MAB Portal Islam

MAB MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. "Membangun Umat dengan Iman, Ilmu, Sains, dan Teknologi."

Mengapa Anak Memberontak atau Membangkang kepada Orang Tua?

Mengapa Anak Memberontak atau Membangkang kepada Orang Tua? Kajian Berdasarkan Al-Qur’an, Hadis Shahih, Pendapat Ulama, Psikologi, dan Ilmu Kedokteran Modern

Tanya Jawab Ilmiah tentang Penyebab Anak Membangkang kepada Orang Tua Menurut Islam Berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, Pendapat Ulama, Psikologi Perkembangan, dan Neurosains

dr Widodo Judarwanto, pediatrician


Pertanyaan

Mengapa sebagian anak atau remaja menjadi suka membantah, memberontak, tidak menghargai pengorbanan orang tua, sering menuntut sesuatu di luar kemampuan keluarga, atau bahkan bersikap kasar kepada ayah dan ibu? Apakah perilaku seperti ini termasuk bentuk durhaka kepada orang tua dalam Islam? Apa saja penyebabnya menurut Al-Qur’an, hadis Nabi ﷺ, pendapat para ulama, serta hasil penelitian psikologi, ilmu perkembangan anak, dan ilmu kedokteran modern? Bagaimana cara terbaik yang diajarkan Islam untuk mengatasi perilaku tersebut agar hubungan anak dan orang tua kembali harmonis?


Jawaban

Perilaku anak yang suka membantah, memberontak, atau kurang menghargai pengorbanan orang tua merupakan masalah yang semakin sering dijumpai pada era modern. Dalam Islam, perilaku tersebut tidak selalu disebabkan oleh satu faktor, tetapi dapat merupakan kombinasi antara kelemahan iman, kurangnya pemahaman agama, pola asuh yang kurang tepat, pengaruh lingkungan, tekanan psikologis, perubahan perkembangan remaja, serta faktor biologis dan neurologis. Oleh karena itu, penyelesaiannya harus dilakukan secara menyeluruh melalui pendekatan spiritual, pendidikan, psikologis, dan keluarga.

Allah ﷻ memerintahkan setiap anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya setelah perintah mentauhidkan-Nya. Allah berfirman:

  • وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
  • “Tuhanmu telah menetapkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua…”(QS. Al-Isra’ [17]: 23)

Allah melanjutkan:

  • فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
  • “Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, jangan membentak mereka, tetapi ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam melarang segala bentuk ucapan maupun perilaku yang menyakiti orang tua, bahkan sekadar mengucapkan kata yang menunjukkan rasa jengkel.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan besarnya hak orang tua melalui sabdanya:

  • “Keridaan Allah bergantung pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah bergantung pada kemurkaan orang tua.” (HR. At-Tirmidzi; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Dalam hadis lain beliau bersabda:

  • “Tidak ada seorang anak pun yang mampu membalas jasa ayahnya, kecuali apabila ia mendapatinya sebagai budak lalu membelinya kemudian memerdekakannya.” (HR. Muslim no. 1510)

Hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa pengorbanan orang tua hampir mustahil dibalas sepenuhnya oleh anak.

Namun Islam juga mengajarkan bahwa apabila terjadi pembangkangan, orang tua tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa anak tersebut sepenuhnya buruk atau durhaka. Para ulama menjelaskan bahwa perilaku tersebut sering kali dipengaruhi oleh lemahnya pendidikan agama, kurangnya komunikasi dalam keluarga, tekanan psikologis, atau kesalahan pola asuh. Oleh sebab itu, solusi harus diarahkan pada perbaikan akar masalah, bukan sekadar menghukum perilakunya.

Pendapat Para Ulama

  • Imam As-Sa’di رحمه الله
    • Dalam tafsir QS. Thaha ayat 131 beliau menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama munculnya ketidakpuasan dalam hidup adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain yang lebih kaya. Sikap ini menyebabkan seseorang terus merasa kurang, sehingga sulit bersyukur dan mudah menuntut sesuatu di luar kemampuan keluarganya.
  • Ibnu Katsir رحمه الله
    • Dalam menafsirkan QS. At-Talaq ayat 7 beliau menjelaskan bahwa nafkah wajib diberikan sesuai kemampuan, bukan sesuai semua keinginan anggota keluarga. Karena itu, anak maupun istri tidak boleh membebani ayah dengan tuntutan yang melampaui kemampuannya.
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله
    • Beliau menjelaskan bahwa hati manusia berada di tangan Allah. Pendidikan, nasihat, dan keteladanan merupakan sebab-sebab yang harus ditempuh, tetapi hidayah tetap milik Allah. Oleh karena itu, orang tua harus menggabungkan usaha yang maksimal dengan doa yang terus-menerus.

