MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

Bidah Amaliah Pertama Kali: Kisah Lengkap Majelis Zikir dengan Kerikil di Kufah, Abu Musa Al-Asy’ari dan Abdullah bin Mas’ud

Kisah Lengkap Majelis Zikir dengan Kerikil di Kufah, Abu Musa Al-Asy’ari dan Abdullah bin Mas’ud

Bidah Amaliah Yang Pertama Kali dikisahkan sejarah Islam

Peristiwa ini merupakan salah satu riwayat yang paling sering dibahas dalam pembahasan bid’ah amaliah. Kisah tersebut terjadi di Kota Kufah, Irak, pada masa para sahabat Nabi Muhammad ﷺ masih hidup. Riwayat ini terdapat dalam Sunan Ad-Darimi (Muqaddimah, Bab tentang larangan mengikuti bid’ah), dengan sanad yang dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis, di antaranya Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah.

Kufah pada Masa Para Sahabat

Kufah merupakan kota yang didirikan pada masa Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 17 Hijriah. Kota ini berkembang menjadi pusat ilmu karena banyak sahabat besar menetap di sana, seperti Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Salman Al-Farisi, dan Abu Musa Al-Asy’ari.Kufah merupakan kota yang didirikan pada masa Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 17 Hijriah sebagai kota garnisun bagi pasukan Muslim di Irak. Dalam waktu singkat, Kufah berkembang menjadi salah satu pusat ilmu Islam paling penting pada generasi sahabat karena banyak tokoh besar menetap dan mengajar di sana, di antaranya Abdullah bin Mas’ud sebagai guru Al-Qur’an dan mufti Kufah, Ammar bin Yasir sebagai gubernur sekaligus sahabat senior, Salman Al-Farisi yang dikenal karena ilmu dan kezuhudannya, serta Abu Musa Al-Asy’ari yang menjadi rujukan dalam Al-Qur’an dan fikih. Dari majelis-majelis ilmu para sahabat inilah lahir tradisi keilmuan Kufah yang kemudian melahirkan banyak tabi’in dan ulama besar, sehingga kota ini menjadi salah satu pusat penyebaran tafsir, hadis, qira’at, dan fikih pada masa awal Islam.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang paling awal memeluk Islam dan termasuk tokoh besar dalam ilmu Al-Qur’an, hadis, fikih, serta fatwa di kalangan sahabat. Beliau berasal dari Bani Hudzail dan dikenal dengan julukan Ibnu Ummi Abd. Sebelum masuk Islam, beliau bekerja sebagai penggembala kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith. Pertemuannya dengan Rasulullah ﷺ menjadi awal perjalanan hidupnya sebagai sahabat yang sangat dekat dengan beliau. Abdullah bin Mas’ud termasuk orang yang sering mendampingi Nabi ﷺ dalam kehidupan sehari-hari, sehingga banyak mengetahui kebiasaan, akhlak, dan sunnah beliau secara langsung. Rasulullah ﷺ memberikan kedudukan istimewa kepadanya dalam bidang Al-Qur’an dengan sabda beliau, “Barang siapa ingin membaca Al-Qur’an sebagaimana diturunkan, hendaklah ia membacanya menurut bacaan Ibnu Ummi Abd.” Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ juga memerintahkan para sahabat mengambil bacaan Al-Qur’an dari empat orang, dan Abdullah bin Mas’ud disebut sebagai orang pertama di antara mereka. Beliau dikenal sebagai sahabat yang sangat teliti dalam mengikuti sunnah hingga tidak menyukai perubahan dalam tata cara ibadah yang tidak memiliki contoh dari Rasulullah ﷺ. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau diutus ke Kufah sebagai guru Al-Qur’an, mufti, dan pembimbing masyarakat. Di kota itu beliau membangun tradisi keilmuan yang kemudian melahirkan banyak ulama besar. Karena keluasan ilmunya, masyarakat Kufah sering merujuk kepadanya dalam berbagai persoalan agama, termasuk ketika Abu Musa Al-Asy’ari melaporkan kepadanya peristiwa majelis zikir dengan kerikil di Masjid Kufah. Abdullah bin Mas’ud wafat di Madinah sekitar tahun 32 Hijriah pada masa Khalifah Utsman bin Affan, meninggalkan warisan ilmu yang menjadi salah satu fondasi utama dalam tafsir, fikih, dan pemahaman sunnah di kalangan generasi setelah para sahabat.

Abu Musa Menyaksikan Pemandangan yang Tidak Biasa

Suatu pagi, Abu Musa Al-Asy’ari keluar menuju Masjid Kufah. Di sana ia melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat pada masa Rasulullah ﷺ.

Orang-orang duduk membentuk banyak lingkaran di dalam masjid. Di tengah setiap lingkaran terdapat seorang pemimpin. Di hadapan mereka ada tumpukan kerikil kecil yang digunakan sebagai alat hitung.

Pemimpin itu memberi aba-aba.

> “Bertakbirlah seratus kali.”

Semua peserta mengucapkan, “Allahu Akbar,” seratus kali sambil memindahkan kerikil.

Lalu ia berkata,

> “Bertasbihlah seratus kali.”

Mereka mengucapkan, “Subhanallah.”

Kemudian ia memerintahkan,

> “Bertahlillah seratus kali.”

Mereka mengucapkan, “La ilaha illallah.”

Zikir yang mereka baca merupakan lafaz yang disyariatkan. Yang menarik perhatian Abu Musa adalah cara pelaksanaannya yang dipimpin bersama-sama dengan hitungan tertentu menggunakan kerikil.

### Abu Musa Memilih Berhati-hati

Abu Musa tidak langsung mengingkari mereka.

Dalam riwayat disebutkan ia berkata kepada mereka,

> “Apa yang sedang kalian lakukan?”

Mereka menjawab,

> “Wahai Abu Musa, ini adalah kerikil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.”

Mereka menganggap amalan itu sebagai bentuk kebaikan.

Abu Musa tidak ingin tergesa-gesa memberi keputusan karena di Kufah ada sahabat yang lebih senior dalam ilmu, yaitu Abdullah bin Mas’ud.

Ia segera menemui beliau.

### Laporan kepada Abdullah bin Mas’ud

Abu Musa berkata,

> “Aku melihat sesuatu di masjid yang menurutku baik, tetapi aku tidak mengatakan apa pun sampai aku bertemu denganmu.”

Ia kemudian menceritakan seluruh kejadian itu.

Ibnu Mas’ud bertanya,

> “Apa yang engkau katakan kepada mereka?”

Abu Musa menjawab,

> “Aku tidak mengatakan apa pun. Aku menunggu pendapatmu.”

Jawaban itu menunjukkan kehati-hatian Abu Musa dalam menyikapi persoalan agama.

Abdullah bin Mas’ud Datang ke Masjid

Ibnu Mas’ud segera menuju Masjid Kufah bersama Abu Musa.

Sesampainya di sana, beliau berdiri di hadapan kelompok-kelompok tersebut.

Beliau bertanya,

> “Apa yang sedang kalian lakukan?”

Mereka menjawab,

> “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.”

Mereka kembali menegaskan bahwa tujuan mereka adalah berzikir kepada Allah.

### Teguran Keras Ibnu Mas’ud

Mendengar jawaban itu, Abdullah bin Mas’ud mengucapkan perkataan yang sangat terkenal.

> “Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku menjamin pahala kalian tidak akan berkurang sedikit pun.”

Kemudian beliau berkata,

> “Celaka kalian, wahai umat Muhammad. Betapa cepat kebinasaan kalian.”

Beliau mengingatkan bahwa para sahabat Nabi ﷺ masih banyak yang hidup.

Beliau berkata,

> “Para sahabat Nabi kalian masih banyak. Pakaian beliau belum usang. Bejana beliau belum pecah.”

Maksudnya, masa Rasulullah ﷺ baru saja berlalu. Sunnah beliau masih segar di tengah masyarakat.

Namun, menurut Ibnu Mas’ud, mereka sudah mulai membuat tata cara ibadah baru yang tidak pernah diajarkan.

Beliau kemudian berkata,

> “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk daripada agama Muhammad, atau kalian sedang membuka pintu kesesatan.”

Jawaban Orang-orang Itu

Mereka terkejut.

Mereka berkata,

> “Demi Allah, wahai Abu Abdurrahman, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan.”

Mereka tidak mengaku ingin menyelisihi agama.

Tujuan mereka adalah mencari pahala.

Ibnu Mas’ud menjawab dengan kalimat yang kemudian menjadi kaidah penting.

> “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya.”

Beliau mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup. Cara beribadah juga harus mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.

Akhir Kisah

Bagian akhir riwayat dalam Sunan Ad-Darimi disampaikan oleh perawinya, yaitu Amr bin Salamah. Ia tidak hanya menceritakan kejadian di Masjid Kufah, tetapi juga menyampaikan apa yang ia saksikan beberapa tahun kemudian. Amr berkata bahwa ia melihat banyak orang yang dahulu duduk dalam halaqah zikir dengan kerikil itu kemudian bergabung bersama kaum Khawarij pada Perang Nahrawan melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Perang Nahrawan terjadi pada tahun 38 Hijriah setelah muncul kelompok Khawarij yang keluar dari barisan Ali. Kesaksian ini dipandang penting karena berasal dari orang yang menyaksikan dua peristiwa tersebut, yaitu kejadian di masjid dan perkembangan para pelakunya di kemudian hari.

Pelajaran yang Dipahami Para Ulama

Banyak ulama menjadikan penutup riwayat ini sebagai pelajaran tentang pentingnya berpegang teguh pada sunnah dalam tata cara ibadah. Mereka menjelaskan bahwa zikir kepada Allah adalah ibadah yang disyariatkan, tetapi cara pelaksanaannya secara berjamaah dengan aba-aba dan hitungan tertentu tanpa contoh dari Nabi ﷺ dipandang sebagai penyimpangan dalam bentuk pelaksanaan ibadah. Menurut penjelasan ini, ketika seseorang mulai terbiasa mendahulukan cara yang tidak memiliki landasan dari sunnah, hal itu dapat membuka pintu kepada penyimpangan yang lebih besar apabila tidak segera dikoreksi. Perlu dicatat bahwa riwayat ini menunjukkan banyak orang dari kelompok tersebut kemudian menjadi Khawarij, bukan berarti setiap orang yang melakukan amalan serupa pasti akan menjadi Khawarij. Pelajaran utamanya adalah pentingnya menjaga ibadah agar tetap sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ, baik dalam niat maupun dalam cara mengamalkannya.

Riwayat ini sering dipahami sebagai pelajaran bahwa penyimpangan kecil dalam cara beragama dapat berkembang menjadi penyimpangan yang lebih besar jika tidak dikembalikan kepada sunnah.

Teks Riwayat Ringkas

Dalam Sunan Ad-Darimi disebutkan secara ringkas.

> “Kami duduk di depan rumah Abdullah bin Mas’ud sebelum salat Subuh. Ketika beliau keluar, Abu Musa berkata, ‘Aku melihat suatu perkara di masjid.’ Ibnu Mas’ud mendatangi mereka lalu berkata, ‘Hitunglah dosa-dosa kalian.’ Mereka menjawab, ‘Kami hanya menginginkan kebaikan.’ Beliau berkata, ‘Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya.'”

Pelajaran Menurut Para Ulama

Ulama berbeda dalam pembahasan konsep bid’ah secara umum. Namun, riwayat ini menjadi dalil penting dalam diskusi tentang ibadah yang tata caranya tidak memiliki contoh dari Nabi ﷺ.

Beberapa pelajaran yang sering diambil adalah:

  • Niat baik harus disertai tuntunan sunnah.
  • Tata cara ibadah tidak boleh dibuat berdasarkan pendapat sendiri ketika sudah ada petunjuk Rasulullah ﷺ.
  • Para sahabat sangat berhati-hati dalam menjaga kemurnian praktik ibadah.
  • Abu Musa menunjukkan adab ilmiah dengan merujuk kepada sahabat yang lebih berilmu.
  • Abdullah bin Mas’ud mengutamakan pencegahan penyimpangan sejak awal sebelum berkembang lebih jauh.

Riwayat ini menjadi salah satu contoh paling terkenal tentang bagaimana para sahabat menilai pentingnya mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara utuh, bukan hanya menjaga keikhlasan niat, tetapi juga menjaga cara pelaksanaan ibadah agar tetap sesuai dengan tuntunan beliau.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *