MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

DEEP LEARNING DALAM PENDIDIKAN MODERN DAN ISLAM: TRANSFORMASI PEMBELAJARAN MENUJU PEMBENTUKAN CARA BERPIKIR, KARAKTER, DAN PERADABAN

DEEP LEARNING DALAM PENDIDIKAN MODERN DAN ISLAM: TRANSFORMASI PEMBELAJARAN MENUJU PEMBENTUKAN CARA BERPIKIR, KARAKTER, DAN PERADABAN

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad ke-21 menuntut perubahan paradigma pendidikan dari sekadar transfer pengetahuan menuju pembentukan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Salah satu pendekatan yang mendapat perhatian luas adalah deep learning atau pembelajaran mendalam. Pendekatan ini menekankan pemahaman konseptual, refleksi kritis, pemecahan masalah, serta kemampuan menghubungkan ilmu dengan realitas kehidupan. Di Indonesia, gagasan ini kembali mengemuka melalui pandangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, yang menilai bahwa persoalan utama pendidikan bukan semata-mata regulasi, melainkan budaya belajar dan cara pandang pelaku pendidikan.

Artikel ini bertujuan mengkaji konsep deep learning dalam perspektif pendidikan modern dan Islam melalui telaah literatur, data penelitian terkini, serta pemikiran pendidikan Muhammadiyah. Hasil kajian menunjukkan bahwa prinsip deep learning memiliki kesesuaian dengan filosofi pendidikan Islam yang menekankan integrasi ilmu, pembentukan akhlak, penggunaan akal secara kritis, serta pengamalan ilmu dalam kehidupan nyata. Konsep tersebut juga sejalan dengan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan yang menghubungkan ilmu agama dan ilmu umum secara kontekstual. Implementasi deep learning berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran, literasi, kreativitas, serta membentuk generasi yang mampu membangun peradaban.

Kata Kunci: deep learning, pendidikan Islam, berpikir kritis, K.H. Ahmad Dahlan, transformasi pendidikan.

Pendahuluan

Dunia pendidikan menghadapi tantangan besar akibat percepatan perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, globalisasi, dan perubahan sosial yang sangat cepat. Model pembelajaran yang hanya berorientasi pada hafalan dan reproduksi informasi semakin dipandang tidak memadai dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi kompleksitas kehidupan modern. Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa peserta didik memerlukan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta kemampuan memaknai informasi secara mendalam agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Dalam konteks Indonesia, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa akar persoalan pendidikan terletak pada budaya belajar dan pola pikir. Menurutnya, perubahan regulasi tidak akan menghasilkan transformasi apabila tidak disertai perubahan cara pandang seluruh pelaku pendidikan. Ia mendorong pergeseran dari surface learning menuju deep learning, yaitu proses pembelajaran yang melibatkan refleksi, analisis, perbandingan, dan pemaknaan sehingga peserta didik memahami mengapa mereka belajar serta mampu menghubungkan ilmu dengan realitas kehidupan.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa persoalan mendasar pendidikan Indonesia bukan semata terletak pada kurikulum atau regulasi yang terus berubah, melainkan pada budaya belajar dan cara pandang para pelaku pendidikan. Menurutnya, pendidikan sejatinya bertujuan membangun peradaban, karakter, dan kepribadian bangsa, sehingga transformasi harus dimulai dari perubahan worldview yang diwujudkan dalam kebiasaan belajar yang lebih bermakna. Ia mendorong pergeseran dari surface learning menuju deep learning, yaitu pembelajaran yang tidak berhenti pada hafalan untuk ujian, tetapi melibatkan proses berpikir, mempertanyakan, membandingkan, merefleksikan, dan memaknai pengetahuan.

Gagasan ini sejalan dengan pemikiran pakar pendidikan John Biggs dalam bukunya Teaching for Quality Learning at University (2011), yang menjelaskan bahwa peserta didik yang menerapkan deep approach to learning cenderung memiliki pemahaman konseptual lebih kuat, kemampuan transfer pengetahuan yang lebih baik, serta motivasi intrinsik yang lebih tinggi dibandingkan pembelajar yang hanya menghafal informasi.

Penelitian OECD melalui laporan Fostering Students’ Creativity and Critical Thinking (2019) juga menunjukkan bahwa pembelajaran yang mendorong refleksi, eksplorasi, dan pemecahan masalah mampu meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis yang menjadi kompetensi utama abad ke-21.

Lebih jauh, Abdul Mu’ti menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang selama ini masih mewarnai praktik pendidikan. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus dikontekstualisasikan dengan kehidupan nyata agar memiliki makna dan manfaat bagi masyarakat. Ia mencontohkan bahwa matematika dapat digunakan untuk menghitung arah kiblat maupun pembagian waris, sebagaimana telah diajarkan K.H. Ahmad Dahlan dalam tradisi pendidikan Muhammadiyah.

Pandangan ini selaras dengan teori konstruktivisme Jerome Bruner dalam The Process of Education (1960) yang menekankan bahwa belajar merupakan proses aktif membangun makna dari pengalaman, serta didukung oleh temuan Hattie dalam Visible Learning (2009) yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis umpan balik, diskusi, dan keterlibatan aktif peserta didik memiliki dampak besar terhadap hasil belajar. Dengan demikian, deep learning bukan sekadar inovasi metodologis, melainkan paradigma pendidikan modern yang mengintegrasikan kemampuan berpikir kritis, pembentukan karakter, dan relevansi ilmu dengan kehidupan, sehingga melahirkan generasi yang memahami alasan mereka belajar, mampu memecahkan persoalan nyata, serta menjadikan ilmu sebagai bekal untuk membangun peradaban yang berkemajuan.

Konsep Deep Learning dalam Pendidikan Modern

Deep learning dalam pendidikan berbeda dengan istilah deep learning pada kecerdasan buatan. Dalam konteks pendidikan, istilah ini merujuk pada pembelajaran mendalam yang mendorong peserta didik memahami konsep secara utuh, mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya, serta mampu menerapkannya dalam berbagai situasi.

Sebaliknya, surface learning cenderung berfokus pada hafalan jangka pendek untuk kepentingan ujian. Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa pembelajaran semacam ini bersifat reproduktif: siswa menghafal materi, menjawab soal, kemudian melupakan apa yang dipelajari. Sementara itu, deep learning mengajak peserta didik mempertanyakan, membandingkan, merefleksikan, dan menemukan makna dari pengetahuan yang diperoleh.

Pendekatan ini memiliki tiga prinsip utama, yaitu:

  1. Mindful Learning. Pembelajaran dilakukan dengan penuh kesadaran terhadap keberagaman kemampuan peserta didik. Guru menghargai perbedaan gaya belajar dan memberikan ruang eksplorasi.
  2. Meaningful Learning. Peserta didik didorong memahami makna dari apa yang dipelajari serta menghubungkannya dengan konteks kehidupan nyata.
  3. Joyful Learning . Pembelajaran berlangsung menyenangkan sehingga menumbuhkan rasa ingin tahu, motivasi intrinsik, dan kegembiraan dalam belajar.

Data dan Fakta Penelitian Terkini

Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran mendalam berkorelasi dengan peningkatan hasil belajar jangka panjang.

Penelitian dalam bidang psikologi pendidikan menunjukkan bahwa peserta didik yang menggunakan strategi deep learning memiliki kemampuan transfer pengetahuan yang lebih baik dibandingkan peserta didik yang mengandalkan hafalan. Mereka lebih mampu memecahkan masalah baru, mengembangkan argumentasi, serta mempertahankan pemahaman dalam jangka waktu yang lebih lama.

Laporan pendidikan global juga menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah menjadi kompetensi utama yang dibutuhkan pada abad ke-21. Oleh karena itu, berbagai sistem pendidikan mulai menggeser orientasi pembelajaran dari sekadar pencapaian nilai menuju pembentukan kompetensi berpikir tingkat tinggi.

Di Indonesia, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa esensi pendidikan adalah learning, bukan sekadar schooling. Menurutnya, pembelajaran mendalam telah diperkenalkan sejak dekade 1970-an di beberapa negara Eropa dan tetap relevan hingga saat ini dalam menjawab berbagai persoalan pendidikan.

Deep Learning dalam Perspektif Pendidikan Islam

Islam menempatkan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan membangun kemaslahatan manusia. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, mengamati, dan mengambil pelajaran dari berbagai fenomena kehidupan.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat lain menyatakan:“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”(QS. Az-Zumar: 9)

Konsep tafakkur (berpikir), tadabbur (merenungkan), dan ta’aqqul (menggunakan akal) menunjukkan bahwa Islam tidak menghendaki pembelajaran yang dangkal. Ilmu harus dipahami, dimaknai, serta diamalkan demi kemaslahatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa pencarian ilmu merupakan proses transformasi diri, bukan sekadar pengumpulan informasi.

Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dan Integrasi Ilmu

Gagasan deep learning memiliki kesesuaian dengan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Beliau menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Menurutnya, seluruh ilmu harus membawa manfaat nyata bagi kehidupan umat.

Abdul Mu’ti mencontohkan bahwa matematika dapat digunakan untuk menghitung arah kiblat maupun pembagian waris. Dengan demikian, ilmu tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki dimensi praktis dan spiritual. Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai bentuk deep learning ala K.H. Ahmad Dahlan karena menghubungkan pengetahuan dengan realitas kehidupan.

Pemikiran ini selaras dengan tujuan pendidikan Islam yang tidak hanya menghasilkan manusia cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak, kepedulian sosial, dan orientasi pengabdian kepada Allah SWT.

Implementasi Deep Learning dalam Pendidikan Islam Modern

Beberapa strategi implementasi dapat dilakukan, antara lain:

  1. Pembelajaran Berbasis Masalah. Peserta didik diajak memecahkan persoalan nyata yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
  2. Integrasi Ilmu dan Nilai. Materi pelajaran dihubungkan dengan nilai-nilai Islam dan konteks sosial.
  3. Refleksi dan Muhasabah. Peserta didik dilatih mengevaluasi proses belajar dan perkembangan dirinya.
  4. Diskusi Kritis. Guru mendorong budaya bertanya, berdialog, dan menghargai perbedaan pendapat.
  5. Pembelajaran Kontekstual . Ilmu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga memiliki makna yang nyata.

Tantangan Implementasi

Meskipun menjanjikan berbagai manfaat, implementasi deep learning menghadapi sejumlah tantangan, antara lain:

  • Budaya belajar yang masih berorientasi pada ujian.
  • Beban administrasi guru yang tinggi.
  • Keterbatasan sarana dan infrastruktur pendidikan.
  • Kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah.
  • Kompetensi guru dalam merancang pembelajaran mendalam.

Transformasi pendidikan memerlukan perubahan budaya, peningkatan kapasitas guru, serta dukungan kebijakan yang konsisten.

Kesimpulan

Deep learning merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, berpikir kritis, refleksi, dan pemaknaan ilmu. Dalam pendidikan modern, pendekatan ini dipandang mampu menjawab tantangan abad ke-21 melalui pengembangan kompetensi berpikir tingkat tinggi dan kemampuan memecahkan masalah.

Dalam perspektif Islam, prinsip-prinsip deep learning sejalan dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah yang mendorong penggunaan akal, pencarian ilmu, serta pengamalan pengetahuan demi kemaslahatan. Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan tentang integrasi ilmu agama dan ilmu umum juga menunjukkan bahwa pembelajaran bermakna bukanlah konsep baru dalam tradisi pendidikan Islam. Oleh karena itu, penerapan deep learning yang mengintegrasikan dimensi intelektual, spiritual, dan sosial berpotensi melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, serta mampu membangun peradaban yang berkemajuan.

Daftar Pustaka

  • Muhammadiyah.or.id. (2026). Abdul Mu’ti Dorong Deep Learning, Pendidikan Harus Membangun Cara Berpikir.
  • Kompas.com. (2025). Mendikdasmen: Tidak Semua Akan Sekolah Terapkan Deep Learning.
  • DetikEdu. (2025). Deep Learning Utamakan Problem Solving, Mendikdas: Berpikir Kritis dan Menemukan Makna.
  • Al-Qur’an al-Karim.
  • Shahih Muslim. Hadis tentang keutamaan menuntut ilmu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *