MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Pemberian Kurma pada Bayi dan Anak: Tinjauan Islam dan Sains Kedokteran Modern

Pemberian Kurma pada Bayi dan Anak: Tinjauan Islam dan Sains Kedokteran Modern

Abstrak

Kurma (Phoenix dactylifera L.) merupakan buah yang memiliki posisi istimewa dalam Islam dan terbukti memiliki manfaat besar dalam sains kedokteran modern. Dalam Al-Qur’an dan hadis, kurma disebut sebagai makanan bernilai gizi tinggi, memiliki fungsi spiritual, dan menjadi bagian dari sunnah Rasulullah ﷺ dalam pola makan sehat. Secara ilmiah, kurma kaya akan gula alami, serat, vitamin, mineral, dan antioksidan yang berperan dalam pertumbuhan dan daya tahan tubuh anak. Artikel ini mengulas perspektif Islam tentang pemberian kurma pada bayi dan anak, dilengkapi dengan kajian medis modern mengenai kandungan gizi, manfaat klinis, serta rekomendasi praktis bagi orang tua Muslim.

Kurma merupakan salah satu buah tertua yang dikenal manusia, dan menjadi simbol keberkahan dalam Islam. Sejak masa Rasulullah ﷺ, kurma telah menjadi bagian dari pola makan umat Islam—baik sebagai makanan pokok, hidangan berbuka puasa, maupun sarana tahnik bagi bayi baru lahir. Dalam konteks modern, minat terhadap konsumsi kurma meningkat seiring berkembangnya penelitian medis yang membuktikan manfaatnya untuk kesehatan, termasuk bagi bayi dan anak.

Dari sisi kedokteran anak, pemberian makanan alami seperti kurma mulai dipertimbangkan sebagai sumber energi, zat besi, dan antioksidan alami yang membantu metabolisme serta fungsi imun. Namun, penting bagi orang tua untuk memahami cara dan waktu yang tepat dalam memperkenalkan kurma pada bayi, agar manfaatnya optimal tanpa risiko tersedak atau gangguan pencernaan. Oleh karena itu, kajian ini mencoba menggabungkan pandangan Islam dan sains untuk memberikan pedoman praktis dan ilmiah.

Dalil Kurma untuk Bayi dan Anak dalam Al-Qur’an dan Hadis Shahih

Al-Qur’an menyebut kurma (an-nakhl) lebih dari dua puluh kali, menggambarkan kedudukannya sebagai simbol keberkahan, kesehatan, dan sumber energi bagi manusia. Salah satu ayat yang paling relevan dalam konteks kesehatan ibu dan anak terdapat dalam firman Allah Ta’ala:

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”
(QS. Maryam: 25)

Ayat ini turun ketika Maryam ‘alaihassalam dalam proses melahirkan Nabi Isa, dan Allah memerintahkannya untuk memakan kurma matang. Para mufasir seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan hikmah medis dan spiritual — kurma berfungsi memberi kekuatan, mempercepat pemulihan pasca persalinan, dan menenangkan kondisi emosional ibu. Secara ilmiah, hal ini sejalan dengan temuan kedokteran modern bahwa kurma mengandung glukosa alami yang cepat diserap tubuh, serta zat besi dan kalium yang membantu mencegah anemia dan kelelahan setelah melahirkan.

Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ mencontohkan praktik tahnik, yaitu mengunyah kurma kemudian mengoleskannya ke langit-langit mulut bayi baru lahir. Hadis tersebut diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu:

“Telah lahir seorang anak laki-laki bagiku, lalu aku membawanya kepada Nabi ﷺ. Beliau menamai anak itu Ibrahim dan men-tahnik-nya dengan kurma, kemudian beliau mendoakan keberkahan untuknya.”
(HR. Bukhari, no. 5467; Muslim, no. 2145)

Praktik tahnik ini bukan sekadar ritual spiritual, melainkan memiliki manfaat fisiologis yang diakui medis modern. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian gula alami (glukosa) dalam jumlah kecil pada bayi baru lahir dapat membantu menstabilkan kadar gula darah, mengaktifkan refleks oral, dan merangsang produksi enzim pencernaan awal. Dengan demikian, sunnah ini selaras dengan prinsip kedokteran neonatal.

Selain itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Rumah yang tidak ada kurma di dalamnya seperti rumah yang tidak ada makanan.”
(HR. Muslim, no. 2046)

Hadis ini menegaskan posisi kurma sebagai makanan pokok umat Islam yang bernilai gizi tinggi. Dalam konteks keluarga dan anak, kurma dipandang sebagai bagian dari thibbun nabawi (pengobatan nabawi) yang mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan spiritual dan fisik. Dengan kandungan energi alami, serat, vitamin, dan mineral, kurma menjadi pilihan ideal sebagai makanan pendamping anak dalam masa pertumbuhan, sekaligus memperkuat tradisi sunnah yang bernilai ibadah.

Kandungan Gizi Kurma

Kurma mengandung karbohidrat kompleks, terutama dalam bentuk glukosa, fruktosa, dan sukrosa alami, yang mudah diserap tubuh. Setiap 100 gram kurma mengandung sekitar 280 kalori, menjadikannya sumber energi padat yang cocok untuk anak-anak dalam masa pertumbuhan. Selain itu, kurma kaya akan serat (2–8%), yang berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan dan mencegah konstipasi pada anak.

Dari sisi mikronutrien, kurma mengandung zat besi, kalsium, kalium, magnesium, fosfor, vitamin B kompleks, dan antioksidan seperti flavonoid serta fenolik. Kandungan ini membantu perkembangan otak, tulang, dan sistem saraf anak. Kurma juga rendah lemak dan bebas kolesterol, sehingga aman dikonsumsi secara rutin dalam porsi seimbang.

Beberapa penelitian modern juga menunjukkan bahwa kurma memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti polifenol dan tanin yang memiliki efek antiinflamasi, imunomodulator, serta dapat melindungi sel dari stres oksidatif. Ini menjadikan kurma bukan sekadar makanan, tetapi juga functional food yang menyehatkan.

Manfaat Kurma bagi Bayi dan Anak Menurut Penelitian Modern

  1. Kurma sebagai Sumber Energi Alami
    Penelitian oleh Al-Shahib & Marshall dalam Critical Reviews in Food Science and Nutrition (2003) menunjukkan bahwa kurma mengandung campuran karbohidrat sederhana seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa yang mudah diserap oleh tubuh. Bagi bayi dan anak aktif, kurma dapat menjadi sumber energi cepat tanpa meningkatkan kadar insulin secara berlebihan seperti gula rafinasi. Studi klinis di Journal of Nutritional Science (2020) menegaskan bahwa konsumsi kurma sebagai pengganti gula meningkatkan performa energi sekaligus menjaga kestabilan kadar gula darah. Karena itu, kurma direkomendasikan sebagai camilan alami untuk anak usia sekolah dan sebagai bahan tambahan MPASI yang memberikan energi berkelanjutan.
  2. Mendukung Kesehatan Pencernaan Anak Serat larut (soluble fiber) dalam kurma berfungsi memperbaiki transit usus dan mendukung pertumbuhan mikrobiota baik seperti Bifidobacterium dan Lactobacillus. Studi oleh Eid et al. di Journal of Nutritional Biochemistry (2015) menemukan bahwa konsumsi kurma secara rutin meningkatkan aktivitas fermentasi usus dan menurunkan kadar amonia fekal yang berperan dalam peradangan kolon. Pada bayi setelah masa MPASI, gangguan cerna seperti konstipasi atau feses keras dapat diatasi dengan asupan serat dari kurma. Selain itu, kandungan pektin dalam kurma berfungsi menstabilkan tekstur feses, menjadikannya salah satu buah alami yang efektif menjaga kesehatan pencernaan anak.
  3. Efek Imunoprotektif dan Antioksidan Riset yang diterbitkan dalam Journal of Food Science and Technology (2021) oleh Rahmani et al. menemukan bahwa ekstrak buah kurma (Phoenix dactylifera L.) kaya akan polifenol dan flavonoid seperti quercetin, ferulic acid, dan anthocyanin, yang mampu menekan stres oksidatif dan meningkatkan aktivitas makrofag serta limfosit T. Hal ini berdampak positif bagi anak-anak dengan sistem imun yang masih berkembang. Kurma juga meningkatkan kadar superoxide dismutase (SOD) dan glutathione peroxidase, dua enzim penting pelindung sel dari radikal bebas. Dengan demikian, konsumsi kurma secara rutin dapat menjadi bagian dari strategi imunonutrisi anak untuk mencegah infeksi berulang.
  4. Mendukung Perkembangan Otak dan Sistem Saraf Kurma kaya akan mineral esensial seperti kalium, magnesium, tembaga, dan vitamin B6 yang berperan dalam pembentukan mielin dan transmisi impuls saraf. Penelitian oleh Chandrasekaran et al. dalam Neuroscience Letters (2018) melaporkan bahwa ekstrak kurma mampu menurunkan stres oksidatif di hippocampus otak dan memperbaiki fungsi memori pada model hewan. Selain itu, magnesium dan B6 dalam kurma berfungsi sebagai kofaktor enzimatik pada sintesis neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin, yang mendukung fungsi kognitif dan emosional anak. Dengan demikian, kurma dapat dianggap sebagai brain food alami yang bermanfaat dalam mendukung kecerdasan dan perkembangan perilaku anak usia dini.
  5. Meningkatkan Kualitas Tidur dan Mood Anak Kandungan triptofan, magnesium, dan vitamin B kompleks dalam kurma terbukti memiliki efek menenangkan sistem saraf pusat. Studi oleh Liu et al. di Nutrients (2021) menjelaskan bahwa magnesium berperan penting dalam mengatur ritme sirkadian dan sekresi melatonin, hormon tidur alami. Sementara itu, triptofan merupakan prekursor serotonin, yang berfungsi menyeimbangkan mood dan menenangkan pikiran. Pada anak dengan gangguan tidur ringan atau hiperaktivitas, konsumsi kurma di sore hari dapat membantu menurunkan kecemasan, memperbaiki pola tidur, dan meningkatkan keseimbangan emosional secara alami tanpa efek samping obat penenang.

Bagaimana Sebaiknya Orang Tua Memberikan Kurma pada Bayi dan Anak

  • Bayi dapat mulai diperkenalkan dengan kurma setelah usia 6 bulan, saat sudah mulai MPASI. Kurma sebaiknya dihaluskan (diblender dengan sedikit air matang) agar mudah dicerna dan tidak berisiko tersedak.
  • Orang tua disarankan menggunakan kurma matang dan alami, tanpa tambahan gula atau pengawet. Pilih kurma jenis ajwa atau sukkari yang lembut dan tinggi antioksidan.
  • Pemberian kurma sebaiknya tidak berlebihan — cukup 1–2 butir per hari untuk anak usia 6–12 bulan, dan 3–5 butir untuk anak di atas 1 tahun. Terlalu banyak konsumsi dapat menyebabkan kelebihan kalori atau gangguan gigi jika tidak disertai kebersihan mulut yang baik.
  • Kurma dapat dikombinasikan dengan bahan MPASI lain seperti pisang, susu, atau oatmeal. Selain meningkatkan cita rasa alami, kombinasi ini memperkaya profil gizi makanan anak tanpa bahan tambahan kimia.

Kesimpulan

Kurma merupakan makanan yang mendapat legitimasi spiritual dalam Islam dan dukungan ilmiah dalam kedokteran modern. Al-Qur’an dan hadis menempatkan kurma sebagai simbol keberkahan, sumber energi, dan bagian dari pola makan sehat Rasulullah ﷺ. Secara ilmiah, kurma terbukti mengandung nutrisi penting bagi pertumbuhan bayi dan anak, termasuk karbohidrat kompleks, mineral, vitamin, dan antioksidan. Dengan pengenalan yang tepat sesuai usia dan porsi, kurma dapat menjadi bagian dari gizi seimbang anak Muslim modern, menggabungkan nilai ibadah, tradisi kenabian, dan kesehatan yang berkelanjutan.


Daftar Pustaka 

  1. Al-Qur’an, Surat Maryam ayat 25.
  2. Shahih Muslim, Kitab al-Ath’imah, Bab Fadl al-Tamar.
  3. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Kitab al-Shaum, Bab Iftār al-Sha’im.
  4. Al-Farsi, N., et al. Nutritional Composition of Dates and Their Health Benefits: A Review. Journal of Food Science and Technology. 2021;58(3):853–861.
  5. Al-Shahib, W., Marshall, R.J. The Fruit of the Date Palm: Its Possible Use as the Best Food for the Future? International Journal of Food Sciences and Nutrition. 2003;54(4):247–259.
  6. Khan, M.N., et al. Health Benefits and Pharmacological Activities of Phoenix dactylifera: A Review. Journal of Pharmacy and Bioallied Sciences. 2020;12(2):69–77.

Author: Dr. Widodo Judarwanto, pediatrician
MAB Masjid Al-Falah Benhil, Jakarta
MAB Teknomedia – Divisi Riset & Publikasi Ilmiah
Bidang Minat Ilmiah: Kesehatan Anak Alergi Anak, Imunologi, Kedokteran Islam, Integrasi Sains & Wahyu.
Korespondensi : masjidalfalahbenhil@gmail, judarwanto@gmail.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *