MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Polemik Baca Doa Yang Mana Saat Menyembelih Qurban: Tinjauan Sunnah, Hadits, dan Pendapat Ulama

Polemik Baca Doa Yang Mana Saat Menyembelih Qurban: Tinjauan Sunnah, Hadits, dan Pendapat Ulama


Penyembelihan hewan qurban merupakan ibadah yang memiliki tata cara khusus sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Namun, muncul pertanyaan di kalangan umat Islam terkait doa manakah yang semestinya dibaca saat menyembelih: apakah cukup dengan bacaan “Bismillah, Allahu Akbar” atau ditambah dengan bacaan “Wajjahtu wajhiya…” yang lazim dibaca dalam shalat? Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan dua bacaan tersebut dari sisi sunnah Nabi, hadits-hadits yang shahih, dan pendapat para ulama, serta memberikan arahan sikap yang bijak dalam menghadapi perbedaan ini. Penjelasan disusun secara sistematis untuk membantu umat agar tetap berada di jalur ibadah yang benar dan berpijak pada ilmu.

Penyembelihan hewan qurban bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah ibadah agung yang sarat makna tauhid dan penghambaan kepada Allah. Setiap detil pelaksanaannya—termasuk doa yang diucapkan saat menyembelih—memiliki dasar dari Al-Qur’an, sunnah, dan pemahaman para ulama salaf. Karena itu, penting bagi umat Islam untuk memastikan bahwa niat, cara, dan bacaan dalam penyembelihan sesuai dengan tuntunan syariat.

Namun dalam praktiknya, sebagian orang terbiasa menambahkan bacaan “Wajjahtu wajhiya…” yang biasa dibaca saat takbiratul ihram, ke dalam prosesi penyembelihan. Sebagian lainnya berpegang hanya pada doa ringkas sesuai sunnah Nabi ﷺ. Perbedaan ini memicu diskusi dan kebingungan di kalangan umat. Oleh karena itu, perlu penjelasan yang jernih berdasarkan dalil shahih dan pandangan para ulama agar ibadah qurban dilaksanakan dengan benar, serta tidak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.

Pembahasan Menurut Sunnah, Hadits, dan Ulama:

Menghadap kiblat saat menyembelih hewan qurban merupakan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, beliau berkata bahwa Nabi ﷺ menyembelih dua kambing jantan bertanduk, berwarna putih campur hitam, dan beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri. Beliau mengucapkan “Bismillah, Allahu Akbar” dan mengarahkan keduanya ke kiblat (HR. Muslim). Hal ini menunjukkan bahwa menghadap kiblat adalah sunnah yang dicontohkan oleh Nabi sendiri.

Bacaan doa sebelum menyembelih juga merupakan sunnah muakkadah. Dalam hadits lain dari Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ ketika menyembelih hewan qurbannya mengucapkan: بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ (“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu”) (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, hasan shahih). Ini menunjukkan adanya aspek spiritual yang sangat kuat dalam proses penyembelihan.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menjelaskan bahwa disunnahkan menghadap kiblat bagi penyembelih dan hewan sembelihannya. Hal ini ditetapkan sebagai adab dalam penyembelihan, bukan syarat sah. Maka, meskipun qurban tetap sah tanpa menghadap kiblat, mengikuti adab ini menambah kesempurnaan ibadah.

Imam Ibn Qudamah dalam Al-Mughni juga menegaskan bahwa menghadap kiblat saat menyembelih termasuk bagian dari sunnah. Bahkan ia menyatakan bahwa sebaiknya posisi penyembelih berada di sisi leher hewan sembelihan sambil menghadap kiblat, dan hewan direbahkan di sisi kiri agar memudahkan penyembelihan.

Bacaan “Wajjahtu wajhiya…”

Sedangkan mengenai bacaan “Wajjahtu wajhiya…”, para ulama berbeda pendapat. Sebagian memandangnya sebagai bagian dari sunnah karena lafaz tersebut berisi penyerahan diri secara total kepada Allah, yang relevan dengan makna qurban. Namun, mayoritas ulama berpendapat bahwa bacaan tersebut bukan bacaan pokok saat menyembelih. Mereka mengembalikan sunnah kepada bacaan basmalah dan takbir yang diucapkan langsung oleh Nabi ﷺ saat menyembelih.

Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm menyatakan bahwa bacaan paling utama saat menyembelih adalah “Bismillah, Allahu Akbar.” Ia menambahkan bahwa bacaan tambahan seperti doa yang berisi niat atau pengkhususan boleh dibaca, namun tidak boleh meninggalkan basmalah. Ini menegaskan bahwa unsur terpenting dalam sembelihan adalah menyebut nama Allah.

Imam Ahmad bin Hanbal menyebutkan bahwa jika seseorang membaca “Inna shalati wa nusuki…” (sebagian dari doa “wajjahtu wajhiya”), maka itu baik, tetapi tidak wajib. Doa ini bisa menambah kehusyukan, namun tidak menggantikan bacaan basmalah dan takbir. Ini menjadi dalil fleksibilitas dalam bacaan, selama tidak menghilangkan unsur utama yaitu menyebut nama Allah.

Sementara itu, Imam Malik dalam madzhabnya menyatakan bahwa doa tambahan seperti “wajjahtu wajhiya” tidak dikenal sebagai amalan yang dilakukan Nabi saat menyembelih. Oleh karena itu, ia tidak menganjurkan membaca doa tersebut saat menyembelih, dan cukup dengan “Bismillah” atau “Bismillah Allahu Akbar.” Ini mencerminkan pendekatan yang lebih ketat terhadap pengamalan sunnah.

Sikap Kita Sebaiknya

Sebagai umat Islam yang ingin mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, sebaiknya kita memprioritaskan bacaan yang telah jelas datang dari Nabi, seperti “Bismillah, Allahu Akbar.” Menghadap kiblat dan menyebut nama Allah adalah bagian dari ibadah yang menunjukkan keikhlasan dan tauhid kita kepada-Nya.

Jika ingin membaca doa tambahan seperti “Allāhumma hādzā minka wa laka…” atau “wajjahtu wajhiya…”, maka pastikan niat kita adalah untuk memperindah ibadah, bukan menganggapnya sebagai bagian pokok yang wajib. Kita perlu bijak membedakan antara yang sunnah, wajib, dan adab.

Sikap yang paling tepat adalah mengamalkan sunnah dengan penuh cinta dan penghayatan. Tidak perlu mempersulit diri dengan amalan yang tidak dicontohkan secara langsung oleh Nabi jika tidak didukung dalil yang kuat. Menjaga kesucian dan kesempurnaan ibadah lebih utama daripada berlebihan dalam amalan yang tidak diajarkan.

Kesimpulan:

Menghadap kiblat dan membaca doa saat menyembelih qurban adalah amalan sunnah yang dianjurkan dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Bacaan utama yang dicontohkan beliau adalah “Bismillah, Allahu Akbar,” dan doa “Allāhumma hādzā minka wa laka…” juga dikenal dari hadits-hadits shahih. Sementara bacaan “wajjahtu wajhiya…” boleh dibaca sebagai tambahan, namun tidak menggantikan bacaan utama.

Pandangan ulama mendukung pentingnya menghidupkan sunnah-sunnah dalam ibadah qurban agar tidak menjadi ritual kosong. Oleh karena itu, mengikuti adab yang benar dalam penyembelihan menjadi bentuk ketaatan kepada syariat dan penghormatan terhadap ibadah qurban.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *