MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

SHALAT DAN KEHIDUPAN: SETELAH SALAM: APA YANG BERUBAH?

SHALAT DAN KEHIDUPAN: SETELAH SALAM: APA YANG BERUBAH?

Shalat memiliki awal dan akhir. Ia dimulai dengan takbiratul ihram, ketika seorang hamba memasuki ruang ibadah dan meninggalkan sejenak kesibukan dunia, kemudian berakhir dengan salam. Namun, salam bukanlah tanda bahwa hubungan dengan Allah selesai dan seseorang kembali begitu saja kepada kehidupan sebelumnya. Justru setelah salam, makna shalat seharusnya mulai terlihat dalam kehidupan nyata. Shalat adalah ibadah yang berlangsung beberapa menit, tetapi pengaruhnya diharapkan membentuk perilaku seseorang selama berjam-jam setelahnya. Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya, “Apakah kita telah melaksanakan shalat?”, tetapi juga, “Apa yang berubah dalam diri kita setelah shalat?”

  • Allah berfirman:
  • «إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ»
  • «Innaṣ-ṣalāta tanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkar.»
  • «“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
    QS. Al-‘Ankabut: 45»

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat bukan ibadah yang terpisah dari kehidupan moral manusia. Ada hubungan antara shalat dan perilaku. Shalat yang benar semestinya memberikan daya cegah terhadap keburukan, membangun kesadaran tentang pengawasan Allah, dan menumbuhkan akhlak yang baik. Maka, setelah salam, seseorang tidak seharusnya kembali menjadi manusia yang sama sekali tidak berubah.

Keluar dari Shalat

  • Ketika seorang muslim mengucapkan:
  • «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ»
  • «Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh.»
  • «“Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian.”»
  • ia secara lahiriah mengakhiri shalat. Akan tetapi, secara spiritual, ia seharusnya membawa sesuatu dari dalam shalat menuju kehidupan di luar shalat. Ia baru saja berdiri di hadapan Allah, membaca firman-Nya, memuji-Nya, memohon petunjuk, merendahkan diri dalam rukuk, bersujud dengan penuh ketundukan, dan mengakui bahwa hanya kepada-Nya ia menyembah dan meminta pertolongan.
  • Karena itu, keluar dari shalat bukan berarti keluar dari nilai-nilai shalat. Seorang muslim boleh meninggalkan tempat shalat, tetapi tidak seharusnya meninggalkan ketundukan kepada Allah. Ia boleh kembali berbicara, bekerja, berdagang, mengurus keluarga, dan menjalani berbagai aktivitas dunia, tetapi semuanya tetap berada dalam kesadaran bahwa Allah adalah Rabb yang selalu mengawasinya.
  • Shalat seharusnya menjadi ruang pembentukan diri, bukan sekadar jeda dari kehidupan. Jika sebelum shalat seseorang mudah marah, setelah shalat ia belajar menahan amarah. Jika sebelum shalat ia mudah berdusta, setelah shalat ia semakin takut kepada Allah ketika hendak berkata tidak benar. Jika sebelum shalat ia kasar kepada keluarganya, setelah shalat ia berusaha menjadi lebih lembut.
  • Dengan demikian, ukuran keberhasilan shalat tidak hanya terlihat ketika seseorang berada di atas sajadah, tetapi juga ketika ia meninggalkan sajadah.

Kembali kepada Keluarga

  • Keluarga adalah tempat pertama untuk menguji apakah shalat benar-benar meninggalkan bekas. Seseorang mungkin terlihat sangat khusyuk di masjid, tetapi ukuran akhlaknya akan tampak ketika ia berhadapan dengan pasangan, anak, orang tua, atau anggota keluarga yang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

  • «خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ»
  • «Khairukum khairukum li-ahlih.»
  • «“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”. HR. Tirmidzi»
  • Shalat seharusnya melahirkan kelembutan dalam rumah. Orang yang berkali-kali dalam sehari berdiri di hadapan Allah, mengucapkan Allahu Akbar, bersujud, dan memohon rahmat, seharusnya semakin menyadari kelemahan dirinya. Kesadaran itu semestinya membuatnya lebih mudah meminta maaf, lebih sabar mendengarkan, lebih lembut berbicara, dan lebih bertanggung jawab.
  • Tidak ada gunanya seseorang memperpanjang bacaan dalam shalat tetapi memperpendek kesabarannya terhadap anak. Tidak ada manfaat besar dari banyaknya rakaat jika setelah salam ia justru menyakiti orang-orang terdekat dengan perkataan dan perbuatannya.
  • Keluarga menjadi cermin pertama dari kualitas spiritual seseorang. Shalat yang hidup akan membawa ketenangan dari masjid ke rumah.

Kembali kepada Pekerjaan

  • Setelah salam, seorang muslim kembali kepada pekerjaannya. Pedagang kembali ke tokonya. Dokter kembali kepada pasiennya. Guru kembali kepada muridnya. Pegawai kembali kepada tugasnya. Pengusaha kembali kepada perusahaannya. Pekerja kembali kepada tanggung jawabnya.

Di sinilah shalat bertemu dengan amanah.

  • Seorang muslim yang baru saja membaca:
  • «إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ»
  • «Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn.»
  • «“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”»
  • seharusnya memahami bahwa pekerjaannya pun berada dalam pengawasan Allah.
  • Shalat tidak boleh menjadi ritual yang terpisah dari etika profesi. Pedagang tetap harus jujur. Dokter tetap harus amanah. Pemimpin tetap harus adil. Pegawai tetap harus bertanggung jawab. Guru tetap harus mendidik dengan tulus. Pengusaha tetap harus menghindari kezaliman.
  • Shalat yang benar tidak menjadikan seseorang meninggalkan dunia, tetapi menjadikan seseorang menjalani dunia dengan kesadaran akhirat.
  • Kembali kepada Masyarakat
  • Setelah shalat, manusia kembali berinteraksi dengan manusia lain. Di jalan, di pasar, di kantor, di sekolah, di rumah sakit, di lingkungan tempat tinggal, dan di ruang publik, seorang muslim bertemu dengan berbagai karakter manusia.

Di sinilah nilai shalat diuji.

  • Apakah ia menjadi orang yang lebih sabar ketika menghadapi kemacetan? Apakah ia tetap santun ketika dilayani dengan buruk? Apakah ia mampu menahan diri ketika dihina? Apakah ia mau menolong orang lain? Apakah ia menjaga hak tetangga? Apakah ia menghindari mengambil sesuatu yang bukan haknya?

Semua itu merupakan bagian dari buah shalat.

  • Shalat yang benar seharusnya tidak menghasilkan manusia yang hanya saleh secara ritual, tetapi juga manusia yang baik dalam hubungan sosial. Sebab Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah (ḥablun minallāh), tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya (ḥablun minannās).

Apakah Shalat Meninggalkan Bekas?

Inilah pertanyaan yang layak dibawa setiap kali selesai shalat:

  • Apakah shalat tadi meninggalkan bekas dalam diriku?
  • Apakah aku menjadi lebih rendah hati? Lebih sabar? Lebih jujur? Lebih mudah memaafkan? Lebih takut berbuat dosa? Lebih peduli kepada orang lain? Lebih tenang menghadapi masalah?

Jika jawabannya belum, bukan berarti seseorang harus berputus asa. Justru pertanyaan itu menjadi awal evaluasi.

Shalat bukan hanya sesuatu yang harus selesai dikerjakan. Shalat adalah sesuatu yang harus terus bekerja di dalam diri.

Sajadah boleh dilipat. Mukena boleh disimpan. Sarung boleh dilepas. Masjid boleh ditinggalkan. Tetapi kesadaran kepada Allah seharusnya tetap dibawa pulang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *