Ketika Notifikasi Lebih Ramai daripada Doa
Malam itu, kamar Raka dipenuhi cahaya biru dari layar ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul 02.17. Puluhan notifikasi masuk silih berganti—pesan WhatsApp, komentar Instagram, mention, video pendek, dan berita yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Namun ada satu suara yang tak pernah muncul di layar.
Suara hatinya sendiri.
Sudah berbulan-bulan Raka hidup seperti itu. Bangun tidur, tangannya lebih dulu mencari ponsel daripada sajadah. Belum sempat membuka mata dengan sempurna, jarinya sudah menggulir layar. Ia tahu siapa yang mengunggah foto baru, siapa yang sedang liburan, siapa yang putus cinta, siapa yang viral.
Tetapi ia mulai lupa kapan terakhir kali membaca Al-Qur’an dengan tenang.
Azan Subuh terdengar dari masjid di ujung gang.
“Allahu akbar… Allahu akbar…”
Raka mendengarnya.
Tetapi ia hanya membalikkan badan.
“Lima menit lagi…”
Lima menit berubah menjadi satu jam.
Dan ketika ia terbangun, matahari sudah meninggi.
Ia tersenyum kecil, mengambil ponselnya, lalu kembali membuka notifikasi.
Begitulah hari-hari berlalu.
Raka bukan anak yang jahat. Ia hanya terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bahwa hatinya juga membutuhkan tempat untuk pulang.
Ia bekerja keras. Mengejar karier. Mengejar angka. Mengejar pengikut. Mengejar pengakuan.
Setiap kali sebuah unggahannya mendapatkan ribuan tanda suka, ia merasa dirinya berharga.
Tetapi ketika malam datang dan layar ponselnya mati, ia sering merasa begitu kosong.
Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang melihat.
Bahkan orang-orang yang paling dekat dengannya pun tidak menyadari bahwa di balik senyum dan foto-foto bahagianya, ada hati yang diam-diam kelelahan.
Sampai suatu malam, telepon dari rumah masuk.
Ibu.
Raka mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum, Bu.”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas yang berat.
“Raka…” suara ibunya terdengar bergetar.
“Iya, Bu?”
“Pulang, Nak.”
Hanya dua kata.
Tetapi entah mengapa, malam itu dua kata tersebut terasa seperti mengetuk pintu hatinya yang sudah lama terkunci.
“Kenapa, Bu?”
“Ibu ingin melihat kamu.”
Raka terdiam.
“Besok Raka pulang, Bu.”
“Jangan besok.”
Suara ibunya semakin pelan.
“Kalau bisa… malam ini.”
Raka langsung mematikan laptopnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak peduli dengan pekerjaan, jumlah pengikut, komentar, atau notifikasi.
Ia pulang.
Namun perjalanan malam itu terasa panjang.
Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya terbaring lemah.
Wajah yang dahulu selalu menyambutnya dengan senyum kini terlihat jauh lebih tua.
Raka duduk di samping tempat tidur.
“Ibu sakit?”
Ibunya tersenyum.
“Cuma sedikit lelah.”
Raka menggenggam tangan ibunya.
Tangan itu dingin.
Tangan yang dahulu menyuapinya ketika kecil.
Tangan yang pernah mengusap kepalanya ketika demam.
Tangan yang berkali-kali terangkat dalam doa ketika Raka belum pulang.
Tiba-tiba matanya basah.
“Bu…”
“Iya?”
“Maafin Raka.”
Ibunya menatapnya.
“Untuk apa?”
Raka menunduk.
“Raka jarang pulang. Jarang menelepon. Jarang salat berjamaah sama Ibu. Bahkan… Raka sering lupa mendoakan Ibu.”
Ibunya tersenyum.
“Seorang ibu tidak pernah berhenti mendoakan anaknya, meskipun anaknya lupa mendoakan dirinya.”
Kalimat itu menghantam dada Raka.
Air matanya jatuh.
Ibunya kemudian berkata pelan,
“Raka, Ibu tidak takut kamu miskin. Ibu juga tidak takut kamu gagal.”
Ia berhenti sebentar.
“Ibu cuma takut kamu mendapatkan dunia… tapi kehilangan Allah.”
Raka menangis.
Tangis yang selama ini ia tahan.
Tangis yang tidak pernah bisa keluar di tengah keramaian.
Malam semakin larut.
Di luar rumah, suara kendaraan sesekali terdengar.
Kemudian azan Tahajud dari masjid kecil di dekat rumah tidak terdengar karena memang tidak ada pengeras suara.
Hanya kesunyian.
Raka bangkit.
Ia mengambil wudu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berdiri di atas sajadah tanpa kamera, tanpa penonton, tanpa ingin terlihat baik oleh siapa pun.
Hanya dirinya.
Dan Allah.
Ia mengangkat kedua tangannya.
“Ya Allah…”
Suaranya bergetar.
“Aku datang.”
Hanya itu.
Tetapi setelah mengucapkannya, air matanya mengalir deras.
“Aku terlalu jauh.”
Ia bersujud.
“Aku sibuk mencari perhatian manusia sampai lupa bahwa perhatian-Mu selalu ada.”
Tangisnya pecah.
“Ya Allah… kalau Engkau masih mau menerimaku, aku ingin pulang.”
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada tanda suka.
Tidak ada komentar.
Tidak ada tepuk tangan.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, hati Raka merasa benar-benar didengar.
Sejak malam itu, hidupnya tidak langsung berubah menjadi sempurna.
Ia masih bekerja.
Masih menggunakan media sosial.
Masih memiliki masalah.
Masih terkadang lalai.
Tetapi ada sesuatu yang berubah.
Setiap kali azan terdengar, ia berusaha menghentikan apa pun yang sedang dikerjakannya.
Ketika ponselnya berbunyi, ia tidak lagi selalu merasa harus segera melihatnya.
Ia mulai belajar bahwa tidak semua pesan harus dibalas seketika.
Namun ada satu panggilan yang tidak boleh ia abaikan.
Panggilan Allah.
Beberapa bulan kemudian, ibunya meninggal dunia.
Pagi itu, Raka duduk sendirian di kamar yang dahulu menjadi tempat ibunya beristirahat.
Ponselnya tergeletak di meja.
Puluhan notifikasi masuk.
Tetapi kali ini ia tidak menyentuhnya.
Ia mengambil sajadah.
Membentangkannya.
Lalu berdoa untuk ibunya.
“Ya Allah, ampuni ibuku.”
Air matanya kembali jatuh.
“Dulu ibuku yang selalu mendoakanku. Sekarang aku hanya bisa mengirimkan doa untuknya.”
Ia menundukkan kepala.
Dan di antara kesunyian itu, Raka akhirnya memahami sesuatu.
Hidup ternyata bukan tentang seberapa banyak orang yang mengingat nama kita.
Bukan tentang berapa ribu orang yang menyukai foto kita.
Bukan tentang seberapa sering nama kita disebut.
Karena suatu hari nanti, semua notifikasi akan berhenti.
Layar akan padam.
Akun akan ditinggalkan.
Foto-foto akan tenggelam.
Dan manusia akan kembali sendirian.
Yang tersisa hanyalah amal.
Doa.
Dan hubungan kita dengan Allah.
Sejak saat itu, Raka masih membuka media sosial.
Tetapi ia tidak lagi membiarkan media sosial membuka dan menguasai hatinya.
Ia masih mengejar kesuksesan.
Tetapi tidak lagi dengan mengorbankan salat.
Ia masih memiliki cita-cita besar.
Tetapi kini ia tahu kepada siapa semua cita-cita itu harus dipertanggungjawabkan.
Dan setiap malam, sebelum tidur, ia meletakkan ponselnya jauh dari tempat tidur.
Ia mengambil Al-Qur’an.
Membacanya beberapa halaman.
Kemudian berdoa.
Bukan agar menjadi terkenal.
Bukan agar semua orang menyukainya.
Tetapi agar ketika suatu hari nanti seluruh notifikasi kehidupan berhenti, namanya masih dipanggil dengan kasih sayang oleh Allah.
Karena ternyata…
yang paling kita butuhkan bukanlah lebih banyak notifikasi.
Kita hanya membutuhkan satu tanda bahwa Allah masih membuka pintu untuk kita pulang.
Dan selama napas masih ada, pintu itu belum tertutup.
Maka pulanglah.
Sebelum dunia terlalu ramai…
hingga kita tak lagi mampu mendengar suara hati sendiri.










Leave a Reply