MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Membangun Peradaban dengan Membaca: Tiga Buku Keislaman Rekomendasi Intelektual Mendikdasmen Abdul Mu’ti

Membangun Peradaban dengan Membaca: Tiga Buku Keislaman Rekomendasi Intelektual Mendikdasmen Abdul Mu’ti

Dari Fazlur Rahman, Kuntowijoyo hingga Imam Al-Qurthubi: Rujukan Intelektual untuk Membangun Tradisi Keilmuan Islam Modern

DrWJped

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, mengungkapkan tiga buku keislaman yang paling sering dibacanya dan menjadi rujukan utama dalam berbagai ceramah, pidato, serta kajian ilmiah. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Kajian Ramadan 1447 Hijriah PWM Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember. Ketiga karya tersebut merepresentasikan perpaduan pemikiran Islam klasik, modern, dan keilmuan Indonesia yang dinilai tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman.

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa buku-buku tersebut bukan hanya dibaca sekali, melainkan dikaji berulang kali karena memiliki kedalaman ilmu, keluasan perspektif, serta mampu menghubungkan ajaran Islam dengan realitas kehidupan modern. Pilihannya menunjukkan pentingnya tradisi membaca yang kritis, terbuka, namun tetap berakar pada sumber-sumber keislaman yang kuat.

Tiga Buku Keislaman Rekomendasi Intelektual Mendikdasmen Abdul Mu’ti

1. Major Themes of the Qur’an — Fazlur Rahman

Major Themes of the Qur’an merupakan salah satu karya paling berpengaruh dalam studi Al-Qur’an kontemporer. Dalam buku ini, cendekiawan Muslim Pakistan-Amerika Fazlur Rahman berusaha menyusun pandangan dunia (worldview) Al-Qur’an secara tematik, bukan sekadar mengikuti urutan ayat dalam mushaf.

Pokok-pokok isi buku:

  • Menjelaskan tema-tema utama Al-Qur’an secara sistematis.
  • Membahas konsep tauhid sebagai pusat seluruh ajaran Islam.
  • Menguraikan hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam.
  • Menjelaskan keadilan sosial, moralitas, tanggung jawab, serta pembentukan masyarakat yang berkeadaban.
  • Mengembangkan metode memahami Al-Qur’an secara utuh sehingga ayat dipahami sesuai konteks keseluruhannya.

Kontribusi ilmiah

Buku ini menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian tafsir modern di berbagai universitas dunia karena menawarkan pendekatan integratif terhadap Al-Qur’an. Banyak akademisi menjadikannya referensi dalam studi Islam, pendidikan, hukum Islam, dan etika sosial.

2. Muslim Tanpa Masjid — Kuntowijoyo

Muslim Tanpa Masjid merupakan kumpulan esai karya Kuntowijoyo yang banyak membahas perkembangan masyarakat Muslim Indonesia modern.

Isi utama buku:

  • Fenomena kebangkitan kelas menengah Muslim.
  • Hubungan agama dengan perubahan sosial.
  • Kritik terhadap simbolisme keagamaan yang tidak diikuti perubahan perilaku.
  • Pentingnya membangun Islam sebagai kekuatan transformasi sosial.
  • Peran ilmu pengetahuan dalam membangun masyarakat yang beradab.

Gagasan besar

Kuntowijoyo mengembangkan konsep Ilmu Sosial Profetik, yaitu ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan realitas, tetapi juga mengubah masyarakat berdasarkan nilai-nilai kenabian:

  • Humanisasi (memanusiakan manusia)
  • Liberasi (membebaskan dari ketidakadilan)
  • Transendensi (menghubungkan seluruh aktivitas kepada Allah

Mengapa penting?

Buku ini masih relevan untuk memahami dinamika umat Islam Indonesia, khususnya tantangan modernisasi, pendidikan, demokrasi, dan pembangunan karakter bangsa.

3. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an — Imam Al-Qurthubi

Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an adalah salah satu kitab tafsir klasik paling lengkap dalam khazanah Islam yang ditulis oleh Imam Al-Qurthubi.

Karakteristik kitab:

  • Menafsirkan ayat demi ayat Al-Qur’an secara mendalam.
  • Memberikan penjelasan hukum-hukum syariat berdasarkan ayat.
  • Mengutip hadis, pendapat sahabat, tabi’in, dan ulama berbagai mazhab.
  • Membahas aspek bahasa Arab, fiqih, akidah, dan etika.
  • Menjelaskan hikmah di balik berbagai ketentuan syariat.

Keunggulan

Kitab ini menjadi salah satu referensi utama dalam tafsir hukum (tafsir ahkam) dan hingga kini dipelajari di berbagai pesantren, universitas Islam, dan lembaga pendidikan tinggi di dunia.


Rekomendasi 3 Buku

 

Makna Pilihan Abdul Mu’ti

Pilihan Abdul Mu’ti memperlihatkan keseimbangan antara tiga tradisi keilmuan Islam:

  • Pemikiran Islam modern melalui Fazlur Rahman.
  • Pemikiran sosial dan keindonesiaan melalui Kuntowijoyo.
  • Warisan ulama klasik melalui Imam Al-Qurthubi.

Pilihan Abdul Mu’ti memperlihatkan keseimbangan antara tiga tradisi besar keilmuan Islam, yaitu pemikiran Islam modern melalui Fazlur Rahman, pemikiran sosial dan keindonesiaan melalui Kuntowijoyo, serta warisan ulama klasik melalui Imam Al-Qurthubi. Ketiga karya tersebut saling melengkapi dalam membentuk cara pandang seorang cendekiawan Muslim yang tidak hanya kokoh dalam memahami wahyu, tetapi juga mampu membaca realitas zaman dengan nalar yang kritis, objektif, dan penuh hikmah.

Kombinasi ketiganya mencerminkan pendekatan keilmuan yang mengintegrasikan pemahaman Al-Qur’an secara kontekstual, analisis sosial yang mendalam, serta penguasaan khazanah tafsir klasik. Pendekatan seperti inilah yang menjadi fondasi penting dalam membangun budaya literasi, menghidupkan tradisi berpikir ilmiah, dan melahirkan peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan sekaligus nilai-nilai Islam.

Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali lebih mengutamakan sensasi daripada substansi, keteladanan membaca, mengkaji, dan merenungkan karya-karya besar para ulama dan intelektual Muslim menjadi pelita yang menerangi jalan umat. Peradaban Islam tidak pernah dibangun oleh mereka yang sekadar banyak berbicara, melainkan oleh mereka yang tekun membaca, rendah hati mencari ilmu, berani berpikir, dan ikhlas mengamalkannya.

Sebagaimana wahyu pertama yang diturunkan Allah adalah “Iqra'” (Bacalah), maka membangun peradaban sejatinya selalu diawali dengan membaca, memahami, lalu mengamalkan ilmu. Semoga semakin banyak generasi Muslim yang menjadikan buku sebagai sahabat, ilmu sebagai cahaya, Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan akhlak sebagai buah dari setiap pengetahuan yang dimiliki. Dari tradisi membaca lahir pemikiran, dari pemikiran lahir kebijaksanaan, dan dari kebijaksanaan itulah, dengan izin Allah SWT, akan tumbuh peradaban yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *