Ketika Orangtua Lebih Sayang Gadget
Di pojok rumah yang penuh Wi-Fi tapi miskin perhatian, seorang anak menanti dalam sunyi yang panjang. Bukan mainan mahal yang ia pinta, bukan juga gawai baru, hanya sepasang mata ayah dan ibu yang mau menatapnya penuh cinta. Tapi apa daya, layar 6 inci lebih memesona dari cerita sederhana si kecil. Dunia maya menyala gemerlap, sementara dunia anak meredup perlahan. Tangisnya tertahan, rindunya membeku dalam diam—ia hanya ingin didengar, dipeluk, dan disayang.
Dalam Islam, anak adalah amanah, bukan sekadar penghuni rumah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka siapa yang lebih berhak atas perhatianmu selain buah hatimu sendiri? Mereka tak akan kecil selamanya, dan tak akan menunggu orangtuanya selesai scroll timeline. Kelalaian hari ini, bisa jadi penyesalan abadi esok hari—di dunia maupun akhirat.
Wahai para ibu, wahai para ayah… gadget tak haram, tapi bisa mencuri yang paling berharga jika tidak bijak digunakan. Masa kecil anak bukan tontonan, tapi peran yang harus dijalani sepenuh jiwa. Jangan sampai anak tumbuh dengan luka batin karena merasa tidak cukup berharga dibanding notifikasi yang tiada henti. Peluklah mereka selagi hangat, dengarkan celoteh mereka sebelum digantikan sunyi.
Mari kembali hadir sepenuhnya. Jadikan rumah bukan sekadar tempat singgah, tapi taman cinta yang tumbuh bersama iman dan kasih sayang. Letakkan gadget di meja, tapi letakkan hati di pangkuan anak. Karena kelak, bukan memori di ponsel yang menjadi warisan, tapi kenangan dan teladan yang kita ukir di hati mereka.
Widodo Judarwanto, pediatrician










Leave a Reply