Kajian Psikologi dan Ilmu Kedokteran Modern

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase meningkatnya kebutuhan akan kemandirian. Pada saat yang sama, korteks prefrontal, yaitu bagian otak yang berperan dalam pengendalian emosi, pengambilan keputusan, dan kemampuan mempertimbangkan akibat jangka panjang, belum berkembang secara sempurna hingga usia sekitar 20–25 tahun. Sebaliknya, sistem limbik yang mengatur emosi berkembang lebih cepat, sehingga remaja lebih mudah bersikap impulsif, membantah, dan bereaksi emosional. Oleh karena itu, perilaku memberontak pada sebagian remaja dapat menjadi bagian dari proses perkembangan, meskipun tetap memerlukan bimbingan dan pengendalian.

Selain faktor perkembangan, penelitian juga menunjukkan bahwa stres kronis, konflik keluarga, kurangnya kelekatan emosional (secure attachment), pola asuh yang terlalu keras (authoritarian), atau sebaliknya terlalu permisif, dapat meningkatkan risiko perilaku membangkang. Gangguan psikologis seperti gangguan kecemasan, depresi, attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), gangguan regulasi emosi, atau gangguan kepribadian tertentu pada usia yang lebih dewasa juga dapat memengaruhi hubungan anak dengan orang tua. Pada kondisi seperti ini, evaluasi oleh psikolog atau psikiater dapat diperlukan agar penyebab yang mendasari dapat dikenali dan ditangani secara tepat.

Islam sendiri telah mengajarkan prinsip-prinsip yang selaras dengan temuan ilmiah tersebut, yaitu membangun hubungan yang penuh kasih sayang, komunikasi yang baik, keteladanan, pengendalian emosi, serta doa dan tawakal kepada Allah. Dengan demikian, pendidikan yang efektif bukan hanya mengubah perilaku anak, tetapi juga membentuk hati, akhlak, dan kepribadiannya.


Penyebab Anak Membangkang kepada Orang Tua

Penyebab Penjelasan
Lemahnya pemahaman agama Kurang memahami hak dan kewajiban terhadap orang tua
Kurang bersyukur Selalu membandingkan diri dengan orang lain
Pengaruh teman dan media sosial Meniru gaya hidup konsumtif atau perilaku negatif
Pola asuh tidak konsisten Aturan berubah-ubah sehingga anak bingung
Komunikasi keluarga buruk Anak merasa tidak didengar atau tidak dipahami
Masa remaja Keinginan untuk mandiri meningkat
Gangguan psikologis Kecemasan, depresi, ADHD, gangguan regulasi emosi
Kurangnya keteladanan Anak meniru perilaku orang tua

Hak Orang Tua Menurut Islam

Hak Orang Tua Dalil
Dihormati QS. Al-Isra’ 17:23
Diperlakukan dengan lembut QS. Al-Isra’ 17:24
Tidak dibentak QS. Al-Isra’ 17:23
Ditaati dalam perkara yang ma’ruf QS. Luqman 31:14–15
Didoakan QS. Al-Isra’ 17:24
Dibantu ketika membutuhkan Banyak hadis tentang birrul walidain

Cara Mengatasi Anak yang Membangkang

Langkah Penjelasan
Perkuat pendidikan tauhid Tanamkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah ibadah
Bangun komunikasi Dengarkan alasan dan perasaan anak
Hindari membalas emosi dengan emosi Tetap tenang ketika anak marah
Jadilah teladan Anak lebih mudah meniru daripada mendengar nasihat
Ajarkan syukur dan qana’ah Hindari budaya konsumtif dan membandingkan diri
Terapkan aturan yang konsisten Konsekuensi harus adil dan mendidik
Berdoa Memohon hidayah bagi anak
Konsultasi profesional bila perlu Jika ada dugaan gangguan psikologis atau perilaku menetap

Faktor Risiko dan Upaya Pencegahan

Faktor Risiko Upaya Pencegahan
Media sosial berlebihan Batasi dan dampingi penggunaan gawai
Teman yang buruk Pilihkan lingkungan yang saleh
Kurang perhatian orang tua Luangkan waktu berkualitas setiap hari
Konflik keluarga Selesaikan masalah tanpa melibatkan anak secara negatif
Tuntutan materi berlebihan Biasakan hidup sederhana dan bersyukur
Kurang ibadah Biasakan shalat berjamaah, tilawah, dan doa bersama

Kesimpulan

Membangkang kepada orang tua merupakan perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam apabila dilakukan dengan meremehkan, menyakiti, atau melanggar hak-hak mereka dalam perkara yang ma’ruf. Namun, perilaku tersebut sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lemahnya iman, kurangnya pendidikan agama, pengaruh lingkungan, pola asuh yang kurang tepat, tekanan psikologis, maupun perkembangan otak pada masa remaja. Karena itu, Islam mengajarkan penyelesaian yang menyeluruh melalui penguatan akidah, pendidikan akhlak, komunikasi yang baik, keteladanan, kesabaran, doa, serta bimbingan yang penuh hikmah. Pendekatan ini selaras dengan temuan psikologi perkembangan dan ilmu kedokteran modern yang menekankan pentingnya hubungan orang tua–anak yang hangat, konsisten, dan penuh kasih sayang dalam membentuk generasi yang beriman, berbakti kepada orang tua, matang secara emosional, dan bertanggung jawab.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *