Resensi Buku Prof Dr Abdul Muti: Puasa sebagai Gerakan Moral, Menyatukan Takwa dan Keadilan Sosial
Dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Judul: Puasa Sebagai Gerakan Sosial
Penulis: Abdul Mu’ti
Editor: Azaki Khoirudin dan Yahya Fathur Razi
Penerbit: IRFANI
Cetakan I: Februari 2026
Ukuran: 14 x 20 cm
Tebal: viii + 135 halaman
Buku Puasa Sebagai Gerakan Sosial karya Prof Dr Abdul Mu’ti lahir dari kegelisahan intelektual dan sosial atas fenomena Ramadan yang kerap berhenti pada kemeriahan simbolik. Ramadan sering dipenuhi ragam kegiatan dan peningkatan kuantitas ibadah ritual, namun belum tentu melahirkan perubahan karakter dan perbaikan sosial yang nyata. Buku ini mengajukan pertanyaan mendasar, apakah puasa mampu melahirkan transformasi batin yang kemudian menjelma menjadi transformasi sosial.
Prof Mu’ti menegaskan bahwa persoalan sosial kita tidak semata disebabkan oleh kurangnya pengetahuan. Akar yang lebih mendasar adalah lemahnya pengendalian diri. Dalam konteks ini, puasa dipahami sebagai instrumen etis dan spiritual untuk membangun kontrol diri yang kokoh. Dari disiplin individual inilah diharapkan lahir tanggung jawab sosial.
Struktur buku dibagi ke dalam 44 bab pendek, masing masing sekitar tiga halaman. Setiap bab merupakan fragmen reflektif yang berdiri sendiri, namun tetap terhubung dalam satu benang merah pemikiran. Format ini efektif untuk pembaca Ramadan yang membutuhkan bacaan singkat, fokus, dan mudah dicerna setiap hari. Gaya bahasa yang ringan namun argumentatif membuat gagasan kompleks terasa dekat tanpa kehilangan kedalaman analisis.
Konsep utama yang dikembangkan adalah puasa sebagai gerakan sosial. Ramadan tidak dipandang sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebagai proses pendidikan karakter dan pembentukan solidaritas sosial.
- Pertama, puasa sebagai Syahrus Sadaqah. Ramadan ditegaskan sebagai bulan kepedulian sosial. Puasa mengasah empati terhadap kemiskinan dan ketimpangan. Lapar yang dirasakan menjadi sarana pedagogis untuk memahami kondisi kaum dhuafa. Kesadaran ini mendorong peningkatan zakat, infak, dan sedekah secara lebih bermakna.
- Kedua, puasa sebagai Syahrut Tarbiyah. Ramadan diposisikan sebagai sekolah karakter. Puasa melatih disiplin, kesabaran, kejujuran, dan pengendalian emosi. Nilai nilai ini tidak berhenti pada ranah privat, tetapi membentuk pribadi yang siap berkontribusi secara sosial.
- Ketiga, puasa sebagai pembangun solidaritas kolektif. Aktivitas seperti tarawih, tadarus, dan buka bersama membentuk ruang interaksi sosial yang memperkuat persaudaraan dan kerja sama. Ritual individual ditempatkan dalam konteks sosial yang lebih luas.
- Keempat, pendidikan kedermawanan sejak dini. Penulis menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam praktik berbagi agar kepedulian sosial tertanam sebagai karakter permanen, bukan kebiasaan musiman.
Secara ilmiah, buku ini memiliki sejumlah kelebihan.
- Mengintegrasikan dimensi teologis, etis, pedagogis, dan sosiologis dalam satu kerangka konseptual yang konsisten.
- Menggunakan pendekatan reflektif normatif yang relevan dengan teori pembentukan habitus dalam ilmu sosial modern.
- Menyusun argumen secara sistematis dari pembinaan individu menuju implikasi sosial dan struktural.
- Menghadirkan wacana keagamaan yang dialogis dengan tantangan masyarakat kontemporer.
Dalam perspektif Islam, buku ini menguatkan pemahaman bahwa tujuan puasa adalah takwa yang berdampak sosial. Nilai takwa diterjemahkan sebagai kesadaran etis yang menjaga diri dari perilaku merugikan dan mendorong tindakan konstruktif. Pendekatan ini selaras dengan prinsip maqasid syariah, yang menekankan perlindungan terhadap kehidupan, harta, dan martabat manusia. Ibadah ritual dipahami sebagai sarana pembentukan akhlak dan tanggung jawab sosial.
Secara praktis, buku ini menawarkan relevansi langsung bagi kehidupan sehari hari.
- Memberikan panduan konkret untuk melatih kontrol diri dalam konsumsi, emosi, dan perilaku.
- Mendorong pembaca membangun kebiasaan berbagi sebagai bagian dari rutinitas, bukan agenda tahunan.
- Relevan bagi pengelola masjid dan lembaga pendidikan untuk merancang program Ramadan berbasis dampak sosial.
- Format bab singkat memungkinkan buku ini digunakan sebagai bahan kajian harian selama Ramadan.
Buku Puasa Sebagai Gerakan Sosial karya Prof Abdul Mu’ti mengajak umat menembus lapisan luar Ramadan yang sering berhenti pada kemeriahan simbolik. Puasa tidak diletakkan sekadar sebagai latihan menahan lapar, tetapi sebagai disiplin batin yang membentuk kendali diri. Dari ruang sunyi pengendalian diri itu, lahir empati, kejujuran, dan keberanian untuk berpihak pada yang lemah. Ramadan dipahami sebagai sekolah karakter yang menyiapkan manusia menjadi pribadi bertakwa sekaligus bertanggung jawab secara sosial.
Dengan 44 bab reflektif yang ringkas dan terhubung, buku ini menata gagasan bahwa ibadah harus berbuah pada perubahan nyata. Puasa menjadi gerakan sosial ketika lapar melahirkan kepedulian, ketika doa mendorong aksi, dan ketika takwa menjelma keadilan. Bahasa yang ringan membuat gagasan besar terasa dekat. Pesannya tegas, kualitas Ramadan terlihat dari perubahan diri dan dampaknya bagi sesama.
Kontribusi penting buku ini terletak pada reposisi puasa sebagai energi perubahan sosial. Ramadan dipahami sebagai laboratorium karakter yang menghubungkan dimensi spiritual dengan tanggung jawab publik. Puasa menjadi alat untuk menahan diri dari perilaku negatif dan mengubahnya menjadi tindakan positif yang berdampak luas.
Secara keseluruhan, Puasa Sebagai Gerakan Sosial menghadirkan keberagamaan yang autentik dan transformatif. Buku ini menegaskan bahwa ukuran keberhasilan Ramadan tidak hanya pada bertambahnya aktivitas ibadah, tetapi pada lahirnya pribadi yang lebih disiplin, lebih peduli, dan lebih berkomitmen pada keadilan sosial. Dalam kerangka itu, puasa tidak berhenti sebagai ritual tahunan, tetapi menjadi gerakan moral yang membentuk peradaban.














Leave a Reply