Aku Muslim, Mengapa Aku Membenci “Wahabi” dan Mengapa Aku Menjadi Arabofobia?
Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa aku merasa tidak nyaman setiap kali mendengar kata ‘Wahabi’? Mengapa aku langsung curiga ketika melihat pakaian khas Arab, janggut, cadar, atau mendengar seseorang berbicara dengan istilah-istilah Arab?” Padahal kita adalah seorang Muslim. Kita membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab, menghadap Ka’bah di Makkah, dan setiap hari mengucapkan doa-doa yang berasal dari bahasa Arab. Lalu mengapa hati ini bisa dipenuhi rasa antipati terhadap sesuatu yang begitu dekat dengan agama kita?
Mungkin tanpa disadari, yang kita benci bukanlah seseorang yang kita kenal, melainkan sebuah label yang selama bertahun-tahun dibentuk oleh berbagai cerita, media, pengalaman buruk, atau konflik politik. Pikiran manusia mudah menghubungkan satu simbol dengan simbol lainnya. Ketika sebagian kecil kelompok melakukan kekerasan sambil membawa simbol Islam atau identitas Arab, otak kita dapat secara keliru menggeneralisasi bahwa semua yang berbau Arab, semua yang berjanggut, atau semua yang dianggap “Wahabi” adalah sama. Padahal Allah mengingatkan agar kita tidak mengikuti prasangka.
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 12)
Lalu muncul pertanyaan yang lebih dalam, apakah aku sedang mengalami Arabofobia? Arabofobia adalah prasangka atau kebencian terhadap orang Arab sebagai kelompok etnis atau budaya. Padahal tidak semua orang Arab memiliki pemahaman agama yang sama, sebagaimana tidak semua orang Indonesia memiliki pandangan yang sama. Menilai jutaan manusia hanya karena identitas etnisnya bukanlah sikap yang diajarkan Islam. Rasulullah ﷺ justru menghapus fanatisme kesukuan dengan sabdanya:
“Tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, dan tidak ada keutamaan non-Arab atas orang Arab, kecuali karena takwa.” (HR. Ahmad)
Demikian pula dengan istilah “Wahabi”. Dalam praktiknya, istilah ini sering digunakan sebagai label yang maknanya berbeda-beda tergantung siapa yang mengucapkannya. Sebagian memakainya untuk merujuk pada gerakan dakwah tertentu, sebagian lagi menggunakannya sebagai istilah peyoratif untuk siapa saja yang dianggap terlalu ketat atau berbeda pandangan. Karena itu, tidak bijak menjadikan sebuah label sebagai dasar untuk membenci seseorang. Islam mengajarkan agar setiap individu dinilai berdasarkan ilmu, akhlak, dan amalnya, bukan berdasarkan cap atau stereotip.
Namun, mengapa hati begitu mudah membenci? Apakah karena imanku sedang melemah? Apakah karena hatiku mulai jauh dari cahaya Al-Qur’an? Apakah karena aku kurang menuntut ilmu? Bisa jadi jawabannya berbeda pada setiap orang. Lemahnya pemahaman agama dapat membuat seseorang lebih mudah dipengaruhi propaganda, prasangka, atau narasi yang memecah belah umat. Ketika hati jarang disinari zikir, tadabbur Al-Qur’an, dan majelis ilmu, penilaian sering kali dibangun lebih oleh opini daripada petunjuk Allah.
Allah mengingatkan bahwa hati dapat menjadi keras apabila jauh dari mengingat-Nya.
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun?”(QS. Al-Hadid [57]: 16)
Mungkin pula kita pernah memiliki pengalaman buruk dengan seseorang yang mengaku membawa ajaran tertentu. Pengalaman itu nyata dan bisa meninggalkan luka. Namun Islam mengajarkan bahwa kesalahan satu orang tidak boleh diwariskan kepada seluruh kelompok. Al-Qur’an menegaskan:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 8)
Jika hari ini kita merasa alergi terhadap istilah Arab, takut terhadap simbol-simbol Islam, atau mudah melabeli saudara sesama Muslim hanya karena penampilannya, mungkin yang perlu kita periksa bukan hanya orang lain, tetapi juga hati kita sendiri. Apakah penilaian kita dibangun di atas ilmu yang utuh, atau hanya potongan-potongan informasi? Apakah kita telah tabayun sebelum menghakimi? Apakah kita lebih banyak membaca Al-Qur’an daripada membaca komentar di media sosial?
Pada akhirnya, Islam tidak meminta kita mencintai semua budaya Arab, tidak pula mengharuskan menerima setiap pendapat yang dinisbatkan kepada kelompok tertentu. Seorang Muslim boleh berbeda pendapat dalam masalah fikih atau pemikiran selama dilakukan dengan ilmu, adab, dan keadilan. Yang dilarang adalah membenci manusia karena prasangka, melabeli tanpa ilmu, serta menghilangkan keadilan hanya karena kebencian. Sebab yang Allah nilai bukanlah apakah seseorang berasal dari Arab atau bukan, bukan pula label yang disematkan kepadanya, tetapi iman, ketakwaan, kejujuran, dan akhlaknya. Ketika hati kembali dipenuhi ilmu dan cahaya wahyu, kebencian yang lahir dari prasangka akan berganti menjadi kebijaksanaan, dan perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk memutus ukhuwah.

















Leave a Reply