PERBEDAAN PENDEKATAN SALAF/ATSARI DAN ASY’ARI–MATURIDI DALAM MEMAHAMI AYAT-AYAT SIFAT: Kajian Ilmiah tentang Istiwa’ Allah di atas ‘Arsy dalam Perspektif Ahlus Sunnah
Pembahasan mengenai ayat-ayat sifat Allah (ayat al-shifat), khususnya tentang firman Allah bahwa Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy, merupakan salah satu tema penting dalam ilmu akidah Islam. Sejak masa awal Islam, para ulama Ahlus Sunnah memiliki kesepakatan bahwa Allah Maha Esa, memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Namun, muncul perbedaan metodologis dalam memahami ayat-ayat sifat. Kelompok Salaf/Atsari menetapkan seluruh sifat Allah sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa melakukan takyif (menanyakan bagaimana), tamtsil (menyerupakan), tahrif (mengubah makna), maupun ta’thil (menolak sifat). Sebaliknya, ulama Asy’ari dan Maturidi menerima nash tersebut sebagai wahyu, tetapi dalam kondisi tertentu menggunakan pendekatan tafwidh atau ta’wil untuk menjaga prinsip tanzih (pensucian Allah dari keserupaan dengan makhluk). Artikel ini mengkaji kedua pendekatan berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan pendapat ulama klasik sehingga memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai perbedaan metodologi tanpa mengabaikan persatuan akidah Islam.
Akidah merupakan fondasi utama ajaran Islam. Salah satu pokok akidah yang disepakati seluruh kaum muslimin adalah keimanan kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis sahih. Di antara ayat yang paling banyak dibahas adalah ayat-ayat tentang istiwa’ Allah di atas ‘Arsy. Perbedaan cara memahami ayat-ayat tersebut telah menjadi diskusi ilmiah sejak abad-abad awal Islam dan melahirkan beberapa pendekatan dalam tradisi Ahlus Sunnah.
Meskipun terdapat perbedaan metodologi, mayoritas ulama sepakat bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya sebagaimana ditegaskan dalam QS. Asy-Syura ayat 11. Oleh karena itu, perbedaan yang terjadi bukanlah mengenai keesaan Allah, melainkan mengenai metode memahami nash yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah.
Dalil Al-Qur’an
1. Allah Beristiwa’ di atas ‘Arsy
Allah berfirman:
“Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy.”
(QS. Thaha: 5)
Ayat serupa juga terdapat dalam:
- QS. Al-A’raf: 54
- QS. Yunus: 3
- QS. Ar-Ra’d: 2
- QS. Al-Furqan: 59
- QS. As-Sajdah: 4
- QS. Al-Hadid: 4
Sehingga terdapat tujuh ayat yang menyebutkan Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy.
2. Allah Tidak Menyerupai Makhluk
Allah berfirman:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
Ayat ini menjadi landasan utama seluruh ulama Ahlus Sunnah dalam memahami sifat-sifat Allah.
3. Allah Maha Tinggi
Allah berfirman:
“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.” (QS. Al-A’la: 1)
Firman-Nya pula:
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit…” (QS. Al-Mulk: 16)
Hadis Nabi
Rasulullah ﷺ bertanya kepada seorang budak perempuan:
“Di mana Allah?”
Ia menjawab,
“Di atas langit.”
Beliau bersabda,
“Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia seorang mukmin.”
(HR. Muslim No. 537)
Hadis ini menjadi salah satu dalil penting dalam pembahasan sifat Allah, meskipun terdapat perbedaan penjelasan di kalangan ulama mengenai cara memahaminya.
Perbedaan Pendekatan Ulama
| Aspek | Salaf/Atsari | Asy’ari–Maturidi |
|---|---|---|
| Makna istiwa’ | Menetapkan istiwa’ sebagaimana terdapat dalam nash tanpa membahas “bagaimana” (bilā kaif). | Sebagian memilih tafwidh, sebagian melakukan ta’wil bila diperlukan. |
| Tempat Allah | Allah di atas ‘Arsy sebagaimana disebutkan dalam nash, tanpa menyerupakan dengan makhluk. | Allah tidak dibatasi tempat atau arah; ‘Arsy adalah makhluk Allah. |
| Metode | Menetapkan sifat tanpa tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil. | Menjaga nash dengan prinsip tanzih melalui tafwidh atau ta’wil dalam kondisi tertentu. |
| Fokus | Mengikuti pemahaman generasi salaf. | Menggabungkan dalil naqli dengan pendekatan ilmu kalam untuk menjelaskan akidah. |
| Tokoh | Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim. | Abu al-Hasan al-Asy’ari, Abu Mansur al-Maturidi, Imam Al-Ghazali, Imam An-Nawawi. |
Penilaian Para Ulama
Pendekatan Salaf/Atsari
Ulama Salaf berpendapat bahwa metode paling selamat adalah menetapkan seluruh sifat Allah sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah tanpa menanyakan hakikat caranya (bilā kaif). Mereka menolak penyerupaan Allah dengan makhluk, tetapi juga menolak penafsiran yang mengubah makna zahir nash tanpa dalil yang kuat.
Pendekatan Asy’ari dan Maturidi
Ulama Asy’ari dan Maturidi berpandangan bahwa apabila suatu lafaz berpotensi dipahami secara menyerupakan Allah dengan makhluk, maka dapat ditempuh dua metode, yaitu:
- Tafwidh, yakni menyerahkan hakikat makna kepada Allah sambil mengimani nash tersebut.
- Ta’wil, yakni memberikan makna yang sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan prinsip kemahasucian Allah apabila terdapat alasan ilmiah yang kuat.
Titik Persamaan Kedua Pendekatan
Walaupun berbeda dalam metodologi, kedua pendekatan memiliki sejumlah persamaan mendasar.
| Pokok Akidah | Kesepakatan |
|---|---|
| Allah Maha Esa | Sepakat |
| Allah tidak menyerupai makhluk | Sepakat |
| Al-Qur’an adalah wahyu Allah | Sepakat |
| Beriman kepada seluruh sifat Allah | Sepakat |
| Menolak penyembahan selain Allah | Sepakat |
| Nabi Muhammad ﷺ adalah Rasul terakhir | Sepakat |
Hubungan Empat Mazhab Fikih Sunni dengan Pendekatan Akidah dalam Memahami Ayat-Ayat Sifat
Perlu dibedakan antara mazhab fikih dan mazhab akidah. Mazhab fikih membahas hukum-hukum amaliah seperti ibadah, muamalah, pernikahan, dan waris, sedangkan mazhab akidah membahas persoalan keimanan, termasuk pembahasan tentang nama dan sifat-sifat Allah (al-asma’ wa al-shifat). Oleh karena itu, seseorang dapat bermazhab Syafi’i dalam fikih tetapi mengikuti pendekatan Asy’ari, Maturidi, atau Salaf/Atsari dalam akidah, tergantung pada guru dan tradisi keilmuan yang diikutinya.
Tabel Hubungan Mazhab Fikih dan Pendekatan Akidah
| Mazhab Fikih | Pendiri | Kecenderungan Akidah dalam Sejarah | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Hanafi | Imam Abu Hanifah | Mayoritas berkembang bersama akidah Maturidi | Banyak ulama Hanafi mengikuti mazhab Maturidi, meskipun tidak semuanya. |
| Maliki | Imam Malik bin Anas | Salaf pada masa awal, kemudian banyak yang mengikuti Asy’ari | Dalam sejarah terdapat ulama Maliki yang tetap berpendekatan Salaf maupun Asy’ari. |
| Syafi’i | Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i | Banyak berkembang bersama akidah Asy’ari, namun ada pula yang mengikuti Salaf/Atsari | Tidak semua ulama Syafi’iyah berakidah Asy’ari. |
| Hanbali | Imam Ahmad bin Hanbal | Umumnya dekat dengan pendekatan Salaf/Atsari | Menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa takyif, tamtsil, ta’thil, maupun tahrif. |
Persamaan Keempat Mazhab
Meskipun terdapat perbedaan kecenderungan dalam metodologi akidah, keempat mazhab fikih Sunni memiliki kesepakatan pada pokok-pokok akidah Islam, yaitu beriman kepada Allah Yang Maha Esa, mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, meyakini bahwa Allah tidak menyerupai makhluk sebagaimana firman Allah dalam QS. Asy-Syura ayat 11, serta menetapkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah
Perbedaan Utama
Perbedaan yang berkembang di kalangan ulama bukanlah mengenai keesaan Allah atau kewajiban mengimani sifat-sifat-Nya, melainkan mengenai metode memahami ayat-ayat sifat. Pendekatan Salaf/Atsari menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam nash tanpa membahas hakikat caranya (bilā kaif), sedangkan pendekatan Asy’ari dan Maturidi menggunakan metode tafwidh atau ta’wil dalam kondisi tertentu untuk menjaga prinsip tanzih (pensucian Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk). Oleh karena itu, perbedaan ini dipahami sebagai perbedaan metodologi (manhaj) dalam penafsiran, bukan perbedaan dalam pokok akidah Islam.
Pembahasan
Perbedaan antara pendekatan Salaf/Atsari dan Asy’ari–Maturidi pada hakikatnya merupakan perbedaan dalam metodologi (manhaj) memahami ayat-ayat sifat Allah, bukan perbedaan dalam pokok akidah. Kedua kelompok sama-sama beriman bahwa Allah Maha Esa, memiliki sifat-sifat kesempurnaan, serta tidak menyerupai makhluk sebagaimana ditegaskan dalam QS. Asy-Syura ayat 11. Pendekatan Salaf/Atsari menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa melakukan tahrif (mengubah makna), ta’thil (menolak sifat), takyif (menanyakan bagaimana hakikatnya), maupun tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk). Prinsip yang mereka pegang adalah menerima nash sebagaimana datangnya (itsbat) disertai keyakinan bahwa hakikat sifat Allah hanya diketahui oleh Allah sendiri (bilā kaif).
Sementara itu, pendekatan Asy’ari–Maturidi juga menerima seluruh ayat dan hadis tentang sifat Allah sebagai wahyu yang benar, tetapi dalam kondisi tertentu menggunakan metode tafwidh (menyerahkan hakikat makna kepada Allah) atau ta’wil (memalingkan makna kepada pengertian yang dianggap sesuai dengan kaidah bahasa dan prinsip tanzih) apabila makna lahiriah dikhawatirkan menimbulkan pemahaman yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Oleh karena itu, perbedaan di antara kedua pendekatan lebih berkaitan dengan cara memahami dan menjelaskan nash, bukan mengenai keesaan Allah atau kewajiban mentauhidkan-Nya. Dalam khazanah Ahlus Sunnah, keduanya sama-sama bertujuan memuliakan Allah, menjaga kemurnian akidah, dan menegaskan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah.
Perbedaan ini telah menjadi pembahasan klasik dalam ilmu akidah. Mayoritas ulama sepakat pada pokok akidah bahwa Allah Maha Esa, tidak menyerupai makhluk (QS. Asy-Syura: 11), dan memiliki sifat-sifat yang sempurna. Perbedaannya terutama terletak pada metode memahami ayat-ayat sifat, bukan pada keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa.
| Aspek | Pendekatan Salaf/Atsari | Pendekatan Asy’ari–Maturidi |
|---|---|---|
| Makna istiwa’ | Menetapkan istiwa’ sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, tanpa membahas “bagaimana” (bilā kaif). | Sebagian memilih tafwidh (menyerahkan hakikat makna kepada Allah), sebagian melakukan ta’wil bila dianggap diperlukan. |
| Tempat Allah | Allah di atas ‘Arsy sebagaimana dinyatakan dalam nash, namun tidak seperti makhluk dan tidak dapat dibayangkan. | Allah tidak dibatasi tempat atau arah; ‘Arsy adalah makhluk Allah. |
| Metode | Berpegang pada makna lahiriah nash tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk. | Menjaga nash sekaligus menggunakan kaidah bahasa dan teologi untuk menghindari pemahaman yang menyerupakan Allah dengan makhluk. |
| Tokoh | , , | , , , |
Bagaimana ulama menilai perbedaan ini?
- Ulama Salaf/Atsari menilai bahwa metode paling selamat adalah menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya tanpa menakwilkan ayat-ayat sifat, berdasarkan prinsip bilā kaif (tanpa menanyakan bagaimana) dan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.
- Ulama Asy’ari dan Maturidi menilai bahwa jika suatu lafaz berpotensi dipahami secara menyerupakan Allah dengan makhluk, maka tafwidh atau ta’wil dapat dilakukan untuk menjaga kemahasucian Allah (tanzih).
Dalam sejarah Islam, kedua pendekatan ini sama-sama berada dalam tradisi Ahlus Sunnah, meskipun terdapat perbedaan dan kritik di antara para ulama terhadap metode masing-masing. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari diskusi ilmiah dalam ilmu akidah, sedangkan mereka tetap sepakat bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk dan hanya Allah yang berhak disembah.
Saran bagi Umat Islam
Perbedaan metodologi dalam memahami ayat-ayat sifat Allah hendaknya disikapi dengan ilmu, adab, dan sikap saling menghormati. Umat Islam sebaiknya tidak mudah menyesatkan atau mengkafirkan sesama muslim hanya karena perbedaan pendekatan yang masih berada dalam koridor Ahlus Sunnah, selama tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, dan prinsip tauhid yang benar. Diskusi ilmiah hendaknya dilakukan dengan argumentasi yang kuat, mengedepankan hikmah, serta menghindari fanatisme yang dapat memecah belah persatuan umat.
Umat Islam juga dianjurkan untuk terus mempelajari akidah dari para ulama yang terpercaya, memperbanyak tadabbur Al-Qur’an dan hadis, serta mengutamakan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan ijtihad hendaknya menjadi sarana memperkaya khazanah keilmuan Islam, bukan sumber permusuhan. Persatuan umat di atas akidah tauhid, ukhuwah Islamiyah, dan akhlak mulia harus senantiasa dijaga, sebagaimana firman Allah, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai” (QS. Ali ‘Imran: 103).
Umat Islam hendaknya mempelajari masalah akidah dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan penjelasan para ulama yang kompeten dengan sikap ilmiah, rendah hati, dan menjunjung tinggi adab dalam perbedaan. Perbedaan metodologi dalam memahami ayat-ayat sifat Allah tidak boleh menjadi sebab perpecahan, permusuhan, atau saling menyesatkan tanpa dasar yang jelas. Yang terpenting adalah menjaga kemurnian tauhid, meyakini bahwa Allah Maha Esa, memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya sebagaimana firman Allah dalam QS. Asy-Syura ayat 11.
Kesimpulan
Perbedaan pemahaman mengenai istiwa’ Allah di atas ‘Arsy merupakan salah satu pembahasan klasik dalam ilmu akidah Islam. Perbedaan tersebut berpusat pada metodologi memahami ayat-ayat sifat, bukan pada keyakinan terhadap keesaan Allah. Salaf/Atsari menetapkan sifat Allah sebagaimana datang dalam nash tanpa takyif dan tamtsil, sedangkan Asy’ari–Maturidi menggunakan pendekatan tafwidh atau ta’wil dalam kondisi tertentu untuk menjaga prinsip tanzih. Kedua pendekatan tetap berada dalam khazanah intelektual Islam Sunni dan sama-sama berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, serta penghormatan terhadap kemahasucian Allah. Oleh karena itu, perbedaan ini hendaknya dipahami sebagai bagian dari ijtihad ilmiah yang tidak menghilangkan kesepakatan mereka dalam pokok-pokok akidah Islam.













Leave a Reply