminta rezeki karena kita tidak mampu mencukupi diri sendiri. Maka, doa di antara dua sujud bukan sekadar bacaan yang dihafalkan, tetapi dialog seorang hamba yang lemah dengan Rabb Yang Mahakaya dan Maha penyayang.

- KETIKA SHALAT MENJADI KEBUTUHAN
- SHALAT DAN HUBUNGAN DENGAN MANUSIA
- SHALAT DAN KEHIDUPAN: SETELAH SALAM: APA YANG BERUBAH?
- TUJUAN SHALAT :“SHALAT MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR”
- KHUSYUK: RUH SHALAT. APA ITU KHUSYUK?
- TAFSIR BACAAN SHALAT: TASYAHUD DAN SHALAWAT
- TAFSIR BACAAN SHALAT: BACAAN RUKUK, I‘TIDAL, DAN SUJUD
- TAFSIR BACAAN SHALAT: AL-FATIHAH: DIALOG ANTARA HAMBA DAN RABB-NYA
- TAFSIR BACAAN SHALAT: DOA DI ANTARA DUA SUJUD
- TAFSIR BACAAN SHALAT. DOA ISTIFTAH: MEMBUKA PERJUMPAAN DENGAN ALLAH
- QUNUT SUBUH MENURUT Sunnah, Empat Mazhab, Fatwa Ulama, dan Sikap Umat dalam Menghadapi Khilafiyah
- TASYAHUD AWAL: BERHENTI PADA SYAHADAT ATAU DILANJUTKAN SHALAWAT? Sunnah Nabi dan Khilaf Empat Mazhab
- Perbedaan Fikih Empat Mazhab dalam Salat Sunnah
- Fikih Perbedaan Salat Empat Mazhab: Kajian Komparatif Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali
- 100 ARTIKEL SHALAT LAINNYA

















Leave a Reply