Dari Murtadkan 3000 Ribu Muslim Menjadi Pejuang Tauhid, Kisah Hidayah Rudi Mulyadi yang Kehilangan Harta, tetapi Menemukan Cahaya Iman
Hidayah Allah dapat datang kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang tampaknya paling jauh dari Islam. Itulah yang tergambar dalam perjalanan hidup almarhum Rudi Mulyadi, seorang pendeta yang selama bertahun-tahun dikenal aktif dalam pelayanan gereja. Berdasarkan penuturan putrinya, Yesi Yesika, Rudi pernah dipercaya menjalankan misi penginjilan dan terlibat dalam pelayanan kepada ribuan Muslim yang kemudian berpindah keyakinan. Bersama istrinya yang juga seorang misionaris, ia menjalani kehidupan yang mapan, dihormati, dan memperoleh berbagai fasilitas dari lembaga tempatnya mengabdi. Tidak ada yang menyangka bahwa orang yang begitu gigih mengajak orang lain meninggalkan Islam justru kelak menjadi seorang Muslim yang rela kehilangan seluruh kenyamanan hidup demi mempertahankan akidah yang baru ditemukannya.
Perjalanan hidayah itu bermula ketika Rudi mengunjungi rumah seorang calon yang akan dibaptis. Di rumah tersebut terpajang sebuah kaligrafi bertuliskan dua kalimat syahadat. Sebagai bagian dari proses perpindahan agama, kaligrafi itu diminta untuk dilepas dan diganti dengan simbol agama yang baru. Peristiwa itu tampak sederhana, tetapi meninggalkan jejak yang sangat dalam di dalam hatinya. Dalam perjalanan pulang, Rudi mengaku mendengar dua kalimat syahadat terngiang sangat jelas di telinganya. Suara itu bukan hanya sekali, tetapi terus berulang hingga membuatnya gelisah. Ketika bekerja, berkhotbah, makan, beristirahat, bahkan saat hendak tidur, kalimat yang sama terus hadir. Ia telah berusaha mengabaikannya, berdoa menurut keyakinannya saat itu, bahkan meminta didoakan oleh rekan-rekan sesama pendeta, tetapi bisikan tersebut tidak pernah berhenti.
Kegelisahan itu berubah menjadi rasa ingin tahu yang mendalam. Rudi mulai mencari arti dua kalimat syahadat, membaca buku-buku tentang Islam, dan mempelajari terjemahan Al-Qur’an karena belum mampu membaca bahasa Arab. Setiap lembar yang dibacanya menghadirkan jawaban atas pertanyaan yang selama ini tersimpan dalam dirinya. Pencarian itu berlangsung bertahun-tahun, sejak sekitar tahun 1988 hingga akhirnya mencapai puncaknya pada 13 Januari 1994. Pada hari itu, Rudi Mulyadi mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk Islam. Keputusan tersebut lahir bukan karena tekanan siapa pun, melainkan karena keyakinan yang tumbuh setelah melalui pencarian, perenungan, dan pergulatan batin yang panjang.
Keputusan itu mengubah seluruh kehidupannya. Ketika Rudi mengumpulkan keluarganya dan mengumumkan bahwa dirinya telah menjadi Muslim, suasana rumah dipenuhi keterkejutan. Istrinya yang seorang misionaris dan anak-anaknya tidak menyangka ayah yang selama ini menjadi pendeta kini memilih Islam. Berita tersebut segera sampai kepada rekan-rekan gerejanya. Sejumlah pendeta datang untuk mempertanyakan, membujuk, bahkan mencela keputusannya. Namun, menurut kesaksian keluarganya, sesuatu yang luar biasa telah berubah dalam diri Rudi. Sosok yang dahulu dikenal keras, tegas, dan mudah marah kini menghadapi semua celaan dengan senyuman, kelembutan, dan kesabaran. Ia tidak membalas kemarahan dengan kemarahan. Perubahan akhlak itulah yang pertama kali menggugah hati keluarganya.
Melihat ketenangan dan perubahan sikap ayahnya, Yesi Yesika mulai bertanya-tanya tentang Islam. Tidak lama kemudian, ia bersama salah seorang saudaranya memutuskan mengikuti jejak sang ayah memeluk Islam. Setelah melalui dialog dan pencarian yang panjang, sang ibu dan anak yang lain akhirnya juga bersyahadat. Satu keluarga yang sebelumnya aktif dalam pelayanan gereja kini bersama-sama memeluk Islam. Mereka menemukan bahwa perubahan terbesar bukan hanya berpindah keyakinan, tetapi berubahnya hati, akhlak, dan cara memandang kehidupan. Bagi mereka, Islam menghadirkan ketenangan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Cobaan berat datang segera setelah keluarga itu memeluk Islam. Menurut penuturan Yesi, seluruh fasilitas yang selama ini mereka nikmati dicabut. Rumah dinas, kendaraan, pekerjaan, dan sumber penghasilan hilang dalam waktu singkat. Mereka harus meninggalkan rumah yang nyaman dan pindah ke sebuah kontrakan sederhana hanya dengan membawa pakaian yang melekat di badan. Kehidupan yang dahulu penuh kecukupan berubah menjadi masa-masa yang penuh ujian. Orang tua mereka kesulitan mencari pekerjaan, biaya sekolah anak-anak sering tertunggak, bahkan sebagian keluarga besar dan kerabat menjauh. Namun, di tengah keterbatasan itu, mereka merasakan ketenangan yang tidak pernah dapat dibeli oleh harta. Mereka kehilangan dunia, tetapi memperoleh keyakinan yang tidak ingin mereka tukarkan dengan apa pun.
Kisah Rudi Mulyadi membuktikan bahwa hidayah adalah karunia Allah yang tidak dibatasi oleh latar belakang, profesi, maupun masa lalu seseorang. Orang yang dahulu mengajak ribuan Muslim meninggalkan agamanya justru dipilih Allah untuk kembali kepada tauhid. Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa pencarian kebenaran membutuhkan kejujuran, kerendahan hati, dan keberanian menanggung segala konsekuensi. Harta dapat hilang, jabatan dapat dicabut, dan manusia dapat meninggalkan kita, tetapi iman yang telah bersemayam di dalam hati akan menjadi kekayaan yang tidak ternilai. Sebagaimana firman Allah SWT, “Barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11). Kisah ini mengingatkan bahwa hidayah adalah cahaya yang mampu mengubah musuh menjadi saudara, mengubah penentang menjadi pembela, dan mengubah kehidupan seseorang untuk selama-lamanya.













Leave a Reply