Islam menempatkan lisan sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Banyak kerusakan dalam kehidupan bermula dari ucapan yang tidak dijaga, seperti mencela, menghina, menggunjing, memfitnah, berdusta, dan menyakiti hati orang lain. Rasulullah ﷺ bahkan menyebut bahwa di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang dijauhi manusia karena takut terhadap keburukan lisan dan perilakunya. Tulisan ini membahas makna hadis tersebut berdasarkan Al-Qur’an, hadis-hadis sahih, penjelasan para ulama, contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari, serta solusi praktis agar seorang Muslim mampu menjaga lisannya dan memperbaiki akhlaknya.
Lisan merupakan nikmat besar yang diberikan Allah kepada manusia. Dengan lisan seseorang dapat berdakwah, mengajarkan ilmu, menghibur orang yang bersedih, mempererat persaudaraan, dan menyebarkan kebaikan. Sebaliknya, lisan juga dapat menjadi penyebab permusuhan, perpecahan keluarga, rusaknya persahabatan, bahkan kehancuran suatu masyarakat apabila digunakan tanpa kendali.
Di era media sosial, bahaya lisan semakin luas. Ucapan tidak lagi hanya disampaikan secara langsung, tetapi juga melalui tulisan, komentar, unggahan, pesan singkat, maupun berbagai platform digital. Oleh karena itu, setiap Muslim dituntut untuk lebih berhati-hati karena setiap kata yang diucapkan maupun ditulis akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Dalil Al-Qur’an
Allah berfirman:
“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Allah juga berfirman:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.”
(QS. Al-Isra’: 53)
Dalil Hadis
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya termasuk manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah orang yang ditinggalkan (dijauhi) oleh manusia karena takut terhadap kekasaran dan keburukan lisannya.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6054; Sahih Muslim no. 2591)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6018; Sahih Muslim no. 47)
Beliau juga bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang tidak dipikirkannya, ternyata menyebabkan ia terjerumus ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6477; Sahih Muslim no. 2988)
Makna Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa buruknya seseorang bukan diukur dari penampilan, kedudukan, kekayaan, ataupun ilmunya, tetapi juga dari akhlaknya. Orang yang dijauhi masyarakat karena lisannya yang kasar, suka menghina, mencaci, memfitnah, mempermalukan orang lain, atau membuat orang takut berbicara dengannya menunjukkan buruknya akhlak yang sangat dibenci Allah.
Para ulama menjelaskan bahwa manusia menjauhinya bukan karena kewibawaan atau ketegasan, tetapi karena takut disakiti, dihina, atau menjadi sasaran keburukan lisannya.
Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Beberapa bentuk keburukan lisan yang sering terjadi antara lain:
- Menghina dan merendahkan orang lain.
- Mencaci dan memaki.
- Ghibah (menggunjing).
- Menyebarkan fitnah dan hoaks.
- Berdusta.
- Membuka aib orang lain.
- Mengolok-olok fisik, pekerjaan, atau keadaan seseorang.
- Berkata kasar kepada pasangan, anak, orang tua, atau bawahan.
- Menyerang dan menghina melalui media sosial.
Sering kali pelakunya menganggap hal tersebut sebagai candaan, padahal ucapan itu dapat melukai hati orang lain dan menjadi dosa di sisi Allah.
Dampak Buruk Lisan
Keburukan lisan dapat menyebabkan:
- Rusaknya hubungan keluarga.
- Hilangnya persahabatan.
- Perpecahan di masyarakat.
- Hilangnya kepercayaan orang lain.
- Timbulnya permusuhan dan kebencian.
- Mengurangi keberkahan hidup.
- Mendapat ancaman siksa pada hari kiamat apabila tidak bertaubat.
Saran dan Solusi
Islam memberikan beberapa langkah untuk menjaga lisan, yaitu:
- Berpikir sebelum berbicara.
- Berkata baik atau memilih diam bila tidak ada manfaat.
- Memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an.
- Menghindari ghibah, fitnah, dan ucapan yang menyakiti.
- Membiasakan berbicara dengan lembut dan santun.
- Segera meminta maaf apabila terlanjur menyakiti orang lain.
- Berdoa agar Allah memperbaiki akhlak dan menjaga lisan.
Kesimpulan
Lisan merupakan cerminan hati dan akhlak seseorang. Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa orang yang dijauhi manusia karena keburukan lisannya termasuk manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya menjadikan lisannya sebagai sarana menyebarkan kebaikan, kasih sayang, ilmu, dan nasihat. Menjaga lisan bukan hanya menjaga hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah yang akan membawa keselamatan di dunia dan akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).















Leave a Reply