MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Kesalahan Parenting Islam Menurut Sunnah dan Ulama: Didiklah Ruh Anakmu, Bukan Hanya Jasad dan Duniawinya

ABSTRAK


Dalam Islam, pendidikan anak (parenting) merupakan amanah besar yang harus dijalankan berdasarkan bimbingan Al-Qur’an, sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan nasihat para ulama. Kesalahan umum yang banyak terjadi dalam parenting Islam masa kini adalah menitikberatkan pendidikan hanya pada urusan duniawi: prestasi akademik, karier gemilang, dan status sosial. Padahal, sunnah Rasul dan pandangan ulama menegaskan pentingnya pendidikan ruhani: penanaman iman, akhlak, adab, dan ketaatan kepada Allah sejak dini. Artikel ini menguraikan kesalahan-kesalahan mendasar dalam parenting Islam, serta memberikan arahan pendidikan anak berdasarkan tuntunan sunnah dan pemikiran ulama, agar orang tua mampu mencetak generasi mukmin yang kokoh imannya, bukan sekadar sukses dunianya.


Di zaman modern, tidak sedikit orang tua Muslim yang secara tidak sadar menggeser orientasi pendidikan anak-anak mereka kepada tujuan duniawi semata. Mereka berlomba-lomba menyiapkan pendidikan terbaik dalam bidang akademik, teknologi, bahasa, atau profesi bergengsi. Orang tua merasa berhasil apabila anaknya menjadi dokter, insinyur, atau pengusaha sukses. Namun, ketika anak gagal memenuhi ekspektasi tersebut, kekecewaan pun muncul, dan orang tua seringkali lupa bahwa tugas utama mereka bukanlah melahirkan anak yang bergelimang dunia, melainkan anak yang selamat dunia dan akhirat.

Padahal, Islam memberikan rambu-rambu yang sangat jelas dalam mendidik anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa setiap anak lahir dalam fitrah, dan tugas orang tua adalah menjaga serta menumbuhkan fitrah itu dalam tauhid, iman, dan akhlak yang baik. Kesalahan mendasar dalam parenting Islam bukan hanya karena lalai menanamkan ruh keimanan, tetapi juga karena terlalu sibuk memenuhi kebutuhan jasad dan mengabaikan kebutuhan hati dan ruh anak. Pendidikan yang hanya berorientasi dunia menjadikan anak rapuh, mudah gelisah, dan kehilangan pegangan hidup ketika ujian kehidupan datang. Maka, pembinaan ruhani menjadi pondasi utama dalam konsep parenting Islami menurut sunnah dan ulama.

Kesalahan Parenting Islam Menurut Al-Qur’an dan Hadits

  1. Mengutamakan Dunia Melebihi Akhirat Allah SWT memperingatkan dalam firman-Nya: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami akan berikan balasan amal mereka di dunia, namun mereka tidak memperoleh apa-apa di akhirat.” (QS. Hud: 15-16). Kesalahan utama banyak orang tua adalah menanamkan nilai bahwa kesuksesan dunia merupakan tujuan utama. Padahal, dalam Islam, dunia hanyalah sarana, bukan tujuan akhir.
  2. Tidak Menanamkan Tauhid Sejak Dini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (tauhid), maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jika orang tua lalai mengajarkan tauhid, anak akan tumbuh dalam kehampaan ruhani, mudah terseret ke dalam ideologi sesat atau materialisme murni yang hanya mementingkan dunia.
  3. Tidak Mengajarkan Akhlak Mulia Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Kesalahan parenting yang fatal adalah membiarkan anak cerdas secara akademik, namun lemah dalam akhlak, tidak santun, dan tidak memiliki adab Islami.
  4. Membiarkan Anak Tanpa Bimbingan Ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat pada usia tujuh tahun, dan pukullah mereka (dengan pukulan ringan) bila pada usia sepuluh tahun mereka masih meninggalkannya.” (HR. Abu Dawud). Tanpa disiplin ibadah sejak dini, anak akan tumbuh jauh dari ketaatan dan mudah meninggalkan kewajiban agamanya.
  5. Mengabaikan Doa dan Keteladanan Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang beriman berkata: ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (qurrota a’yun).'” (QS. Al-Furqan: 74). Kesalahan orang tua adalah mengandalkan ikhtiar duniawi semata, lupa bahwa doa dan keteladanan merupakan pendidikan utama yang sangat efektif dalam membentuk anak saleh.

Kesalahan Parenting Islam Menurut Ulama

  1. Imam Al-Ghazali Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin memberikan peringatan keras terhadap kesalahan parenting yang hanya sibuk memenuhi kebutuhan duniawi anak: makanan, pakaian, pendidikan formal, dan kesenangan sesaat, tetapi lalai membangun ruhani mereka. Menurut beliau, hakikat pendidikan bukan sekadar menyiapkan anak untuk sukses dalam urusan dunia, tetapi menanamkan keimanan, akhlak, dan kecintaan kepada akhirat. Anak yang hanya dididik untuk urusan dunia akan tumbuh kering secara ruhani dan kehilangan orientasi saat ujian kehidupan datang. Lebih jauh, Al-Ghazali mengingatkan bahwa dunia sejatinya hanyalah ujian fana. Bila anak tidak dibekali kecintaan kepada Allah, mereka akan menjadi budak harta, pangkat, dan hawa nafsu. Orang tua harus menyadari bahwa anak yang kuat ruhnya akan lebih mudah memilih kebenaran, menjauhi maksiat, dan dekat dengan Allah. Oleh sebab itu, pendidikan akhlak, ibadah, dan penguatan tauhid jauh lebih utama daripada sekadar pencapaian duniawi.
  2. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Ibnu Qayyim dalam Tuhfatul Maudud mengingatkan bahwa anak adalah amanah yang sangat berat di sisi Allah. Orang tua yang tidak serius dalam menanamkan iman, tauhid, dan takwa sejak kecil sama saja sedang mempersiapkan kehancuran hidup anak, baik di dunia maupun di akhirat. Kesalahan terbesar orang tua, menurut beliau, adalah mengejar ambisi pribadi atas masa depan duniawi anak tanpa memperhatikan kebutuhan ruhani mereka. Beliau menegaskan bahwa mendidik anak hanya demi prestasi dunia tanpa akidah yang kuat adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah. Anak yang tumbuh tanpa shalat, tanpa memahami Al-Qur’an, serta tanpa akhlak Islam yang baik akan menjadi generasi rapuh yang mudah terjerumus ke dalam fitnah dunia. Ibnu Qayyim menekankan bahwa tugas utama orang tua bukan menjadikan anaknya bergelar tinggi, melainkan menjadikan anak mukmin yang kokoh imannya.
  3. Syaikh Shalih Al-Fauzan Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam banyak ceramahnya menekankan kesalahan fatal orang tua masa kini yang lebih bangga ketika anaknya pintar dalam pelajaran umum, tetapi lalai dalam ibadah dan akhlak. Menurut beliau, ada kekeliruan besar jika orang tua menganggap pendidikan agama cukup diserahkan ke sekolah atau pesantren, sementara di rumah dibiarkan tanpa kontrol yang kuat. Beliau juga menegaskan pentingnya pembiasaan sejak dini dalam ibadah, khususnya shalat, membaca Al-Qur’an, dan adab terhadap orang tua. Orang tua yang hanya fokus pada nilai akademik, lomba, atau prestasi dunia akan menyesal ketika anaknya tumbuh tanpa rasa takut kepada Allah. Ketika anak jauh dari agama, maka kecerdasannya justru bisa menjadi alat maksiat dan sumber kesombongan.
  4. Syaikh Abdul Aziz bin Baz Syaikh Bin Baz rahimahullah menyatakan bahwa salah satu kesalahan parenting terbesar adalah membiarkan anak tumbuh dalam lingkungan yang jauh dari suasana iman. Orang tua sering terlalu longgar dalam hal pergaulan, tontonan, dan penggunaan teknologi tanpa filter, sehingga anak lebih mengenal budaya barat daripada adab Islam. Menurut beliau, pendidikan ruhani anak bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan keteladanan orang tua dalam rumah tangga. Orang tua yang malas shalat, sering berbohong, atau abai terhadap sunnah, secara tidak sadar sedang menanamkan sifat yang sama dalam diri anak. Sebaliknya, rumah yang penuh dzikir, shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan adab Islam akan menjadi sekolah akhlak yang paling efektif bagi pendidikan ruh anak.
  5. Imam Ibnul Jawzi Ibnul Jawzi dalam Shaidul Khatir menjelaskan bahwa orang tua seringkali tertipu oleh ambisi dunia, sehingga lalai mempersiapkan anaknya untuk kehidupan akhirat. Menurut beliau, tujuan hidup seorang Muslim bukan hanya mencari kemewahan, tetapi meraih keselamatan di hadapan Allah kelak. Ibnul Jawzi memperingatkan bahwa anak yang tidak dibiasakan mencintai ibadah, tidak ditanamkan adab dan rasa takut kepada Allah, akan tumbuh menjadi pribadi yang gersang ruhani. Maka, beliau mendorong para orang tua agar lebih banyak mengajarkan adab, akhlak, kecintaan kepada Al-Qur’an, dan penguatan keimanan, karena itulah harta warisan terbaik yang akan menolong anak di dunia dan akhirat.

Bagaimana Orang Tua Harus Bersikap

  • Prioritaskan pendidikan iman, akhlak, dan ibadah sejak usia dini Orang tua muslim harus menyadari bahwa pondasi utama dalam pendidikan anak adalah iman, akhlak, dan ibadah. Sejak kecil, anak perlu dikenalkan dengan kecintaan kepada shalat lima waktu, bacaan Al-Qur’an, dzikir pagi dan petang, serta adab sopan santun dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan ruhani ini akan menguatkan hati anak agar kelak mampu menghadapi berbagai ujian hidup dengan pondasi iman yang kokoh. Dengan menanamkan nilai-nilai ini sejak dini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang cinta Allah, Rasul-Nya, serta mampu menjaga diri dari godaan dunia.
  • Jangan memaksakan cita-cita duniawi sesuai ambisi pribadi Banyak orang tua terjebak dalam keinginan pribadi yang mendorong anak mengikuti cita-cita duniawi sesuai harapan mereka, seperti harus menjadi dokter, insinyur, atau pengusaha sukses. Padahal, setiap anak memiliki bakat dan kecenderungan fitrah yang berbeda. Selama pilihan hidup anak tetap berada dalam koridor syariat, biarkan mereka berkembang secara alami. Orang tua harus memahami bahwa profesi hanyalah sarana; sedangkan iman, akhlak, dan ketakwaan merupakan penentu kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat.
  • Jadilah teladan dalam kehidupan Keteladanan orang tua merupakan pendidikan paling efektif bagi anak. Anak-anak secara naluriah meniru sikap dan perilaku kedua orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, orang tua harus berusaha menampakkan ketekunan dalam beribadah, kesabaran dalam menghadapi ujian, kejujuran dalam berkata, serta ketawadhuan dalam bersikap. Keteladanan ini jauh lebih berkesan daripada sekadar memberi perintah atau nasihat lisan, karena anak akan belajar melalui contoh hidup yang nyata setiap hari.
  • Perbanyak doa  Setinggi apapun usaha orang tua dalam mendidik anak, hasil akhirnya tetap berada dalam kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, orang tua hendaknya memperbanyak doa memohon hidayah, keberkahan, dan keteguhan iman untuk anak-anak mereka. Doa adalah senjata orang beriman yang mampu menembus takdir. Sebab, hanya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Orang tua yang senantiasa bermunajat dengan hati ikhlas akan lebih tenang dan tawakal dalam proses mendidik anak-anak mereka.
  • Hikmah dalam mendidik anak adalah kunci membangun generasi Qur’ani Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 269 bahwa hikmah adalah karunia besar yang diberikan kepada hamba-Nya. Dalam konteks parenting, hikmah berarti kebijaksanaan dalam memilih waktu, metode, dan pendekatan mendidik anak. Orang tua yang bijak tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menyesuaikan cara mendidik sesuai kondisi jiwa anak. Dengan hikmah, orang tua dapat membangun generasi Qur’ani yang berakhlak mulia, menjadi penyejuk mata di dunia, dan menjadi amal jariyah di akhirat kelak.

Kesimpulan

Parenting Islam bukanlah tentang membentuk anak menjadi insan sukses dalam kacamata dunia semata. Pendidikan sejati dalam Islam adalah menanamkan iman, tauhid, akhlak, dan ketaatan kepada Allah sejak dini. Orang tua harus berhati-hati agar tidak mengikat masa depan anak semata pada gelar, jabatan, dan harta, melainkan mendidik mereka menjadi pribadi mukmin yang tangguh, berbakti, dan menjadi investasi akhirat. Dengan mengutamakan ruh anak di atas jasadnya, orang tua akan menyelamatkan dirinya dan keturunannya dari penyesalan yang abadi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *