MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Bahaya Orang Bodoh dan Tidak Berilmu dalam Pandangan Islam

Ilmu adalah pondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Ketidaktahuan atau kebodohan dalam Islam tidak hanya dianggap sebagai kekurangan individu, tetapi juga sebagai potensi kerusakan sosial yang sangat besar. Al-Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ memberikan peringatan keras terhadap dampak negatif orang bodoh dalam masyarakat, karena mereka bisa menjadi sumber fitnah, kesesatan, dan kehancuran moral. Artikel ini membahas bahaya orang bodoh dalam pandangan Islam menurut Al-Qur’an, hadits, serta pandangan para ulama, dan memberikan arahan bagi umat agar terhindar dari kebodohan serta dampaknya.

Ilmu pengetahuan dalam Islam memiliki kedudukan tinggi. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah untuk membaca, yang merupakan simbol awal dari gerakan intelektual dan spiritual dalam Islam. Dengan ilmu, seseorang dapat mengenal Allah, memahami syariat-Nya, dan menjalani kehidupan yang lurus. Sebaliknya, tanpa ilmu, manusia terjerumus dalam kebodohan, kesesatan, bahkan menjadi sumber kerusakan bagi dirinya dan orang lain.

Kebodohan bukanlah sekadar ketidaktahuan biasa, tetapi dalam perspektif Islam, ia bisa menimbulkan konsekuensi besar seperti penyebaran bid’ah, kesyirikan, hingga kekacauan dalam beragama dan bermasyarakat. Oleh karena itu, Islam menuntut umatnya untuk selalu belajar, menuntut ilmu, dan menjauhi sikap mengikuti hawa nafsu tanpa dasar ilmu. Bahaya kebodohan menjadi sangat besar ketika orang yang tidak berilmu merasa dirinya benar dan berani berbicara atas nama agama.

Bahaya Orang Bodoh Menurut Al-Qur’an

Al-Qur’an berulang kali mencela kebodohan dan memperingatkan dampaknya. Dalam Surah Al-A’raf ayat 179, Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Ayat ini menunjukkan bahwa kebodohan membuat manusia menjadi lebih buruk daripada hewan karena tidak menggunakan akal dan inderanya untuk mencari kebenaran.

Dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11, Allah memuliakan orang-orang berilmu dan memberikan derajat tinggi bagi mereka:
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Ayat ini secara tersirat juga menunjukkan bahwa orang yang tidak memiliki ilmu akan tertinggal dan tidak memperoleh kemuliaan dari Allah.

Surah Al-Zumar ayat 9 menegaskan keutamaan ilmu dan perbedaan antara orang berilmu dan tidak:
“Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
Perbedaan ini bukan hanya dalam tataran kognitif, melainkan juga menyangkut kualitas iman dan amal.

Dalam Surah Yunus ayat 100, Allah menjelaskan bahwa banyak orang tersesat karena kebodohan:
“…Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.”
Ayat ini menegaskan bahwa kebodohan bukan hanya pasif, tetapi bisa menjadi sebab turunnya azab Allah.

Surah Al-Baqarah ayat 170 mencela orang-orang yang mengikuti leluhur mereka secara membabi buta tanpa ilmu:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah’, mereka menjawab: ‘Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’”
Ini menegaskan bahwa kebodohan tradisional yang diwariskan tanpa ilmu adalah bentuk kesesatan yang berbahaya.

Bahaya Orang Bodoh Menurut Sunnah dan Hadits 

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari hamba-hamba-Nya, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Ketika ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa bahaya terbesar dari orang bodoh adalah menyebarkan kesesatan kepada orang lain.

Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda: “Satu orang alim lebih ditakuti oleh setan daripada seribu orang ahli ibadah.”
Hal ini menandakan bahwa kebodohan, meskipun dibalut dengan ibadah, tetap tidak memiliki kekuatan untuk melawan kebatilan sebagaimana ilmu mampu melakukannya.

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barang siapa yang berkata tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)
Hadits ini menunjukkan bahwa bicara agama tanpa ilmu adalah bentuk kebodohan yang fatal dan berbahaya bagi umat.

Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda: “Ilmu itu sebelum ucapan dan perbuatan.” (HR. Bukhari dalam muqaddimah Shahihnya)
Hadits ini menunjukkan bahwa dasar dari setiap ucapan dan tindakan dalam Islam haruslah ilmu. Tanpa ilmu, maka semua amal bisa sia-sia bahkan menjerumuskan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipuan. Pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan, pengkhianat dipercaya, dan orang amanah dikhianati. Dan akan berbicara ‘ruwaibidhah’.” Para sahabat bertanya: “Siapakah ‘ruwaibidhah’ itu?” Rasulullah menjawab: “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan umat.” (HR. Ibnu Majah)
Ini memperlihatkan betapa bahayanya ketika orang bodoh memegang kendali atau menjadi rujukan dalam masyarakat.

Pandangan Para Ulama tentang Bahaya Orang Bodoh 

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebut bahwa kebodohan adalah penyakit hati yang lebih berbahaya daripada penyakit jasmani. Sebab, kebodohan menjadikan seseorang tidak tahu mana yang benar dan salah, bahkan menolak kebenaran karena tidak memahami dalilnya.

Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan dalam Miftah Dar as-Sa’adah bahwa kebodohan adalah sebab utama kekufuran dan penyimpangan. Banyak kaum yang kufur bukan karena tidak mau menerima kebenaran, tetapi karena kebodohan dan kesombongan atas kebodohan tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa orang yang bodoh bisa lebih berbahaya daripada orang kafir dalam beberapa hal, karena mereka menyamar sebagai bagian dari umat namun menyebarkan pemahaman yang salah. Ia menekankan pentingnya menyebarkan ilmu untuk menangkal kebodohan.

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.” Pernyataan ini menekankan bahwa kebodohan adalah konsekuensi dari malas menuntut ilmu, dan bahayanya sangat besar bagi diri dan masyarakat.

Imam Malik menyatakan bahwa tidak setiap orang boleh berbicara tentang agama kecuali yang memiliki ilmu yang mendalam. Ia sangat menolak keras fatwa dari orang awam yang tidak menguasai dasar-dasar ilmu syar’i, karena dapat merusak agama.

Bagaimana Sebaiknya Umat Menyikapi Kebodohan? 

Pertama, umat Islam harus menyadari bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim, sebagaimana hadits: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah). Menunda-nunda belajar agama hanya akan memperbesar potensi terjerumus dalam kesalahan.

Kedua, umat harus bersikap hati-hati dalam menerima informasi, khususnya yang berkaitan dengan agama. Jangan mudah percaya pada ceramah atau fatwa dari orang yang tidak jelas latar belakang keilmuannya. Selalu rujuk kepada para ulama yang terpercaya dan memiliki sanad keilmuan yang sahih.

Ketiga, harus ada upaya kolektif dalam komunitas Muslim untuk mendukung pendidikan Islam—baik melalui majelis taklim, pesantren, maupun akses ilmu secara daring. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya cerdas, tapi juga tangguh menghadapi arus informasi yang menyesatkan.

Keempat, penting bagi para orang tua untuk menanamkan nilai-nilai ilmu kepada anak-anak sejak dini. Kecintaan terhadap ilmu dan ulama perlu ditanamkan agar generasi mendatang tidak menjadi korban dari kebodohan yang merajalela.

Kelima, umat harus senantiasa berdoa agar dijauhkan dari kebodohan, sebagaimana doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an: “Dan jauhkan aku dan anak cucuku dari menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35) — sebuah bentuk perlindungan dari kebodohan spiritual yang bisa membawa pada syirik dan kekufuran.


Kesimpulan:

Kebodohan bukan sekadar kekurangan intelektual, tetapi dalam pandangan Islam merupakan ancaman serius terhadap agama dan masyarakat. Al-Qur’an, hadits Nabi ﷺ, dan pandangan ulama menekankan bahwa orang bodoh, terutama yang berbicara atas nama agama tanpa ilmu, dapat menyesatkan umat dan menyebabkan kehancuran moral. Oleh karena itu, umat Islam harus menjadikan ilmu sebagai landasan hidup, menolak kebodohan, dan berkomitmen pada pendidikan keislaman yang benar. Dengan begitu, Islam akan tetap terjaga dalam kemurniannya dan umat tidak mudah digiring oleh arus kesesatan zaman.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *