Tanya Jawab: Bagaimana Islam Memandang Mimpi yang Ternyata Menjadi Kenyataan?
Pertanyaan:
“Seorang ayah bermimpi didatangi kakek buyutnya yang telah meninggal. Dalam mimpi tersebut, sang kakek buyut memperingatkan sang Ayah agar anaknya segera berhenti bekerja karena sedang berada dalam bahaya. Ayah tersebut tidak mengetahui kondisi anaknya karena tinggal di luar kota dan belum mendapat kabar apa pun. Beberapa waktu kemudian, baru diketahui bahwa anaknya memang benar sedang menghadapi bahaya serius di tempat kerjanya. Bagaimana Islam memandang kejadian seperti ini? Apakah benar arwah kakek buyut datang memberikan peringatan?”
Jawaban:
Islam mengakui bahwa mimpi yang benar (ru’ya shalihah) memang ada. Rasulullah ﷺ bersabda, “Mimpi yang baik adalah dari Allah, sedangkan mimpi yang buruk adalah dari setan.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Dalam hadis lain beliau bersabda, “Mimpi yang baik adalah salah satu dari empat puluh enam bagian kenabian.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Al-Qur’an juga menceritakan mimpi yang menjadi kenyataan, seperti mimpi Yusuf (QS. Yusuf: 4 dan 100), mimpi Ibrahim (QS. Ash-Shaffat: 102), dan mimpi Muhammad tentang penaklukan Makkah (QS. Al-Fath: 27). Namun, mimpi para nabi merupakan wahyu, sedangkan mimpi selain nabi bukanlah wahyu dan tidak menjadi sumber syariat.
Apabila sebuah mimpi ternyata sesuai dengan kenyataan, hal itu tidak otomatis membuktikan bahwa arwah orang yang telah meninggal benar-benar datang menyampaikan pesan. Islam mengajarkan bahwa perkara gaib hanya diketahui oleh Allah. Allah berfirman, “Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah.” (QS. An-Naml: 65). Allah juga berfirman, “Dialah Yang Mengetahui yang gaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.” (QS. Al-Jinn: 26–27). Oleh karena itu, yang lebih sesuai dengan akidah Ahlus Sunnah adalah memahami bahwa Allah dapat memberikan peringatan atau ilham melalui mimpi, sedangkan hakikat bagaimana mimpi itu terjadi merupakan urusan Allah. Adapun munculnya sosok kakek buyut dalam mimpi tidak dapat dijadikan dalil bahwa ruh beliau benar-benar datang atau mengetahui keadaan orang yang masih hidup.
Karena itu, apabila mimpi tersebut mendorong seseorang melakukan kebaikan yang dibenarkan syariat, seperti menghubungi anaknya, mengingatkan agar berhati-hati, atau memperbanyak doa, maka hal itu tidak mengapa. Namun, mimpi tidak boleh dijadikan dasar untuk menetapkan hukum, membangun akidah, atau meyakini bahwa orang yang telah meninggal dapat secara bebas menyampaikan berita gaib kepada manusia. Para ulama menjelaskan bahwa mimpi orang saleh dapat menjadi kabar gembira atau peringatan bagi dirinya, tetapi tidak dapat dijadikan hujah syariat. Oleh sebab itu, jika dalam kisah tersebut sang ayah akhirnya mengetahui bahwa anaknya benar-benar berada dalam bahaya, seorang Muslim boleh memandangnya sebagai karunia dan pertolongan Allah yang diberikan melalui sebab yang hanya Allah ketahui, sambil tetap meyakini bahwa seluruh ilmu gaib berada di tangan Allah semata dan bahwa Al-Qur’an serta Sunnah tetap menjadi satu-satunya dasar akidah dan hukum Islam.











Leave a Reply