BENARKAH ADA REVISI AL-QUR’AN TAHUN 1924 DI MESIR: TINJAUAN HISTORIS DAN ILMIAH TENTANG KODIFIKASI MUSHAF SERTA KESATUAN TEKS AL-QUR’AN
DrWJped
ABSTRAK
Di berbagai media sosial sering muncul klaim bahwa Al-Qur’an telah direvisi beberapa kali dan revisi terakhir dilakukan di Kairo, Mesir, pada tahun 1924. Sebagian pihak bahkan menyatakan bahwa setiap negara memiliki versi Al-Qur’an yang berbeda sehingga teks Al-Qur’an tidak lagi sama seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Tulisan ini bertujuan mengkaji klaim tersebut berdasarkan fakta sejarah, ilmu qira’at, ilmu rasm mushaf, dan kajian manuskrip Al-Qur’an. Hasil kajian menunjukkan bahwa Mushaf Kairo tahun 1924 bukanlah revisi Al-Qur’an, melainkan standardisasi penulisan dan pencetakan berdasarkan salah satu qira’at yang sahih, yaitu riwayat Hafsh dari Ashim. Perbedaan yang ada di dunia Islam bukanlah perbedaan isi Al-Qur’an, melainkan variasi qira’at yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ dan diwariskan secara mutawatir sejak generasi sahabat.
PENDAHULUAN
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diyakini terjaga keasliannya sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ lebih dari empat belas abad yang lalu. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9). Karena itu, setiap tuduhan bahwa Al-Qur’an telah mengalami perubahan, revisi, atau penyimpangan selalu menjadi perhatian serius dalam kajian Islam.
Salah satu tuduhan yang sering beredar adalah bahwa Al-Qur’an direvisi di Mesir pada tahun 1924 sehingga mushaf yang beredar saat ini berbeda dengan mushaf sebelumnya. Klaim lain menyebutkan bahwa setiap negara memiliki versi Al-Qur’an yang berbeda-beda. Untuk memahami masalah ini secara objektif diperlukan kajian sejarah yang membedakan antara perubahan isi Al-Qur’an dan standardisasi penulisan mushaf.
BENARKAH ADA REVISI AL-QUR’AN TAHUN 1924 DI MESIR: TINJAUAN HISTORIS DAN ILMIAH TENTANG KODIFIKASI MUSHAF SERTA KESATUAN TEKS AL-QUR’AN
SEJARAH KODIFIKASI AL-QUR’AN
Pada masa Nabi Muhammad ﷺ, Al-Qur’an dihafal oleh para sahabat dan ditulis pada berbagai media seperti pelepah kurma, kulit, batu tipis, dan tulang. Setelah wafatnya Nabi ﷺ, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan pengumpulan seluruh ayat Al-Qur’an dalam satu mushaf karena banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam peperangan Yamamah.
Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, wilayah Islam berkembang sangat luas. Muncul perbedaan dialek bacaan di berbagai daerah sehingga Utsman membentuk tim yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit untuk membuat mushaf standar berdasarkan bacaan yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Mushaf inilah yang kemudian dikenal sebagai Mushaf Utsmani dan menjadi dasar seluruh mushaf Al-Qur’an hingga sekarang.
APA YANG TERJADI DI KAIRO TAHUN 1924?
Tahun 1924, pemerintah Mesir melalui Komite Al-Azhar menerbitkan Mushaf Kairo atau Cairo Edition. Tujuannya bukan merevisi Al-Qur’an, melainkan menyeragamkan sistem pencetakan Al-Qur’an yang saat itu masih memiliki variasi tanda baca, nomor ayat, dan tata letak halaman. Mushaf tersebut menggunakan qira’at Hafsh dari Ashim yang memang menjadi bacaan paling luas digunakan di dunia Islam. Teks Al-Qur’annya tetap sama. Yang distandarkan adalah penulisan harakat, tanda waqaf, penomoran ayat, dan tata letak cetak agar memudahkan proses pendidikan di sekolah-sekolah Mesir.
Pada tahun 1924, Kementerian Pendidikan Mesir bersama para ulama dari Universitas Al-Azhar menerbitkan mushaf cetak standar yang kemudian dikenal sebagai Mushaf Kairo (Cairo Edition). Latar belakangnya bukan karena ditemukan kesalahan dalam Al-Qur’an atau karena adanya perubahan isi Al-Qur’an, melainkan karena sekolah-sekolah di Mesir saat itu menggunakan berbagai mushaf cetakan yang berbeda dalam penempatan tanda baca, nomor ayat, simbol waqaf, dan tata letak halaman. Perbedaan teknis ini sering menimbulkan kebingungan bagi para siswa dan guru. Karena itu, pemerintah Mesir membentuk komite ilmiah untuk menyusun satu mushaf standar yang dapat digunakan secara seragam dalam sistem pendidikan nasional. Proyek ini merupakan standardisasi percetakan, bukan revisi wahyu atau perubahan isi Al-Qur’an.
Komite tersebut memilih qira’at Hafsh dari Ashim sebagai dasar penyusunan mushaf karena pada saat itu qira’at tersebut merupakan bacaan yang paling luas digunakan di Mesir dan sebagian besar dunia Islam. Penting dipahami bahwa pemilihan qira’at Hafsh bukan berarti menghapus qira’at lain yang sah. Sejak masa Rasulullah ﷺ, berbagai qira’at mutawatir telah diajarkan dan diterima umat Islam. Mushaf Kairo hanya menetapkan satu qira’at sebagai standar pendidikan nasional agar proses belajar mengajar lebih mudah. Teks ayat, surat, dan kandungan Al-Qur’an tetap sama sebagaimana yang diwariskan sejak masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Tidak ada satu pun surat yang ditambah, dikurangi, atau diganti dalam proyek tersebut.
Bukti sejarah menunjukkan bahwa Mushaf Kairo 1924 justru memperkuat pelestarian Al-Qur’an. Naskah yang digunakan dalam penyusunannya merujuk kepada tradisi Mushaf Utsmani yang telah dipelihara selama lebih dari 1.300 tahun sebelumnya. Para peneliti modern yang membandingkan Mushaf Kairo dengan manuskrip kuno seperti Mushaf Topkapi di Turki, Mushaf Tashkent di Uzbekistan, fragmen Birmingham yang berasal dari abad pertama Hijriah, serta manuskrip Sana’a di Yaman menemukan kesesuaian teks yang sangat tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an yang dicetak di Kairo tahun 1924 bukanlah Al-Qur’an baru, melainkan kelanjutan dari tradisi penyalinan Al-Qur’an yang telah berlangsung sejak masa sahabat Nabi.
Karena itu, klaim bahwa “Al-Qur’an direvisi di Mesir tahun 1924” tidak sesuai dengan fakta sejarah. Yang direvisi hanyalah aspek teknis percetakan seperti harakat, tanda waqaf, nomor ayat, dan tata letak halaman agar lebih seragam dan mudah dipelajari. Isi Al-Qur’an tetap sama. Jika benar terjadi revisi terhadap teks Al-Qur’an, tentu akan ditemukan perbedaan besar antara Mushaf Kairo dengan ribuan manuskrip kuno yang tersebar di berbagai negara. Namun penelitian sejarah dan filologi justru menunjukkan kesinambungan teks yang luar biasa dari masa sahabat hingga mushaf yang dibaca umat Islam saat ini. Inilah sebabnya para sejarawan dan pakar manuskrip Al-Qur’an membedakan secara tegas antara “standardisasi cetakan” dan “revisi teks”, karena peristiwa Kairo 1924 termasuk yang pertama, bukan yang kedua.
APAKAH AL-QUR’AN DIREVISI?
Secara ilmiah, tidak ada bukti bahwa Mushaf Kairo 1924 mengubah isi Al-Qur’an. Tidak ada penambahan surat, pengurangan ayat, ataupun perubahan makna yang disengaja.
Yang terjadi adalah standardisasi teknis penerbitan. Perbedaannya dapat dianalogikan seperti penerbitan ulang kamus atau kitab klasik dengan tata letak yang lebih rapi tanpa mengubah isi pokoknya. Karena itu, istilah “revisi Al-Qur’an” untuk Mushaf Kairo 1924 tidak tepat secara akademik maupun historis.
MENGAPA ADA BERBAGAI BACAAN AL-QUR’AN?
Sebagian orang mengira adanya qira’at yang berbeda berarti terdapat banyak versi Al-Qur’an. Anggapan ini tidak benar. Rasulullah ﷺ sendiri menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam beberapa cara bacaan yang dikenal sebagai ahruf dan qira’at.
Qira’at yang sahih memiliki sanad mutawatir sampai kepada Rasulullah ﷺ. Perbedaannya biasanya menyangkut cara pengucapan, panjang pendek bacaan, atau pilihan kata yang maknanya tetap sejalan. Variasi ini telah ada sejak zaman Nabi ﷺ dan bukan hasil perubahan generasi setelahnya.
APAKAH SETIAP NEGARA MEMILIKI AL-QUR’AN BERBEDA?
Tidak. Seluruh umat Islam memiliki 114 surat dan jumlah ayat yang sama dalam Al-Qur’an. Tidak ada negara yang memiliki surat tambahan atau ayat tambahan.
Yang berbeda hanyalah qira’at yang dominan digunakan. Di Indonesia, Arab Saudi, Turki, Pakistan, India, dan sebagian besar dunia Islam menggunakan riwayat Hafsh dari Ashim. Di sebagian wilayah Afrika Utara seperti Maroko digunakan riwayat Warsh dari Nafi’. Di Sudan terdapat penggunaan qira’at Ad-Duri dari Abu Amr. Namun seluruhnya merupakan qira’at yang sah dan diwariskan secara mutawatir.
BUKTI MANUSKRIP SEJARAH
Penelitian manuskrip kuno seperti Mushaf Topkapi di Turki, Mushaf Tashkent di Uzbekistan, manuskrip Sana’a di Yaman, dan fragmen Birmingham di Inggris menunjukkan kesesuaian yang sangat tinggi dengan mushaf Al-Qur’an yang dibaca umat Islam saat ini. Temuan-temuan tersebut menjadi bukti historis bahwa teks Al-Qur’an telah terpelihara secara luar biasa selama lebih dari 14 abad. Tidak ditemukan bukti adanya revisi besar yang mengubah isi Al-Qur’an sebagaimana yang sering dituduhkan.
Salah satu bukti paling kuat tentang keaslian Al-Qur’an adalah keberadaan manuskrip-manuskrip kuno yang berasal dari masa sangat awal Islam. Di antara manuskrip yang sering menjadi rujukan para peneliti adalah Mushaf Topkapi di Turki, Mushaf Tashkent di Uzbekistan, manuskrip Sana’a di Yaman, dan fragmen Birmingham di Inggris. Manuskrip-manuskrip tersebut berasal dari periode yang sangat dekat dengan masa para sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun ditulis di wilayah yang berbeda dan ditemukan pada masa yang berbeda pula, isi Al-Qur’an yang terkandung di dalamnya menunjukkan kesesuaian yang sangat tinggi dengan mushaf yang dibaca umat Islam saat ini.
Fragmen Birmingham yang tersimpan di Universitas Birmingham, Inggris, menjadi salah satu temuan yang paling menarik perhatian dunia akademik. Hasil penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa bahan kulit manuskrip tersebut berasal dari rentang waktu yang sangat dekat dengan masa hidup Rasulullah ﷺ atau generasi sahabat. Ketika teksnya dibandingkan dengan Al-Qur’an modern, tidak ditemukan perbedaan substansial dalam ayat-ayat yang termuat di dalamnya. Temuan ini memperkuat keyakinan bahwa Al-Qur’an telah ditransmisikan secara akurat sejak masa awal Islam.
Demikian pula manuskrip Sana’a yang ditemukan di Yaman pada tahun 1972. Manuskrip ini menjadi salah satu koleksi Al-Qur’an tertua yang pernah ditemukan. Setelah diteliti oleh para ahli filologi dan sejarah manuskrip, mayoritas perbedaan yang ditemukan hanya berupa variasi ejaan, cara penulisan huruf, atau tata tulis yang lazim terjadi pada naskah kuno. Tidak ditemukan bukti adanya perubahan ajaran, pengurangan surat, penambahan ayat, atau revisi besar sebagaimana yang sering dituduhkan oleh sebagian pihak. Justru penelitian tersebut menunjukkan stabilitas teks Al-Qur’an yang luar biasa dibandingkan banyak dokumen kuno lainnya.
Keberadaan manuskrip-manuskrip kuno dari berbagai wilayah dunia Islam menjadi bukti historis bahwa Al-Qur’an telah terpelihara selama lebih dari 14 abad. Jika benar pernah terjadi revisi besar terhadap Al-Qur’an, maka seharusnya ditemukan perbedaan mendasar antara manuskrip-manuskrip awal dengan mushaf yang digunakan saat ini. Namun fakta sejarah menunjukkan sebaliknya. Kesesuaian yang sangat tinggi antara manuskrip kuno dan mushaf modern menjadi salah satu bukti ilmiah bahwa teks Al-Qur’an tetap terjaga dari generasi ke generasi, sesuai dengan janji Allah SWT: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9).
KESIMPULAN
Fitnah bahwa Al-Qur’an direvisi di Mesir pada tahun 1924 tidak sesuai dengan fakta sejarah. Mushaf Kairo 1924 merupakan proyek standardisasi penulisan dan pencetakan Al-Qur’an, bukan perubahan isi Al-Qur’an. Teks Al-Qur’an yang digunakan tetap bersumber dari Mushaf Utsmani yang telah diwariskan secara mutawatir sejak masa sahabat.
Perbedaan mushaf yang ditemukan di berbagai negara umumnya berkaitan dengan qira’at yang sahih, bukan perbedaan isi Al-Qur’an. Seluruh umat Islam di dunia tetap membaca kitab yang sama dengan jumlah surat dan ayat yang sama. Oleh karena itu, secara historis, filologis, dan ilmiah, tidak terdapat bukti bahwa Al-Qur’an mengalami revisi substansial sebagaimana yang sering diklaim dalam berbagai tuduhan terhadap Islam.


















Leave a Reply