MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Cara Mengatasi Anak Suka Marah Dan Membantah Menurut Perspektif Parenting Islam

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Fenomena anak yang suka marah dan membantah menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua di era modern. Dalam perspektif parenting Islam, perilaku tersebut perlu disikapi dengan bijak, sabar, dan berbasis nilai-nilai syariat. Rasulullah SAW telah memberikan banyak teladan dalam mendidik anak dengan kelembutan, kasih sayang, dan pendekatan hati ke hati. Penelitian ini bertujuan menguraikan bagaimana Islamic Parenting mampu menjadi solusi efektif untuk menghadapi anak pemarah dan pembantah, khususnya dengan pendekatan keteladanan, nasihat lembut, komitmen, pengajaran adab, dan doa.


Perkembangan teknologi dan gaya hidup modern memberikan banyak pengaruh terhadap karakter anak. Tidak sedikit anak saat ini mudah marah, membantah, bahkan melawan orang tua. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab, namun sering kali dipicu dari lingkungan sekitar, pola asuh yang keras, atau kurangnya komunikasi efektif dalam keluarga.

Dalam Islam, pendidikan anak bukan hanya sekedar mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan adab dan mengelola emosi anak. Rasulullah SAW bersabda:
“Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat itu adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan pentingnya pendidikan pengendalian diri sejak dini.

Anak Pemarah dan Pembantah

Seorang anak bernama Rafi (usia 10 tahun) sering marah saat diminta belajar, diingatkan shalat dan selalu membantah perintah orang tuanya. Ia lebih suka bermain gadget berjam-jam dan merasa terganggu jika diajak berbicara. Bila orangtua berkata A anak selalu berkata sebaliknya berkata B.  Anak malas belajar, tidak bisa diam, dan sering agresif memukul, membanting maidan dan melempar

Contoh lain, seorang remaja putri bernama Nisa (usia 14 tahun) sering melawan, marah, berteriak kepada  ibunya saat ditegur. Ia merasa lebih benar karena terbiasa mencari jawaban dari internet tanpa diskusi dengan keluarga. Hal ini menggambarkan bahwa tantangan pendidikan emosi anak saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi terdahulu.

Anak Pemarah dan Pembantah Sebagai Gangguan Emosi

Perilaku suka marah dan membantah bisa menjadi indikator adanya gangguan emosi pada anak. Gangguan ini terjadi karena anak belum mampu mengelola perasaannya dengan baik, sering merasa tidak dipahami, atau mendapatkan perlakuan keras dari orang dewasa.

Secara psikologis, anak yang sering marah dan membantah berpotensi mengalami kesulitan dalam hubungan sosial, gangguan konsentrasi di sekolah, rendahnya kemampuan empati, agresif, keras kepala, pikiran negatifisme tinggi ( orangtua katakan A anak selalu katakan B), dan cenderung memiliki karakter agresif suka berteriak, bersuara keras, tertawa keras, membanting maidan, memukul, menjambak, mencubit  dan perilaku agresif lainnya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tepat dan sesuai nilai Islam agar anak mampu belajar mengelola emosinya secara sehat.

Lima Pendekatan Islamic Parenting dalam Menghadapi Anak Pemarah & Pembantah

  1. Qudwah Hasanah (Keteladanan) Orang tua harus menjadi cermin kebaikan bagi anak. Jika orang tua tenang, sabar, dan lembut, maka anak akan belajar dari perilaku tersebut. Rasulullah SAW tidak pernah membentak anak-anak. Dalam hadits riwayat Abu Daud:“Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah berkata kasar, tidak pernah berkata kotor, dan tidak pernah melaknat.” Ini menjadi prinsip penting dalam membentuk karakter anak. Dengan keteladanan, anak perlahan akan belajar bagaimana bersikap tenang dan menghormati orang tua, karena orang tua sudah lebih dulu mencontohkannya.
  2. Maw’izhah Hasanah (Nasihat Lembut) Islam menekankan pentingnya nasihat yang menyentuh hati. Dalam Al-Qur’an (QS. An-Nahl: 125) disebutkan: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” Ini juga berlaku dalam mendidik anak. Nasihat sebaiknya disampaikan dengan suara lembut, pilihan kata yang positif, dan momen yang tepat. Nasihat lembut membuat anak merasa dihargai dan membuka ruang dialog. Anak juga tidak merasa tertekan atau disalahkan terus-menerus. Jangan melarang dengan kekarasan, indoktrinasi, otoriter tapi dengan cara lembut, kasih sayang. Bila berbeda pendapat jangan sekalipun berdebat dengan emosi, saat itu terjadi sebaiknya ditinggalkan sementara waktu dan kembali berdiskusi lagi dengan lembut dan pelan bila suasana sudah berubah dingin,
  3. Mu’ahadah (Perjanjian atau Komitmen) Membuat kesepakatan bersama anak tentang aturan main dalam keluarga akan membuat anak lebih terlibat dan bertanggung jawab. Rasulullah SAW mengajarkan konsep janji sebagai bentuk pendidikan moral dan disiplin. Komitmen seperti jadwal belajar, waktu bermain, atau konsekuensi tertentu perlu disepakati bersama, sehingga anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki aturan dan tanggung jawab.
  4. Ta’dib (Pengajaran Adab) Adab mendahului ilmu. Anak yang diajarkan adab akan lebih mudah menerima ilmu dan nasihat. Rasulullah SAW selalu mengajarkan adab sejak dini, seperti meminta izin, berkata sopan, dan menghormati orang tua. Pendekatan ini membutuhkan latihan berulang, penguatan positif, dan konsekuensi edukatif jika anak melanggar, bukan hukuman kasar. Ini membantu anak mengelola emosi dalam interaksi sehari-hari.
  5. Doa (Mengandalkan Allah) Islam mengajarkan bahwa hati anak sepenuhnya dalam genggaman Allah. Rasulullah SAW sendiri sering berdoa untuk kebaikan akhlak anak-anak dan keluarganya. Dalam hadits riwayat At-Tirmidzi: “Ya Allah, perbaikilah urusan agamaku, perbaikilah dunia tempat hidupku, dan perbaikilah akhirat tempat kembaliku.”Orang tua perlu memperbanyak doa agar Allah melembutkan hati anak, memberikan petunjuk, dan menjauhkan dari sifat buruk. Doa menjadi kekuatan utama dalam menghadapi anak pemarah dan pembantah.

Kesimpulan

Anak yang suka marah dan membantah merupakan tantangan emosi yang perlu disikapi dengan bijak oleh orang tua. Islamic Parenting menawarkan lima pendekatan efektif: keteladanan, nasihat lembut, komitmen, pengajaran adab, dan doa. Pendekatan ini selaras dengan teladan Rasulullah SAW dalam mendidik generasi terbaik.

Saran

  • Orang tua perlu terus meningkatkan ilmu tentang parenting Islami agar memiliki panduan yang tepat dalam menghadapi anak yang suka marah dan membantah. Ilmu ini bisa didapatkan dari kajian, buku, atau konsultasi dengan ahli. Orang tua juga perlu memahami karakter dan kondisi emosi anak secara khusus, karena setiap anak memiliki keunikan dalam cara berpikir dan merespon situasi. Dengan memahami anak, orang tua bisa memilih pendekatan yang paling sesuai.
  • Orang tua hendaknya memperbaiki kualitas komunikasi dalam keluarga. Suasana rumah perlu dihadirkan sebagai tempat yang nyaman, penuh kasih sayang, dan bebas dari ucapan kasar atau hinaan. Ajarkan anak cara mengungkapkan perasaan dengan kata-kata yang baik dan ajak diskusi untuk mencari solusi bersama. Hal ini akan melatih anak mengelola emosinya dan mengurangi kebiasaan membantah atau marah secara berlebihan.
  • Orang tua perlu memperkuat doa dan kesabaran dalam proses mendidik anak. Perubahan perilaku anak tidak bisa terjadi secara instan, melainkan butuh waktu, proses, dan istiqamah. Libatkan Allah dalam setiap usaha mendidik anak dengan memperbanyak doa agar hati anak dilembutkan dan dimudahkan dalam menerima kebaikan. Orang tua juga perlu menjadi teladan dalam pengendalian emosi, karena anak adalah peniru ulung dari perilaku orang tuanya.
  • Bila dalam keadaan tertentu gangguan emosi berlebihan dan tidak bisa dikendalikan dengan berbagai cara dan strategi Islamic Perenting , maka disarnkan untuk berkonsuktasi ke pakar kesehatan anak sesuai bidangnya

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *