MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

PUNCAK SILATURAHIM ADALAH KEMBALI KEPADA ORANG TUA

PUNCAK SILATURAHIM ADALAH KEMBALI KEPADA ORANG TUA

Meski masih menjadi perbedaan di antara ulama, Idul Fitri masih sering dipahami masyarakat Indonesia sebagai hari saling bermaafan. Rumah kembali ramai. Tangan saling berjabat. Hati saling melembut. Namun di antara semua bentuk silaturahim itu ada satu yang paling tinggi nilainya di sisi Allah. Itulah silaturahim kepada kedua orang tua. Kepada merekalah langkah pertama seharusnya diarahkan. Di hadapan merekalah kata maaf paling tulus seharusnya diucapkan.

Idul Fitri dalam Islam adalah hari raya yang disyariatkan setelah kaum Muslimin menyelesaikan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Hari ini menjadi tanda syukur kepada Allah atas kesempatan beribadah, pengampunan dosa, dan kemenangan melawan hawa nafsu. Syariat mengajarkan beberapa amalan pada hari tersebut seperti menunaikan zakat fitrah sebelum shalat, bertakbir mengagungkan Allah, serta melaksanakan shalat Id berjamaah. Adapun tradisi saling memaafkan pada Idul Fitri bukan syarat khusus yang disebutkan dalam dalil hari raya, namun hal itu sejalan dengan ajaran Islam yang sangat menganjurkan memaafkan dan memperbaiki hubungan antar sesama. Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu” (QS An Nur ayat 22). Karena itu, saling memaafkan saat Idul Fitri dipandang sebagai amalan mulia untuk membersihkan hati dan mempererat silaturahim, meskipun inti syariat Idul Fitri tetap pada ibadah, syukur, dan ketaatan kepada Allah.

Idul Fitri bukan sekadar tradisi saling berkunjung. Ia adalah momentum kembali kepada akar cinta yang paling awal dalam hidup. Orang tua adalah pintu rahmat Allah di dunia. Di rumah merekalah doa pertama dipanjatkan untuk kita. Di tangan merekalah kita dibesarkan dengan pengorbanan yang sering tidak terlihat oleh mata.

Allah berfirman dalam Al Qur’an

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” QS Al Isra ayat 23

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah langsung menyandingkan tauhid dengan kewajiban berbuat baik kepada orang tua. Dalam tafsir yang ditulis oleh Ibn Kathir dijelaskan bahwa ini menunjukkan betapa besar kedudukan kedua orang tua dalam Islam. Setelah kewajiban menyembah Allah, tidak ada kewajiban sosial yang lebih besar daripada berbakti kepada mereka.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan kedudukan itu dalam sabdanya

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ

“Keridhaan Allah terletak pada keridhaan kedua orang tua, dan murka Allah terletak pada murka kedua orang tua.”
Hadits diriwayatkan oleh Muhammad ibn Isa al-Tirmidhi

Hadits ini menunjukkan bahwa hubungan dengan orang tua bukan sekadar hubungan keluarga. Ia adalah jalan menuju ridha Allah. Ketika seorang anak membahagiakan orang tuanya, sesungguhnya ia sedang mengetuk pintu rahmat Allah.

Pada hari Idul Fitri banyak orang menempuh perjalanan jauh untuk bertemu keluarga. Namun perjalanan paling indah adalah ketika seorang anak pulang kepada kedua orang tuanya. Duduk di hadapan mereka. Mencium tangan mereka. Memohon maaf atas segala kata dan sikap yang pernah melukai hati.

Sebab dalam hidup ini ada banyak orang yang bisa kita temui kembali. Tetapi ada satu masa ketika kita akan sangat rindu pada satu panggilan sederhana yang tidak lagi terdengar. Panggilan seorang ibu kepada anaknya. Nasihat lembut seorang ayah kepada putranya.

Jika Idul Fitri adalah hari kembali kepada kesucian maka jalan pulang yang paling mulia adalah kembali kepada orang tua. Di hadapan mereka ego seorang anak runtuh, di tangan mereka doa-doa langit mengalir, dan di kaki seorang ibu terbentang jalan menuju surga.

Bila orang tua telah tiada, maka silaturahim paling sunyi adalah berdiri di pusara mereka, mengirim doa dengan air mata, sambil berharap Allah mempertemukan kembali dalam surga.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *