Pendapat Ulama tentang Allah Beristiwa’ di Atas ‘Arsy, Kajian Komparatif antara Pendekatan Salaf, Empat Imam Mazhab, dan Ulama Khalaf
Abstrak
Pembahasan mengenai sifat Allah, khususnya makna istiwa’ (beristiwa’) di atas ‘Arsy, merupakan salah satu tema penting dalam ilmu akidah Islam. Al-Qur’an menyebutkan pada beberapa ayat bahwa Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy, namun para ulama berbeda dalam menjelaskan cara memahami lafaz tersebut. Mayoritas ulama Salaf menetapkan makna istiwa’ sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah tanpa mengubah makna, tanpa menolak, tanpa menanyakan bagaimana, dan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk. Riwayat dari empat imam mazhab menunjukkan pendekatan yang sejalan dengan prinsip tersebut. Sebaliknya, sebagian ulama Khalaf, khususnya dalam tradisi Asy’ariyah dan Maturidiyah, memilih melakukan takwil terhadap lafaz istiwa’ dengan makna “menguasai” atau “memiliki kekuasaan penuh”. Meskipun terdapat perbedaan metode penafsiran, seluruh ulama sepakat bahwa Allah Mahasuci, tidak menyerupai makhluk, dan memiliki seluruh sifat kesempurnaan. Artikel ini membahas perkembangan historis, dalil, metodologi, serta titik persamaan dan perbedaan kedua pendekatan tersebut secara ilmiah.
Kata kunci: Istiwa’, ‘Arsy, Salaf, Asy’ariyah, Maturidiyah, Empat Mazhab, Akidah.
Latar Belakang
Persoalan mengenai sifat-sifat Allah merupakan salah satu pembahasan utama dalam disiplin akidah Islam. Di antara ayat yang paling banyak dikaji adalah firman Allah:
“Ar-Rahman beristiwa’ di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)
Ayat serupa juga terdapat dalam QS. Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4, dan Al-Hadid: 4.
Sejak masa sahabat hingga generasi berikutnya, para ulama berusaha memahami ayat-ayat sifat dengan tetap menjaga kesucian Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk. Perbedaan yang muncul bukan mengenai keesaan Allah, melainkan mengenai metode memahami lafaz yang berkaitan dengan sifat-Nya
Tujuan Penulisan
Artikel ini bertujuan untuk:
- Menjelaskan konsep istiwa’ menurut Al-Qur’an.
- Menguraikan pendapat Salaf, empat imam mazhab, dan ulama Khalaf.
- Menjelaskan persamaan dan perbedaan metodologi.
- Memberikan pemahaman akademik yang proporsional mengenai perbedaan tersebut.
Definisi Istiwa
Istiwa’ secara bahasa Arab berasal dari kata istawā (استوى), yang memiliki beberapa makna sesuai dengan konteks penggunaannya, antara lain tinggi, berada di atas, sempurna, lurus, menetap, atau menguasai. Dalam Al-Qur’an, kata istiwa’ digunakan dalam beberapa konteks yang berbeda. Misalnya, untuk manusia dapat bermakna telah dewasa atau sempurna (QS. Al-Qashash: 14), untuk kapal bermakna berada atau menetap di atasnya (QS. Al-Mu’minun: 28), sedangkan ketika dinisbatkan kepada Allah, seperti dalam firman-Nya, “Ar-Rahman beristiwa’ di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5), maknanya menjadi bagian dari pembahasan sifat-sifat Allah sehingga tidak dapat disamakan dengan makna istiwa’ pada makhluk.
Dalam ilmu akidah, istiwa’ termasuk ayat-ayat sifat (ayat ash-shifat) yang dipahami dengan pendekatan yang berbeda di kalangan ulama. Mayoritas ulama Salaf menetapkan bahwa Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa tahrif (mengubah makna), tanpa ta’thil (menolak sifat), tanpa takyif (menanyakan bagaimana), dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Sebagian ulama Khalaf, khususnya dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, memilih menakwil lafaz istiwa’ sebagai “menguasai” atau “memiliki kekuasaan penuh” untuk menjaga kesucian Allah dari penyerupaan dengan makhluk. Terlepas dari perbedaan metode penafsiran tersebut, seluruh ulama Ahlusunah sepakat bahwa Allah Mahasuci, Mahatinggi, tidak menyerupai makhluk, dan memiliki seluruh sifat kesempurnaan yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.
Landasan Al-Qur’an
Allah berfirman:
- “Ar-Rahman beristiwa’ di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)
- “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy.” (QS. Al-A’raf: 54)
- “Apakah kamu merasa aman terhadap Dia yang di langit?” (QS. Al-Mulk: 16)
- “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11
Allah berfirman, “Ar-Rahman beristiwa’ di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5). Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini termasuk ayat-ayat sifat yang wajib diimani sebagaimana datangnya, tanpa mengubah maknanya (tahrif), tanpa menolak sifatnya (ta’thil), tanpa menanyakan bagaimana caranya (takyif), dan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk (tamtsil). Ibnu Katsir menegaskan bahwa inilah manhaj para Salaf, yaitu para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta para imam seperti Malik, Al-Auza’i, Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’d, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, dan para ulama Ahlus Sunnah lainnya. Mereka menetapkan bahwa Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy sebagaimana yang Allah kabarkan tentang diri-Nya, namun hakikat dan bagaimana istiwa’ tersebut hanya diketahui oleh Allah. Penetapan sifat ini tidak berarti Allah menyerupai makhluk, karena Allah telah berfirman, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11).
Dalam Tafsir Ath-Thabari, dijelaskan bahwa makna istiwa’ adalah Allah Mahatinggi di atas ‘Arsy sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Ath-Thabari memilih untuk menetapkan lafaz sebagaimana datang dalam Al-Qur’an tanpa melakukan penakwilan yang menyimpang dari makna asal bahasa Arab. Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Al-Qurthubi, dan Tafsir Al-Baghawi juga menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keagungan kekuasaan Allah atas seluruh makhluk. Al-Qurthubi menyebutkan adanya dua pendekatan di kalangan ulama, yaitu pendekatan Salaf yang menetapkan ayat sebagaimana adanya sambil menyerahkan hakikatnya kepada Allah, dan pendekatan sebagian ulama Khalaf yang melakukan takwil untuk menjaga kesucian Allah dari penyerupaan dengan makhluk. Kedua pendekatan tersebut sama-sama bertujuan mengagungkan Allah dan mensucikan-Nya dari segala kekurangan.
Dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan bahwa penyebutan Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy menunjukkan kesempurnaan kerajaan, kekuasaan, pengaturan, dan pengawasan Allah terhadap seluruh alam semesta. ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar, sehingga penyebutan istiwa’ di atas ‘Arsy menunjukkan keagungan-Nya. Mayoritas ulama Salaf dan riwayat dari empat imam mazhab menetapkan ayat ini sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an tanpa membahas bagaimana caranya. Sebagian ulama Khalaf, terutama dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, menakwil istiwa’ dengan makna “menguasai” atau “memiliki kekuasaan penuh” sebagai pendekatan teologis. Meskipun berbeda dalam metode penafsiran, seluruh ulama Ahlusunah sepakat bahwa Allah Mahasuci, tidak menyerupai makhluk, tidak membutuhkan ‘Arsy, dan memiliki seluruh sifat kesempurnaan yang sesuai dengan keagungan-Nya.
Mayoritas ahli tafsir seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Baghawi, Ibnu Abi Zamanin, dan As-Sa’di menjelaskan bahwa firman Allah, “Ar-Rahman beristiwa’ di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5), merupakan ayat sifat yang wajib diimani sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Mayoritas mufasir yang mengikuti manhaj Salaf menetapkan bahwa Allah benar-benar beristiwa’ di atas ‘Arsy sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa tahrif (mengubah makna), tanpa ta’thil (menolak sifat), tanpa takyif (menanyakan bagaimana), dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Sebagian mufasir dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah memilih melakukan takwil dengan menafsirkan istiwa’ sebagai “menguasai” atau “memiliki kekuasaan penuh” sebagai pendekatan teologis untuk menjaga kesucian Allah dari penyerupaan dengan makhluk. Meskipun berbeda dalam metode penafsiran, para ahli tafsir sepakat bahwa Allah Mahatinggi, Mahakuasa, tidak menyerupai makhluk, tidak membutuhkan ‘Arsy, serta memiliki seluruh sifat kesempurnaan yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.
Pendapat Salaf
Metode Salaf didasarkan pada prinsip menerima seluruh sifat Allah sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Prinsip-prinsipnya meliputi:
- Tanpa tahrif (mengubah makna).
- Tanpa ta’thil (menolak sifat).
- Tanpa takyif (membahas bagaimana).
- Tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).
Ucapan Imam Malik ketika ditanya mengenai istiwa’:
“Istiwa’ itu diketahui maknanya, bagaimana caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentang bagaimana adalah bid’ah.”
Ucapan ini menjadi salah satu kaidah penting dalam pembahasan ayat-ayat sifat.
Pendapat Empat Imam Mazhab
| Imam | Ringkasan Pendapat |
|---|---|
| Imam Abu Hanifah | Dalam Al-Fiqh al-Akbar yang dinisbatkan kepada beliau, Allah berada di atas langit dan di atas ‘Arsy tanpa menyerupai makhluk dan tanpa membutuhkan ‘Arsy. |
| Imam Malik | Menetapkan istiwa’ sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an tanpa membahas bagaimana caranya. |
| Imam Asy-Syafi’i | Riwayat-riwayat yang dinukil dari beliau menunjukkan penetapan sifat Allah sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah tanpa takyif dan tamtsil. |
| Imam Ahmad bin Hanbal | Menetapkan seluruh sifat Allah sebagaimana datang dalam nash dan menolak penakwilan yang mengubah makna lahiriah ayat sifat. |
Pendapat Sebagian Ulama Khalaf
Sebagian ulama Asy’ariyah dan Maturidiyah memilih pendekatan takwil terhadap sebagian ayat sifat.
Dalam konteks istiwa’, mereka menafsirkan:
- Istiwa’ = menguasai.
- Istiwa’ = memiliki kekuasaan penuh.
Tujuan pendekatan ini adalah menghindari pemahaman yang menurut mereka dapat menyerupakan Allah dengan makhluk.
Asy’ariyah dan Maturidiyah adalah dua mazhab teologi (akidah) dalam Islam Ahlusunah yang berkembang pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriah. Mazhab Asy’ariyah dinisbatkan kepada Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 324 H), sedangkan Mazhab Maturidiyah dinisbatkan kepada Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H). Keduanya bertujuan membela akidah Islam terhadap berbagai aliran yang berkembang pada masanya dengan memadukan dalil Al-Qur’an, Sunnah, dan argumentasi rasional (ilmu kalam). Dalam pembahasan ayat-ayat sifat, termasuk firman Allah tentang istiwa’ di atas ‘Arsy, sebagian ulama Asy’ariyah dan Maturidiyah memilih pendekatan takwil terhadap lafaz yang dianggap berpotensi menimbulkan penyerupaan Allah dengan makhluk. Meskipun berbeda dengan pendekatan Salaf dalam metode memahami sebagian ayat sifat, kedua mazhab ini tetap menegaskan bahwa Allah Maha Esa, Mahasuci, tidak menyerupai makhluk, dan memiliki seluruh sifat kesempurnaan.
Perbandingan Pendapat
| Aspek | Salaf dan Riwayat Empat Imam | Sebagian Ulama Khalaf |
|---|---|---|
| Makna istiwa’ | Beristiwa’ sesuai nash | Ditakwil menjadi menguasai |
| Metode | Tafwid kaifiyah, menetapkan makna | Takwil terhadap lafaz |
| Takyif | Ditolak | Ditolak |
| Tamtsil | Ditolak | Ditolak |
| Tahrif | Ditolak | Sebagian menerima takwil |
| Tujuan | Mengikuti nash sebagaimana adanya | Menjaga tanzih Allah menurut pendekatan kalam |
Riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada empat imam mazhab menunjukkan pendekatan yang sejalan dalam memahami ayat-ayat sifat. Imam Abu Hanifah, dalam kitab Al-Fiqh al-Akbar yang dinisbatkan kepada beliau, menetapkan bahwa Allah berada di atas langit dan di atas ‘Arsy tanpa menyerupai makhluk serta tanpa membutuhkan ‘Arsy. Imam Malik menetapkan istiwa’ sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan menyatakan bahwa makna istiwa’ diketahui, tetapi bagaimana caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan mempertanyakan hakikatnya adalah bid’ah. Riwayat dari Imam Asy-Syafi’i menunjukkan bahwa beliau menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah tanpa takyif dan tanpa tamtsil. Imam Ahmad bin Hanbal juga menetapkan seluruh sifat Allah sebagaimana datang dalam nash serta menolak penakwilan yang mengubah makna lahiriah ayat-ayat sifat. Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan bahwa pendekatan yang dinisbatkan kepada empat imam mazhab pada dasarnya menegaskan penerimaan terhadap nash sambil mensucikan Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk.
Titik Persamaan
Seluruh ulama sepakat bahwa:
- Allah Maha Esa.
- Allah tidak menyerupai makhluk.
- Allah bukan bagian dari makhluk.
- Allah memiliki seluruh sifat kesempurnaan.
- Allah adalah Pencipta ‘Arsy.
- Allah tidak dapat dibayangkan.
Analisis Akademik
Perbedaan antara Salaf dan sebagian ulama Khalaf terutama terletak pada metodologi penafsiran, bukan pada pokok keimanan kepada Allah. Pendekatan Salaf lebih menekankan penerimaan nash sebagaimana adanya dengan menyerahkan hakikat kaifiyah kepada Allah. Pendekatan Khalaf berkembang dalam konteks perdebatan teologis dengan berbagai aliran filsafat dan ilmu kalam, sehingga sebagian ulama memilih takwil terhadap ayat-ayat sifat untuk menghindari kesalahpahaman antropomorfis.
Penting pula dicatat bahwa mazhab fikih tidak identik dengan mazhab akidah. Dalam mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, maupun Hanbali terdapat ulama yang mengikuti pendekatan Salaf, Asy’ari, maupun Maturidi. Karena itu, generalisasi bahwa seluruh pengikut suatu mazhab fikih memiliki pandangan akidah yang sama tidak mencerminkan keragaman sejarah intelektual Islam.
Saran
- Pembahasan mengenai sifat Allah hendaknya didasarkan pada Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama yang kredibel.
- Perbedaan metodologi hendaknya dibahas secara ilmiah dengan adab dan tanpa saling menyesatkan.
- Masyarakat perlu membedakan antara perbedaan dalam metode penafsiran dan kesepakatan dalam pokok-pokok akidah.
- Kajian akidah sebaiknya dilakukan dengan memahami konteks sejarah, bahasa Arab, dan disiplin ilmu yang terkait.
Kesimpulan
Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy pada beberapa ayat. Mayoritas ulama Salaf serta riwayat yang dinukil dari Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad menetapkan sifat tersebut sebagaimana datang dalam nash, tanpa tahrif, ta’thil, takyif, maupun tamtsil. Sebagian ulama Khalaf memilih pendekatan takwil dengan menafsirkan istiwa’ sebagai “menguasai” atau “memiliki kekuasaan penuh” sebagai metode teologis. Terlepas dari perbedaan pendekatan tersebut, seluruh ulama sepakat bahwa Allah Mahasuci, tidak serupa dengan makhluk, merupakan Pencipta ‘Arsy dan seluruh alam, serta memiliki seluruh sifat kesempurnaan sebagaimana yang layak bagi keagungan-Nya.













Leave a Reply