MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

MENTERI BERDIRI DI MRT, ABDUL MU’TI DAN TELADAN KESEDERHANAAN SEORANG PEJABAT

MENTERI BERDIRI DI MRT, ABDUL MU’TI DAN TELADAN KESEDERHANAAN SEORANG PEJABAT

PROF DR ABDUL MU’TI M Ed “Jabatan adalah amanah, bukan kehormatan untuk dilayani. Pemimpin yang baik tetap dekat dengan rakyat, sederhana dalam hidup, dan tulus dalam pengabdian.”

Kesederhanaan merupakan salah satu karakter penting yang seharusnya melekat pada seorang pemimpin. Di tengah budaya yang sering mengaitkan jabatan dengan berbagai fasilitas khusus, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. menunjukkan teladan yang berbeda. Sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, ia tetap menggunakan transportasi umum, berjalan kaki, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat tanpa jarak yang berlebihan. Tulisan ini mengulas nilai-nilai kesederhanaan, keteladanan, dan kepemimpinan yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari Abdul Mu’ti serta relevansinya bagi pembangunan budaya pelayanan publik yang berintegritas.

Di ruang publik yang padat, seorang menteri yang berdiri di gerbong MRT mungkin terlihat sebagai peristiwa biasa. Namun bagi banyak orang, pemandangan tersebut menghadirkan pesan yang kuat. Prof. Dr. Abdul Mu’ti tampak berdiri bersama penumpang lain tanpa meminta perlakuan khusus. Kesederhanaan itu bukan ditampilkan untuk pencitraan sesaat, melainkan kebiasaan yang telah dijalani jauh sebelum beliau menjabat sebagai menteri.

Bagi Abdul Mu’ti, jabatan tidak mengubah cara hidup. Ia tetap menggunakan MRT, KRL, dan berjalan kaki menuju berbagai kegiatan. Kesahajaan tersebut mencerminkan nilai yang selama ini hidup dalam tradisi Muhammadiyah, yaitu melayani tanpa berlebihan, memimpin tanpa menjaga jarak, dan mengabdi tanpa mencari kemewahan. Di tengah masyarakat yang merindukan keteladanan, sikap sederhana sering kali lebih kuat daripada seribu pidato.

Di ruang publik yang sempit dan padat, penumpang MRT yang tidak kebagian kursi adalah pemandangan biasa. Namun perhatian publik tertuju ketika sosok yang berdiri di tengah gerbong ternyata adalah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.

Foto yang beredar di media sosial memperlihatkan Abdul Mu’ti berdiri santai di tengah keramaian penumpang. Mengenakan batik hijau dan topi biru, ia tampak tenang sambil memegang telepon genggam. Tidak terlihat ekspresi keberatan ataupun sikap yang menunjukkan dirinya mengharapkan perlakuan khusus sebagai pejabat negara. Momen sederhana itu memicu banyak respons dari masyarakat. Sebagian warga memuji kesederhanaannya, sementara yang lain menilai sikap tersebut menunjukkan kedekatan seorang pemimpin dengan rakyat yang dilayaninya.

Bagi Abdul Mu’ti, menggunakan transportasi publik bukanlah hal baru. Jauh sebelum menjadi menteri, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah tersebut telah terbiasa menggunakan MRT, KRL, dan berbagai moda transportasi umum lainnya. Baginya, kenyamanan tidak selalu harus diukur dari fasilitas eksklusif. Ia pernah menyampaikan bahwa jabatan adalah amanah yang dapat berakhir kapan saja dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memperoleh penghormatan berlebihan.

Kesederhanaan itu telah berulang kali terlihat dalam berbagai kesempatan. Saat mengisi kajian ilmiah menjelang salat tarawih di Masjid Al-Falah Bendungan Hilir, Jakarta, Abdul Mu’ti datang menggunakan MRT. Seperti biasanya, ia turun di Stasiun MRT Bendungan Hilir lalu berjalan kaki menuju masjid yang berjarak sekitar 600 meter. Ia memilih berjalan kaki dibanding menggunakan kendaraan pribadi atau meminta penjemputan. Kehadirannya berlangsung sederhana, tanpa rombongan besar dan tanpa pengawalan yang mencolok. Sikap tersebut mendapat apresiasi dari jamaah dan warga sekitar yang melihat langsung kesahajaannya.

Pengalaman serupa juga pernah diceritakan oleh sejumlah kolega dan pendampingnya. Dalam salah satu perjalanan dari Stasiun Senayan menuju Sudirman yang berada di depan kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti menaiki MRT hanya ditemani seorang ajudan dan seorang pengawal. Kehadirannya di dalam gerbong membuat sejumlah penumpang terkejut. Seorang warga bahkan terdengar berkomentar bahwa tidak biasa melihat seorang menteri menggunakan MRT dan membaur dengan masyarakat seperti penumpang lainnya.

Kebiasaan menggunakan transportasi publik sebenarnya telah lama melekat pada dirinya. Bahkan beberapa tahun sebelum menjabat menteri, Abdul Mu’ti sudah rutin menggunakan MRT untuk berbagai aktivitas organisasi dan pekerjaan. Dalam salah satu perjalanan dari Stasiun Cipete menuju kawasan Bundaran HI, ia tetap memilih MRT meskipun harus menghadiri rapat penting bersama pimpinan Muhammadiyah yang kala itu membahas sikap organisasi terhadap tawaran masuk kabinet pemerintahan.

Mereka yang mengenal Abdul Mu’ti menyebut kesederhanaan tersebut bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Gaya hidupnya mencerminkan tradisi kesahajaan yang selama ini dikenal kuat di lingkungan Muhammadiyah. Rumahnya berada di kawasan Pondok Cabe dengan kehidupan yang jauh dari kesan mewah. Banyak pihak mengaitkan sikap tersebut dengan teladan para tokoh Muhammadiyah terdahulu seperti KH AR Fakhruddin yang dikenal hidup sederhana meskipun memimpin organisasi besar tingkat nasional.

Dalam sebuah acara Hari Bermuhammadiyah PWM DKI Jakarta di Kampus Uhamka pada November 2024, Abdul Mu’ti pernah menegaskan bahwa dirinya tidak berubah setelah menjadi menteri. Menurutnya, yang berbeda hanyalah adanya pin jabatan di dada dan kehadiran protokol yang memang diwajibkan oleh aturan negara. Selebihnya, ia tetap menjalani kehidupan seperti biasa.

Prof. Dr. Abdul Mu’ti merupakan salah satu tokoh pendidikan dan intelektual Islam terkemuka di Indonesia. Selain menjabat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, ia dikenal sebagai akademisi, penulis produktif, cendekiawan Muslim, serta Sekretaris Umum PP Muhammadiyah. Puluhan buku dan karya ilmiah telah ditulisnya, terutama dalam bidang pendidikan, pemikiran Islam, moderasi beragama, dan pembangunan sumber daya manusia. Berbagai penghargaan nasional maupun internasional juga pernah diterimanya atas kontribusi dalam pendidikan, dialog antaragama, serta penguatan nilai-nilai toleransi dan kebangsaan.

Momen seorang menteri yang berdiri di gerbong MRT mungkin terlihat sederhana. Namun bagi banyak warga, tindakan kecil tersebut menghadirkan pesan yang kuat. Di tengah budaya yang sering menghubungkan jabatan dengan fasilitas khusus, Abdul Mu’ti menunjukkan bahwa seorang pejabat dapat tetap hidup sederhana, menggunakan transportasi yang sama dengan masyarakat, berjalan kaki di trotoar yang sama, dan hadir di tengah rakyat tanpa jarak yang berlebihan. Kesederhanaan itu tidak disampaikan melalui pidato, melainkan melalui kebiasaan yang terus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

ABDUL MU’TI TENTANG KESEDERHANAAN

“Jabatan adalah amanah, bukan kehormatan untuk dilayani. Pemimpin yang baik tetap dekat dengan rakyat, sederhana dalam hidup, dan tulus dalam pengabdian.”

Islam mengajarkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan kedekatan dengan masyarakat. Allah SWT berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqan: 63). Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim). Nilai inilah yang tercermin dalam sikap Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. yang tetap menggunakan transportasi umum, berjalan kaki, dan membaur dengan masyarakat. Kesederhanaan bukan tanda rendahnya kedudukan, melainkan bukti kematangan akhlak dan ketulusan dalam melayani.

Rasulullah ﷺ adalah teladan tertinggi dalam kesederhanaan. Meskipun beliau memimpin negara Madinah dan dihormati oleh para sahabat, kehidupan beliau jauh dari kemewahan. Rumah beliau sederhana, makanan sehari-hari sering kali hanya kurma dan air, dan beliau tidak membedakan dirinya dari masyarakat yang dipimpinnya. Ketika duduk bersama para sahabat, orang yang baru datang sering kali tidak dapat membedakan mana Rasulullah ﷺ dan mana sahabatnya karena tidak ada perlakuan istimewa yang beliau minta untuk dirinya. Keteladanan ini menunjukkan bahwa kemuliaan seorang pemimpin tidak terletak pada fasilitas dan penghormatan yang diterimanya, melainkan pada akhlak, integritas, dan pengabdiannya kepada masyarakat.

Dalam kehidupan modern, nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat mengharapkan hadirnya pemimpin yang dekat dengan rakyat dan memahami kondisi yang mereka hadapi sehari-hari. Sikap Prof. Dr. Abdul Mu’ti yang menggunakan MRT, berjalan kaki, dan menjalani kehidupan secara wajar meskipun menjabat sebagai menteri memberikan pesan bahwa jabatan tidak harus menciptakan jarak sosial. Kesederhanaan seperti ini membangun kepercayaan publik, menumbuhkan keteladanan, dan mengingatkan bahwa amanah kepemimpinan pada hakikatnya adalah pelayanan. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar tanggung jawabnya untuk menunjukkan sikap tawadhu’, melayani dengan ikhlas, dan menjadikan akhlak sebagai kekuatan utama dalam memimpin.

INSPIRATIF PROF. DR. ABDUL MU’TI TENTANG KESEDERHANAAN

  • “Jangan mengejar jabatan untuk menjadi besar. Jadilah pribadi yang bermanfaat, maka amanah akan datang pada waktunya.”
  • “Ilmu meninggikan derajat manusia, tetapi akhlaklah yang membuatnya dihormati.”
  • “Pemimpin yang baik tidak selalu berada di depan rakyat. Ia berada bersama rakyat.”
  • “Kesederhanaan bukan tanda kekurangan, tetapi tanda kematangan dan kekuatan karakter.”
  • “Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar tanggung jawabnya untuk melayani.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *