MAB MASJID AL-FALAH BENHIL

MAB PORTAL ISLAM: “Dari Masjid untuk Umat, Berbagi Ilmu dan Kebaikan”

EDITORIAL: BERBURU TAKJIL, BERBURU BERKAH: KETIKA TRADISI RAMADAN BERTEMU KESEHATAN DAN SPIRITUALITAS

BERBURU TAKJIL, BERBURU BERKAH: KETIKA TRADISI RAMADAN BERTEMU KESEHATAN DAN SPIRITUALITAS

Dr. Widodo Judarwanto

Setiap sore Ramadan, kota-kota Indonesia seakan memiliki denyut yang berbeda. Jalanan dipenuhi gerobak makanan, pasar sementara tumbuh di sudut-sudut permukiman, aroma kolak, kurma, gorengan, dan aneka minuman memenuhi udara. Di tengah suasana itu lahirlah istilah yang semakin akrab di kalangan generasi muda: berburu takjil. Ia bukan sekadar aktivitas membeli makanan untuk berbuka, melainkan fenomena sosial yang mempertemukan anak muda, keluarga, pedagang kecil, dan komunitas dalam satu ruang kebersamaan. Media sosial kemudian memperluas fenomena tersebut, menjadikan pasar takjil bukan hanya tempat berbelanja, tetapi juga bagian dari cerita Ramadan yang dibagikan kepada dunia.

Dari perspektif sosial-ekonomi, fenomena ini memiliki wajah yang menarik. Ramadan menciptakan ruang ekonomi temporer bagi pedagang rumahan, usaha mikro, penjual makanan tradisional, hingga pelaku ekonomi kreatif. Bagi anak muda, berjalan mencari takjil bersama teman atau keluarga juga dapat menjadi bentuk rekreasi sosial yang sederhana. Di tengah kehidupan modern yang semakin digital dan individualistik, pasar takjil menghadirkan interaksi tatap muka yang spontan. Ada transaksi ekonomi, tetapi di balik transaksi itu terdapat percakapan, senyum, solidaritas, dan kesempatan bagi masyarakat kecil memperoleh penghasilan. Takjil dengan demikian bukan hanya makanan; ia adalah bagian dari ekosistem sosial Ramadan.

Namun, di balik semaraknya pasar takjil terdapat pertanyaan kesehatan yang tidak boleh diabaikan: apakah semua yang menarik mata juga baik bagi tubuh? Setelah berpuasa selama berjam-jam, seseorang dapat memiliki dorongan kuat untuk mengonsumsi makanan dan minuman dalam jumlah besar. Makanan tinggi gula, lemak, dan energi memang memberikan kenikmatan yang cepat, tetapi konsumsi berlebihan saat berbuka dapat menimbulkan beban metabolik dan gangguan pencernaan pada sebagian orang. Karena itu, berburu takjil sebaiknya tidak berubah menjadi berburu kalori. Prinsip yang lebih sehat adalah memilih, menikmati, dan berhenti sebelum berlebihan.

Ilmu gizi modern menunjukkan bahwa pola makan selama Ramadan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan komposisi makanan, bukan sekadar lamanya seseorang berpuasa. Pola makan yang seimbang dapat membantu mempertahankan kecukupan energi dan zat gizi, sementara konsumsi berlebihan makanan ultra-proses, minuman berpemanis, serta makanan tinggi lemak dapat mengurangi kualitas diet. Respons tubuh juga berbeda pada setiap individu. Anak muda yang sehat mungkin mampu mentoleransi variasi makanan lebih baik, sedangkan mereka yang memiliki kondisi medis tertentu perlu menyesuaikan pilihan makanan. Karena itu, Ramadan bukan alasan untuk mengabaikan prinsip dasar nutrisi: cukup, beragam, seimbang, dan sesuai kebutuhan tubuh.

Islam sendiri tidak mengajarkan sikap berlebihan dalam makan. Allah berfirman, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Ayat ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan budaya konsumsi modern. Ramadan seharusnya menjadi bulan pengendalian diri, bukan bulan pelampiasan setelah seharian menahan lapar. Ketika seseorang membeli terlalu banyak makanan hanya karena semuanya tampak menggoda, kemudian makanan itu tidak habis, persoalannya bukan lagi sekadar kesehatan pribadi, tetapi juga menyentuh etika konsumsi dan penghargaan terhadap rezeki.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kesederhanaan dalam berbuka. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau dikenal berbuka sebelum shalat dengan kurma; jika tidak mendapatkannya, dengan air. Praktik tersebut menggambarkan kesederhanaan sekaligus keteraturan. Berbuka tidak harus dimulai dengan meja yang penuh makanan. Tubuh tidak membutuhkan pesta setelah lapar; tubuh membutuhkan pemulihan yang bertahap dan cukup. Pesan ini terasa semakin relevan ketika budaya digital menjadikan makanan sebagai tontonan: semakin menarik tampilannya, semakin ingin dibeli; semakin viral, semakin ingin dicoba.

Di sinilah generasi muda perlu membangun literasi pangan Ramadan. Tidak semua makanan viral harus dicoba, tidak semua tren kuliner harus diikuti, dan tidak setiap video makanan harus berakhir dengan pembelian. Anak muda dapat menjadikan berburu takjil sebagai latihan memilih makanan dengan cerdas: mencari buah, makanan tradisional dalam porsi wajar, sumber protein, air putih, dan makanan yang tidak terlalu tinggi gula atau lemak. Lebih indah lagi apabila sebagian rezeki yang tersedia digunakan untuk membeli dari pedagang kecil, berbagi makanan dengan orang lain, atau menyediakan takjil bagi mereka yang membutuhkan. Dengan demikian, kesenangan pribadi berubah menjadi kemaslahatan sosial.

Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang masuk ke mulut, tetapi apa yang tumbuh di dalam hati. Pasar takjil boleh ramai, tawa anak muda boleh memenuhi jalanan, kamera boleh merekam warna-warni makanan, dan media sosial boleh menjadikan suasana itu viral. Tetapi di balik seluruh kemeriahan tersebut terdapat pesan yang lebih sunyi: manusia sedang dilatih untuk bersyukur, mengendalikan keinginan, berbagi, dan menyadari bahwa rezeki bukan sekadar sesuatu yang dikonsumsi. Makanan yang dibeli dapat menghidupkan pedagang; makanan yang dibagi dapat menghidupkan persaudaraan; dan makanan yang dinikmati dengan syukur dapat menjadi bagian dari ibadah.

Maka, berburu takjil tidak harus menjadi simbol konsumtivisme Ramadan. Ia dapat menjadi wajah lain dari ekonomi umat, budaya kebersamaan, dan pendidikan kesehatan generasi muda. Dari gerobak sederhana di pinggir jalan, kita dapat belajar tentang rezeki. Dari kurma dan segelas air, kita belajar kesederhanaan. Dari keramaian pasar Ramadan, kita belajar kebersamaan. Dan dari rasa lapar, kita belajar bahwa nikmat tidak selalu harus dikejar dengan berlebihan. Sebab Ramadan pada hakikatnya bukanlah perjalanan menuju meja makan yang paling penuh, melainkan perjalanan menuju jiwa yang lebih penuh dengan syukur, tubuh yang lebih terjaga, dan hati yang lebih dekat kepada Allah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *